
Makan malam pun tiba. Zya dan Jin sudah duduk di meja makan bersama dengan Momy dan Daddy nya. Sesekali bercengkrama sembari bercanda kecil. Keluarga yang sangat harmonis. Bahkan sepertinya tidak pernah terdengar suara ribut disana kecuali Zya dan Jin. Tapi itu semua hanya untuk meramaikan suasana saja. Pembantu disana pun juga mengaku bahwa tidak pernah ada hal-hal yang tidak baik disana. Semuanya berjalan dengan lancar seperti air mengalir yang tanpa hambatan.
Selesai makan malam, Jin dan Zya pergi ke ruang keluarga untuk bersantai, sekedar untuk melihat tv saja. Disusul oleh momy dan Daddy. Tapi tak berselang lama, Daddy nya pamit untuk pergi tidur duluan karena pekerjaan yang membuatnya lelah hari ini. Tinggallah Zya, Jin, dan momy nya saja disana. Mereka melihat salah satu film yang menjadi film terfavorit pada saat itu. Film yang menceritakan tentang hubungan antara bos dan sekretaris nya.
Jin melihat ke arah Zya memberi tatapan suatu kode. Sesekali Zya melihat nya tetapi tidak ia gubris. Sampai pada akhirnya ia menyerah dan bertanya.
"Apa sih bang?" Tanya Zya mulai kesal.
"Apa?" Tanya Jin balik sengaja tidak menjawabnya. Ia harap Zya mengerti.
"Gak usah mancing-mancing deh." Ucap Zya masih tidak mengerti.
Momy nya yang melihat tingkah kedua anaknya itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Tidak tau apa maksud dari kedua nya tapi yang jelas anak-anak nya pasti sedang bertelepati. Yah, hanya mereka yang mengerti.
"Dek Lo bareng siapa besok?" Tiba-tiba Jin bertanya dengan benar.
"Ya bareng Abang lah." Jawab Zya pasti.
"Oke." Ucap Abangnya yang masih berusaha memberi kode.
__ADS_1
"Emang kalian mau kemana?" Tanya momy penasaran. Tumben mereka berdua ada acara bersama diluar rumah' batin Momy.
"Abang sama adek diundang ke acara fashion show mom." Jawab Jin dengan sedikit menjelaskan.
"Oh gitu. Ya udah hati-hati besok. Yang akur kalian." Ucap momy. Ia tak mau berpikir panjang karena dirinya pun sudah mulai mengantuk tapi masih ingin menonton tv.
"Iya mom." Jawab Zya dan Jin serentak.
Jin terus berusaha agar Zya mengerti maksudnya tentang bingkisan yang ia bawa tadi sore. Karena Jin sudah kehabisan akal, ia pun mengirim pesan pada Zya.
*Sent message to Zya.
J : Buka hp woy.
J : Woy lah.
J : Gue omongin di depan momy nih.
J : Asjshshdhdhdh
__ADS_1
J : Hhh capek gue.
J : Lo pacaran ya sama Jungkook?
J : Jawab nj*Ng
Zya yang melihat abangnya tengah sibuk dengan hp nya terus mengetik. Ia tidak berpikir bahwa Jin sedang mengirim pesan kepadanya. Jadi Zya hanya melihatnya saja tanpa mengecek hp nya.
Jin melihat sikap Zya yang masih sama seperti tadi. Suara hp Zya pun sebenarnya tidak ia dengar juga. Jin memilih untuk memeriksa disekitar Zya, mencari dimana hp nya ia letakkan. Dan benar saja, Jin tidak melihat Zya dengan hp nya disitu. 'Apa ada dikamar? ah tidak, tadi dia bawa hp kok pas makan malam.' batin Jin yang masih asik dengan pikirannya. Tak lama kemudian, Jin memiliki ide. Ia segera menelfon Zya agar hp nya berbunyi. Dan benar saja, hp Zya berdering tapi bukan disampingnya melainkan ditempat lain.
