ZyaKarin

ZyaKarin
Part 46


__ADS_3

Jin masih menunggu Jungkook. Ia sangat lega ketika Zya sudah bisa pulang, walaupun tidak dengan dirinya. Ia merasa bersalah kepada Zya karena mobilnya yang mogok. Padahal ia sangat tau kalau Zya sedang lelah dan ingin segera beristirahat. Untungnya V datang dengan tepat waktu.


Tak lama kemudian, sebuah mobil dari arah depannya menghampiri Jin dan itu adalah Jungkook. Jungkook membawa seseorang dari dalam mobilnya untuk memperbaiki mobil Jin. Dengan cepat orang itu memperbaiki bagian mobil Jin yang bermasalah. Jungkook melihat kearah dalam mobil Jin dan sudah tidak menemukan Zya lagi disana.


"Bang adek Lo kemana?" Tanya Jungkook yang tiba-tiba keluar dari mulutnya. Padahal Jungkook tidak berniat untuk menanyakan hal itu tapi kata-kata itu keluar sendiri dari mulutnya.


"Oh itu, gue titip ke V tadi. Kayaknya dia lelah banget, jadi gue minta tolong V deh buat anterin kerumah." Jawab Jin dengan jelas.


"Ohhh." Ucap Jungkook mengangguk.


"Kenapa? Lo cemburu?" Tanya Jin yang membuat Jungkook kaget.


"Ah nggak." Jawab Jungkook dengan nada tenang.


'Hhf V lagi, kenapa harus dia?' pikir Jungkook. Mungkin Jungkook tidak akan kesal jika Zya diantar pulang oleh teman-temannya yang lain kecuali V. V dengan terang-terangan menyukai Zya dan Jungkook tau soal itu. Jungkook menganggap V adalah salah satu penghalang hubungan dirinya dengan Zya.


Setelah selesai dengan mobil Jin yang mogok, Jungkook segera mengantar kembali orang itu ke tempat begkelnya. Tak lupa juga Jin memberi tip dan berterima kasih kepadanya dan Jungkook. Sekarang mereka meninggalkan tempat itu dengan seksama. Jin sudah merasa lega, dirinya bisa kembali kerumah walaupun sedikit telat.


----*----


"Zya Lo cantik banget hari ini." Ucap V membuka percakapan sembari tersenyum. Seperti tersirat sesuatu.


"Oh jadi sebelum-sebelumnya gue gak cantikk gitu?" Jawab Zya dengan nada ketus.


"Em bukan gitu. Tapi gue baru pertama kali lihat Lo gak pakek kacamata." Ucap V sembari sesekali melihat ke arah Zya walaupun Zya sendiri tidak melihat kearahnya.


Zya terdiam. 'Oh iya, gue baru ingat' batin Zya. Zya segera mengalihkan pandangannya keluar jendela pintu mobil.

__ADS_1


"Kenapa Lo pakek kacamata sementara Lo bisa tanpa kacamata?" Tanya V yang penasaran sekaligus ingin menyarankan agar Zya melepas kacamatanya seperti sekarang.


"Bukan urusan Lo." Jawab Zya masih dengan nada ketus.


"Kenapa si Zya, Lo kalau sama gue jutek mulu. Sementara sama yang lainnya, Lo fine-fine aja." Protes V. Ia sendiri heran dengan sikap Zya kepadanya padahal sebelumnya tidak ada cewek yang bersikap seperti ini kepadanya. Mereka pasti sangat welcome dengan V. Bahkan mungkin, jarang yang mendapat perlakuan khusus dari V untuk seorang cewek seperti Zya.


Zya memilih diam dan tak menjawab pertanyaan V.


"Lo mau tau? Semakin Lo menjauh, gue semakin penasaran sama Lo. Dan pengen dapetin Lo." V terus berbicara meskipun Zya enggan untuk menjawabnya. Ia akan terus memaksa Zya agar berbicara dengannya. Apalagi mereka sedang berdua sekarang. Sayangnya V ada amanah dari Abang Zya untuk cepat-cepat membawa Zya pulang kerumahnya. Kalau tidak karena amanah itu, mungkin ia akan membawa Zya ke lain tempat.


Zya hanya menarik nafas berat.


"Zya gue suka sama Lo." Ucap V yang akhirnya membuat Zya mengeluarkan suaranya.


"Kenapa gue?" Tanya Zya dengan wajah datarnya. Yes, tanpa ekspresi. Bukan seperti seorang perempuan yang terkejut atas pernyataan cinta dari seseorang.


