ZyaKarin

ZyaKarin
Part 52


__ADS_3

Jimin dan ayahnya sedang duduk di salah satu kursi dilantai atas. Itu di cafenya. Mereka menunggu seseorang yang selama ini di nanti-nantikan. Lima menit lagi, mereka akan segera berkumpul. Jimin melihat ke arah jendela. Pemandangan dari atas bisa melihat jalanan yang ramai. Detik demi detik mereka menunggu sampai tiba waktunya. Jimin melihat seorang gadis bersama keluarga nya berjalan ke arah nya. Itu Zya. Jimin mengenalnya. Dan kali ini Zya tidak memakai kacamatanya lagi. Jimin melihatnya untuk ke dua kalinya. Tapi kali ini, Zya tersenyum padanya. Dan Jimin merasakan hal itu. Senyuman yang sama dengan senyum dirinya. Jimin juga melihat Jin di antara keluarga Zya. Zya dan keluarga nya sampai di depan Jimin dan ayahnya. Zya melihat foto yang di pajang di meja yang mereka pasang.


"Ayah?" Ucap Zya seketika tertuju pada ayah Jimin.


"Kamu --." Ucap ayah Jimin sedikit terbata-bata dan berlinang air mata.


Zya menunjukkan foto keluarga nya. Di foto itu ada ibu, ayahnya dan dirinya saat masih kecil juga ada kakak laki-laki nya. Ayah Jimin yang melihat foto itu langsung memeluk Zya. Dan tangisan pun pecah dari sang ayah. Jin yang merasa kebingungan, segera di tenangkan oleh Daddy nya. Momy Jin juga tidak bisa menahan air matanya yang jatuh. Mereka lalu duduk bersama. Jin yang masih kebingungan awalnya tidak mau, tapi Daddy nya berusaha menjelaskannya. Ayah Jimin menanyakan bagaimana hal ini bisa terjadi. Daddy dan momy menjelaskan kejadian yang mereka alami. Dan dari sinilah Jin mengetahui semuanya. Sontak Jin merasa marah, entah emosi apa yang ia keluarkan sehingga Jin memukul meja sekali.


"Ini gak adil, kenapa momy sembunyiin ini dari Jin!" Ucap Jin sedikit keras.


"Maafin momy sayang. Momy gak bisa ngasih kamu adik." Kata momy dengan wajah yang sudah bercucuran air mata.


"Tapi kenapa momy gak terus terang sama aku?" Tanya Jin lagi yang masih tidak bisa terima dengan hal yang baru saja ia ketahui.


"Bukannya momy kamu gak mau terus terang, tapi dia lihat kamu sangat senang bersama Zya sehingga momy tidak tega untuk memberitahu kamu." Ucap Daddy menjawab pertanyaan Jin.


"Tetap aja Jin kecewa." Ucap Jin lalu pergi begitu saja.


Jin pergi dengan perasaan kecewanya. Entah kecewa karena tidak mengetahui hal itu atau kecewa karena Zya bukan adik kandungnya.


"Jin mau kemana?" Tanya Momy disela-sela tangisnya.


"Udah mom biar aja dulu. Kita selesaikan ini dulu." Ucap Daddy menahan momy untuk tidak pergi juga.


Zya yang melihat hal itu, ingin sekali menyusul abangnya tapi ia harus tetap di sini.


"Zya, apa setelah ini kamu akan ikut dengan ayah?" Ayah Jimin menyadarkan Zya dari lamunannya yang melihat ke arah Jin pergi.

__ADS_1


Deg. Inilah pertanyaan yang harus ia jawab semestinya. Sejujurnya Zya masih belum tau akan menjawab apa.


"Zya ayo jawab. Momy dan Daddy menerima apapun keputusan kamu." Ucap Daddy yang mendesak Zya untuk menjawab karena jawaban itu harus ia pikirkan sekarang juga.


"Aku ---" Kata Zya pelan.


"Tidak apa-apa jika kamu ingin tetap tinggal di keluarga baru mu. Tapi tetaplah berkunjung ke rumah ayah." Kata ayah Jimin menenangkan Zya yang terlihat kebingungan.


Zya yang mendengar ucapan itu langsung mengeluarkan air matanya dengan deras. Sementara Jimin hanya menunduk, tidak kuat untuk melihatnya. Ia sudah berusaha keras, dan ini adalah suatu keputusan yang harus ia terima. Apapun itu.


