"DUDA HOT" (Gairah Cinta Pria Kesepian)

"DUDA HOT" (Gairah Cinta Pria Kesepian)
Kepergian Jessica


__ADS_3

PLAKKK...


Sebuah tamparan keras Jessica daratkan pada pipi Mirra dan Dion. Dia sungguh tidak rela karena Mirra dan Dion memperlakukan ibunya dengan sangat buruk.


Mereka tidak ada sopan-sopan-nya sama sekali, dan sebagai seorang putri, tentu saja Jessica tidak rela melihat ibunya di perlakukan seperti itu.


"Jessica, apa-apaan kau ini?!" Bentak Dion marah.


"Kalian yang apa-apaan?! Dan kau, Kak, bagaimana bisa kau memperlakukan ibumu sendiri seperti kau memperlakukan seorang pembantu? Dia adalah ibumu, wanita yang telah membelamu, seharusnya kau lebih bisa menghormatinya!!"


"Sebaiknya kau tidak usah menceramahi kami, lagipula kami tidak melakukan apapun padanya, dan kau saja yang melebih-lebihkan!!"


"Apa?! Melebih-lebihkan kau bilang? Kau benar-benar menantu kurang ajar dan tidak tau malu. Sungguh sebuah bencana ibu memiliki menantu sepertimu!!!"


"JESSICA!!!"


PLAKKK...


Dion menampar Jessica dengan sangat keras. Dan apa yang Dion lakukan tentu saja mengejutkan orang-orang yang ada di sana, Kevin terutama. Awalnya dia yang tidak ingin ikut campur akhirnya pun turun tangan.


"Brengsek, beraninya kau menampar istriku!!'


Kevin menarik lengan Dion dan melayangkan sebuah tinju pada wajahnya. Melihat apa yang dilakukan oleh Dion pada Jessica membuat Kevin terbakar emosi. Dan memangnya suami mana yang akan terima melihat istrinya disakiti di depan matanya.


"B*ngsat!!! Berani sekali kau ikut campur, ini adalah masalah keluarga. Dia adalah adikku dan terserah aku mau memperlakukannya seperti apa." Ujar Dion penuh emosi.


"Aku tidak memungkiri jika dia memang adikmu, tapi aku adalah suaminya, dan aku tidak terima kau menyakitinya!!'


"Jangan ikut campur, kau bukan siapa-siapa di sini. Kau hanya orang asing dan kedatanganmu di sini tidak di terima."


"Jika aku adalah orang asing. Maka istrimu pun sama. Dia juga orang asing. Dia dan aku tidak ada bedanya, dia juga hanya menantu di sini. Dan kedudukannya imbang denganku!!"


"Lancang!! Mulutmu memang sangat berbisa, Kevin Nero, dan aku akan membungkam bibirmu itu ubruk selamanya!!" Teriak Dion penuh emosi.


Dion mengeluarkan sebuah pistol dari balik pakaiannya yang kemudian dia arahkan pada Kevin. Karina yang menyaksikan hal itu pun tak lantas tinggal diam. Dia menghampiri mereka dan berusaha melerai pertengkaran menantu dan putranya tersebut.


"Hentikan kalian berdua. Kalian keluarga, tidak seharusnya kalian bertengkar seperti ini!! Dan kau, Dion, turunkan senjatamu sekarang juga, itu sangat berbahaya!!"


"Aarrkkhh...!! Dasar wanita tua menyebalkan. Sebaiknya kau tidak usah ikut campur." Dion mendorong Karina hingga tersungkur di lantai.


"Ibu," Jessica dan Jerremy segera menghampiri ibu mereka lalu membantunya untuk berdiri.


"Dion, sungguh-sungguh keterlaluan!! Sebagai seorang anak, di mana sopan santun dan rasa cintamu padanya?! Dia ibumu, orang yang telah melahirkan-mu, tidak seharusnya kau memperlakukannya dengan buruk!!"


"Diam kau, Kevin Nero, aku bilang jangan ikut campur!!"


"Seharusnya anak durhaka dan tak berotak sepertimu tak pernah lahir ke dunia ini!!"


"KEVIN NERO!!" Dion berteriak kencang dan mengarahkan tepat senjatanya pada dada Kevin.


