
BYURRR .. BYURRR ..
Luna membasuh wajahnya yang terasa panas karena kegugupannya. Irene yang sedari tadi ada di sampingnya hanya menatap Luna penuh keheranan.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Irene memastikan.
"Sedikit buruk, aku kepanasan." Balas Luna menimpali.
"Kau bersikap aneh malam ini, Nona. Jangan-jangan ini karena pria bernama Kevin Nero itu ya? Jangan bilang kalau kau sudah jatuh cinta padanya Luna William?!" Tebak Irene penuh selidik.
Gadis itu menatap Luna penuh selidik. Alih-alih ingin membalas pertanyaan Irene, Luna justru kembali membasuh wajahnya dan menggeleng.
"A-a-p-a maksudmu? Memangnya siapa yang jatuh cinta pada siapa, lagi pula dia adalah kakak ipar ku, dia sangat mencintai mendiang Jessica, jadi tidak mungkin jatuh cinta pada orang lain." Balas Luna memaparkan.
"Benarkah, tapi matamu mengatakan hal yang lain." Ucap Irene
Luna mendengus panjang. "Sudahlah jangan bicara omong kosong lagi, sudah terlalu lama kita di sini. Aku mau kembali." Ucap Luna dan berlalu begitu saja. Irene mendengus kesal, seharusnya Ia sudah terbiasa dengan sikap Luna yang seperti itu.
"Minggir, jangan halangi jalanku!!" Pinta Luna pada tiga perempuan yang tiba-tiba saja memblokir jalannya.
Saat keluar dari toilet, Luna di halangi oleh tiga wanita yang entah dari mana asalnya tiba-tiba saja berdiri dan menghalagi jalannya. Bukannya minggir dan menuruti permataan Luna, salah satu dari ketiga perempuan itu justru menghampiri Luna.
"Tidak usah memasang wajah kesal seperti itu dan bersikaplah lebih santai sedikit, aku tidak akan menggigit kok. Aku hanya ingin bertanya dan mengatakan satu hal padamu." Ucap salah satu dari ketiga wanita itu,
Luna memutar bola matanya jengah mendengar wanita itu hanya mengatakan kalimat yang berputar-putar saja.
"Katakan." Pinta Luna dingin.
"Apa kau yang bernama, Luna William?"
"Memangnya apa pentingnya untukku memberi namaku padamu? Dan jika kau datang hanya untuk bertanya hal semacam ini, sebaiknya kau segera pergi."
"Lagi pula aku tau kemana arah pembicaraanmu dan aku tau jika kau adalah gadis yang bersama Mark hari itu, aku tidak akan membuat perhitungan denganmu."
"Dan jika kau menemuiku hanya untuk membahas masalah itu, sebaiknya kau pergi saja. Aku tidak peduli, jika kau ingin memilikinya. Ambil saja, lagi pula aku sudah menemukkan seseorang yang jauh lebih baik dari Mark. Dia lebih tanpan dan lebih mapan, jadi untuk apa aku harus berebut Mark denganmu." Tutur Luna panjang lebar.
"Benarkah? Kenapa aku sangat meragukannya? Bukankah kau sangat mencintai Mark ya?"
"Apa kau ingin aku membuktikannya? Baik, ikut aku." Luna menarik sudut bibirnya dan berlalu begitu saja.
Sementara itu, Irene yang mendengar semua percakapan Luna dan wanita itu menyipitkan matanya. Ia penasaran siapa orang yang di maksud oleh Luna, tidak ingin rasa penasaran semakin memenuhi perasaannya. Irene segera mengejar Luna dan ketiga itu.
__ADS_1
"Kau lihat dua pria tampan yang duduk di sana? Salah satunya adalah seseorang yang dekat denganku." Ucap Luna seraya menunjuk dua pria yang duduk di dekat jendela kaca.
"Benarkah? Bualan apa yang kau umbar ini eo? Kau fikir aku akan mempercayainya?? Kau hanya seorang mahasiswa, dan dia orang yang mapan. Jika begitu buktikan." Pinta wanita itu menantang.
"Lihat ini."
Kevin tersentak kaget saat Luna tiba-tiba saja menggapit lengganya, sontak saja pria tampan itu menoleh dan menatap Luna penuh tanda tanya.
"Kakak ipar. Aku butuh bantuanmu, aku mohon." lirih Luna dengan tatapan memohon.
"Bantuan seperti apa?" Tanya Kevin datar.
"Kau melihat tiga wanita yang berdiri di sana? Salah satunya adalah gadis yang menjadi selingkuhan kekasihku, bisakah kau berpura-pura menjadi orang yang sedang dekat denganku? Aku ingin mengenalkanmu padanya sebagai seseorang yang aku cintai. Aku mohon." Kevin menatap Luna dalam, manik matanga mengunci manik coklat milik gadis itu. Luna menatap Kevin penuh harap.
