
Hari terus berganti dengan hari-hari berikutnya. Sampai tiba pada waktunya dihari pertandingan.
----*----
Zya masih ada didalam kamarnya dan menyiapkan diri. Sementara Jin mungkin sudah sampai ditempat tujuannya. Jin berangkat lebih awal karena ingin latihan sedikit.
Zya menghembuskan nafasnya dengan berat. Ia melihat dilayar handphonenya V mengirimnya pesan berkali-kali membuat Zya bosan. Zya tidak suka dengan sikap V yang terlalu berlebihan. Hasilnya ia tidak menanggapi pesan itu.
Zya sudah siap untuk pergi. Ia melihat dirinya sekali lagi di cermin yang memantulkan gambaran dirinya sendiri dari atas hingga bawah. Setelah dirasa cukup, ia pun turun dari kamarnya. Zya segera berpamitan dengan momy dan dady.
Dijalan, Ia bertemu dengan Jungkook dan meminta nya untuk berhenti dulu. Ada sesuatu yang ingin ia katakan.
"Zya!" Jungkook berusaha memanggil Zya dari dalam mobilnya.
"Iya?" Zya memberhentikan motornya.
"Sorry ya, gue berhentiin lo dipinggir jalan gini." Ucap Jungkook yang sudah turun dari mobilnya dan menghampiri Zya.
"Emang ada apa?" Tanya Zya penasaran. Ia melihat raut wajah Jungkook yang tidak sepertinya.
"Kita duduk disana yuk. Boleh?" Jungkook menunjuk kedalam taman yang kebetulan ada dihadapan mereka.
"Hmm boleh deh." Zya segera mengikuti Jungkook.
"Lo mau ke pertandingan voli kan?" Tanya Jungkook.
"Iya. Lo gak kesana?" Tanya balik Zya.
"Nggak." Ucap Jungkook.
"Kenapa? Lo gak mau nyemangatin abang lo?" Tanya Zya lagi. Sepertinya ada sesuatu yang ia sembunyikan dari Zya.
"Gak papa. Abang gue udah banyak dapet semangat kok. Gue juga udah nyemangatin dia tadi." Katanya lagi. Zya melihat dengan jelas tatapan Jungkook yang terlihat sedih.
"Lo ada masalah sama abang lo?" Ucap Zya dengan pasti.
"Nggak juga." Kata Jungkook sembari menatap Zya balik, tapi Zya dengan cepat menurunkan matanya.
"Terus?" Tanya Zya sedikit ragu.
"Gue mau nanya sesuatu ke lo. Maaf kalau ini agak privat mungkin buat lo. Abang gue ada ngirim pesan ke lo?" Tanya Jungkook.
"Ada. Sering malahan. Tapi gue males responnya." Ucap Zya. Jungkook masih memperhatikan sikap Zya.
"Kenapa?" Tanya Jungkook lagi.
"Males aja. Kayak gak ada kerjaan lain. Abang lo dapet nomer gue dari lo ya?" Ucap Zya mencoba cari tau.
"Hmm maaf ya, mungkin gak sengaja kepencet. Gue juga gak tau tiba-tiba di kotak pesan gue ada nomer lo yang udah kekirim ke abang gue." Ucap Jungkook. Jungkook akan sangat merasa kecewa kalau itu perbuatan V sendiri. Untungnya Jungkook masih mau berfikir positif.
"Ya udah gak papa. Gue juga males bahas itu." Ucap Zya.
"Ya udah kalau lo mau mau kepertandingan itu, lo bisa pergi sekarang." Kata Jungkook. Zya yang mendengar perkataan itu terasa ia sedang diusir sekarang.
"Lo beneran gak mau ikut kesana?" Tanya Zya lagi memastikan. Sebenarnya ia ingin Jungkook ikut dengannya.
"Nggak. Gue mau cari angin segar dulu." Jawab Jungkook dengan tenang.
__ADS_1
"Sebenarnya gue males sih yang mau kesana. Tapi karena sahabat gue ada disana semua." Ucap Zya.
"Ya udah lo pergi geh. Takutnya pertandingannya keburu dimulai." Kata Jungkook lagi.
"Ya udah,. Gue duluan ya." Zya berdiri dan akan meninggalkan Jungkook sendirian disini.
"Iya, bye."
"Bye."
