ZyaKarin

ZyaKarin
Part 56


__ADS_3

Mereka telah sampai dirumah Jimin. Rumah yang terlihat elegan. Pagar yang kokoh dan minimalis, terdapat taman yang tertata rapi di teras. Jika kita memasuki rumah Jimin, akan terlihat pilar yang megah, area foyer yang luas, sebuah tangga yang di bawahnya terdapat beberapa rak buku dan dua buah vas bunga di rak tersebut, lantai yang terbuat dari marmer, serta dapur yang terkesan artistik, dan beberapa kamar tidur yang pasti nyaman, tak luput juga ada sebuah kolam renang dibelakang rumahnya dengan taman mini yang membuat suasana menjadi santai.


Jimin memperkenalkan semua ruangan kepada Zya, diikuti oleh Jin dan Jungkook juga. Beberapa kali Zya terlihat kagum dengan berbagai tempat disana, rapi dan bersih. Sempat terpikir olehnya 'Siapa yang membersihkan ruangan sebesar ini' sementara dirinya tidak menemukan seorang pun disini atau art yang sedang berlalu lalang.


"Zya, ini kamar Lo." Ucap Jimin sembari membuka sebuah pintu kamar.


Zya yang tadinya sibuk dengan pikirannya, sekarang melihat ke dalam kamarnya. Kamar yang cukup luas dengan cat serba putih. Lemari yang cukup besar dengan lima pintu, dan dua diantaranya terdapat cermin. Rak buku yang tersusun rapi disamping meja belajar. Dan meja rias dengan cermin yang cukup besar dengan lampu-lampu kecil disekelilingnya, juga beberapa laci dibawahnya. Zya sangat mengagumi kamar ini, semua tertata rapi dan terlihat elegan. Zya mulai membuka lemarinya dengan kunci yang sudah ada disana. Betapa terkejutnya ketika ia melihat isi dari lemari itu. Semuanya lengkap, beberapa selimut, sprai-sargul-sarban dengan motif yang berbeda-beda, ada beberapa tas wanita juga, dan beberapa drees yang digantung, baju seperti kaos, blouse, blazer, dll, juga beberapa boneka lucu yang dipajang. Zya mematung sebentar memerhatikan semua isi di dalam lemarinya.


"Ini ayah yang nyiapin semalam. Gue juga bantu sedikit. Karena kita gak tau Lo suka pakek baju seperti apa jadi semuanya disediain deh." Ucap Jimin menjelaskan. Berharap Zya menyukainya.


"Gue suka semua kok." Jawab Zya yang masih melihat ke arah dalam lemari.


"Syukur deh. Oh ya masih ada beberapa bagian yang kosong bisa Lo isi baju yang Lo bawa." Ucap Jimin lagi.


"Makasih ya kak." Kata Zya sembari tersenyum. Kali ini ia melihat ke arah Jimin.


"Sama-sama." Jawab Jimin dengan senyumannya juga. Memang benar. Senyumannya terlihat sama. Jin juga menyadari hal tersebut.


"Ngomong-ngomong ayah kemana?" Tanya Zya kemudian.


"Ayah masih di cafe." Jawab Jimin membantu sedikit merapikan baju yang Zya bawa.


"Cafe?" Tanya Zya tidak mengerti.


"Iya. Cafe Cemara itu punya ayah." Jawab Jimin. Ia mengerti maksud pertanyaan Zya.


Sontak Zya kaget. Karena ia tak pernah berpikir kalau cafe itu ternyata milik keluarga Jimin. Lebih tepatnya sekarang adalah milik keluarganya juga.


Jimin yang melihat ekspresi Zya hanya tersenyum.


"Jadi waktu itu kenapa kakak yang nglayanin pembeli?" Tanya Zya tanpa pikir panjang. Ia ingat betul ketika Jimin mengantarkan pesanan untuknya dicafe tersebut. Dan tentu saja kedua sahabatnya mengira bahwa Jimin bekerja di cafe itu.


"Oh itu, gue bantu-bantu aja. Pasti Lo pikir, gue pelayan nya ya?" Ucap Jimin yang juga teringat bahwa dirinya pernah mengantar pesanan ke meja Zya saat itu.


"Hehe maaf ya." Ucap Zya sedikit tertawa.

__ADS_1


"Ada-ada aja Lo dek. Untung kakak kandung Lo sendiri." Celetuk Jin. Ia sudah selesai menaruh baju Zya yang terakhir.


"Namanya juga orang gak tau. Lagian Abang juga gak bilang apa-apa." Ucap Zya kepada Jin. Dan sepertinya perdebatan akan dimulai.


"Emang Lo pernah nanya?" Kata Jin lagi tak mau kalah.


"Ya nggak sih." Ucap Zya lagi sedikit pelan.


"Eh btw ni kamar luas juga ya. Pasti enak nih tiduran disini." Jin berjalan dan merebahkan badannya ke kasur yang terlihat empuk dimatanya.


