
Langit sore tak secerah biasanya, mendung dan awan mengulung di ujung cakrawala.
Angin musim semi menerbangkan beberapa helai dedaunan berwarna kuning kecoklatan di area pemakaman.
Pria itu masih enggan beranjak dari tempatnya berdiri, pandangannya kosong. Wajahnya basah dan matanya berkaca-kaca menatap gundukan tanah yang masih basah di hadapannya.
"Kenapa kau pergi begitu cepat Jess." Suaranya serak, nafasnya tercekat, dadanya terasa sesak, kedua matanya menatap lurus pada nisan yang bertuliskan nama 'Jessica Nero'.
Istri yang sangat Ia sayangi kini pergi untuk selamanya. Kevin sungguh tidak pernah menyangka bila Jessica akan pergi secepat ini.
Dan semua yang terjadi bagaikan sebuah mimpi di siang bolong, karena baru tadi pagi mereka saling berbagi cinta dan kehangatan, namun di tengah hari ia malah kehilangan Jessica. Yang lebih menyakitkan lagi. Wanita itu pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan.
Menyakitkan memang, namun Kevin tetap harus menerima kenyataan pahit yang kini menimpa hidupnya. Dan sesakit apapun dia. Kevin harus tetap melanjutkan hidupnya.
Tak jauh berbeda dari Kevin. Karina dan Jerremy pun merasakan hal yang sama seperti apa yang di rasakan oleh pria itu. Putri yang sangat Ia cintai kini tidak ada lagi di dunia ini, dan Ia telah pergi untuk selamanya.
Kepergian Jessica yang begitu tiba-tiba menyisahkan luka mendalam di hati Karina, semua terjadi begitu cepat.
Impian dan harapan yang Ia bayangkan selama ini justru hilang dalam sekejap mata karna kepergian putri tercintanya itu.
Kebahagian yang Ia impikan kini telah musnah, tak ada lagi yang tersisa selain luka yang membekas di hati Karina. Tragedi yang menimpa Jessiva telah merenggut segalanya dari hidupnya termasuk kebahagiannya.
"Sica, bukankah kau masih memiliki satu janji pada Ibu. Lalu kenapa kau harus mengingkarinya? Kau berjanji akan memberikan seorang cucu yang sangat cantik dan tampan, tapi kenapa kau harus mengingkarinya, Nak? Kenapa?"
"Ibu, jangan menangis lagi. Kasian Sica Noona," Jerremy berusaha menenangkan ibunya. Ia sendiri sudah banjir air mata sedari tadi.
Kevin menghampiri Ibu serta adik iparnya."Sudah hampir malam, sebaiknya sekarang kita pulang." Dan keduanya mengangguk.
Kevin menghentikan langkahnya dan menatap pedih gundukan tanah yang menjadi peristirahatan terakhir istrinya.
Kini cintanya telah terkubur bersama jasad Jessica. Dan Kevin tidak tau lagi bagaimana harus melanjutkan hidupnya kini. Apakah hidupnya masih akan terasa sama tanpa kehadiran Jessica? Entahlah, karena hanya waktu yang bisa menjawabnya.
~
"SATU TAHUN KEMUDIAN"
__ADS_1
~
Langit begitu terik di langit kota Seoul hari ini. Sebagian orang akan memilih untuk berduduk santai sambil menikmati 1 cup ice cream, namun sebagian lagi memilih untuk menyegarkan dirinya dengan cara berenang di tempat wisata maupun di kolam renang milik pribadi.
Angin berhembus kencang dan menerbangkan helain-helaian rambutnya yang berwarna hitam keunguan. Wajahnya mulai memerah dan bulir keringat mulai mengalir dari pelipisnya.
Ia hanya berdiri datar menatap gundukan tanah yang ada di depannya, hatinya perih mengingat jika orang yang Ia cintai telah terbujur kaku di dalam tanah itu.
Ia tidak mengerti kenapa takdir begitu kejam padanya, takdir telah merenggut semua orang yang dia cintai dari sisinya. Kedua orang tuannya dan wanita yang sangat di cintainya.
Semua begitu cepat dan yang terjadi bagaikan sebuah mimpi buruk yang terjadi di siang hari.
Sudah satu tahun berlalu semenjak kepergian Jessica, dan Kevin masih belum bisa merelakan kepergiannya.