Akhirnya Zya meninggalkan Jungkook sendirian walaupun sebenarnya ia tau Jungkook tidak baik-baik saja. Saat ini insting Zya terlalu kuat sehingga ia bisa mengetahui apa yang orang lain rasakan. Zya masih berdiri di depan motornya melihat kearah Jungkook yang tak kunjung berdiri juga. Ia membuka tas kecil yang ia bawa. Mengeluarkan secarik kertas dan bulpoin. Menulis sesuatu dikertas itu dan menempelkannya di kaca mobil Jungkook. Zya berharap mood Jungkook bisa kembali lagi.
----*----
Hari itu Jungkook baru saja kembali dari sanggarnya. Ia mengambil sabuknya yang ketinggalan saat itu. Selesai sarapan ia langsung pergi dan tidak berpamitan kepada mami papinya. Ia melihat mami papi nya sedang sibuk, jadi Jungkook enggan mengganggunya. Jungkook pergi begitu saja, toh ia hanya pergi sebentar saja.
Sepulang dari sanggar, Jungkook masuk dengan rasa tidak bersalah dan langsung ditegur oleh papinya.
"Dari mana kamu?!" Tanya papinya dengan nada ketus.
"Dari sanggar." Jungkook menjawabnya dengan pelan dan terus melanjutkan langkah kakinya.
"Apa? Kamu gak ada kerjaan lain apa selain kesanggar sanggar dan sanggar." Protes papinya lagi.
"Aku cuma ngambil sabuk aja pi." Jawab Jungkook masih dengan sabar.
"Mana sabuk yang kamu bangga-banggakan itu? Gak ada gunanya." Ucap papinya lagi dengan wajah kecewa.
"Udahlah pi, apa salahnya Jungkook kesana." Maminya mencoba membuat suasana menjadi tidak keruh.
"Aku bisa bela diri, mewakili sekolah dalam bidang seni bela diri, lari maraton, melukis, sastra, dan papi gak lihat piala-piala yang ada dilemari itu? Apa lemarinya kurang besar atau papi butuh kacamata?" Ucap Jungkook mengeluarkan sebagian isi hatinya. Jika ingin, Jungkook bisa mengatakan semuanya yang mungkin akan membuat papinya marah.
"Kamu?!" Papinya tidak menyangka bahwa Jungkook akan membalasnya kali ini.
"Mulai sekarang papi gak perlu tau lagi apa yang Jungkook lakukan dan kemana Jungkook pergi. Karena aku rasa, aku gak perlu papi lagi." Jungkook kembali keluar dan tidak menghiraukan celotehan papinya lagi.
"Apa kamu bilang?! Ooh jadi sekarang kamu udah pinter cari uang gitu?" Papinya masih tidak terima dengan sikap Jungkook tadi.
"Pi udah pi! Cukup pi!" Teriak mami Jungkook membuat papi Jungkook terdiam. Mami segera menyusul Jungkook tetapi langkahnya terlalu lambat. Jungkook sudah pergi dengan mobilnya.
Dimobil Jungkook mengingat kembali perkataan-perkataan papinya yang sering menyakiti hatinya. Membanding-bandingkan dirinya dengan V padahal Jungkook sudah berusaha membuat papinya bangga kepadanya. Tidak terasa, air matanya kembali menetes tapi Jungkook segera menghapusnya. Ia melihat Zya tepat ada didepannya. Ia berusaha memanggil Zya. Tidak tau apa yang akan ia lakukan, ia hanya ingin mengusir kesedihannya saja walau hanya sebentar.
Jungkook membawa Zya untuk duduk ditaman dekat mereka. Jungkook tidak bisa menyembunyikan perasaannya kali ini. Ia takut Zya akan menyadari hal itu. Jungkook sudah berusaha menanyakan hal yang sebenarnya tidak ingin ia ketahui saat ini. Tapi karena Jungkook sudah menanyakan hal itu dan kini ia yakin, kalau abangnya mungkin juga menyukai Zya. Jungkook semakin merasa kesepian dikehidupannya. Ia terpaksa menyuruh Zya untuk pergi saja walaupun sebenarnya ia membutuhkan seorang teman saat ini.
