ZyaKarin

ZyaKarin
Part 60


__ADS_3

Jimin sudah sampai diruangan komputernya. Ia melihat Zya yang sudah melihat-lihat di komputernya.


"Kak, Lo punya game-game yang bagus ini? Waahh udah lama gue pengen main ini. Kita main ini yuk." Zya menunjuk salah satu game yang sangat ingin ia coba.


"Boleh boleh." Ucap Jimin sembari tersenyum bahagia melihat adiknya yang senang diruangan ini. "Nih minuman Lo, diminum dulu." Jimin memberikan susu yang ia bawa dari kulkas tadi.


"Wah strawberry? Gue suka banget rasa ini." Ucap Zya, lagi-lagi ia merasa senang.


"Iya gue tau kok. Ayah pernah bilang kalau Lo suka banget strawberry." Kata Jimin.


"Oh ya? Berarti emang dari kecil ya gue suka susu ini?" Ucap Zya memastikan.


"Iya." Ucap Jimin lalu meminum minumannya juga. "Ah, ada yang mau gue tanyakan." Kata Jimin. Ia teringat akan sesuatu.


"Apa?" Tanya Zya penasaran.


"Katanya Lo suka banget jus alpukat ya?" Tanya Jimin memastikan.


"Iya." Jawab Zya sembari melihat ke arah Jimin.


"Kok bukannya Jus strawberry? Bukannya Lo suka strawberry?" Tanya Jimin lagi.


"Hmm gue suka susu yang rasa strawberry aja. Kalau soal jus atau buah, gue suka alpukat." Jawab Zya dengan pasti.


"Oh berarti selama ini gue salah. Dulu gue gak akan percaya kalau Lo adik gue, karena Lo sukanya alpukat bukan strawberry. Sementara ayah bilang kalau adik gue itu suka banget sama strawberry." Ucap Jimin menjelaskan.


Zya hanya tersenyum menanggapi ucapan Jimin sembari terus meminum susu strawberry yang ia suka.


Mereka lanjut bermain game bersama. Suara-suara candaan dan tawaan terdengar sangat riuh di ruangan tersebut. Walaupun hanya berdua, tapi terdengar sangat ramai. Ini masih dengan Zya seorang, belum lagi dengan kedua sahabatnya yang akan menambah suara-suara riuh jika sahabat Zya sampai tau kalau di rumahnya ada game semacam ini. Permainan berjalan dengan sangat seru. Sesekali mereka memakan cemilan sembari bermain game. Tanpa mereka sadari, ayahnya sedang melihat dibalik pintu ruangan tersebut. Pintu itu, ia buka sedikit untuk melihat anak-anaknya yang sepertinya sedang asik di ruangan tersebut. 'Lihatlah sayangku, mereka sangat dekat dan sangat bahagia. Aku berharap, mereka selalu mendapatkan kebahagiaan yang mereka inginkan' batin ayah. Ayah menutup kembali pintunya dan pergi ke kamarnya untuk tidur.


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.


"Sudah cukup. Ayo kita istirahat." Ucap Jimin lalu mematikan gamenya.


"Yahhh masa sebentar sih?" Protes Zya pelan.


"Dek lihat jam nya. Besok kita harus sekolah dan jangan sampai terlambat." Ucap Jimin mengingatkan Zya.


Zya melihat ke arah jam di ruangan itu. Benar kata Jimin. Tak terasa baginya, padahal ini sudah 2 jam mereka bermain.


"Kita lanjutkan di lain hari. Atau kalau Lo mau ajak sahabat Lo kesini juga boleh besok." Ucap Jimin berusaha menghibur Zya.


"Kenapa gak sama kakak aja?" Tanya Zya spontan.


"Besok gue ada kegiatan sedikit disekolah." Jawab Jimin sembari membereskan sedikit kekacauan di ruangan itu.


Zya mengingat hari besok. Ia baru ingat kalau Jimin dan Jin ada di tim voli yang sama. Besok adalah hari dimana mereka mengajar atau membantu adik-adik kelas mereka latihan voli. Sebenarnya tidak tiap hari itu saja, tapi sesekali. Mungkin besok ada jadwalnya lagi.


"Lo bisa pakai mobil gue besok buat pulang sekolah dulu. Kalau gue mah gampang nanti." Ucap Jimin lagi ketika melihat Zya yang tanpa respon.


"Gue bisa jemput kok, kalau kakak sudah selesai dengan kegiatannya." Jawab Zya dengan antusias.

__ADS_1


"Emang Lo gak capek?" Tanya Jimin sembari tersenyum.


