
Suasana bar semakin ramai. Malam pun bertambah larut. Jungkook dan Zya segera pergi dari tempat itu dengan keadaan Jungkook yang sedikit mabuk. Ia minum terlalu banyak untuk pemula. Sementara Zya memilih untuk tidak minum sesuatu disana. Mau tidak mau, Zya harus memegang tangan Jungkook agar ia berjalan dengan stabil. Zya meminta Jungkook untuk tidak menyetir. Jungkook hanya bisa menurutinya. Ia juga merasa dirinya sedikit pusing. Disisi lain Jungkook tidak mau terjadi apa-apa dengannya kalau ia yang menyetir.
Zya mengambil alih, setir mobil. Berjalan menyusuri kota yang mulai ramai dengan kendaraan-kendaraan besar. Sesekali ia menoleh ke arah Jungkook yang sudah tertidur pulas. Wajahnya yang tampan membuat Zya tersenyum kecil. Zya segera menyadarkan dirinya. 'Gak boleh gak boleh. Apa-apaan ini? Kenapa gue tiba-tiba senyum gak jelas.' batin Zya. Ia kembali fokus ke depan dan melajukan mobilnya kearah rumah Zya. Sedikit lagi Zya akan sampai, tiba-tiba Jungkook terbangun pelan. Zya pun menyetir dengan pelan.
"Lo udah bangun?" Tanya Zya pelan.
"Ini udah mau sampe rumah Lo ya?" Tanya Jungkook yang sudah sadar.
"Iya. Lo bisa pulang sendiri? Atau gue bilangin ke Abang gue, biar Lo dianter Abang gue." Ucap Zya memberi saran.
"Gak usah. Gue bisa sendiri kok. Udah gak pusing juga. Maaf ya Lo harus nyetir sendiri." Kata Jungkook.
"Gak papa kok." Ucap Zya.
Mereka sudah sampai didepan rumah Zya. Sebelum turun Zya menawarkan Jungkook untuk masuk kedalam rumahnya.
"Kook, Lo gak mau masuk dulu? Didalem ada Abang gue kok." Kata Zya sembari melepas sabuk pengaman nya.
Jungkook melihat jam di tangannya sudah jam 9 lewat.
"Maaf ya Zya lain kali aja. Soalnya gue harus segera balik. Bilangin ya ke Abang Lo, makasih udah izinin gue buat bawa Lo." Ucap Jungkook yang disertai dengan senyuman termanis nya.
"Ya udah deh, kalau gitu gue masuk dulu ya." Ucap Zya.
"Iya." Jawab Jungkook.
Jungkook masih memperhatikan Zya yang masuk ke halaman rumahnya, memastikan ia sampai dengan selamat. Tak lama kemudian, Jungkook beranjak dari sana menuju kontrakannya yang kini ia tinggali.
----*----
Zya segera masuk kedalam kamarnya. Bayang-bayang Jungkook yang sedang tertidur pulas terus ada dipikirannya. Berbagai cara sudah Zya lakukan untuk menghilangkan bayangan itu. Tapi semuanya sia-sia. Ini kali pertama ia melihatnya tertidur. Wajahnya yang tampan terus menghantuinya.
'Oke Zya tarik nafasss hembuskan, tarik lagii hembuskan, huh'. Zya berbicara sendiri didepan kacanya. Perasaannya sedang tak menentu. Disisi lain ia sangat senang dan disisi lain pula ia tak mau mengakui itu semua.
Malam semakin larut, Zya pun memutuskan untuk tidur.
__ADS_1
----*----
"Dek, semalem V kesini." Jin membuka bicara saat mereka sedang sarapan.
"Terus?" Tanya Zya heran.
"Dia nyariin Lo. Gue bilang aja, Lo lagi sama Jungkook." Jin berhenti sejenak. "Kayaknya V suka deh sama Lo." Lanjutnya lagi.
"Dih amit-amit, gue gak suka." Ucap Zya ketus.
"Serius Lo? Dia punya visual yang gak semua orang punya loh. Lo gak tertarik gitu?" Tanya Jin heran. Setau dia V juga banyak yang mengejarnya, apalagi diluar sekolah. V terkenal dengan visualnya yang tak nyata. Lelaki tampan layaknya pangeran Disney. Ia juga sering menjadi model dimajalah tertentu.
----*----
"Zya, disini Lo rupanya?" V datang menghampiri Zya dipinggiran lapangan.
"Lo nyari gue?" Tanya Zya tanpa basa-basi.
