
"Zya lo gak papa?" Ucap Stella yang datang melihat Zya. Terlihat Zya sudah membuka matanya dan sedang istirahat.
"Zya lo adiknya kakak kelas itu? Beneran Zya?" Violet langsung menimpali pertanyaan yang sedari tadi mengganggu pikirannya.
"Ssttt apaan sih Vi, lo liat dulu si Zya nya baru juga sadar." Stella menutup mulut Violet.
"Iya iya." Violet hanya bisa pasrah dengan perkataan Stella.
Zya mendengarkan pertanyaan Violet. Ia pun sudah tau kalau abangnya yang memberitahu itu semua.
"Gimana Zya, keadaan Lo? Udah baikan?" Stella langsung menanyakan kabar Zya.
Zya mengangguk "Udah mendingan kok."
"Lo mau apa? Mau makan? minum? Tanya Stella berurutan.
Zya menggelengkan kepalanya. "Nggak La."
"Ya udh kalau gitu. Kita temenin Lo disini ya?" Sambung Violet.
"Kalian gak istirahat? Udah makan?" Tanya Zya.
"Udh tadi." Ucap Stella cepat agar Zya tidak memikirkan hal lainnya.
----*----
Hari terus berjalan silih berganti. Pagi siang menjadi malam dan berganti pagi lagi. Begitu seterusnya.
Keadaan Zya kini membaik. Dia sudah bisa beraktivitas seperti sediakala. Tubuh yang benar-benar fit, kini akan melakukan kegiatan-kegiatan seperti biasanya. 'Lets go, im coming'.
Zya turun dri anak tangga menuju tempat makan.
"Eh anak momy sudah sehat rupanya." Sapaan momy yg dibalas senyuman oleh Zya. "Gimana? Udah gak pusing-pusing lagi kepalanya? Badannya ada yg sakit?" Tanya momy memastikan.
"Everything oke mom, udah bener-bener sehat kok." Jawab Zya dengan mantap.
Zya memandang Jin yang asik dengan handphone nya. Sedikit ragu, tapi ia berjalan dan duduk disamping abangnya itu.
Berkata lirih. "Maafin gue ya bang."
"Hm." Jawab Jin singkat.
__ADS_1
Zya lalu mengangkat kepalanya dan menatap tajam abangnya itu. Jin yg menyadari akan hal itu, langsung menaruh hp nya dan membalas tatapan Zya.
"Apaan?" Jin membuka suaranya dengan berat.
"Lo..." Zya tidak meneruskan ucapannya. Zya melihat sekelilingnya.
"Anak satu sekolah udah tau kalau Lo adek gue. Jadi gak usah pura-pura lagi mulai sekarang." Jin dengan cepat mengetahui apa isi otak Zya.
"Terus gue gimana?" Tanya Zya bingung.
"Apanya yang gimana sih dek. Lo itu aneh tau gak?" Jin mulai kesal dengan sikap adiknya.
Zya tau yang dimaksud oleh abangnya itu tapi Jin tidak tau apa yang ada dibenak Zya. Zya bukan adik kandung Jin sebenarnya. Zya hanya anak titipan yang dititipkan dulu oleh ibunya kepada momy nya sekarang. Walaupun disini Zya mendapatkan semuanya tapi rasanya tidak adil bila Jin tidak mengetahui hal itu. Zya takut Jin akan kecewa nantinya.
Zya mengehela napas panjang dan bergegas untuk sarapan. Hari ini dia akan masuk sekolah setelah dua hari memilih libur untuk kepulihan badannya. Zya tidak menyadari bahwa kunci motornya diambil oleh Jin dan entah kemana.
Setelah selesai sarapan, Zya menaruh piringnya kemudian ingin mengambil kunci motornya. 'Loh kok gak ada.' Batin Zya. Zya mencoba mencari disela-sela meja. Iya juga mengingat-ngingat kembali dimana ia menaruh kunci itu. Tapi hasilnya nihil, Zya sama sekali tidak menemukan kunci sepeda motornya. Akhirnya Zya menyerah dan mencari momy nya atau orang yang ada dirumah ini.
"Mom lihat kunci motor Zya gak?" Tanya Zya tergesa-gesa.
"Nggak tuh. Emang tadi ditaruh mana sayang."hi? Ucap momy.
"Dimeja makan mom pas Zya lagi sarapan." Zya menjawabnya dengan pasti karena seingat Zya memang disana ia menaruhnya.
"Abang belum jalan?" Tanya Zya sedikit kaget. Zya mulai menduga-duga jangan-jangan abangnya yang membuat ulah kali ini.