"Hhf. Denger ya, suatu saat gue bakal tua dan disitu kecantikan gue bakal pudar." Ucap Zya. Kali ini Zya melihat kearah V dengan jelas.


"Ayo menua bersama." Jawab V dengan cepat. Ia tau, Zya melihat kearahnya. Kini V membalas tatapan itu tapi Zya segera memalingkan tatapannya kedepan.


"Nggak." Jawab Zya singkat.


"Kenapa?" Tanya V penasaran.


"Lo bukan tipe gue." Jawab Zya tanpa pikir panjang.


"Terus tipe Lo kayak apa?" Tanya V lagi yang makin. penasaran.

__ADS_1


"Gak tau." Jawab Zya. Kali ini suaranya terdengar biasa saja, tidak dengan nada yang ketus. Zya memang tidak memiliki tipe laki-laki idamannya tapi kalau itu membuat Zya nyaman dan senang, ia akan menjadi seseorang yang beruntung mendapatkan nya. Lagipula Zya tidak mau kalau orang itu adalah V. Zya sudah tau seperti apa tipe-tipe V. Pandai berbicara dan suka meluncurkan gombalan-gombalan kepada seorang perempuan yang ia suka. Jadi Zya tidak akan terpancing dengannya.


"Kasih tau gue, biar gue bisa jadi tipe Lo." Ucap V dengan permintaannya.


"Nggak." Jawab Zya singkat lagi. V tertawa kecil mendengar jawaban Zya.


"Lo tau? Ini percakapan antara gue dan Lo yang paling terpanjang. Yah walaupun Lo balesnya singkat tapi gue seneng." Ucap V yang berterus terang kepada Zya. Ia berharap hatinya sedikit luluh dengan pengakuan V kali ini. Dan ternyata ... Zya diam lagi. Tidak menjawab kata-kata yang V lontarkan tadi.


Jalanan tidak terlalu ramai. Mobil V bisa melintas dengan lancar tanpa hambatan sedikitpun. Seperti yang sudah diberitahu oleh Jin bahwa Zya harus sampai dirumahnya sebelum malam larut. Dan mereka sudah sampai didepan rumah Zya. V memberhentikan mobilnya dengan pelan agar suara mobilnya tidak mengganggu orang lain yang sudah tertidur.


Zya baru saja ingin melepas sabuk pengamannya tapi V dengan cepat menguringkan niat Zya. V memegang tangan Zya yang sudah siap melepas sabuk pengamannya. Sedangkan tangan satunya berada diatas kursi tepat diatas kepala Zya. Sehingga wajah V berada tepat didepan wajah Zya. Zya sedikit terlihat kaget saat itu, tapi Zya sepertinya mematung tidak melakukan reaksi apapun.


"Gue suka sama Lo. Gue butuh jawabannya." Ucap V dengan serius. Kali ini kedua tatapannya saling bertemu. V bisa melihat Zya dengan jelas, begitu juga dengan Zya. V dapat mendengar suara jantung Zya yang berdegup kencang seiring dengan berjalannya waktu.


"Gu-- gue gak bisa." Zya mengedipkan matanya berusaha agar tidak terlihat gugup.


"Tapi bukan jawaban itu yang gue harapkan." Ucap V masih dengan posisi yang sama dan tatapan yang tajam. Mungkin kalau perempuan lain akan meleleh melihat V yang seperti ini tapi tidak dengan Zya.


"V gue harus masuk rumah. Gimana kalau momy Daddy gue lihat." Ucap Zya sembari berusaha melepas tangan V yang menghalangi tangan Zya untuk melepas sabuk pengamannya. Tapi Zya tidak menyangka kalau tangan V sangat kuat sehingga Zya sedikit kesulitan.


V berpikir sejenak, membuang nafasnya pelan. Dan akhirnya melepaskan sabuk pengaman itu.


"Tapi gue masih mau nunggu jawaban dari Lo." Kata V. Memang terdengar sedikit memaksa tapi V tidak peduli dengan itu.


"Hhf terserah Lo." Jawab Zya tanpa menoleh kearah V yang sebenarnya masih dekat dengan wajahnya.


Zya segera membuka pintu mobilnya dan berlalu begitu saja. Tidak tau apakah itu tindakan tidak sopan tanpa berterimakasih pada V karena telah mengantarnya. Tapi, kalau saja V tidak melakukan hal itu mungkin Zya akan berterimakasih. Zya sudah terlalu malas untuk mengucapkan nya.

__ADS_1


__ADS_2