Melihat Dion mulai menarik pelatuk pada senjata di tangannya, membuat mata Jessica terbelalak, tanpa berfikir panjang, Jessica melepaskan pegangannya pada tubuh ibunya dan berlari menghampiri Kevin sambil berteriak kencang...


"DION!!! JANGAN!!!"


Duoorrrr~"

__ADS_1


"JESSICA//NOONA!!"


Peluru itu menerjang punggung Jessica. Dia menghalau peluru yang Dion tunjukkan pada Kevin dengan cara memeluknya.


Tubuh Kevin pun gemetar melihat kedua tangannya berlumur darah Jessica saat Ia menahan tubuhnya yang tiba-tiba ambruk ke dalam pelukannya. Dari tangannya, lalu pandangan Kevin beralih pada wajah Jessica yang penuh air mata dan keringat, kedua matanya perlahan terpejam.


"Jessica!!"


Kevin menjatuhkan tubuhnya bersama tubuh Jessica, pria itu menatap wajah Jessica yang tampak pucat dengan mata berkaca-kaca. Berkali-kali Ia mengguncang tubuh wanita itu dan berharap jika istrinya akan segera membuka matanya, namun sia-sia. Jessica tetap tidak memberikan respon apa-apa.


"Sayang, Jessica, bangun, buka matamu. Aku mohon, jangan membuatku takut." Lirih Kevin memohon.


Karina dan Jerremy ikut menjatuhkan tubuh mereka di samping Jessica. Karina dan Jerremy sudah menangis histeris. Sementara Dion langsung menjatuhkan senjatanya, dia lemas melihat apa yang menimpa adiknya.


Jerremy mengangkat wajahnya dan menatap Dion dengan marah. Tanpa berkata apa-apa. Jerremy menerjang tubuh Dion dan menghajarnya hingga babak belur. Sedangkan Dion tak merespon, bahkan dia tak berusaha membalas apalagi menghentikan Jerremy.


"Sica, buka matamu, Nak. Ibu mohon." Lirih Karina di tengah isakannya.


Kevin memeriksa denyut nadi Jessica, denyut nadinya sangat lemah. Tanpa banyak berfikir pria itu segera mengangkat tubuh Jessica dan melarikannya ke rumah sakit sebelum dia semakin kehilangan banyak darah.


Sebelum pergi, Kevin tak lupa melirik sekilas pada pasangan suami-istri itu dengan tatapan tajam dan mengintimidasi.


"Ingat jika terjadi apa-apa pada dia, aku tidak akan memaafkan kalian berdua." Ucap Kevin dan berlalu begitu saja.


"Lakukan apa pun yang ingin kau lakukan Kevin Nero. Kau pikir kami peduli!! Toh dia hanya adik ipar ku, dan bagus jika dia mati. Dengan begitu aku tidak memiliki penghalang lagi." Teriak Mirra dengan penuh ambisi.


PLAKK...!!


Karina langsung menampar keras pipi Mirra, bukan hanya satu kali saja, namun berkali-kali. Dia marah, benar-benar marah. "Kau benar-benar iblis. Aku pasti akan menghabisi kalian berdua jika hal buruk sampai menimpa putriku!!" Teriak Karuan penuh emosi.


"Untuk kali ini kalian aku ampuni, tapi tunggu saja nanti." Kevin mengepalkan tangannya, Ia berjalan menuju mobilnya di parkirkan.


Kevin mendudukkan tubuh Jessica di jok depan, samping jok kemudi yang akan Ia duduki. Kevin melirik sekilas pada sang istri dan mengusap kepalanya penuh sayang. Sementara matanya sudah tampak berkaca-kaca.


"Bertahanlah, Jess, aku pasti akan menyelamatkan nyawamu!!"


-


Para Dokter dan Suster sedang berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan nyawa Sooyeon dan mengambil peluru yang bersarang di dalam tubuhnya. Layar petujuk detak jantung mulai melemah dan berbunyi cepat, hal itu membuat Dokter maupun Suster menjadi semakin panik.


"Dokter terjadi hypovolemic syok." Ucap salah satu suster.


"Pompa terus jantungnya dan usahakan untuk tetap stabil."