Sangat sulit bagi Kevib untuk bisa menerima kenyataan jika istri yang sangat dia cintai telah pergi untuk selamanya dan impiannya untuk membahagiakan dia pun tidak pernah tersampaikan. Bagaikan petir di siang bolong. Tidak ada angin dan tidak ada hujan, tiba-tiba Tuhan memanggil Jassica dari sisinya.
Hingga detik ini Kevin masih membiarkan Dion dan Mirra menikmati kemenangannya atas kematian Jessica, dia tidak membunuhnya atau membuat mereka membusuk di dalam penjara, membiarkan mereka berbahagia sebelum dengan tangannya sendiri Ia melenyapkan mereka berdua.
Kevin pasti akan membalaskan kematian Jessica pada mereka dengan caranya.
Kevin ingin membuat hidup pasangan suami-istri itu di cekam ketakutan, Kevin akan membuat mereka merasakan hidup bagaikan di sebuah neraka.
Api yang awalnya telah menyala semakin berkobar di dalam hati Kevin, keinginannya untuk membalas dendam semakin membara.
Pria itu mengepalkan kedua tangannya dan menatap gundukan tanah di hadapannya dengan datar namun menyiratkan kesedihan yang mendalam.
"Maafkan aku karena aku masih belum bergerak sama sekali. Ak pasti akan membalaskan kematianmu dan membuat mereka membayar mahal untuk semua dosa yang telah mereka lakukan padamu. Tapi bersabarlah, karena aku akan melakukannya secara perlahan-lahan."
Kevin beranjak dari hadapan makam Jessica dan berjalan meninggalkan area pemakaman menuju mobilnya yang terparkir di luar area tersebut.
Pemuda itu membungkukkan tubuhnya saat tanpa sengaja kunci mobilnya terjatuh. Tanpa Kevin sadari seorang gadis baru saja melintas di depannya, seorang gadis bersurai coklat terang dengan balutan dress hitam selutut dan sebuah kaca mata hitam. Rambut panjangnya yang indah di biarkan tergerai begitu saja.
"Menyusahkan saja." Dumalnya dan melanjutkan kembali langkahnya.
Namun langkahnya kembali terhenti saat Ia menyadari sesuatu. " Parfum ini?"
__ADS_1
Kevin mencium aroma parfum yang sama seperti parfum yang biasa di gunakan oleh Jessica.
Kevin membalikkan tubunnya namun tidak mendapati siapa pun di sekitar pemakaman selain sosok gadis yang berjalan berlawanan arah dengannya.
Kevin mengangkat bahunya acuh dan segera masuk kedalam mobilnya, dan dalam hitungan detik. Mobil itu telah melesat jauh meninggalkan area pemakaman.
-
Seorang gadis berjalan sedikit terburu sambil mengikat rambut panjangnya yang berwarna coklat muda, hari ini Ia memiliki janji dengan Ayahnya untuk bertemu di sebuah restoran yang biasa mereka datangi.
Sialnya Ia harus berjalan kaki karna mobinya tiba-tiba saja mogok, parahnya lagi Ia harus melewati pemakaman agar bisa segera sampai di sana. Meskipun itu sedikit mengerikan, namun Ia tidak memiliki pilihan. Dan untungnya ini masih siang, seandainya sudah malam. Mungkin dia akan mati berdiri.
Brakkk .. !! ..
Pintu restoran itu di buka dengan sedikit keras hingga menimbulkan dentuman yang cukup memekatkan telinga, menyita semua perhatian para pengunjung yang ada di sana. Semua mata kini tertuju padanya, gadis itu mengangkat bahunya acuh dan tidak terlalu menghiraukannya.
"Ayah!!" Suara melengkingnya menggema di dalam ruangan tersebut.
Ia melambaikan tangannya pada paruh baya yang duduk sendiri di meja paling ujung samping jendela kaca. Pria itu tersenyum tipis dan membalas lambaian tangan Putrinya.
Dengan cepat gadis itu berjalan menghampiri pria itu, namun tiba-tiba saja...
Bruggg .. !!! ..
Tanpa sengaja Ia bertabrakan dengan seorang pria hingga membuat dia terjatuh dalam posisi duduk.
"Yak!! Tuan di mana matamu saat berjalan? Lihatlah karena ulahmu pantatku jadi ngilu." Gadis itu melayangkan protesnya pada pria di depannya tanpa menatap wajahnya, wajahnya tertunduk kebawah dan tertutup sebagian rambut panjangnya.
Sedangkan orang itu hanya menatapnya datar, karna tak ada respon. Gadis itu mendongakkan wajahnya dan...
"Jessica!!"
-
Bersambung.
__ADS_1