ZyaKarin

ZyaKarin
Part 27


__ADS_3

Zya sedang membawa sebaskom air hangat ke atas loteng. Jin sudah menunggunya disana. Zya segera mengompres tangan Jin yang sudah mulai memerah. Sedikit demi sedikit, Zya mengurutnya pelan. Sepanjang itu Jin merintih pelan berusaha menahan rasa sakitnya yang mulai terasa amat sakit. Dengan hati-hati Zya terus mengurutnya hingga Jin terlelap tidur. Zya berhenti mengurut ketika ia rasa sudah cukup. Zya membuka ponselnya dan bermain dengan ponselnya sembari menemani abangnya. Zya membuka akun sosmednya dan melihat ada pesan untuknya. Dari Jimin. Jimin membicarakan kembali janjinya saat itu.


'Pesan'


Jimin : Nanti malam gue tunggu dicafe cemara ya.


Zya merasa tidak enak kalau Jimin harus mentraktirnya bersama kedua sahabatnya. Padahal ini adalah hasil kerja kerasnya untuk memenangkan pertandingan itu. Kenapa Zya yang harus menerima hadiahnya? Zya memutuskan untuk tidak mengajak kedua sahabatnya. Tidak lupa juga ia membalas pesan Jimin dengan menyetujuinya.


----*----


Jimin menunggu Zya di cafenya. Tidak berapa lama Zya datang, tapi ia tidak melihat teman-temannya. Jimin menghampiri Zya dan menanyakan sesuatu.


"Selamat datang." Ucap Jimin sembari tersenyum. Zya juga membalas senyumannya. "Lo sendiri?" Tanya Jimin.


"Iya, kakak temenin aku kan?" Jimin sedikit kaget ketika Zya memanggil dirinya dengan kata 'aku' bukan 'gue'. Jimin langsung mengangguk dan mengambil pesanan untuk Zya dan dirinya.


Jimin duduk tepat didepan Zya. Mereka menyantap makanan masing-masing dan sesekali saling pandang.


"Lo suka banget ya sama alpukat?" Tanya Jimin ketika melihat Zya meminum jus alpukatnya dengan begitu nikmat.


"Iya. Kalau kakak?" Tanya Zya balik.


"Gue sebenarnya gak begitu terlalu suka strawberry tapi---" Jimin menghentikan ucapannya tiba-tiba.


"Tapi apa?" Zya begitu penasaran.


"Katanya ini kesukaan adik gue. Jadi gue pengen aja gitu minum ini." Ucap Jimin dengan tersenyum kecil.


"Adik kakak kemana?" Tanya Zya dengan asal.


"Gue juga gak tau. Gue dan adik gue berpisah waktu kecil." Zya mendengar ucapan Jimin dengan jelas hampir membuatnya tersedak. Jimin melihat Zya dengan keanehan. "Lo kenapa?"


"Nggak gak papa." Zya terdiam sebentar. Seperti ada sesuatu yang ingin ia tanyakan tapi Zya tidak bisa membuka pertanyaan itu.


"Dulu gue masih kecil mungkin sekitar umur 4tahun. Gak tau kenapa, gue dan adik gue bisa berpisah. Btw adik gue cewek. Mungkin kalau sekarang dia masih hidup, adik gue seumuran lo." Ucap Jimin seperti membayangkan seseorang.


"Kakak gak coba cari adik kakak?" Tanya Zya masih menatap Jimin dengan tidak berkedip.


"Gue lagi nyari sekarang. Dulu, ayah gue yang nyari tapi gak ada petunjuk apa-apa. Akhirnya ayah gue nyerah dan memutuskan untuk hidup sendiri. Cuma gue satu-satunya yang nemenin ayah gue sekarang." Jimin tertunduk sedih tapi bibirnya terus mengulas senyuman.


Zya seperti melihat secercah cahaya. Tapi kembali lagi dengan perkataan Jimin tadi. Adiknya sangat menyukai strawberry sementara Zya sangat menyukai alpukat. Sepertinya Zya harus menahan pemikirannya.


"Tunggu tunggu. Tadi kakak bilang, kalau dia masih hidup? Maksudnya gimana?" Zya teringat perkataan Jimin yang tidak biasa ditelinganya.