"Abaaangggggg." Zya sedikit berteriak kepada Jin. "Ayo bangun. Nanti kamar gue berantakan." Zya menarik tangan Jin agar bangun dari kasurnya.


"Bentar dulu. Lagi benerin badan nih." Ucap Jin yang masih tidak mau bangun.


"Benerin nya sambil berdiri aja." Zya masih berusaha menarik tangan Jin yang hampir berhasil membuatnya bangun.


"Iya iya ah." Jin kemudian mengalah dan bangun.


Jimin dan Jungkook hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku Zya dan Jin. Seperti tom dan Jerry yang selalu mencari masalah dengan adiknya.


"Eh keringet gue harum ya." Ucap Jin.


"Cuma momy yang bilang gitu, gue nggak." Ucap Zya membantahnya.


"Tapi itu kan suatu bukti." Kata Jin lagi.


"Udah ah keluar yuk." Zya mendorong Jin dari belakang punggungnya. Jin juga mengikuti jalannya.


Jimin dan Jungkook juga segera menyusul. Jimin memberikan kunci kamarnya kepada Zya.


"Dek Lo bisa ganti sprainya nanti kalau warna nya kurang sesuai sama Lo." Ucap Jimin kepada Zya sembari berjalan.


"Iya nanti gue ganti." Jawab Zya.


"Sejak kapan Lo manggil adek ke Zya? Perasaan dari tadi manggilnya Zya kalau gak Lo." Ucap Jin kepada Jimin.

__ADS_1


"Apa sih bang? Gue kan adeknya, wajarlah. Masa dia mau manggil gue mbak."


Jin sedikit cekikikan. "Iya mbak, ayo ke ruang tamu." Ucap Jin sembari langsung berlari.


"Ngeselin banget sih Abang gue." Celetuk Zya yang terlihat kesal.


Jungkook yang sedari tadi hanya diam dan memilih untuk tidak mengikuti obrolan mereka. Ia hanya tersenyum sesekali melihat tingkah Zya yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tidak sia-sia ia mengikuti Jimin sampai kesini. Mungkin Jungkook tidak akan punya kesempatan seperti ini, jika ia tidak memanfaatkan dengan baik.


Diruang tamu, Jimin memberi sedikit arahan kepada Zya.


"Art disini datangnya pagi dan sore. Dan kamar, kita bersihkan sendiri. Berarti nanti, Lo bersihin kamar Lo sendiri ya. Untuk masak udah ada art nya kok." Ucap Jimin kepada Zya. Zya pun mengangguk paham.


"Nah, baru gue mau ingetin ke Lo." Jin tiba-tiba mengingat sesuatu. "Lo harus ingat ini, dan jangan sampai lupa." Jin berhenti sejenak. Terlihat pasang mata Jimin yang mulai fokus kepadanya. Tak lupa juga Jungkook dan Zya yang siap untuk mendengarkannya. "Zya jangan Lo biarin masuk ke dapur." Lanjut Jin.


"Hah, emang kenapa?" Tanya Jimin yang tidak mengerti sekaligus penasaran.


"Apaan sih bang." Zya yang mulai sadar akan pembicaraan abangnya langsung berdiri dan berusaha menutup mulut Jin.


"Soalnya ni anak pernah kepergok ---- gue --" Jin dengan susah payah menyambung kalimatnya. "mau masak --- telur" Jin mengunci tangan Zya sehingga ia tak bisa berkutik lagi. "masak telur dengan minyak sewajan. Bayangin kalau saat itu gue gak datang." Lanjut Jin dengan lancar kali ini.


"Bisa meletus-letus sih telurnya." Celetuk Jungkook tanpa sadar.


"Nah iya kan?" Ucap Jin membenarkan.


Jimin tertawa kecil sementara Jungkook tersenyum mendengar pengakuan Jin.


"Abang ih." Ucap Zya sedikit malu.


"Gak usah cemberut Lo. Ini juga biar dia hati-hati jagain Lo. Entar kalau Lo kenapa-kenapa di dapur gimana? Disini, gak banyak orang, gak kayak dirumah gue. Tiap hari pasti ada momy atau bi Iyem. Nah disini? Lo cuma berdua sama kakak Lo, art cuma pagi dan sore aja. Dan kalau Jimin keluar atau ada urusan di luar, Lo sendirian disini." Ucap Jin panjang lebar memberi peringatan pada Zya.


Zya hanya mendengarkan dan tak membantahnya lagi.


"Nggak kok. Kalau disini gak ada orang, dia kan bisa ke rumah Lo Jin. Gue juga gak tega kalau ninggalin sendirian disini. Apalagi ini rumah lumayan gede. Gue udah sering sendirian soalnya disini. Tapi biasanya gue ngajak anak-anak sih kesini biar gak sepi gitu. Lo juga bisa ajak temen-temen Lo kesini dek." Ucap Jimin.


"Iya." Jawab Zya sembari tersenyum sedikit.

__ADS_1


__ADS_2