
Ini adalah kali pertama V mendengar Zya memanggil namanya dengan nada yang pelan, bahkan mungkin terlihat gugup. Yah, V masih ingat saat ia menahan Zya untuk turun tadi. V tau Zya gugup tapi hal itu tidak membuat perempuan itu jatuh cinta kepadanya. V harus lebih berusaha lagi untuk dekat dengan Zya. Walaupun Zya sudah menolaknya, tapi ia tidak akan putus asa. Semakin Zya menolaknya, semakin ia akan mengejarnya. Ini adalah perempuan yang tidak pernah ia temui sebelumnya.
----*----
Zya sudah ada di kamarnya, mandi kemudian memakai baju tidurnya. Sebelumnya ia juga sudah memberi tau momy dan Daddy nya bahwa Jin sedang ada kendala dengan mobilnya dan sudah ada yang bantu. Ia juga bilang kalau diantar oleh teman abangnya untuk sampai kerumahnya. Awalnya momy nya ingin menyuruh teman Jin untuk mampir sebentar tapi untungnya mobil V ternyata sudah tidak ada. Yang artinya, V sudah pergi dari rumah Zya. Zya merasa lega melihatnya.
Ia membaringkan tubuhnya di kasur empuk nya. Dering hp nya membuatnya harus membuka layar ponselnya. Beberapa Pesan masuk.
*From Jungkook
J : Zya gue udah bantu Abang Lo. Sekarang dia udah pulang. Besok temuin gue bisa?
*From V
V : Good night mimpi indah cantik β€οΈ
*From Abang Jin
J : Dek udah sampe rumah? Jangan lupa bilang momy Daddy.
Z : Udah kok, tenang aja.
Zya hanya membalas pesan abangnya saja. Lainnya ia abaikan. Tidak penting lagi baginya. Zya segera menutup matanya mengantarnya untuk tidur tapi sayangnya pikirannya sedang baik. Yah, suatu peristiwa yang tidak Zya inginkan muncul di kepalanya. Kenapa begini? Sesuatu yang mampu membuat jantung nya berdegup dengan kencang. Zya segera berusaha melupakan kelakuan V saat dimobil tadi. Dan itu sangat menggangu nya. 'Nggak, seorang Zya gak mungkin terpikat sama cowok kayak gitu.' kata dirinya dalam hati. Zya segera menarik selimutnya menutupi sampai wajahnya dan tertidur.
----*----
"Apa? Lo gila ya?" Ucap V dengan nada serius sedikit frustasi mendengar cerita Stella yang terjadi saat ia di toilet.
"Heh apa maksud Lo ngomong gitu?" Ucap Stella yang terkejut dengan ucapan V.
"Lo tau gak? Kalau Lo gak berteman sama mereka terus Lo bisa bantu gue gimana?" Tanya V dengan meminta penjelasan.
__ADS_1
"Ya lagian gue juga denger kalau Lo sama Jungkook gak serumah kan? Terus Lo mau bantuin gue gimana?" Tanya balik Stella yang tak mau kalah.
"Tapi Lo kan tiap hari pasti ketemu dia dibutik mama Lo. Lo gak nyadar?" Tanya V dengan nada kesalnya.
"Ya terus?" Ucap Stella yang masih tidak terima dengan perkataan V tadi.
"Gue bantuin Lo dengan manfaatin Jungkook yang kerja disana. Lo bisa mikir gak?" Ucap V dengan jelas, meluapkan kekesalannya.
Stella diam sejenak,otaknya sedang mencerna ucapan V.
"Terus sekarang kalau Lo gak sama mereka, gimana Lo mau bantuin gue? Ha?" Tanya V lagi mendesak Stella agar menjawabnya. Tapi Stella hanya diam dan terlihat memikirkan sesuatu juga.
"Gak bisa jawab kan? Otak Lo dipakek, gue tau Lo pintar di sekolah tapi Lo bodoh disoal beginian." Ucap V lagi yang tidak tahan dengan sikap Stella.
"Lo?" Stella terperanjat mulai kesal tapi apa yang dikatakan oleh V sudah bisa ia tangkap maknanya.
"Apa? Gue mau besok Lo minta maaf sama mereka dan jalin persahabatan Lo kembali seperti semula. Ngerti Lo?" Kata V berbicara dengan jelas. Namun Stella tak kunjung menjawabnya membuat ia merasa geram.
"Iya ngerti." Kata Stella pelan. Baru kali ini ia terlihat bodoh didepan cowok dan itu adalah V. Cowok yang tidak pernah ia sangka-sangka bahwa bisa seperti ini.
"Denger ya, jangan pernah nglakuin hal bodoh lagi." Ucap V memperingati Stella sekali lagi.
Tanpa menunggu jawaban dari Stella, V pergi meninggalkan Stella sendiri yang masih asik dengan pikirannya sendiri. V tidak mau terlalu lama berdiam disitu. Ia sudah terlalu kesal. Untungnya Stella adalah perempuan, kalau tidak mungkin akan lain ceritanya.
