ZyaKarin

ZyaKarin
Part 23


__ADS_3

Suasana kelas yang ramai, banyak siswa siswi yang baru datang. Terlihat Stella dan Violet yang terus menatap kearah pintu. Seperti mengharapkan seseorang muncul dari balik pintu kelasnya. Waktu terus berjalan.


"Vi, kayaknya Zya bakal gak masuk lagi deh." Ucap Stella yang lelah menunggu.


"Kita tunggu aja." Jawab Violet masih melihat kearah pintu.


"Masalahnya ini udah mau bell masuk Vi." Kata Stella mengingatkan.


"Iya sih. Si Zya sakit apa sih sebenernya?" Violet mulai penasaran.


"Gue juga gak tau. Di grup dia gak nongol soalnya." Kata Stella sembari mengecek hp nya.


"Kemaren udah coba gue telfon sih." Ucap Violet.


"Terus gimana katanya?" Tanya Stella penasaran. Namun Violet mengangkat bahunya.


"Gak diangkat." Kata Violet.


Stella kembali menghadap ke layar hp nya. Lima menit lagi bell akan berbunyi. Stella kembali menaruh hp nya dan melihat kearah pintu lagi. Ia tak sengaja melihat seseorang yang sepertinya pernah ia lihat.


"Eh Vi!" Tiba-tiba Stella mengganggu Violet yang sedang membaca bukunya.


"Apaan?" Tanya Violet.


"Lo liat cowok itu?" Ucap Stella.


"Mana?" Tanya Violet yang tidak mengerti cowok mana yang dimaksud Stella.


"Itu." Stella memberi isyarat matanya.


"Kakak kelas bukan sih? Ngapain kesini?" Violet mulai mengerti siapa yang Stella maksud.


"Lo inget gak? Dia kan yang suka nyapa Zya." Tanya Stella lagi memastikan.


"Oh yang gak Zya suka itu kan?" Ucap Violet memastikan.


"Nah!" Stella memberi isyarat benar.


"Ngapain dia kesini?" Tanya Violet yang penasaran.


"Mana gue tau. Lo tanya aja." Ucap Stella cuek.


"Resek lo." Kata Violet balik.


Violet merasa kalau kakak kelas itu pasti mencari Zya. Stella juga pasti berpikir seperti itu. Namun mereka enggan memberikan pendapatnya masing-masing. Zya bukan tipe perempuan yang mudah menyukai lawan jenisnya, tapi akhir-akhir ini Violet sering melihat Zya dengan Jungkook bersama. Dan sepertinya mereka begitu dekat. Violet bukan tidak mengenal dengan Jungkook. Justru setiap kali ia mengikuti extra, Jungkook juga ada disitu mengikuti extra nya.


Baru saja Violet memikirkan cowok itu, ia melihat kearah pintu dan Jungkook juga melihat kearah kelasnya. Violet menggelengkan kepalanya pelan. Ia juga tidak berniat memberi tahu Stella akan hal yang ia lihat.


----*----


Jungkook berjalan menuju kelasnya, sebentar lagi bell akan berbunyi. Ia mempercepat langkahnya. Ketika ia akan memasuki kelasnya, Jungkook melihat abangnya yang ada di depan kelas sebelah. Jungkook mengurungkan niatnya untuk masuk ke kelas, ia menghampiri abangnya.


"Bang!" Ucap Jungkook sembari menepuk pundak V.


"Oh eh." V terlihat kaget dengan kedatangan Jungkook.


"Lo ngapain disini?" Tanya Jungkook.


"Oh eee--- gue-- naruh buku disuruh guru tadi kesini." Jawab V. Beruntungnya ia segera menemukan alasan untuk menjawab pertanyaan Jungkook.


"Ooo. Gue kira lo ngapain." Kata Jungkook tersenyum.


"Ya udah ya, gue balik kelas dulu." Ucap V lalu meninggalkan Jungkook disana.


"Oke." Jungkook melihat abangnya yang mulai berjalan dengan cepat ke kelasnya.