Lama ia tinggal ditaman itu dan akhirnya ia memutuskan untuk pergi lagi. Tidak tau tujuannya akan kemana, yang penting ia tidak ingin pulang dulu. Jungkook sendiri tidak tau apakah rumahnya masih akan menerimanya disana. Ia berjalan seperti kehilangan raganya. Tubuhnya memang disini tapi pikirannya entah pergi kemana. Ia melihat dikaca mobilnya, ada secarik kertas yang ditempelkan. Jungkook mengambil kertas itu dan membacanya. Senyuman kecil terulas di wajahnya.
----*----
Zya sudah sampai ditempat pertandingan yang sudah ditentukan. Sedikit terlambat karena pertandingan sudah dimulai sejak sepuluh menit yang lalu. Violet menuntun Zya ketempatnya melalui pesan. Zya segera menghampiri sahabatnya itu. Setelah sampai, Zya segera duduk.
"Pertandingannya sudah lama?" Tanya Zya.
"Nggak kok baru aja." Jawab Stella.
Violet fokus dengan pertandingan volinya sehingga tidak mendengar pertanyaan Zya. Zya juga melihat kearah pertandingan itu. Satu-satunya mata yang tertuju oleh Zya adalah abangnya, Jin. Zya terus memerhatikan gerak-gerik Jin. Entah kenapa ia merasakan sesuatu yang tidak enak. Zya berusaha mengusir perasaan negatif nya itu dan terus memberikan semangat kepada tim sekolahnya.
Angel terlihat disisi lapangan, juga memberikan semangat. Antusias Angel mendapat banyak perhatian dari penonton maupun pemain. Tapi beda halnya dengan Jimin. Ia seolah-olah tidak melihat adanya Angel disana. Sesekali Jimin melirik kearah Zya, namun dengan cepat ia kembali fokus. Zya tidak melihat adanya V disana. Apakah V tidak menjadi bagian dari tim sekolah? Zya mencoba membuka pesan V tadi pagi. Zya juga mengabarkan V kalau ia sudah ada dipertandingan itu. Tidak butuh waktu yang lama, balasan dari V segera datang. Ternyata V sebagai pemain cadangan dan akan bermain dironde ke 2 atau ke 3.
__ADS_1
Disela-sela permainan, Zya melihat Jin sepertinya kurang tenaga. Zya menyadari bahwa Jin belum sarapan tadi pagi. Ia terus melihat kearah abangnya. Sampai pada ketika, tangan Jin tidak siap saat menerima bola hasilnya ada sedikit cedera tapi Jin tetap melanjutkan permainannya. Beruntungnya ronde pertama akan segera habis dan Skor mereka lebih unggul yang artinya tim sekolahnya menang di ronde pertama. Jin bertukar posisi dengan V. V menggantikan Jin dironde ke 2.
Zya dengan segera menghampiri abangnya dan mencari alasan ketoilet kepada sahabatnya itu. Jin tau kalau Zya akan menghampirinya, jadi ia juga keluar dari arena itu.
"Bang tangan lo gak papa?" Tanya Zya langsung ketika Jin sudah menghampirinya.
"Gak papa. Cuma sakit dikit aja." Jin memegang tangannya.
"Coba sini." Zya mencoba mengurut sedikit.
"Duh duh udah dek. Sakit banget." Ucap Jin merintih.
"Kalau gak diginiin bakal tambah parah nanti bang." Jin hanya bisa merintih. Zya melilitkan kain merah ditangan abangnya takut sesuatu yang tidak ia inginkan terjadi. "Ayok ikut gue." Zya menarik tangan Jin.
"Eh eh kemana?" Tanya Jin dengan protes.
"Kita cari makan. Lo belum sarapan tadi pagi." Ucap Zya tidak mempedulikan protes Jin.
"Kata siapa lo?" Tanya Jin lagi.
"Gak usah alesan lo. Momy sendiri yang bilang ke gue. Lo berangkat pagi-pagi tadi." Akhirnya Jin hanya diam dan mengikuti Zya. Jin juga merasa sedikit sakit dibagian kepalanya dan perutnya selalu mengeluarkan bunyi. Beruntungnya bunyi itu tidak terlalu keras.
Zya membawa Jin keluar sekolah. Disana ada berbagai makanan yang dijajakan.
"Bang, lo mau makan apa?" Zya bingung ketika melihat banyak warung makan disini.
"Mietol boleh deh." Jin memilih mietol karena porsinya lebih banyak dan pasti bisa membuatnya kenyang dan kembali kepertandingan.
Zya memesan mietol untuk abangnya kemudian duduk bersama Jin.