"Iya." Jawab V.
Sementara kedua temannya mulai saling memandang menunggu jawaban dari V.
"Lo tau gak tempat tinggal Jungkook?" Tanya V balik.
"Gak tau." Jawab Zya ketus.
"Zya gue serius. Semalem kata Abang Lo, Lo lagi sama dia." Ucap V memaksa.
"Gue sama dia bukan berarti gue pergi ke tempat tinggalnya dia. Emang gue cewek apaan." Jawab Zya ketus.
"Iya-iya maaf." Kata V tidak enak.
"Lagian kenapa Lo gak tanya orangnya sendiri. Lo kan abangnya." Saran Zya.
"Gue gak berani nanya." Jawab V menunduk.
__ADS_1
"Gue heran sama Lo. Harusnya Abang itu bisa jaga adeknya." Ucap Zya sembari berdiri dan mengajak kedua sahabatnya untuk pergi.
Zya benar. Selama ini V tidak tau apa yang dirasakan Jungkook. Ia hanya bisa menemaninya, ia pikir dengan begitu Jungkook tidak akan merasa kesepian dirumahnya. Terlalu banyak perkataan yang tidak seharusnya Jungkook dapatkan dirumah itu. V melihat layar ponselnya 1panggilan pun tidak pernah dijawab oleh Jungkook, bahkan chatingan nya pun tak kunjung mendapat balasan. Sesekali V bertemu dengan Jungkook, mereka hanya berlalu begitu saja tanpa tegur sapaan. Jungkook pun sudah jarang berkumpul dengan teman-teman tongkrongannya. Ditambah lagi, tidak ada kabar dari Jungkook saat ia mengambil cuti sekolah. Banyak yang mempertanyakan hubungan keduanya, tapi V tak kunjung menjawab karena kebimbangannya. V menyadari beberapa kesalahannya. Ia ingin kembali seperti dulu, bersama dengan adiknya itu. Tapi ada satu yang membuat V tidak mau mengalah, yaitu memiliki Zya. Ketika hal itu teringat dibenaknya, rasanya ia tak mau berbaikan dengan Jungkook kembali.
----*----
Jimin sedang melamun dibangku sekolahnya. Pekerjaan sekolahnya sudah ia selesaikan sejak tadi. Lamunannya mengarah ke masa kecilnya. Cerita-cerita dari ayahnya muncul dipikirannya. Muncul sebuah video di benaknya dimana ia masih kecil saat itu ketika bermain bersama adiknya hingga suatu musibah yang tak di inginkan terjadi. Rindu. Itulah yang Jimin rasakan saat ini. Sudah lama ia ingin mengetahui keberadaan ibunya dan adiknya itu. Tapi apalah daya, sudah sekian puluhan tahun mereka tidak ditemukan. Jimin teringat kembali ucapan ayahnya bahwa jangan terlalu berharap.
Jimin segera mengusap wajahnya, menyadarkan dirinya yang sedang masih disekolah. Ia melihat Jin yang pastinya bangga bisa menjaga adiknya sampai sekarang.
"Min Lo kenapa?" Tanya Suga tiba-tiba mengagetkannya.
"Ah gak papa." Jawab Jimin tersenyum.
"Gue lihat dari tadi Lo nglamun aja." Ucap Suga lagi.
"Nggak ini ...." Belum selesai Jimin berbicara, Jhope langsung memotong pembicaraannya.
"Kenapa cerita aja." Kata Jhope langsung.
"Gue cuma kangen ibu dan adek gue aja." Jawab Jimin.
"Masih belum ketemu?" Tanya Jhope lagi.
Jimin menggeleng.
"Lo ada fotonya kan?" Lanjut Jhope.
"Ada, tapi pas gue masih kecil." Jimin menyodorkan sebuah foto. Foto dirinya dan adiknya dulu. "Cuma ini yang gue punya." Lanjutnya lagi.
Jhope dan Suga sama-sama melihat foto yang diambil dari Jimin. Jhope dan Suga saling pandang, mereka menemukan ide.
"Min, boleh gue foto lagi? Lo tenang aja gue sama Suga bakalan bantuin Lo." Ucap Jhope dengan percaya diri.
"Serius? Tapi gimana caranya?" Tanya Jimin tidak percaya.
__ADS_1
Jhope dan Suga memandang satu sama lain dan mengangkat kedua alisnya seperti otak mereka yang konek satu sama lain. Jimin mengerti dari kode itu, pasti ada suatu cara yang mereka pikirkan.