ZyaKarin

ZyaKarin
Part 44


__ADS_3

"Vi temenin gue ketoilet yuk." Ucap Zya mengajak Violet. Sangat tidak nyaman jika ia pergi sendiri.


"Yuk, tapi gue tunggu luar ya, gue mau lihat-lihat soalnya." Jawab Violet menuruti Zya.


"Oke." Zya pun mengiyakan.


Violet dan Zya menuju kamar mandi wanita. Kebetulan kamar mandi sedang tidak ramai. Seperti perjanjian diawal, Violet menunggu Zya diluar sembari melihat-lihat sekeliling. Sementara Zya masuk kedalam toilet. Tak lama kemudian, Zya melihat Stella masuk.


"Stella?" Ucap Zya menyapa Stella.


"Hai Zya. Gimana pertunjukannya? Gue harap Lo suka." Kata Stella sembari tersenyum.


"Suka banget La. Makasih ya udah ngundang gue." Jawab Zya dengan senyumannya juga.


"Samar-sama. Oh ya ini dress yang dikasih Jungkook ya?" Tanya Stella melihat Zya yang memakai dress yang pernah ia lihat gambarannya.


"Iya. Kok Lo tau?" Tanya Zya sedikit kaget.


"Tau lah. Asal Lo tau ya, ini Jungkook sendiri yang buat." Ucap Stella sembari menjelaskan.


"Buat? Maksud Lo dia gak beli jadinya gitu?" Tanya Zya yang benar-benar tidak menyangka akan hal itu.


"Nggak Zya. Dia desain sendiri buat Lo." Kata Stella meyakinkan Zya.


"Oh. Makasih ya La, udah ngasih tau gue." Ucap Zya yang merasa tidak enak. Karena Stella mengetahui hal itu sementara Zya tidak tau.


"Iya sama-sama." Kata Stella berhenti sebentar. "Oh ya Zya, gue pernah bilang kan kalau gue suka sama seseorang." Lanjut Stella lagi.


"Hm? Iya. Siapa La?" Tanya Zya. Ia langsung mengingat percakapan tempo hari itu.


"Orang yang bareng gue tadi." Jawab Stella dengan tersenyum.


Deg. 'Siapa? Kayaknya... apa Jungkook?' batin Zya. Zya diam sejenak memikirkan jawaban Stella.


"Maksud Lo Jungkook?" Tanya Zya kemudian. Dalam hatinya ia berharap bukan jawaban itu yang benar. Tapi ...


"Iya. Gue harap Lo bisa ngerti ya." Ucap Stella sembari memegang pundak Zya. "Gue sama dia selalu bersama, bikin desain bareng, nyari ide bareng sampai butik mama gue bisa sebesar ini. Dia udah bekerja keras dan sekarang tinggal nikmatin hasilnya. Kalau ada masalah, gue juga selalu bantu dia, cari solusi bersama. Entah itu soal pekerjaan atau yang lainnya. Jadi gue rasa, gue pantes sama dia." Lanjut Stella menekankan bagian akhir kalimat.

__ADS_1


"Stella, Lo apa-apaan sih?!" Violet tiba-tiba masuk dengan nada kesalnya.


"Violet? Kenapa?" Tanya Stella yang masih bersikap tenang seolah-olah ia tak melakukan apa-apa.


"Apa maksud Lo bicara kayak gitu tadi?" Tanya Violet meminta penjelasan dari Stella.


"Udah Vi gak papa. Stella bener kok." Ucap Zya menghentikan gertakan Violet.


"Tapi Zya.." Violet masih berusaha tapi Zya tetap menghalanginya.


"Vi.." Ucap Zya pelan. Entah sejak kapan, air matanya berusaha untuk jatuh tapi Zya tidak membiarkan air mata itu jatuh. Ia tetap terlihat tegar dengan wajah datarnya yang sebenarnya menyimpan berbagai ekspresi didalamnya.


"Sekarang Lo tau kan, siapa yang gue suka. Gue harap Lo bisa mengerti." Lanjut Stella menatap kearah Zya.


"Iya gue ngerti La." Jawab Zya dengan nada pasrah tapi tegas.


"Gak bisa gitu lah Zya. Stella Lo kenapa sih?" Violet masih tidak terima dengan pernyataan Zya kepada Stella. Ia benar-benar kecewa dengan Stella.


"Gue gak papa. Emang salah kalau gue suka ke dia?" Tanya balik Stella dengan pendiriannya.


"Tapi Lo kan tau kalau Zya suka duluan." Ucap Violet yang masih berusaha membela Zya.


"Tuh, Zya aja gak mengakui." Kata Stella dengan wajah kemenangannya.


"Masa Lo gak tau perasaannya sebagai sahabatnya? Gue aja tau, walaupun dia gak ngomong ke gue." Kata Violet menyangkutkan persahabatan mereka.