Jungkook mengalihkan pandangannya ke dalam kelas Zya. Ia mencari satu wajah yang sangat ingin ia lihat, namun wajah itu sepertinya tidak ada dikelas ini. Dengan cepat Jungkook kembali ke kelasnya.


Waktu pelajaran pun dimulai. Semuanya diam dan memperhatikan papan tulis yang terus diisi dengan beberapa kata dan angka. Sepanjang pelajaran, Jungkook merasa kehilangan konsentrasinya. Walaupun ia telah berusaha untuk fokus, tapi bayangan Zya selalu datang lagi dan lagi di pikirannya. Sepertinya Jungkook mulai khawatir dengan cewek itu. Sudah dua hari ia tidak melihatnya di sekolah. Kali ini Jungkook berinisiatif untuk menghubunginya nanti setelah selesai jam pelajaran ini.


Akhirnya jam pelajaran pertama telah usai. Jungkook meregangkan tangannya yang sedikit pegal. Setelah guru pembimbingnya keluar. Jungkook menunggu agak lama untuk selanjutnya ia meminta izin kepada ketua kelasnya untuk pergi ketoilet. Niat Jungkook tidak lain adalah ingin menghubungi Zya saat ini. Ia ingat dari semalaman, ia tidak membuka handphone nya. Hp Jungkook memiliki kata sandi pola jika ingin membukanya dan hanya V yang tau kata sandinya selain Jungkook.


Setibanya ia ditoilet pria. Toilet itu terasa sepi, ini berarti kesempatan bagus untuk Jungkook.


Jungkook segera membuka hp nya dan mengutak-atik. Ada perasaan kaget, kesal, kecewa bercampur aduk ketika ia melihat satu pesan yang terlihat jelas dilayar hpnya. Pesan itu ditujukan kepada abang V. Jungkook masih mencoba berpikir positif kala itu. Apa mungkin dirinya yang tidak sengaja mengirim kontak Zya kepada V. Jungkook segera menghapus pesan itu menjadi hapus untuk semua orang, sehingga V pun mendapat notifikasi itu. Bahwa pesannya telah dihapus oleh Jungkook. Kemudian ia coba menghubungi Zya dan tidak ada jawaban. Berkali-kali ia menghubungi Zya tapi tetap tidak ada jawaban. Akhirnya Jungkook memilih mengirim pesan untuknya, berharap Zya membalasnya nanti. Ia pun segera kembali lagi ke kelasnya.


----*----


Waktu istirahat sudah tiba. Seperti biasa kelompok Jin dan kawan-kawannya berbondong-bondong pergi kekantin. Hari ini Jin cukup terlihat ceria tidak seperti dihari kemarin. V mengutak-atik handphonenya sembari menunggu temannya datang membawa pesanannya. Sementara Jin dan Suga pergi memesan makanan.


V iseng membuka pesan-pesan di handphone nya. Pesan bagian atas, V melihat pesan Jungkook yang dihapus. Karena penasaran, ia pun membuka pesan itu. V kemudian tersadar kalau ia belum menghapus pesannya yang ia kirim sendiri melalui hp Jungkook. Mungkin Jungkook sudah mengetahui akan hal itu. V mulai terlihat panik dan tidak nyaman. Betapa cerobohnya ia meninggalkan pesan itu. V mulai melihat-lihat sekeliling, mencari keberadaan Jungkook. Kali ini ia benar-benar bingung. Apa yang akan ia katakan ketika nanti Jungkook menanyainya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Jin dan Suga datang. V melihat ada Jungkook yang juga ikut dibelakang mereka. V mencoba mengontrol dirinya agar tidak terlihat gugup atau bersalah. Sepanjang istirahat, ia tidak berani menatap Jungkook yang sedang bercanda dan mengobrol dengan teman-temannya. V juga sesekali mengobrol dengan mereka, tapi kali ini ia lebih fokus ke makanannya saja.


"Heh tumben lo gak nyrocos kayak biasanya." Ucap Namjoon tiba-tiba kepada V dan disetujui langsung oleh teman-temannya.


