
"Ngapain aja Lo sama V?" Tanya Jin disela-sela perjalanan.
"E? Nggak, gak ngapa-ngapain." Jawab Zya
"Gue bukannya nglarang Lo sama dia tapi Lo harus hati-hati." Ucap Jin. Tanpa menyebutkan namanya, ia yakin Zya pasti mengerti.
"Emang kenapa bang?" Tanya Zya yang jadi penasaran. Sebenarnya ia tak ingin tau tapi mulutnya tiba-tiba berbicara saja.
"Banyak yang suka sama dia jadi mudah gonta ganti. Tau kan maksud gue? Bukan pacar, tapi buat jalan aja. Dan karena itu, kadang dia juga gak sadar kalau cewek yang dia bawa itu udah punya pasangan. Terkadang harus terlibat dengan masalah." Jawab Jin sedikit menjelaskan.
Zya hanya mengangguk mengerti. Zya juga ingat saat dirinya baru pertama kali bertemu V dengan segerombolan orang yang menghajarnya.
"Tapi... akhir-akhir ini gue jarang lihat dia jalan lagi sama cewek-cewek lain. Entah gue yang gak pernah lihat atau gue yang gak kelihatan." Lanjut Jin lagi.
"Bang, Jungkook dan V adik kakak kan?" Ucap Zya memastikan.
"Iya." Jawab Jin singkat.
"Menurut Abang, mana yang lebih baik?" Tanya Zya kemudian. Sebenarnya sedikit canggung ketika Zya bertanya seperti itu.
"Wah kalau soal itu gue gak tau. Setiap orang pasti punya masa kelam masing-masing. Dan yah memang Abang gak pernah lihat Jungkook nglakuin yang aneh-aneh, tapi kan kita semua gak tau yang sebenarnya. Orang yang kita lihat baik-baik saja belum tentu dia beneran baik." Jawab Jin dengan panjang lebar.
Sekali lagi Zya hanya mengangguk.
"Gue tau Lo bingung kan?" Ucap Jin tiba-tiba setelah memberikan jawaban kepada Zya.
"Bingung?" Tanya Zya tidak mengerti.
"Antara V dan Jungkook." Jawab Jin mudah.
"Ha? Nggak kok." Ucap Zya merasa malu. Kini ia menyesal sudah menanyakan hal yang tidak masuk akal kepada abangnya itu.
Jin tersenyum penuh arti. Jin bisa berpikir jernih sekarang. Mungkin masalah antara Jungkook dan V adalah seorang wanita. Tapi ia juga tak bisa langsung mengatakan hal itu sebelum Jungkook sendiri yang mengatakannya. Jungkook dan V sangat memendam rahasianya dengan rapat-rapat. Bahkan tidak ada gerak-gerik satupun yang menunjukkan pokok masalahnya. Mereka sangat merahasiakannya. Tapi Jin bisa merasakan hal itu. Dari sikap Jungkook kepada Zya dan kelakuan V akhir-akhir ini yang terbilang sedikit aneh, Jin bisa menyimpulkan. Zya pun tidak bercerita apa-apa kepada abangnya perihal itu.
Mereka sampai di rumah Jimin. Mobil sudah terparkir rapi. Terlihat mobil ayah Jimin yang juga sudah datang. Zya segera masuk lebih dulu ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Ia tak peduli, apa saja yang dilakukan oleh Abang dan kakaknya berserta temannya itu. Selesai mandi, Zya menyapa ayahnya yang sedang berada di ruang keluarga.
"Ayaahhhh." Ucap Zya kegirangan.
"Iya?" Jawab ayah sembari tersenyum lebar.
"Ayah sudah datang?" Tanya Zya basa-basi. Zya duduk dibawah tepat di samping ayahnya.
"Sudah sejak tadi." Jawab ayah sembari memandangi Zya.
"Apa ayah capek?" Tanya Zya sembari memijat kaki ayahnya pelan.
"Capeknya hilang kalau sudah lihat putri ayah yang cantik ini." Ucap ayah yang membuat Zya tersenyum.
__ADS_1
"Hehe. Ayah mau aku buatkan teh?" Tanya Zya, mengingat cuaca yang sedang dingin sekarang.
"Kamu bisa?" Tanya Ayah memastikan.
"Bisa dong. Momy yang ngajarin dulu." Jawab Zya dengan PD.
"Baiklah. Ayah mau coba." Ucap ayah antusias.
"Tunggu sebentar ya." Ucap Zya sembari berdiri dari tempat duduknya.
Zya segera pergi ke dapur untuk membuat teh. Di dapur ia bertemu dengan abangnya, Jin.
"Ngapain Lo dek?" Tanya Jin tiba-tiba, membuat Zya sedikit kaget. Ia melihat agak lama ke arah abangnya. Ternyata Jin menuju ke kulkas mengambil beberapa minuman.
"Mau bikin teh." Jawab Zya kemudian.