"Belum tuh masih ada didepan main hp, gak tau deh lagi nunggu apaan." Kata momy menjelaskan.
Zya buru-buru kedepan dan menghampiri abangnya.
"Liat kunci motor gak bang?" Tanya Zya tanpa basa-basi.
"Liat." Jawab Jin singkat.
"Mana sini cepetan, gue mau berangkat nih." Ucap Zya dengan raut wajah yang sudah mulai kesal.
"Tadi lihat, sekarang udah nggak." Jin menaruh handphone nya disaku sekolahnya.
"Jangan bercanda ah bang. Gue serius nih. Mau berangkat." Ucap Zya dengan nada sedikit kesal.
"Ya udah ayok." Jin berdiri dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Ayok apaan sih bang? Kunci motor gue mana?" Zya masih berusaha menanyakan kunci motornya padahal ia tahu apa yang dimaksud oleh abangnya.
"Ya mana gue tau. Kalau mau berangkat ya udah ayok." Jin membunyikan kunci mobilnya dan langsung berjalan meninggalkan Zya yang masih kebingungan.
"Jadi berangkat gak?." Jin senang melihat adiknya yang kini merasa kebingungan. Ia tahu Zya tidak akan mau diajak berangkat bersama kalau ia tidak melakukan hal ini.
"Gak. Gue naik taxi aja." Ucap Zya masih berusaha mencari cara.
"Ya udah kalau Lo mau telat." Jin menutup jendela mobilnya dengan pelan.
"Abanggggg!!" Zya berteriak pasrah. Jin menahan tawanya dengan geli.
Zya segera membuka pintu mobil dibagian belakang tetapi tidak bisa dibuka. Zya membuang nafasnya dengan berat. Jalan kearah pintu mobil disebelah Jin. Membuka pintu dan duduk dengan wajah cemberutnya.
Jin tersenyum dengan arti kemenangan. Dia sangat tau cara memperlakukan adiknya supaya mau mengikutinya. Belasan tahun selalu bersama suka maupun duka.
"Kenapa Lo? muka ditekuk gitu kayak belum disetrika aja." Ocehan Jin.
"Gak tau ah." Jawab Zya singkat.
"Gak ada salahnya kali berangkat bareng. Lagian Lo kan adik gue, gak bakal kenapa-kenapa juga. Harusnya Lo bersyukur dong punya Abang kayak gue yang gantengnya udah mendunia." Jin terus mencari cara agar Zya dapat mengerti.
"Kenapa gue gak dibolehin duduk dibelakang? Gue kan malu nanti pas disekolah." Ucap Zya menjelaskan.
"Heh Lo pikir gue supir Lo? Gue yang nyetir terus Lo penumpangnya gitu duduk dibelakang?" Ucap Jin tidak tau lagi apa yang ada dipikiran Zya. "Lagian Lo malu apaan? Gue Abang Lo ya bukan penjahat!." Jin sedikit kesal dengan perilaku Zya.
"Bukan gitu. Ini kan pertama kali gue kesekolah bareng cowok." Zya menutup mukanya yang memerah.
"Dasar jomblo akut." Ucap Jin singkat namun mampu membuat Zya tercengang.
"Apa Lo bilang? Emang Lo gak jomblo juga? Lo juga jomblo kali." Ucap Zya tidak mau kalah.
"Tapi banyak kok yang mau sama gue. Lah Lo?" Ucap Jin lagi memulai perdebatan.
"Dih kasihan banget yang mau sama Lo?" Zya terus berusaha agar tidak kalah dengan abangnya.
"Eh denger ya lagian gue itu Abang Lo bukan pacar Lo. Ngapain Lo malu? Jangan-jangan Lo suka sama Abang Lo ini?" Jin mulai menggoda Zya. Kini raut wajah Zya menampakkan kekesalannya.
"Dih najis." Zya langsung membuang mukanya.
Jin terkekeh dengan sahutan Zya yang spontan.
__ADS_1
Jin dan Zya memiliki sudut pandang yang berbeda. Jin berfikir setelah semuanya mengetahui bahwa Zya adalah adiknya, Zya akan merasa nyaman karena ia adalah seorang famous di sekolahnya. Sementara Zya berfikir untuk menghindari para siswi yang nantinya akan mengganggunya, entah itu karena ingin mendekati abangnya atau yang lainnya. Pikiran Zya berkecamuk, ia tak tau apa yang akan ia hadapi setelah ini. Zya hanya bisa berharap semoga hari-harinya tidak terlalu berat.