"Vi gue bukan malaikat yang bisa tau setiap isi hati manusia." Kata Stella dengan tenang.


"Gue kecewa sama lo La. Gue pikir Lo orang yang bener-bener baik. Tapi kayaknya gue salah." Ucap Violet menunjukkan kekecewaannya.


"Vi, udah. Mending kita pulang, acara nya juga udah selesai kan?" Ucap Zya sembari memegang tangan Violet untuk menenangkannya. "La, gue pamit pulang dulu." Lanjut Zya kepada Stella.


"Iya. Lo tau kan apa yang harus Lo lakuin?" Ucap Stella memberi kata-kata isyarat.


'Menjauh dari Jungkook.' batin Zya. Zya hanya mengangguk.


Sebelum Violet memulai perdebatannya lagi, Zya segera menarik tangan Violet untuk keluar dari toilet. Zya merasa lega ketika sudah keluar dari toilet. Air matanya sudah tidak bisa ia tahan lagi. Jatuh sedikit demi sedikit tapi Zya segera menghapusnya sebelum Violet melihatnya. Tapi terlambat, Violet sudah memperhatikannya lebih dulu.

__ADS_1


"Zya Lo nangis?" Tanya Violet tiba-tiba.


"Hah? Nggak kok Vi." Jawab Zya langsung dengan senyuman dibibirnya.


"Lo gak usah bohong sama gue. Dua tahun kita bareng Zya. Gue gak mungkin gak tau sama perasaan Lo." Ucap Violet tidak terima dengan pengelakkan Zya.


Zya hanya diam. Ia terus berjalan. Violet juga terus berjalan mensejajarkan langkahnya.


"Jungkook harus tau soal ini Zya." Tiba-tiba Violet terlihat serius. Zya yang melihatnya sedikit terkejut.


"Hhf." Zya membuang nafasnya sejenak. "Gue rasa gak perlu Vi." Ucap Zya pasrah.


"Kenapa?" Tanya Violet yang bingung dengan Zya.


"Karena kalau jodoh gak bakal kemana." Kata Zya sembari bercanda sedikit.


"Tapi jodoh Lo lagi di incer orang." Ucap Violet yang masih terlihat kesal ketika mengingat hal itu.


"Udah lah Vi biarin aja. Orang yang tepat pasti datang tepat waktu." Ucap Zya seperti penyemangat untuk dirinya sendiri.


"Hhf. Susah ya ngomong sama Lo Zya." Kata Violet mengalah. Violet tau kalau Zya sedang menghibur dirinya sendiri. Violet pun membiarkan hal itu. Ini memang Zya yang ia kenal.


Sepanjang perjalanan, mereka sudah tidak membahas soal Stella lagi. Seolah-olah melupakan kejadian barusan yang terjadi. Zya juga sudah tertawa dengan Violet. Bercanda-canda sembari keluar dari tempat pertunjukan. Entah bagaimana dengan nasib persahabatan mereka. Masih belum pasti. Yang pasti, Violet tidak mau mengingatnya lagi. Ia juga berusaha untuk tidak memperpanjang masalah itu. Biarlah waktu yang menentukannya.


"Zya Lo masih nunggu Abang Lo ya?" Tanya Violet ketika mereka sudah sampai diluar.


"Iya." Jawab Zya singkat.


"Gue duluan gak papa ya? Takut kemaleman gue." Kata Violet sembari berpamitan. Ia rasa hari ini cukup melelahkan. Jadi Violet ingin cepat-cepat sampai kerumahnya.


"Iya gak papa kok. Lo hati-hati ya? Gue nunggu didalem mobil aja." Ucap Zya sembari tersenyum manis. Menandakan kalau dirinya tidak keberatan dengan kepergian Violet yang mendahuluinya.


"Oke." Kata Violet senang.


Violet segera melajukan mobilnya menuju jalan utama. Sedangkan Zya segera masuk kedalam mobil abangnya.


Malam dengan angin yang dingin, membuat Zya tidak kuat jika harus menunggu abangnya diluar. Ia juga sudah mengirim pesan kepada Jin agar jangan berlama-lama didalam. Ia juga ingin segera sampai dirumahnya dan beristirahat. Sendirian didalam mobilnya, membuat Zya tiba-tiba mengingat perkataan Stella yang ia lontarkan tadi saat di toilet.

__ADS_1


'Gue sama dia selalu bersama, bikin desain bareng. Kalau ada masalah, gue juga selalu bantu dia, cari solusi bersama. Jadi gue rasa, gue pantes sama dia.'


Zya tiba-tiba melihat kearah dressnya. 'Apa dress ini dibuat bersama Stella?' batin Zya. Ia mulai malas mengenakan dress itu. Rasanya sangat tidak nyaman dengan dress itu. Yang awalnya, ia sangat menyukai dress itu sekarang merasa jadi membencinya. Ia tidak akan memakai dress itu lagi, pikirnya.


__ADS_2