Stella masih berdiam diri di bangku taman butik mamanya. Tempatnya sunyi tapi tidak gelap. Banyak lampu-lampu menghiasi taman itu. Malam sudah semakin larut. Ia tidak takut sendirian disini karena tempatnya nyaman meskipun sudah larut malam tapi tidak ada setitik tempat pun yang gelap. Semuanya terang. Stella memutuskan untuk kembali ke butik mamanya. Sementara mamanya masih merapikan beberapa baju disana. Stella memilih untuk menyusul mamanya dan membantunya sedikit sebelum akhirnya mereka kembali kerumah bersama.
----*----
Zya dan Violet sedang ada di perpustakaan sekolah. Mereka mencari buku untuk sumber referensi tugas sekolahnya. Beberapa temannya yang sekelas juga terlihat disana, tentu saja Stella pun ada disana. Stella duduk dibangku perpustakaan dan sedang fokus dengan buku yang ia pegang sembari memegang bulpoin ditangannya dan satu buku catatan dimejanya. Zya baru saja akan duduk tepat disamping Stella tapi Violet segera membelokkan arah jalan Zya. Awalnya Zya sedikit bingung tapi kemudian Violet memberi isyarat lewat matanya yang kemudian Zya mengerti. Zya sudah lupa dengan kejadian semalam nya. Ia juga sudah memaafkan Stella jika Stella mau. Kejadian itu tidak terlalu membuatnya untuk berpikir panjang. Ia pikir mungkin Stella hanya gugup dalam mencintai seseorang. Zya juga sudah terima dengan pernyataan Stella yang menyukai Jungkook. Apapun itu, ia tidak ingin bermusuhan hanya karena seorang cowok.
Violet membawa Zya untuk duduk diujung lebih jauh sedikit dari tempat duduk Stella. Sekilas Stella melihat keduanya. Pikirannya tertuju pada pembicaraan dirinya dengan V semalam. Bagaimana pun caranya ia harus kembali menjalin persahabatan nya dengan Zya. Stella menarik nafas panjang, memikirkan cara agar ia bisa kembali seperti dulu lagi bersama sahabat nya itu. Setelah berpikir cukup lama, ia kemudian menggeser duduk nya kesamping Zya. Ia melihat Zya dan Violet sedikit kaget dan sontak melihatnya.
__ADS_1
"Zya, gue ---" Ucap Stella kemudian yang terhenti tiba-tiba.
"Kenapa La?" Tanya Zya dengan nada lembut. Ia sama sekali tidak menunjukkan kemarahan nya.
"Gue mau minta maaf soal kejadian semalam." Ucap Stella kemudian.
Violet memberi isyarat pada Zya agar tidak mudah memaafkan Stella. Stella yang sudah keterlaluan menurutnya, tidak mungkin meminta maaf begitu saja. Tapi Zya sangatlah berbaik hati, ia tak menghiraukan isyarat Violet.
"Iya gak papa La. Gue udah maafin kok." Kata Zya dengan senyuman manisnya.
"Beneran?" Ucap Stella senang. Stella melihat kearah Violet yang terlihat tidak setuju dengan perkataan Zya.
"Vi, Lo maafin gue kan? Gue tau gue salah. Gue keterlaluan. Tapi gue sadar kok, gak seharusnya gue bersikap kayak gitu. Masa karena cowok, persahabatan kita pecah gitu aja." Kata Stella meyakinkan Violet yang menurutnya akan susah memaafkan dirinya.
"Hhf iya gue maafin." Ucap Violet dengan nada datar. Walaupun sedikit kesal tapi ia berusaha agar apa yang dikatakan Stella diakhir kalimatnya benar-benar tidak terjadi.
"Makasih ya, kalian sahabat terbaik gue." Kata Stella sembari tersenyum senang.
"Iya sama-sama." Ucap Zya menjawab Stella.
"Oh iya soal Jungkook, gue gak mau permasalahin itu. Biar aja dia yang memilih. Kalau memang Lo sama dia sama-sama suka, gue ikhlas kok." Ucap Stella kembali yang berusaha menenangkan Zya.
"Habis makan apaan Lo pagi ini? Semalem Lo terobsesi banget, sekarang malah ikhlas." Kata Violet sedikit sinis.
"Udah lah Vi." Ucap Zya kepada Violet agar menghentikan gertakan nya.
"Gue makan nasi kok." Jawab Stella yang masih bersabar.
"Bagus deh, jangan makan batu biar hati Lo gak keras." Kata Violet yang tak menghiraukan perkataan Zya tadi.
Zya hanya diam dan kembali fokus kebukunya. Mereka kembali menjalin persahabatan nya seperti semula. Yah walaupun sikap Violet kepadanya agak berbeda dengan dulu. Tapi Stella tidak terlalu memikirkan hal itu. Yang terpenting ia sudah kembali berteman dengan Zya.
__ADS_1