"Gue juga gak tau. Ayah gue selalu bilang gitu ke gue. Dan jangan terlalu berharap." Ucap Jimin mengingat perkataaan ayahnya.


"Tapi kakak gak putus asa kan?" Tanya Zya dengan senyuman kecilnya.


"Nggak kok. Gue pengen banget ketemu adik gue. Apalagi ibu." Kata Jimin.


"Kakak yang sabar ya. Pasti ketemu kok." Zya memberi dukungan kepada Jimin yang membuat Jimin terlihat lebih baik dari sebelumnya.


Mereka melanjutkan obrolannya. Sesekali Zya membuat Jimin tertawa kecil dengan obrolannya. Perasaan batin Jimin yang begitu dekat dengan Zya membuat Jimin nyaman ketika mengobrol dengan Zya. Zya pun merasakan seperti itu. Masing-masing suara hati dibenak mereka 'Seandainya waktu tidak memisahkan keluarga gue.'


----*----


Jungkook pulang kerumahnya. Sesampainya ia didepan dirumahnya, Jungkook tidak memasukkan mobilnya. Jungkook hendak masuk kedalam rumahnya. Terdengar suara tawa yang amat bahagia. Jungkook tidak langsung masuk, dan hanya melihat kedua orangtuanya dan abangnya yang sedang duduk bercengkrama dengan senang. V tidak sengaja melihat Jungkook yang bersembunyi.


"Kooki?" Ucap V dengan senang.


"Jungkook sini. Liat nih abang kamu menang dipertandingan tadi. Mami kamu siapin makanan enak buat kita." Papi berbicara pada Jungkook seolah-olah tidak terjadi apa-apa hari ini. Jungkook enggan berkumpul dengan mereka dan langsung keatas menuju kamarnya.


"Kooki, ayo makan bareng." Mami dengan lembut memanggil Jungkook kembali tapi tidak mendapat respon.


V menghampiri Jungkook keatas. Mengetuk pintu kamar Jungkook tapi tetap tidak ada respon sedikit pun. Akhirnya ia mencoba membuka pintu dengan pelan. Terlihat Jungkook mengemasi barang-barang nya.


"Lo mau kemana? Barang-barang lo?" Jungkook tidak menjawab pertanyaan V dan tetap bergegas memasukkan semua bajunya kekoper. V dengan geram memegang pundak Jungkook dan menghentikan Jungkook. "Jawab gue! Lo ngapain masukin semua barang-barang lo ke koper?"


"Gue mau pergi." Ucap Jungkook dengan tenang.


"Kemana? Gue ikut." Ucap V.


"Nggak!" Ini kali pertama V mendengar nada bicara Jungkook yang terdengar membentak. "Lo disini aja. Gue gak bisa nghidupin lo. Cukup gue aja." Lanjut Jungkook.


"Lo kenapa sih Kook? Kalau ada masalah bilang sama gue. Kita hadapin bareng-bareng." V masih berusaha mengerti situasinya.

__ADS_1


"Nggak bang. Ini keputusan gue." Jawab Jungkook tidak menghiraukan V lagi.


"Apa gue punya salah sama lo?" Tanya V kemudian yang membuat Jungkook berhenti.


"Mungkin iya. Tapi itu udah gak penting. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing." Ucap Jungkook dengan tegas.


"Gue gak ngerti maksud lo!" V semakin bingung dengan Jungkook saat ini. Tidak ada yang tau kalau mereka sedang berdebat sekarang.


"Lo jujur sama gue sekarang. Lo suka Zya?" Tanya Jungkook kemudian setelah selesai dengan kopernya.


"Kenapa jadi bahas itu sih? Apa karena ini lo mau pergi?" Tanya V dengan heran.


"Jawab pertanyaan gue!" Sekali lagi Jungkook berbicara dengan tegas.


"Kalau iya kenapa?!" V mulai menantang Jungkook kembali.


"Lo kan yang ngirim nomer kontak Zya ke nomor lo?" Jungkook mulai menampakkan wajah kesalnya.


