
"Oh iya, dari tadi gue lihat Lo diem aja Kook." Ucap Jin yang menyadari kalau Jungkook hanya mengikuti mereka.
"Gue nyimak aja lah." Jawab Jungkook.
"Gak boleh gitu dong. Gue mau nanya sesuatu sama Lo." Ucap Jin kembali.
"Apaan?" Tanya Jungkook sedikit penasaran. Pikirannya melayang ke arah tak tentu. Disamping itu, dia juga sudah lama tidak berkumpul dengan Jin.
"Lo sama V kenapa? Ada masalah? Kita udah jarang ngumpul loh." Tanya Jin dengan nada lembutnya. Dan benar saja, Jungkook sudah menduganya lebih awal kalau Jin akan bertanya tentang dirinya yang jarang berkumpul lagi.
Jungkook terdiam. Semuanya menunggu jawaban dari Jungkook. Zya melihat dari sorot mata Jungkook. Sepertinya ini bukan waktu yang tepat jika ia berada disini.
"Ee gue masuk dulu ya. Mau bersihin badan sekalian istirahat. Soalnya gue pengen tidur." Ucap Zya tiba-tiba di tengah keheningan menungggu jawaban dari Jungkook.
"Ya udah gak papa. Lo istirahat aja sana." Ucap Jin menyahut perkataan Zya.
"Perlu gue anterin?" Tanya Jimin memastikan.
"Gak usa kak, gue udah hafal kok." Jawab Zya dengan senyum.
"Oke deh." Ucap Jimin lagi.
Zya bergegas ke kamarnya agar mereka bisa melanjutkan obrolan yang tertunda tadi. Disisi lain, Zya memang mengantuk dan ingin beristirahat. Rumah Jimin memang terasa tidak terlalu jauh tapi diperjalanan ia harus melewati beberapa belokan agar sampai ke sini.
"Kook jawab gue." Lanjut Jin dengan tatapan serius. Melihat Zya yang sudah tidak tampak lagi disekitar mereka.
Jungkook mengambil nafas perlahan memutar otaknya untuk mulai bercerita.
"Gue ada masalah sama keluarga gue." Ucap Jungkook memulai ceritanya.
"Terus?" Tanya Jin yang tak sabar.
"Ya gue tinggal di kontrakan dekat sini." Jawab Jungkook terpotong-potong. Sebenarnya ia juga bingung, apa yang harus ia ceritakan kepada Jin dan Jimin. Sementara Jimin hanya mengetahui tentang masalahnya dengan keluarganya saja.
"Hubungan Lo sama V?" Tanya Jin lagi masih dengan nada yang sabar.
"Gak papa." Jawab Jungkook singkat.
"Gue gak percaya." Bantah Jin dengan sedikit keras.
"Maksudnya?" Ucap Jungkook berusaha membuat Jin agar percaya.
"Bukan jawaban itu yang gue tunggu. Gue tanya sekali lagi. Kenapa Lo jarang ngumpul lagi sama kita? Lo gak bakal kayak gini kalau gak ada masalah sama V." Kali ini Jin sedikit menekankan ucapannya agar Jungkook mengerti.
"Ya kayak yang gue bilang tadi." Jungkook masih bersikeras untuk tidak mengubah alur ceritanya.
__ADS_1
"Masalah sama keluarga Lo? Selama ini kalau Lo ada masalah di keluarga Lo, V pasti tetap nemenin Lo. V gak pernah ninggalin Lo gitu aja. Kooki, gue tau gimana hubungan Lo sama V. Gue tau ada yang Lo sembunyiin dari kita, begitu juga V. Apa?" Kini tatapan Jin amat serius. Ia benar-benar tidak ingin Jungkook menjawab dengan omong kosongnya. Jimin juga terdiam. Ia tau dari raut wajah Jin kali ini benar-benar serius. Sehingga dirinya tidak berani memotong pembicaraannya.
Jungkook diam sejenak.
"Jawab Kook." Ucap Jin sedikit keras.
"Sabar Jin. Mungkin ini masalah pribadi dia." Jimin mengelus dada Jin agar dirinya bisa mengontrol emosi yang sepertinya akan meledak.
"Iya tapi apa? Heh kita gak pernah ya ada masalah-masalah pribadi yang gak kita share. Semuanya pasti cerita dan dengan gitu kita bisa bantu nylesaiin. Dari pada diem-dieman kayak gini. Kalau udah menyangkut ke pertemanan kita, itu bukan masalah pribadi lagi." Ucap Jin memberi penjelasan.
"Nanti gue coba buat perbaiki sendiri." Kata Jungkook pelan.