"Lo gak pesen juga?" Tanya Jin ketika mietol yang datang hanya satu porsi.
"Nggak, gue mah udah makan tadi. Palingan gue mau bawa cemilan aja ntar kedalam sama minuman." Ucap Zya. Kali ini Jin harus menurut padanya.
"Ya udah."
Jin memakan mietolnya dengan lahap. Zya senang ketika melihat abangnya dengan wajah polosnya ketimbang abangnya yang selalu berdebat dengannya.
"Oh ya bang, nih gue ada bawa vitamin. Lo minum ya." Zya mengeluarkan vitamin yang biasa ia dan abangnya minum. Kemungkinan abangnya juga belum meminumnya.
"Makasih ya. Tumben nih adek gue gercep." Ucap Jin ingin menggoda adiknya lagi.
"Lagian lo bikin gue khawatir aja tadi. Lo itu udah kelihatan gak bisa ngimbangin cara lo berdiri." Ucap Zya kesal.
"Heheheh." Jin tertawa kecil. Kali ini dirinya tidak bisa membantah Zya disaat-saat seperti ini.
"Malah ketawa." Lanjut Zya.
Setelah selesai makan. Zya dan Jin kembali kedalam. Tak lupa juga, Zya membeli minuman dan makanan untuknya juga dibagikan kepada sahabatnya.
----*----
V melihat kearah tempat duduk penonton. Ia tidak melihat Zya disana. Begitu lama, hingga ia berpikir kalau Zya membohonginya tadi. V tidak bisa bermain dengan serius sehingga skor timnya telah ketinggalan jauh. Beberapa kali teman-temannya menegur V agar fokus tapi V tidak bisa. V sudah berusaha tapi tatapannya selalu mengarah ketempat penonton. Hingga ia melihat Zya baru saja datang membawa sesuatu ditangannya dan duduk bersama teman-temannya. Zya melihat kearah V sekilas dan tersenyum. Hal itu mampu membuat V senang dan kembali memikirkan pertandingannya. Kali ini tim mereka kalah. Sorak kecewa terdengar dari tim sekolahnya. Akan diadakan babak penentuan. Siapa yang menang dironde ke 3 nantinya akan menjadi pemenangnya. Semua pemain terlihat berkumpul dan berunding sebentar. Zya rasa Jin akan kembali ikut bertanding karena hanya Jin lah yang bisa memperbaiki skor mereka.
Tak lama kemudian peluit berbunyi, menandakan pertandingan akan segera dimulai kembali. Dan benar saja, abangnya terlihat disana masih dengan kain merah yang ia lilitkan tadi. Sepanjang permainan Zya melihat raut wajah Jin yang menahan sakitnya ketika menerima bola dari lawan. Zya ingin sekali menghentikan abangnya dan tidak tega melihatnya yang terus menahan sakitnya. Tapi Zya tidak bisa melakukan hal itu. Skor terus berjalan dengan imbang. Zya tau abangnya sudah berusaha saat ini, sorak semangat pun tidak pernah lepas dari pertandingan. Sampai pada waktunya, satu skor saja yang bisa membuat mereka menjadi pemenang. Tim sekolahnya berusaha dengan keras dan Jin juga sudah tidak mempedulikan lagi rasa sakitnya. Zya hanya bisa berdoa agar Jin bisa mengatasi rasa sakitnya. Sedikit lagi tim lawan akan menang ketika melihat bola itu akan terjun bebas didalam areanya. Jin segera turun tangan menghalangi bola itu dengan tangannya lalu dilanjutkan oleh V. Dan mereka berhasil mencetak skor terakhirnya. Tim sekolahnya menang dan sorakan bergembira mulai terdengar. Zya pun kaget melihat kejadian itu. Kini ia tau kalau abangnya tidak bisa diremehkan di bidang voli ini.
Sekolahnya menerima penghargaan dan piala. Mereka dengan bangga memamerkan piala itu. Zya segera mengirim pesan kepada Jin 'Cepat pulang. Kalau gak mau gue aduin ke momy biar lo dibawa ketukang urut'. Zya tau betul abangnya tidak suka kalau sampai dibawa ketukang urut, oleh karena itu ia bisa memerintahkan abangnya untuk cepat pulang dan ia bisa membantu meringankan tangan abangnya yang sakit sebelum lebih parah lagi.
__ADS_1