"Gue---" V kaget ketika Jungkook menanyakan hal itu dan itu membuat V kehilangan kata-katanya.


"Gak perlu dijelasin. Sekarang lo punya segalanya. Apapun yang lo minta, pasti dikasih. Kasih sayang dari mami papi gak pernah berubah buat lo. Tapi Zya? Gue bakal pertahanin dia. Gak peduli gue harus bersaing sama abang gue sendiri, yang jelas kali ini gue gak akan kasih ke lo gitu aja." Jungkook meninggalkan V sendiri dikamarnya dan pergi turun.


Maminya melihat Jungkook yang menenteng kopernya.


"Sayang, kamu mau kemana?" Tanya mami. Sementara Jungkook menatap papinya yang terlihat tidak mempedulikannya.


"Mami tenang aja, Jungkook bisa jaga diri kali ini." Jungkook memegang pundak maminya memberikan ketenangan untuk maminya.


"Tapi kamu mau kemana?" Tanya maminya dengan bingung.


"Mulai sekarang, Jungkook gak tinggal disini lagi mi. Jungkook mau mandiri."


"Heh merasa bisa aja kamu! Palingan nanti juga balik. Udah mi biarin aja. Anak itu palingan nanti juga balik kalau udah kelaparan dijalan jadi gelandangan." Papinya berbicara dengan ketus.


"Hussh papi apaan sih?!" Mami tidak terima papi berbicara seperti itu tapi Jungkook tetap saja diam tidak membalasnya.


"Jungkook pergi dulu mi." Mami hanya bisa menatap Jungkook yang pergi semakin jauh.


V hendak menghalangi Jungkook, tapi terlambat. Jungkook sudah melajukan mobilnya.


"Aku gak tau mi." V menjawab pertanyaan maminya dengan datar kemudian naik keatas menuju kamarnya.


Malam ini keluarganya sedang tidak baik-baik saja. V tidak bisa merayakan kemenangannya bersama keluarganya. Padahal ini adalah moment terlangka baginya. Mami, papi, dirinya dan Jungkook akan makan malam bersama. Akhir-akhir ini Jungkook sangat susah jika diajak makan bersama, apalagi semenjak papinya sering mengomeli Jungkook. Alhasil V selalu menemani Jungkook makan.


Jungkook hanya membawa mobil untuk alat transportasinya. Alasan ia membawa mobilnya karena ini adalah pemberian maminya, bukan dari papinya. Jungkook tinggal dirumah kontrakan yang ia sewa tadi siang. Tempatnya begitu nyaman untuknya. Hanya untuk dirinya tinggal, tidak penting seberapa besar rumahnya yang penting ia bisa mandiri. Jungkook juga sudah mendapat pekerjaan yang bisa ia kerjakan sembari meneruskan sekolahnya. Kebetulan mama Stella terpesona dengan gambaran-gambaran Jungkook dan menawarkan Jungkook untuk bekerja sama dengannya. Jungkook melihat butik mama Stella lumayan besar dan terkenal dikota ini. Jungkook berharap ia bisa melanjutkan hidupnya tanpa bergantung kepada papinya yang tidak suka dengan Jungkook.


Ia melihat layar ponselnya. Maminya terus menghubunginya kecuali papinya dan V. Sudah benar, hanya maminya lah yang menyayanginya dengan sepenuh hati. Walaupun V selalu berada disampingnya, tapi ia selalu mengambil apa saja milik Jungkook termasuk kasih sayangnya.


----*----


Zya sedang berada di perpustakaan membaca buku. Ia sengaja tidak ikut dengan sahabatnya karena mood nya yang sedang ingin keperpustakaan. Seseorang tiba-tiba duduk disampingnya.


"Lo suka baca buku juga?" Ucap laki-laki itu dengan pelan agar tidak membuat kebisingan di perpustakaan ini.


"Lo?" Zya kaget sehingga tidak mengontrol suaranya.


"Ssttt jangan rame. Ini perpus." Ucap Jimin menaruh jarinya dimulutnya.


"Ups ia lupa. Kakak ngapain disini?" Tanya Zya.


"Baca buku." Zya mengernyitkan sebelah alisnya tidak percaya. "Gak percaya ya udah." Lanjut Jimin ketika melihat reaksi Zya.