"Perbaiki apa Kook? Lo gak bisa cerita ke gue? Kenapa? Gak perlu semua tau, cukup gue dan Jimin. Gimana?" Ucap Jin berusaha membuat Jungkook terbuka dengan masalah yang ia hadapi sendiri.
"Maaf ya bang, kayaknya gue gak bisa cerita." Kata Jungkook lagi pelan.
"Kenapa? Gue gak yakin kita bakal ngumpul-ngumpul kayak dulu lagi. Kalau pun Lo ikut kumpul, pasti ada rasa perbedaan antara Lo dan V." Sekali lagi Jin menekankan ucapannya.
Jungkook kembali terdiam.
"Eee ya udah yuk, gimana kalau kita main game?" Jimin mencoba untuk mengalihkan perhatian Jin. Untung ia ingat kalau Jin sangat menyukai game yang ada dirumahnya.
"Mentang-mentang Lo punya game, terus ngebujuk gue pakek game itu." Kata Jin sedikit kesal dengan tingkah Jimin.
"Mau nggak nih?" Ucap Jimin sembari berdiri ingin berjalan menuju suatu ruangan.
"Boleh deh. Kooki ikut kan?" Jin memastikan agar Jungkook juga ikut.
"Iya bang gue ikut." Ucap Jungkook. Di lain sisi ia tak bisa menolak. Karena jika ia menolak, maka Jin akan berubah seperti tadi. Tatapan yang serius dengan berbagai intimidasi.
"Let's go." Ucap Jimin mengajak Jin dan Jungkook untuk beranjak dari ruang tamu.
---*---
Zya keluar dari kamarnya. Ia baru saja selesai mandi. Tidurnya pun amat nyenyak. Tak butuh waktu lama untuk beradaptasi di lingkungan barunya.
"Dek, Lo udah bangun?" Sapa Jimin dari meja makan.
"Iya kak. Kakak lagi ngapain?" Jawab Zya dan melihat Jimin yang tengah sibuk sendiri.
"Bikin roti. Lo mau?" Ucap Jimin sembari menawari Zya.
"Hmm boleh deh." Jawab Zya. Ia juga merasa cacing perutnya sedang berdemo meminta sesuatu.
Zya menghampiri Jimin yang sedang duduk di meja makan bersama beberapa roti dan pelengkapnya.
__ADS_1
"Ada yang perlu gue bantu?" Tanya Zya ketika sudah duduk disamping Jimin.
"Gak perlu." Jawab Jimin yang hampir menyelesaikan rotinya.
"Ee kak, ayah pulang jam berapa?" Tanya Zya penasaran.
"Bentar lagi pulang." Jawab Jimin setelah melihat jam di dinding sebentar sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Zya.
Zya mengangguk paham.
"Lo udah mandi?" Tanya Jimin.
"Udah." Jawab Zya dengan wajah yang cerah.
"Pantesan wangi." Ucap Jimin sembari tersenyum.
"Heee." Zya juga memberikan senyuman manisnya.
"Nih rotinya sudah siap." Jimin memberikan sepotong rotinya kepada Zya. Dan sepotong lagi untuknya.
"Makasih." Ucap Zya sembari menerima rotinya dan memakannya.
"Enak gak?" Tanya Jimin meminta pendapat Zya.
"Enak." Jawab Zya sembari mengunyah roti di mulutnya.
"Enakan mana bikinan gue sama bikinan Abang Lo?" Tanya Jimin lagi iseng.
"Hmm enak semua. Tapi kan gue belum coba masakan kakak yang lain." Ucap Zya.
"Hehe, kapan-kapan gue masakin." Kata Jimin kemudian.
Mereka menyantap roti yang Jimin buat. Membuat roti adalah hal yang mudah untuk Jimin. Biasanya Jimin akan membuat roti ketika dirinya mulai terasa lapar, sementara masakan belum siap. Biasanya hal itu terjadi ketika sore hari.
"Lo laper gak?" Tanya Jimin ketika melihat roti yang Zya makan sudah hampir habis.
"Hmm dikit." Jawab Zya jujur.
"Tunggu ayah pulang. Nanti makan malam sama-sama." Ucap Jimin memberi arahan.
Zya mengangguk lagi.
"Mau lagi?" Tanya Jimin lagi karena melihat Zya menyukai rotinya.
"Boleh." Jawab Zya sedikit tersenyum.
__ADS_1
Jimin tersenyum lalu membuatkan Zya sepotong roti lagi. Zya tidak keberatan untuk memakan roti lagi, karena roti buatan Jimin benar-benar enak menurutnya.