"Bisa?" Tanya Jin meragukan.
"Bisa lah, gue jago diajarin momy." Jawab Zya dengan tegas.
"Teh buat siapa?" Tanya Jin lagi penasaran.
"Buat ayah." Jawab Zya sembari menyiapkan alat cangkirnya.
"Awas Lo ya kalau gak enak." Ucap Jin yang merasa ragu dengan Zya.
"Bi, awasin ni anak takut masukin garem ke dalam teh." Ucap Jin kepada art yang ada disana. Jin benar-benar meremehkan Zya kali ini.
"Apaan sih? Sono ah." Kata Zya mengusir abangnya.
"Nona perlu bantuan?" Tanya art tersebut kepada Zya.
"Ah nggak Bi, bisa kok. Jangan di dengerin dia, emang suka ngremehin gitu." Jawab Zya kepada artnya.
"Oh ya sudah. Kalau perlu apa-apa bilang ya. Saya sembari masak." Ucap art itu dengan ramah sembari tersenyum.
"Oke bi." Jawab Zya.
'Hhf gara-gara Abang nih, jadi nervous kan' batin Zya. Zya mengambil sebuah wadah yang bertuliskan gula. Mencampurkannya ke dalam teh hangat yang ia buat. Tes rasa kemudian siap. Dengan bangganya ia mengantarkan minuman itu kepada ayahnya.
"Ayahh, teh nya sudah siap." Zya berjalan ke arah ayahnya sembari membawa secangkir teh dengan hati-hati.
"Oh benarkah? Bawa sini." Ucap ayahnya senang.
"Ini ayah." Zya memberikan teh hangatnya.
Ayah langsung meminumnya dengan pelan. Terlihat raut wajahnya yang sangat menikmati teh hangatnya.
__ADS_1
"Bagaimana ayah? Sudah pas kan?" Tanya Zya yang sedikit khawatir dengan rasanya.
"Sangat pas. Kamu pandai membuatnya." Ucap ayah memberikan pujiannya.
"Hehe." Zya tertawa kecil bahagia.
"Oh ya, ayah denger tadi kamu ketemu kelabang ya?" Tanya ayah memastikan.
"Iya ayah." Jawab Zya. Sudah pasti ayah tau dari kakaknya, Jimin.
"Maaf ya, ayah lupa belum mengecek taman. Nanti ayah suruh orang buat merapikannya." Kata ayahnya lagi.
"Gak papa kok ayah." Ucap Zya sembari tersenyum manis.
"Gimana perasaanmu sekarang? Sudah baikan?" Tanya ayah lagi mengingat cerita teman Jimin yang mengkhawatirkan.
"Sudah ayah." Jawab Zya tenang.
"Ayah ingat sekali. Dari dulu kamu memang takut sama hewan itu. Pernah sampai kamu sakit dulu." Kata ayah mulai bercerita.
"Iya kah ayah?" Tanya Zya yang mulai tertarik mendengarkan beberapa cerita dari ayahnya.
"Iya. Kamu sama dengan ibumu. Ibumu pun takut dengan hewan itu. Sangat takut." Kata ayahnya. Tatapannya seperti menatap masa lalunya.
"Ayah, ayo cerita tentang ibu." Pinta Zya dengan antusias.
"Ibumu sangat suka kerapian. Dia sangat disiplin. Sebagai seorang bangsawan, ia sangat menghargai waktu. Kamu tau? Dulu sebelum ayah bersama ibumu, Ayah suka menunggu ibumu untuk datang ke toko bunga." Ucap ayah yang mulai menceritakan sedikit tentang istrinya.
"Toko bunga?" Tanya Zya sedikit terkejut.
"Yah, ibumu sangat suka bunga. Hampir setiap hari ia ke sana. Disitulah ayah mulai mengenal ibumu. Ayah tau betul, ibumu sangat suka bunga mawar putih. Apa kamu juga suka bunga?" Ucap ayah melanjutkan ceritanya sembari menanyakan suatu hal kepada Zya.
Zya menggeleng tidak pasti. "Tapi ada bunga yang aku sukai." Kata Zya kemudian.
"Bunga apa?" Tanya ayah penasaran.
"Anggrek." Jawab Zya dengan pasti.
"Baiklah, ayah akan menanam bunga anggrek lain kali di taman." Ucap ayahnya berjanji.
Zya tersenyum senang. "Baik ayah." Lanjutnya.
"Sebentar lagi kita akan makan malam. Kamu ajak kakakmu dan Abangmu juga sekalian temannya ya." Pinta ayahnya dengan ramah.
"Siap ayah." Jawab Zya dengan menyanggupi.
"Ayah akan menunggu di meja makan." Ucap ayah yang sudah mendapat kode dari art nya bahwa makanan sudah siap.
__ADS_1
Zya mengangguk lalu pergi ke ruangan komputer, dimana mereka sedang bermain game.