"Laper kalik dia bang. Dari tadi makan mulu." Jawab Jimin menebak.


"Lo gak sarapan tadi pagi?" Tanya Jhoope.


"Sarapan kok sama gue, ya kan bang?" Ucap Jungkook memastikan.


"Iya, gue sarapan kok., Ini mie nya lagi enak aja." Kata V sembari mengaduk mie dan memakannya.


"Emang kayak gini kalik biasanya. Perasaan gak ada yang istimewah banget di mie nya." Protes Jin.


"Rasanya juga seperti biasanya." Suga menambah perkataan Jin.


"Hmm masa sih? Mungkin gue lagi pengen mie, jadi berasa enak gitu." Jawab V dengan berusaha tenang.


"Mmm bang!" Jungkook memanggil V. V yang dipanggil tidak langsung menyaut atau melihat kearah Jungkook.


"Hm?" Ucap V pelan.


"Gue kayaknya salah kirim deh ke lo. Gue ngirim kontak seseorang. Tapi udah gue hapus kok. Gue sendiri gak tau kapan yang ngirimnya." V yang mendengar perkataan Jungkook pun langsung menatap kearah Jungkook dan berusaha mengerti situasinya.


"Oh iya, gak papa." Jawab V yang merasa tidak enak.


"Sorry ya." Kata Jungkook lagi.


"Iya santai aja." V mencoba tersenyum agar Jungkook tidak membahasnya lagi.


"Emang nomer kontak siapa yang lo kirim Kook?" Tanya Namjoon penasaran.


"Ada deh." Ucap Jungkook dengan senyum lebarnya.


V yang melihat expresi Jungkook, sepertinya ia tidak memiliki pandangan buruk kepada V. Malah sebaliknya, Jungkook mengatakan maaf kepadanya yang jelas-jelas itu bukan perbuatan Jungkook. V mulai bernafas lega. Sepertinya Jungkook tidak memiliki kecurigaan sedikit pun kepadanya. Ia segera menghabiskan makanannya dan ikut mengobrol dengan teman-temannya.


Sejak awal, Jin sudah merasakan sikap V yang tidak seperti biasanya. Sepertinya ada sesuatu dengan adik kakak ini. Tapi kembali lagi, Jin yang melihat expresi Jungkook yang biasa saja dan seperti tidak terjadi sesuatu dengan V jadi Jin merasa kalau instingnya sudah salah.


Tak lama kemudian, Jungkook merasakan hp nya yang bergetar. Ia membuka hp nya, dan membaca pesan. Pesan itu ternyata dari Zya. Jungkook merasa senang dan ingin melampiaskan kesenangannya tapi ia tau tempat dan situasinya tidak tepat. Akhirnya ia hanya bisa tersenyum. Jin mengintip kelayar hp Jungkook.


"Dari siapa Kook? Cewek ya?" Ucap Jin sembari melirik.


"Senyum-senyum bae lo. Kayak orang kagak waras." Kata Suga.


"Apa sih bang." Kata Jungkook menyeringai.


"Eh eh dari siapa emang?" Jhoope berbicara pelan kepada Jin yang ada disamping Jungkook.


"Cewek." Jawab Jin pelan juga.


"Mana mana? Gue lihat dong." Namjoon ingin meraih hp Jungkook, tapi dengan cepat Jungkook menghindari tangan Namjoon.


"Eits kagak bisa. Ini privasi Jungkook seorang." Ucap Jungkook sembari tersenyum kecil.


"Cielahh pakek privasi-provasi segala lo." Kata Namjoon.


"Iya dong." Jungkook segera menaruh hp nya kembali agar tidak dijaili oleh teman-temannya.


Jin sebenarnya tau siapa penulis pesan yang membuat Jungkook terlihat senang. Jin hanya melihat fotonya saja, dan untuk memastikannya ia melirik kembali nama pengirim itu. Jin mulai melihat V yang terlihat diam saja. Cuek dan tanpa respon sedikit pun. V malah fokus kelayar hp nya sendiri.