"Biasanya kakak kan bareng temen-temen kakak itu, kok tumben sekarang sendirian." Ucap Zya.


"Kata siapa gue sendiri. Gue bareng temen gue." Kata Jimin dengan enteng.


"Siapa?" Tanya Zya penasaran, jangan sampai seseorang yang tidak ia kenal.


"Tuh." Zya melihat Jimin yang menunjuk seseorang. "Kookie sini." Jimin melambaikan tangannya, berbicara setengah berbisik.


"Jungkook?" Zya berbicara pelan melihat Jungkook yang menghampirinya.


"Lo kenal ya? Gue udah tau kok. Makanya gue pilih duduk sini." Ucap Jimin menjelaskan.


"Bang." Jungkook menyapa Jimin kemudian duduk di depan mereka.

__ADS_1


"Kalian saling kenal kan?" Tanya Jimin memastikan.


"Iya." Jungkook mengangguk dengan senyum.


Zya menunduk dengan senyuman malunya.


"Gak papa nih kita disini?" Tanya Jungkook dengan merasa tidak enak kepada Zya.


"Gak papa. Lagian kalau disini lebih aman, gak terlalu terpantau sama penjaganya." Jimin menjawab pertanyaan Jungkook yang sebenarnya bukan itu jawaban yang Jungkook maksud.


"Gak papa Zya?" Tanya Jungkook kepada Zya yang terlihat tidak nyaman.


"Oh gak papa kok." Ucap Zya sembari tersenyum. Zya berusaha mengendalikan dirinya agar tidak nervous. Jungkook melihat hal itu dan Jungkook tau benar kalau Zya merasa tidak nyaman.


"Bang kita pindah aja yuk." Ajak Jungkook kemudian.


"Ett dahh kenapa sih? Disini juga udah enak kalik." Jimin masih tidak peka dengan maksud Jungkook membuat Jungkook merasa geram dan segera mendekatkan wajahnya kearah Jimin.


"Lo ganggu cewek tau." Ucap Jungkook berbisik kepada Jimin agar Jimin mengerti. Tak disangka, Zya mendengar perkataan Jungkook itu.


"Kalian disini aja, gue gak papa kok. Sekalian gue gak ada temen disini." Jungkook tidak menduga bahwa Zya akan berbicara seperti itu. Sudah jelas-jelas ia melihat ketidak nyamanan diraut wajah Zya tapi Zya terus berusaha untuk menutupinya.


"Tuh adik gue gak keberatan. Udah duduk aja lo." Ucap Jimin kepada Jungkook.


Zya melihat kearah Jimin sedikit tersenyum. Dalam batin Zya 'Seandainya lo bener-bener abang gue' Sementara dalam batin Jimin 'Seandainya lo bener-bener adik gue'.


"Sejak kapan dia jadi adik lo bang?" Tanya Jungkook dengan protes.


"Gue berharap sih bisa ketemu sama adik gue." Zya mengerti perasaan Jimin yang begitu dalam.


"Udah coba lo cari bang?" Tanya Jungkook lagi.


"Udah, masih proses kok." Ucap Jimin lalu mengalihkan topik pembicaraannya. "Katanya lo pergi dari rumah ya? Kenapa?" Lanjut Jimin. Zya kaget ketika Jimin mengatakan hal itu. Zya jadi ingat kejadian kemarin saat ia bertemu dengan Jungkook dipinggir jalan.


"Lo pergi dari rumah?" Sontak Zya tidak dapat menahan pertanyaannya. Jimin ikut kaget ketika Zya mengulang kembali pertanyaannya.


"Iya." Jungkook mengangguk. "Tapi tenang aja, gue udah sewa rumah buat gue tinggal. Gue pengen mandiri sekarang. Gue juga udah punya kerjaan." Lanjut Jungkook menjelaskan.


"Kerjaan? Apa? Kalau lo butuh apa-apa, lo langsung hubungi gue aja." Jimin dengan sigap memberikan bantuannya dan Jungkook mengangguk mengerti.


"Sekarang gue kerja dibutik mamanya temen lo."


"Stella?" Tebak Zya.