"Aku akan tinggal dengan ayah." Jawab Zya dengan jelas. Kini suaranya tidak menunjukkan keraguan sedikit pun. Bagaimanapun ayahnya sudah menunggunya selama puluhan tahun, Ia juga ingin berkumpul kembali dengan ayahnya.


Ayah Jimin menangis untuk kedua kalinya. Jimin juga tak bisa membendung air matanya lagi. Walaupun air matanya jatuh, ia segera menghapusnya dengan cepat.


"Tapi ayah, apa ayah akan mengizinkanku untuk tetap tinggal sesekali di rumah momy dan Daddy?" Tanya Zya melontarkan permintaan nya.


"Tentu saja. Mereka juga kedua orang tuamu yang sudah membantu ayah merawatmu." Ucap Ayah Jimin tanpa keraguan sedikit pun.


Ayah Jimin tidak bisa melepaskan tangan Zya untuk waktu yang lama. Rasa rindu yang tertahan puluhan tahun, kini bisa di lepaskan.


"Maaf untuk kalian, apakah tidak apa-apa jika Zya ikut dengan saya?" Tanya ayah Jimin ketika mengingat sesuatu yang mengusik pikirannya.


"Anda berbicara apa? Tentu saja tidak apa-apa. Ini adalah anak anda yang hilang. Dan pasti sudah puluhan tahun anda merindukannya." Ucap Daddy menenangkan ayah Jimin.


"Tapi anak anda yang satunya?" Ucap ayah Jimin menjelaskan pertanyaan tadi.


"Ah tidak apa-apa, nanti kami yang akan mengurusnya. Ia hanya sedikit kecewa." Ucap momy sudah dengan senyuman di wajahnya.

__ADS_1


"Baiklah. Beritahu aku jika ada sesuatu." Kata ayah Jimin lagi.


"Pasti." Ucap Daddy.


Mereka melanjutkan bercengkrama layaknya keluarga lama yang baru saja bertemu sedang melepas rindu. Beberapa hidangan terbaik di cafe itu menemani acara makan keluarga itu. Ini kali pertama Jimin melihat ayahnya makan dengan lahap dan wajah yang sangat riang. Senyuman diwajahnya tidak pernah lepas sedikitpun. Bahkan ia melihat ayahnya yang tertawa lepas setelah puluhan tahun memudar. Jimin merasa amat senang melihat pemandangan yang jarang ia lihat itu. Ia juga melihat Zya yang ternyata adalah adik kandungnya selama ini. Ia tak pernah menyangka bahwa hal ini akan terjadi padanya. Walaupun ada beberapa pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Zya, tapi ia bisa menahannya sekarang. Butuh waktu yang pas untuknya.


Acara malam itu sudah selesai dengan canda tawa dari kedua belah pihak. Momy dan Daddy sudah hendak pamit. Dan kali ini Zya akan ikut dengan Momy Daddy nya terlebih dahulu. Besok sepulang sekolah ia akan langsung ikut bersama kakaknya, Jimin.


"Terima kasih untuk jamuan nya hari ini. Ini sangat enak. Dan sepertinya aku akan sering-sering mampir kesini untuk bertemu klien." Ucap Daddy sembari tertawa kecil.


"Ah tentu saja dengan senang hati." Balasan Ayah Jimin juga dengan tawa nya.


"Kalau begitu kita pamit dulu." Kata momy sembari berslaman.


"Iya, hati-hati di jalan. Sesekali mampirlah ke rumahku." Ucap Ayah Jimin ramah.


"Oh tentu saja." Kata Daddy dengan senang hati.


Zya dan keluarga nya kembali ke mobil. Tidak terlihat Jin di sana. Zya berulang kali mencoba menghubungi Jin tapi tidak kunjung di angkat. Satu pesan masuk di layar handphonenya.


*From Jimin to Zya*


J : Abang Lo ada sama Lo?


Z : Di mobil gak ada. Barusan gue hubungi gak diangkat.


J : Gak usah khawatir, gue bantu cariin. Kalau ketemu Abang Lo kabarin ya?

__ADS_1


Z : Oke.


Zya merasa sedikit lega. Ia segera memberitahu momy Daddy juga jika Jimin membantunya mencari Jin.


__ADS_2