Zya yang mendengar suara handphone nya langsung bangun dan mencari handphone nya melalui sumber suaranya. Tak butuh waktu lama, Zya segera menemukan handphone nya. Sekilas ia kesal ketika melihat bahwa abangnya lah yang iseng menelfonnya. Tetapi pada saat Zya membuka isi pesannya, ia baru ingat bahwa ia masih belum membuka bingkisan dari Jungkook tadi sore. Zya langsung berjalan menuju kamarnya mengabaikan tatapan abangnya yang kesal melihat Zya tidak membalas pesannya. Bahkan saat ia mau ke kamarnya pun tidak pamit kepadanya dan momy.
Jin terus menelfon Zya, ia akan berhenti jika Zya menjawabnya. Namun, sepertinya Zya lebih pintar. Ia mematikan nada dering handphone nya agar Jin tidak mengganggunya. Sementara Zya akan membuka bingkisannya lebih dulu. Zya mengunci pintu kamarnya, memastikan tidak akan ada orang yang masuk ke kamarnya selagi ia membuka bingkisan itu. Satu-satunya manusia yang ia hindari adalah abangnya.
Zya segera mengambil bingkisan itu dan membuka nya dengan pelan. Betapa terkejut nya ia ketika melihat satu dress cantik dengan warna perpaduan antara putih dan ungu. Ini adalah dress yang sangat ia sukai. Warnanya pun cantik. Salah satu warna favorit Zya. Zya mencoba untuk mencocokkan nya dibadannya lalu melihat kearah kaca yang menampakkan dirinya. Wah! Ini benar-benar bagus. Berapa untuk satu dress ini? Pasti tidak murah. Jahitan demi jahitannya sangat rapi. Modelnya pun simple tapi berkelas. Sangat cocok dengan selera Zya. 'Tunggu darimana Jungkook tau tentang seleranya? Dan ukuran badannya? Sangat pas.' batin Zya disela-sela kekagumannya terhadap dress itu. Tidak tau Zya harus membalasnya dengan apa nanti, yang jelas ia tak bisa berkata-kata sekarang. Menurutnya dress ini terlalu cantik, bahkan lebih cantik dari dress manapun yang pernah ia lihat.
Zya melihat kedalam bingkisannya lagi, ada sebuah kertas disana. Tidak tau apa isinya. Zya segera mengambil kertas itu dan mulai membukanya. 'Seperti surat' batin Zya sedikit ragu. Zya membacanya dalam hati. Sontak ia kaget, jantungnya mulai berdegup kencang. 'Oh ayolah Zya apa ini?' Zya masih tidak percaya. Inti dari surat itu adalah Jungkook menyukainya sejak lama, tapi ia belum bisa mengatakan itu semua secara langsung. Bagaimana Zya harus menghadapinya? Zya mulai malu untuk bertemu dengan Jungkook. Disatu sisi ia merasa sangat senang tapi disisi lain entahlah ia masih belum bisa menentukan jawaban hatinya. Zya terus menguls senyum dibibirnya, membuat pipiny semakin memerah. Untungnya ia sudah mengunci pintu kamarnya, jadi tidak ada kejadian yang tidak ia inginkan. Abangnya bisa saja tiba-tiba masuk tanpa mengetok pintu. Mengingat abangnya yang terlalu kepo dengan isi bingkisan ini.
Kini Zya lega, tidak bingung lagi tentang acara fashion show itu. Tapi ia bingung bagaimana nanti jika bertemu dengan Jungkook. Apa yang harus ia lakukan? Ah sudahlah. Ia harus tetap tenang, jangan terlihat aneh didepan Jungkook. Surat yang ia terima, ia simpan dengan baik didalam lacinya. Dress nya pun ia simpan dengan rapi, agar besok tidak terlihat kusut ketika ia akan memakainya. Oh satu lagi, ia segera memberi tahu Jin soal isi dari bingkisan itu. Tentu saja melalui pesan Jin yang kemudian ia balas. Zya juga melampirkan sebuah foto dari dress nya. Agar Jin tidak penasaran lagi. Ia tau bagaimana rasanya dihantui dengan rasa penasaran. Karena ia pun pernah merasakannya.
__ADS_1