"Iya. Kemarin gue udah dikontrak." Ucap Jungkook lagi.


"Terus? Hubungan lo sama keluarga lo? V?" Tanya Jimin yang penasaran. Zya pun ikut penasaran dan menunggu jawaban dari Jungkook.


"V masih tetap abang gue kok dan keluarga gue---" Jungkook terdiam tidak melanjutkan perkataannya.


"Lo gak ada masalah kan?" Tanya Zya kemudian. Zya merasa kalau Jungkook tidak sedang baik-baik saja.


Jimin memberi isyarat pada Zya agar tidak terlalu ikut campur dalam masalah Jungkook. Sepertinya Jungkook sendiri juga bingung dengan perasaannya.


"Gak papa, lo masih punya temen-temen yang baik dan cewek lo yang siap buat jadi temen lo juga disaat lo sedih." Jungkook dan Zya melihat kearah Jimin dengan tatapan melotot. Hal itu membuat Jimin bergidik ngeri dan bingung. "Apa? Gue salah?"


"Siapa yang kakak maksud cewek itu?" Tanya Zya dengan wajah garangnya.


"Lo kan ---" Jimin memberi isyarat tangannya. Zya segera memukul tangan Jimin. "Duh. Emang gue salah ya?" Jungkook tertawa kecil dan tidak menjawab pertanyaan Jimin.


Zya sudah merasa ia sedang bersama kakak kandungnya sekarang seperti ia sedang bersama Jin. Sehingga Zya tidak segan-segan memukul tangan Jimin. Jimin pun sedikit kaget ketika melihat Zya yang melakukan itu. Sungguh membuat Jimin seperti sedang bersama adiknya.


Jimin dan Jungkook berpamit ingin keluar dari perpustakaan lebih dulu, karena Zya masih akan meminjam buku diperpustakaan. Ketika Jimin dan Jungkook sudah berjalan keluar dari perpustakaan, Zya melihat sebuah foto kecil yang tergeletak dilantai. Zya segera mengambilnya dan memanggil Jimin karena sepertinya foto itu jatuh saat Jimin berdiri.


"Kak Jimin!" Jimin langsung berbalik dan menghampiri Zya yang sudah memegang foto itu. Zya melihat foto itu sekilas. "Ini punya kakak?"


"Oh iya." Jimin mengambil foto itu dengan cepat.


"Foto siapa bang?" Tanya Jungkook yang sekilas juga melihatnya.


"Adik gue. Tapi gue cuma punya ini." Zya tersentak ketika ia mendengar Jimin mengatakan hal itu. Zya menyesal tidak memperhatikan foto itu lebih lama lagi. Tapi Zya yakin, ia pasti masih ingat dengan wajah difoto itu. Zya pun segera keluar dari perpustakaan tiba-tiba terasa terburu-buru.


"Eh Zya, lo gak jadi pinjem buku?" Tanya Jungkook dengan bingung. Jungkook dan Jimin saling pandang melihat Zya yang tiba-tiba terburu-buru.


"Nggak deh besok aja." Ucap Zya dengan cepat memakai sepatunya dan segera berlari ke kelasnya. Sebelum ingatan wajah difoto itu hilang, Zya segera membuka buku diary ibunya melihat kembali foto keluarganya disana.

__ADS_1


Jimin memiliki foto yang terlihat dirinya dan adiknya, hanya berdua saja. Sementara Zya memiliki foto keluarganya yang utuh. Zya berusaha mencocokkan wajah dari kedua foto itu, walaupun sebenarnya Zya sudah tidak terlalu mengingatnya. Foto yang dimiliki Jimin, kemungkinan saat mereka lebih besar daripada foto yang Zya pegang. Karena difoto yang Zya pegang, ia masih digendong oleh ibunya sementara kakak laki-lakinya digendong oleh ayahnya. Zya berharap dapat melihat sedikit kemiripan saja dari kedua foto tersebut. Namun Stella datang kearah Zya dengan tiba-tiba sehingga membuat Zya langsung menutup buku diary nya. Stella dan Violet sudah datang dari kantin. Zya mengurungkan niatnya kembali untuk melihat foto itu.


__ADS_2