
Sesuai kesepakatan, mereka baru saja melangsungkan pernikahan. Pernikahan itu memang dilakukan secara tertutup dan jauh dari kata mereka. Tidak ada ribuan tamu undangan, maupun perjamuan mewah seperti acara pernikahan orang kaya pada umumnya.
Pernikahan Kevin dan Jessica hanya dihadiri orang-orang terdekat mereka saja, seperti ibu dan adik Jessica. Bibi dan adik tiri Kevin, serta Chan.
Jessica terlihat begitu cantik dan menawan dalam balutan gaun pengantinnya. Meskipun tidak terlalu mewah, namun begitu cantik dan elegan. Sedangkan Kevin terlihat tampan dalam balutan setelan jas hitamnya.
"Bibi, siapa wanita itu sebenarnya? Kenapa kakakku harus menikahi wanita tidak jelas asal-usulnya seperti itu?" Bisik Loona yang tak lain dan tak bukan adalah adik tiri Kevin.
"Bibi juga tidak tau, dan jujur saja Bibi sangat keberatan dengan pernikahan ini!!"
"Lalu kenapa Bibi tidak menghentikannya?! Bukankah Bibi yang paling tua dalam keluarga kita?"
Marry mendesah berat. "Memangnya apa yang bisa Bibi lakukan? Menantangnya, sama artinya dengan menggali lubang kubur sendiri. Seperti kau tidak mengenal sifat dan karakter kakakmu. Dia lebih mengerikan dari Raja Iblis sekalipun."
"Tapi aku sangat tidak suka wanita itu masuk dalam keluarga kita. Dan bagaimana aku harus mempertanggung jawabkan pada kak Andien jika dia kembali nanti."
"Itu sih masalahmu, bukan masalah Bibi. Kau yang menjodohkan mereka berdua, jadi harus kau sendiri yang mencari jalan keluarganya!!"
Loona mendecih. "Bibi menyebalkan!!'
Jessica menarik napas panjang dan menghelanya. Diam bukan berarti dia tidak mendengar apa yang mereka katakan, tapi dia bersikap acuh dan tak peduli. Dan Jessica hanya menganggap angin lalu.
Tangan Kevin terasa gatal mendengar apa yang mereka bicarakan. Rasanya Kevin ingin segera memberikan pelajaran pada mereka berdua.
Sedangkan Karina merasa takut jika keluarga pria yang menikahi putrinya akan memperlakukan putrinya dengan buruk.
Jessica tersentak saat merasakan sebuah tangan menggenggam jari-jarinya dengan erat. Lantas dia mengangkat wajahnya dan menatap Kevin yang juga menatap padanya. Pria itu tersenyum lebar kearahnya, meyakinkan padanya jika semua akan baik-baik saja.
"Aku pasti akan menjaga dan melindungimu dari mereka."
"Tenanglah, aku bukanlah perempuan lemah yang mudah untuk ditindas."
"Dan aku menyukai wanita tangguh sepertimu."
Acara pun di mulai. Seorang pendeta yang memimpin acara sakral itu memulai acaranya. Jantung Jessica berdegup kencang dan saat ini dia gugup setengah mati.
__ADS_1
"Jessica Veronica Eveline. Bersumpahlah di hadapan Tuhan, untuk menyayanginya dan mencintainya dalam suka maupun duka, disaat sakit ataupun sehat. Baik miskin ataupun kaya. Setia sampai ajal menjemput."
Jantung Jessica berdetak semakin kencang begitu bibirnya bergerak untuk mengucapkan sumpahnya. Dia benar-benar sangat gugup setengah mati.
"Kevin Nero. Bersumpahlah di hadapan Tuhan, untuk menyayanginya dan mencintainya. Dalam suka maupun duka, disaat sakit atau sehat, baik miskin ataupun kaya. Setia sampai ajal menjemput."
"Ya, aku menerimanya. Dan aku bersumpah untuk menyayanginya dan mencintainya, dalam suka maupun duka, disaat sakit ataupun sehat, baik miskin ataupun kaya. Setia saat, sampai ajal menjemput." Kevin menjawab dengan tegas.
"Dan sekarang kalian berdua telah resmi menjadi sepasang suami istri dan sekarang cium pengantin-mu."
Jessica di tarik ke depan. Kepalanya di dongkakkan ke atas. Dan selanjutnya dia bisa merasakan bibirnya yang terasa basah namun hangat.