----*----


Sepulang sekolah Jimin menunggu didepan pintu gerbang sekolahnya. Teman-temannya sudah pulang lebih dulu. Jimin mencari seseorang yang ingin ia temui. Tapi orang itu tak juga kunjung datang. Jimin melihat dua orang yang juga tak asing dengannya. Jimin mencoba menghampiri mereka.


"Eh ee hay." Jimin menyapa dengan bingung. Dua orang itu pun juga sama bingungnya.


"Iya kak ada apa?" Violet berusaha cepat menjawab sapaan kakak kelas itu.


"Ee temen lo yang satunya dimana ya?" Tanya Jimin. Karena ia tidak tau namanya dan hanya tau wajahnya saja.


"Oh Zya? Ada apa nyari-nyari Zya?" Tanya Stella dengan nada bicara yang kurang mengenakkan.


"Stella." Violet mengingatkan Stella agar tidak membuat keributan kecil.


"Oh nggak, gue cuma mau ketemu aja." Ucap Jimin yang merasa tidak enak.


"Gak usah ---" Belum selesai Stella berbicara, Violet memutus perkataan Stella dengan memanggil namanya.


"Stel." Stella yang dipanggil dengan nama itu pun langsung berhenti. Ia tidak pernah mendengar teman-temannya memanggil nama depannya saja. "Zya udah dua hari gak masuk sekolah?" Lanjut Violet kepada Jimin.


"Kenapa?" Tanya Jimin yang mulai penasaran.

__ADS_1


"Disuratnya sih sakit." Jawab Violet.


"Lo tau gak sakit apa?" Tanya Jimin lagi. Jimin takut Angel melakukan sesuatu pada Zya.


"Gak tau." Jawab Violet.


"Udah kan wawancaranya? Yuk Vi kita pergi aja." Stella segera menarik tangan Violet dan Violet mengikutinya.


Jimin tidak heran jika teman Zya bersikap seperti itu, karena ia tau gara-gara dirinya Zya sering berurusan dengan Angel yang selalu membuat keributan.


Jimin sedikit frustasi, ia sendiri tidak tau bagaimana kondisi perempuan itu. Seandainya ia tau rumahnya atau nomer kontaknya, pasti lebih mudah. Jimin juga tidak memiliki akun sosmed perempuan itu. Akhirnya Jimin berinisiatif mencari aku sosmednya. Tapi nihil, ia sama sekali tidak menemukannya dengan kata kunci nama Zya.


Jimin harus memikirkan cara agar bisa mengetahui kondisi perempuan itu. Tapi ia terkendala oleh dirinya sendiri. Ia sendiri tidak memiliki akun sosmed nya dan hanya dia sendiri yang mengerti wajah Zya. Sulit untuk digambarkan, apalagi Jimin sangat tidak berbakat dibidang melukis. Akhirnya ia menyerah untuk hari ini, dan menunggu hari esok berharap perempuan itu masuk sekolah.


----*----


Jin sampai dirumahnya lebih cepat dari biasanya. Ia segera masuk kekamarnya dan membersihkan dirinya. Kemudian berbaring sebentar, sampai pada akhirnya ia menutup matanya dan tertidur.


Zya datang kekamar Jin dan ingin mengajaknya untuk pergi kesupermarket. Ada beberapa makanan camilan yang ingin ia beli saat ini. Tubuhnya sudah mulai fit kembali dan membaik. Ia melihat Jin yang sedang tertidur pulas, sepertinya sedang capek. Zya merasa tidak tega jika membangunkan abangnya yang sedang tertidur pulas. Akhirnya Zya keluar dari kamar abangnya dengan pelan menutup pintunya agar abangnya tidak bangun atau terkejut.


Zya bertekad akan pergi sendiri ke supermarket. Tapi ia tidak ingin menyetir kendaraaan saat ini. Alhasil ia memilih berjalan untuk sampai kesupermarket. Sebelum jalan, Zya menitip pesan kepada bi Iyem takut abangnya nanti bangun dan mencarinya.