"Kita hampiri mereka." Balas Kevin pada akhirnya.
Keduanya berjalan beriringan menghampiri ketiga yeoja itu, mata Luna terbelalak saat Kevin merangkul bahunya. Gadis itu mendongak menatap Kevin, tampak sudut bibirnya tertarik ke atas. Menciptakan lengkungan indah terlukis di wajah tampannya.
DEGGG .. DEGGG .. DEGGG ..
Jantung Luna berdebar tidak karuan melihat senyum terkutuk Kevin. "Kita harus memerankan peran ini sebaik mungkin agar lebih meyakinkan." Ucap Kevin dan Luna mengangguk paham.
Mereka sudah ada dihadapan ketiga wanita itu. Luna menyeringai tajam. "Perkenalkan, ini Kevin Oppa. Kekasihku." Luna memperkenalkan Kevin pada wanita-wanita itu sebagai kekasihnya.
"Buktikan jika kalian memang sepasang kekasih, bisa saja kan jika kalian berdua hanya pasangan palsu." Ucap wanita itu menyeringai.
"Baik, lihat ini."
Luna menejamkan matanya sembari mengepalkan tangannya, dengan ragu dan perasaan tidak yakin.
Luna mendaratkan sebuah ciuman pada bibir Kevin dan mel*matnya singkat, dan apa yang gadis itu lakukan menyita perhatian semua yang ada di cafe itu terutama Adrian dan Irene. Mereka berdua hanya bisa terbelalak melihat apa yang terjadi di depan mata mereka.
"Oppa apa itu?" Ucap Irene seraya menunjuk mereka berdua yang masih berciuman.
"Entahlah." Balas Adrian singkat.
30 detik telah berlalu... Namun ciuman di antara mereka masih belum berakhir, kedua mata Luna perlahan terbuka dan segera mengakhiri ciuman itu.
Wajah Luna tertunduk dan memerah, Ia sungguh-sungguh malu melakukan hal itu. Namun Ia tidak memiliki pilihan lain, Ia ingin membuktikan pada ketiga wanita itu jika Ia dan Kevin benar-benar pacaran.
Greppp .. !! ..
__ADS_1
CHHUUU .. !! ..
Mata Luna terbelalak saat Kevin tiba-tiba saja menarik tengkuknya dan mendaratkan satu ciuman pada bibirnya.
Luna hanya mampu diam tidak memberikan reaksi apa-apa, kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya. Adrian pun segera menutup mata Irene agar gadis itu tidak menyaksikan adegan panas itu.
"Aisss mereka benar-benar sudah gila." Ucap Adrian seraya menggelengkan kepalanya.
"Oppa apa sudah selesai?" Tanya Irene.
"Belum." Balas Adrian menimpali.
"Aisss, lama sakali." Keluh Irene.
Adrian segera menurunkan tangannya dari mata Irene melihat ciuman mereka berdua telah berakhir. "Masih tidak percaya?" Ucap Kevin datar, pria itu menyeka sisa air liurnya yang masih menempel di bibir Luna.
"A-a-ku percaya sekarang." Ucap wanita itu terbata.
Luna tersenyum penuh kemenangan, dengan perasaan yang masih bercampur aduk. Gadis itu berlalu begitu saja dan kembali pada Adrian dan Irene.
"Wow itu sangat Hoot." Ucap Adrian di iringi gerlingan nakal.
"Rupanya kau jago juga, Lun. Padahal belum berpengalaman sama sekali." Imbuh Irene terkekeh.
"Diam-lah kalian berdua dan jangan meledekku lagi." Pinta Luna dan kemudian menyambar tas yang ada di atas meja.
"Kau mau kemana Luna?" Tanya Adrian.
"Pulang." Sahut Luna tanpa menghentikan langkahnya.
Namun langkah Luna terhenti karena cengkraman pada pergelangan tangannya. Gadis itu menoleh dan mendapati Kevin berdiri di depannya. "Kakak ipar?!"
"Aku akan mengantarkanmu pulang." Ucap Kevin.
"Tapi?!"
"Atau kau mau aku menciummu lagi." Kata Kevin menyela kalimat Luna. Gadis itu terbelalak. Buru-buru dia menggeleng.
"Bagaimana?" Kevin menyeringai.
"Ba-ba-ik-lah." Balas Luna pasrah, mendengar jawaban Luna. Membuat Kevin tersenyum penuh kemenangan. Keduanya pun berjalan beriringan meninggalkan restoran.
__ADS_1
-
Bersambung.