Kedua tangannya terkepal kuat, dengan ragu Jessica mengangkat kedua tangannya, yang kemudian dia kalung-kan pada leher Kevin.
Kevin menarik Jessica ke dalam pelukannya. Ia merunduk mendekatkan bibirnya pada telinga gadis itu. "Selamat datang di kehidupan baru. Nyonya Nero."
Mirra, Elia, Dion dan Aldo meninggalkan gereja sebelum acara pernikahan Jessica selesai di gelar. Begitu pula dengan Loona dan Dessy. Mereka benar-benar tidak tahan dan memutuskan untuk pergi.
Jessica meninggalkan suaminya dan menghampiri sang ibu. Tanpa banyak berkata-kata, Jessica langsung memeluk ibunya dengan erat.
Karina mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan putrinya. Karina tidak bisa membendung air matanya, dia bingung harus bagaimana.
Sebagai orang tua, seharusnya dia yang membahagiakan putra-putrinya, bukan justru putrinya yang bekerja keras untuk membahagiakannya.
"Sica, maafkan Ibu. Seharusnya Ibu yang bekerja keras untuk membahagiakanmu dan Jerremy, bukan malah kau yang harus banyak berkorban untuk kami."
"Apa yang ibu bicarakan. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Ibu sehat dan baik-baik saja itu sudah lebih dari cukup untukku."
Jerremy menghampiri ibu dan kakaknya kemudian memeluk keduanya. Sedangkan Kevin menatap mereka dari kejauhan dengan tatapan tak terbaca.
Dia merasa sedih sekaligus terharu, pengorbanan besar seorang anak untuk membahagiakan Ibunya, sungguh tindakan yang sangat mulia.
Kevin menghampiri ketiganya. "Ibumu pasti sangat lelah, apalagi dia belum lama keluar dari rumah sakit. Ayo, sebaiknya kita antarkan ibu dan adikmu untuk pulang."
Jessica menyeka air matanya dan mengangguk. "Baiklah. Ibu, Jerremy, ayo." Keempatnya berjalan beriringan meninggalkan aula pernikahan.
__ADS_1
.
.
.
Mobil Kevin berhenti di sebuah rumah yang memiliki dua lantai dan taman yang sangat luas. Rumah itu juga memiliki sebuah kolam kecil dengan air mancur tepat di tengah-tengah kolam tersebut.
Karina menatap bingung pada Kevin. Pasalnya pria itu bukannya mengantar ia dan Jerremy pulang ke rumahnya tapi malah ke tempat asing.
"Mulai hari ini dan seterusnya kalian berdua akan tinggal di sini. Kalian layak mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Terutama kau, Bu. Sudah seharusnya kau hidup di lingkungan yang lebih baik."
"Di rumah ini sudah ada 10 pelayan yang siap melayani kalian setiap saat. Dan ini adalah Paman Nam, dia yang akan mengurus segala keperluan kalian."
Jessica menatap pria yang sejak beberapa jam lalu telah resmi menjadi suaminya itu dengan pandangan bertanya. "Apa semua ini tidak terlalu berlebihan?"
"Sama sekali tidak, karena kau dan keluargamu layak mendapatkan kehidupan yang lebih layak dan lebih baik. Ayo masuk," Kevin menggenggam tangan Jessica dan keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam.
.
.
.
"Apakah kita juga akan tinggal di sini bersama Ibu dan Jerremy?" tanya Jessica sambil menatap sepasang mutiara berlapis lensa abu-abu milik Kevin.
Saat ini keduanya sedang berada di salah satu kamar di rumah tersebut. Kevin menggeleng."Kita akan tinggal terpisah dengan mereka. Mulai hari ini kau akan tinggal di rumah utama dan menjadi menjadi nyonya di sana."
"Apakah itu tidak terlalu berlebihan untukku?"
Kevin mencakup wajah Jessica dan mengunci manik hazelnya. "Bukankah aku sudah berjanji akan memberikan kehidupan yang lebih baik dan lebih layak padamu? Dan aku akan menepati itu." Kemudian Kevin membawa Jessica kedalam pelukannya.
Dengan ragu dan tak yakin, Jessica membalas pelukan suaminya. Dia bingung harus bagaimana mendeskripsikan perasaannya saat ini, yang jelas dia seperti baru terbangun dari mimpi yang sangat indah.
-
__ADS_1
Bersambung.