Zya berjalan pelan dipinggiran trotoar dengan memakai rok tutu yang panjang berwarna pink dan jaket yang melindungi tubuhnya dari kedinginan. Selama sakit Zya tidak pernah keluar menghirup udara jalanan, sekarang ia bisa merasakan tubuhnya kembali fit dengan berjalan kaki sembari menikmati pemandangan di sekitar jalanan. Sesampainya di supermarket Zya segera membeli apa yang ingin ia beli dan dengan cepat membawanya kekasir. Ah rasanya sudah lama ia tidak nyemil-nyemil. Satu kantong kresek besar berhasil memenuhi belanjaannya. Tetiba dijalan saat ia akan kembali kerumah, hp nya berdering.


'Kriiiinggggggg'


"Halo. Dek lo dimana?" Tanya Jin langsung.


"Ini udah mau pulang gue."


"Usil banget sih ke supermarket jalan kaki. Kan ada mobil bisa lo pakek."


"Zya lagi gak pengen nyetir bang, lagian juga Zya masih agak pusing dikit kalau nyetir."


"Terus lo jalan kaki gitu gak pusing?"


"Nggak kok tenang aja. Aman kok."


"Aman aman! Lo kenapa gak bangunin gue?"


"Habisnya abang pules banget tidurnya."


"Yaelah cuma numpang pejamin mata doang."


"Ya udah sih. Zya udah dijalan mau pulang nih."


"Gue susul deh."


"Gak usah."


"Lah aneh lo. Mau disusul malah gak mau. Kan lumayan tuh jaraknya kalau lo jalan kaki. Lo mau ngurusin badan lo yang udah krempeng gitu gara-gara sakit? Hah? Pokoknya gue susul lo." Zya tertawa kecil mendengar abangnya yang berceloteh panjang. Tanpa ia sadari ternyata Zya sudah sampai didepan pagar rumahnya.


"Coba aja deh susul." Zya mematikan teleponnya.


Zya menunggu Jin keluar dari dalam rumahnya. Ia berdiri di pos satpam depan rumahnya. Terlihat Jin sudah menaiki mobilnya dan menghidupkan mesinnya. Zya semakin tidak tahan dengan tawanya. Jin segera menggerakkan mobilnya dan melihat satpam yang tidak segera membukakan pintu pagarnya. Jin membuka kaca mobilnya, terlihat Zya yang nongol dibalik pos satpam itu.


"Mau kemana bang?" Tanya Zya dengan tawanya yang puas.


"Lo ya, bener-bener lo. Ngeselin banget." Ucap Jin menahan tawanya.


"Lah salah gue apaan?" Tanya Zya.


"Lo kenapa gak bilang kalau udah sampe?" Kata Jin.


"Lagian gue udah bilang gak usah, lo nya malah ceramah." Ucap Zya dengan tawa kecilnya.


"Gak usa cekikikan lo, gak lucu." Celetuk Jin kesal bercampur senang dan kaget.


"Eh bang, tunggu dulu. Buka pintunya." Zya melewati depan mobil dan membuka pintunya lalu masuk kedalam mobil Jin.


"Ngapain lo?" Jin yang melihat Zya masuk kedalam mobilnya pun bertanya-tanya.


"Tadi katanya mau susul gue. Nih gue udah disusul masa gak naik mobil." Jawab Zya dengan enteng.


"Resek lo." Sekali lagi Jin merasa dikerjain oleh adiknya.


"Hahahah. Belanjaan gue berat tau." Ucap Zya memangku belanjaannya.


"Bodo amat dah." Jin fokus menyetir mundur. Memarkirkan kembali mobilnya.


Zya merasa senang dengan moment ini. Sangat jarang sekali ia bisa menjaili abangnya seperti ini. Apalagi Jin selalu menang jika sudah berdebat dengan Zya. Kali ini Zya melihat ekspresi Jin yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Ekspresi itu bercampur aduk antara kaget, kesal, dan senang. Terlihat saat Jin menahan tawanya agar tetap terlihat cool.

__ADS_1


__ADS_2