"Nggak. Kayaknya lebih jauh rumah bang Jin dari pada rumah kakak kalau dari sekolah." Jawab Zya mengira-ngira.


"Ya udah. Yuk istirahat." Jimin mengajak Zya untuk beranjak dari tempatnya.


Mereka pergi ke kamar masing-masing. Kamar Zya dan Jimin bersebelahan. Sama seperti letak kamar Zya dan Jin dulu. Tiba-tiba Zya ingat kepada abangnya. Bagaimana keadaannya sekarang? Zya mengambil ponselnya yang ia letakkan dikasur. Melihat layar ponselnya, tidak ada satu pesan pun masuk. Padahal ia berharap abangnya menghubunginya. Zya segera membuat pesan untuk abangnya.


*Message Zya to Jin.


Z : Bang udah tidur?


J : Belum. Lo kok belum tidur?


Z : Tadi habis main game sama kak Jimin.


J : Oh. Enak ya, bisa main game terus.


Z : Hehe. Abang kok belum tidur?


J : Gue baru aja datang, habis kumpul sama temen-temen gue.


Z : Kak Jimin kok gak diajak?"


J : Kata siapa? Dia tuh udah di telfon berkali-kali juga gak direspon. Ternyata lagi asik sama adeknya. Mentang-mentang dah punya adek.


Z : Jangan marah dong πŸ˜…


Z : Bang, besok Lo bantu adik kelas lagi ya buat latihan voli?


J : Iya, emang kenapa?


Z : Gak papa. Tadi kak Jimin juga bilang ke gue soalnya.


J : Tidur geh, udah larut malem.


Z : Abang juga tidur ya.


J : Send voice dulu.


Z : (Pesan suara) Selamat malam bang Jin.


J : (Pesan suara) Selamat malam dek.


Zya merasa lega setelah mendengar suara abangnya. Tapi ini terasa sedikit aneh, karena suara abangnya yang terdengar lebih lembut dari pada seperti biasanya. Mungkin karena ini adalah pesan suara. Sebelumnya mereka tidak pernah melakukan pesan suara seperti ini. Rindu yang mereka rasakan bisa terobati dengan pesan suara yang mereka kirimkan satu sama lain. Beberapa kali, Zya memutar pesan suara yang Jin kirimkan.


J : Tidur.


Z : Heh?


J : Kenapa masih aktif aja Lo di pesan?

__ADS_1


Z : Iya-iya ini mau tidur.


J : Awas Lo, gue pantau.


Hhff. Zya mematikan ponselnya. Dengan begitu ia tidak akan terlihat aktif lagi di pesan. Zya segera menutup matanya dan dengan cepat tertidur pulas.


---*---


Jimin mengambil layar ponselnya yang hidup. 'Mati gue, ini kenapa banyak pesan dan panggilan?' batin Jimin sembari menggeser-geser layar ponselnya. Satu pesan lagi muncul di layarnya.


*Message from Jin in grup.


Jin : Jimin keluar Lo. Gue tau Lo udah buka hp.


Jimin : Eh iya πŸ˜…


Jin : Jangan ketawa Lo. Kemana aja Lo? Mentang-mentang punya adek, kita di kacangin.


Jimin : Gak gitu lah bang. Hp gue tertinggal di kamar.


Jhope : Wah ngapain aja ni anak Jin?


Jin : Gak tau tuh. Udah punya adek kita dilupain.


Jimin : πŸ˜…


Suga : Awas Lo, minta contekan ke gue besok.


Jimin : (Pesan suara) Tunggu lah woi, gue bener-bener gak pegang hp tadi.


Jin : (Pesan suara) Alasan Lo. Bilang aja Lo sengaja kan gak bawa hp biar bisa main game sama adek gue tanpa gangguan apapun?


Jimin : (Pesan suara) Fitnah Lo bang. Lebih kejam dari pada pembunuhan πŸ˜…


Jin : (Pesan suara) Zya sendiri yang bilang kalau Lo lagi main game bareng dia. Lo tau gak? Kita udah hubungin Lo berapa ratus kali? Tega Lo.


Jimin : (Pesan suara) Cuma 70 kali kok bang.


Jin : Cuma Lo bilang? Hp gue lowbat makanya gak gue terusin. Tadinya mau gue lanjutin sampe ratusan.


Suga : (Pesan suara) Woy berisik banget. Hp gue kayak ikan kekurangan air tau gak? bergetar mulu.


Jimin : πŸ™


Jin : (Sedang melakukan pesan suara)


Suga : (Pesan suara) Diem Lo pada, lanjutin besok aja ngobrolnya. Gue mau tidur!


Jin : (menghapus pesan)


Jin : πŸ™

__ADS_1


__ADS_2