"Dokter terjadi kebocoran pada jantung pasien dan terjadi pendarahan hebat. Tekanan darahnya juga semakin melemah."


"Tambahkan lagi kantong darahnya."


"Dokter tidak ada pengaruh apa-pun."


"Lihatlah ini Dok, ini hasil CT scanenya."


Dari hasil CT scane itu terlihat jelas daging yang robek dan pembuluh darah yang pecah akibat terjangan peluru itu. Beberapa rusuk tampak hancur dan ada lubang di bagian jantungnya, dan pelurunya bersarang tepat di rongga dadanya.


"Dokter detak jantung pasien tidak terditeksi lagi."

__ADS_1


" Siapkan alat pemacu jantung."


" Baik Dokter."


Dokter menuangkan sebuah cairan pada alat pacu itu kemudia di gosokan dengan cepat ke alat pemacu jantung tersebut.


" And the clear."


Clear ..


Clear ..


Clear ..


Dokter itu masih terus berusaha untuk menyelamatkan nyawa Jessica lagi dan lagi, namun setelah beberapa kali mencoba akhirnya Dokter pun pasrah dan menggeleng pada Susternya.


"Waktu kematian Seoul Hospital, pada pukul 11 siang." Ucap Dokter itu dengan lemah.


Dokter itu pun meninggalkan ruang operasi dan memberitaukan kabar duka ini pada keluarga pasien.


Ckllekkk ... !!! ...


Pintu ruang operasi terbuka..


Terlihat seorang pria lengkap dengan jas putihnya keluar dari dalam ruangan itu. Raut wajahnya begitu muram, sorot matanya menunjukkan kesedihan dan penyesalan.


"Dokter bagaimana keadaan Putri saya?"


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan nyawa Putri Anda, Nyonya. Rapi nyawanya tidak bisa di selamatkan. Saya sungguh-sungguh minta maaf, kami para tim media tidak bisa menyelamatkan nyawanya. Terjadi kebocoran pada jantungnya, peluruh itu memecah pembulu darah dan menembus jantung Nona Jessica." Ujar Dokter itu pada Karina.


Karina yang mendegar itu syok dan nyaris tidak percaya, air matanya yang mulai mengering kembali tumpah dan membasahi wajahnya. Sedangkan Kevin jatuh lemas mengetahui fakta jika dia telah kehilangan istrinya.


Wanita itu menoleh pada sosok gadis yang terbujur kaku di atas kereta dorong yang di bawah keluar oleh beberapa suster dan kemudian menghampirinya.


"Putriku bangun, tidak mungkin kau tidak mungkin meninggalkan Ibu. Bangun Jessica, bangun Sayang."


Air mata Karina semakin deras, wanita itu memeluk tubuh Jessica dengan erat dan menangis sejadi-jadinya. Paman Nam yang merasa tidak tega menghampiri Karina dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya.


"Kuatkan hati Anda, Nyonya, ini adalah kehendaknya." Ucap Paman Nam menenangkan.


"Kenapa ini harus menimpa Putriku juga? Kenapa Tuhan merenggut semuanya dariku? Kenapaaa?" Jerit Karina dengan suara pilunya.


Kesedihan tidak hanya di rasakan oleh Jerremy, Paman Nam dan terutama Kevin. Ia merasakan hal yang sama seperti yang di rasakan oleh Karina. Kevin hanya diam sambil memandang wajah dan tubuh istrinya yang telah terbujur kaku.


Semua sangat kehilangan.


Luhan terus diam seperti patung dengan mata terarah pada wajah Jessica. Raut wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa-apa, selain tatapan datar.


Ia baru saja merasakan jatuh cinta, namun di saat perasaan itu tumbuh di dalam hatinya. Wanita yang Ia cintai justru meninggalkan dia untuk selamanya.


Hatinya terasa sakit bagaikan tertusuk ribuan belati hingga berkali-kali, Ia tidak bersuara namun tatapannya tak sedikit pun lolos dari wajah pucat di depannya.


Hatinya terus memanggil nama Jessica dan berharap sang istri akan kembali dan membuka matanya lagi, namun itu hanya sebuah harapan kosong belaka karena wanita itu sudah pergi untuk selamanya.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2