"DUDA HOT" (Gairah Cinta Pria Kesepian)

"DUDA HOT" (Gairah Cinta Pria Kesepian)
Pertengkaran Mirra Dan Elia


__ADS_3

Mobil-mobil mewah dengan harga selangit memenuhi dihampir sepanjang jalan Gangnam, dan kedatangan mereka dengan tujuan yang sama. Yakni untuk menghadiri sebuah acara pameran yang selalu diadakan setiap tahunnya.


Dan barang yang dipamerkan tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, jika biasanya adalah lukisan dan berbagai jenis barang antik, namun pada hari ini adalah berlian.


Berbagai jenis berlian dengan harga yang tidak murah bisa ditemui diacara pameran malam ini. Bukan hanya berlian saja, namun juga perhiasan langkah yang selalu menjadi incaran para milionaire dan bilionaire yang tentunya tidak mungkin melewatkan acara special malam ini.


Dan tidak mungkin jika tidak ada pihak yang tidak memanfaatkan acara sebesar ini untuk meraup keuntungan yang berakhir merugikan orang lain. Dan itulah kenapa keamanannya diperketat.


Jessica dan Kevin yang baru saja tiba langsung membaur dengan para pengunjung yang juga menghadiri acara tersebut.


Mereka tidak hanya datang berdua saja. Kevin mengijinkan Sunny, sahabat Jessica untuk ikut. Ada juga Chan yang sedari tadi terus saja mengeluh karena berdiri dan berjalan kesana-kemari.


"Ck! berapa lama kita harus berdiri seperti orang bodoh dan mondar-mandir tidak jelas seperti ini hanya untuk melihat berlian dan perhiasaan yang dipamerkan!" keluh Chan sambil memukul-mukul kakinya sendiri yang terasa pegal.


"Berhentilah mengeluh, Chan! Kau sudah seperti emak-empak rempong," geram Jessica sambil memukul kepala Chan menggunakan dompet pestanya.


Chanmengusap kepalanya yang baru saja dipukul oleh Istri Boss-nya tersebut. "Aishhh! Kenapa kepalaku yang selalu kau jadikan sasaran, Nyonya? Bagaimana kalau otakku yang sudah pas-pasan ini tiba-tiba menjadi cerdas?" ujarnya memaparkan.


Jessica memandang sebal pada Chan dan berdecak kesal. Kevin yang melihat hal itu hanya bisa menghela nafas sambil menggelengkan kepala, karena pemandangan semacam itu bukan lagi hal baru untuk lelaki tampan tersebut.


Jessica dan Chan memang tidak pernah bisa akur jika bersama, keduanya sudah seperti Kucing dan Anjing. Dan hal itu terjadi jauh sebelum Kevin memutuskan untuk menikahinya.


Mengabaikan Chan dan suaminya. Jessica mengajak Sunny berjalan menghampiri sekumpulan wanita yang tengah melihat-lihat perhiasan langkah yang memiliki harga selangit.


Dan Jessica tidak bisa menahan kekagumannya ketika mata hazelnya melihat sebuah kalung berliontin kelopak bunga sakura cantik dengan batu berlian berwarna putih ditengah-tengah kelopak bunga tersebut.


Sepasang mutiara hazel itu tidak berkedip sedikit pun, antara kagum dan Ingin memilikinya. Wanita itu menggeleng, bisa saja dia meminta pada suaminya agar mau membeli kalung itu untuknya.


Tap Jessica tidak mau melakukannya, bukan karena dia takut disebut matre atau apa pun itu, namun karena Jessica tidak ingin membebani Kevib dengan semua keinginannya.


"Kau menyukai yang itu?"


"OMO!"


Nyaris saja Jessica terkena serangan jantung dadakan karna ulah Kevin yang entah dari mana datangnya tiba-tiba sudah ada dibelakangnya. Jessica berbalik membuat mutiara miliknya bersirobok dengan mutiara hitam milik Kevin.


Jessica tersenyum dan menggeleng. "Tidak, aku hanya sekedar kagum saja!" dustanya.


Jessica tau, jika Ia berkata jujur pasti Kevin akan langsung membeli kalung itu untuknya. Namun bukan jawaban itu yang Kevin tangkap dari sepasang mutiara hazel tersebut, Kevin tau bila Jessica sedang berbohong padanya


"Kau yakin!" Jessica mengangguk, meyakinkan.

__ADS_1


"Aku akan melihat-lihat kesebelah sana dulu, Sunny-ya, ayo," Jessica beranjak dan pergi begitu saja.


Kevin menghela nafas, matanya tak lepas sedikit pun dari sosok jelita yang baru saja meninggalkannya. Dan perhatian Kevin sedikit teralihkan karena kedatangan Chan. "Tuan Kau akan mengambil kalung itu?" tegur Chan yang ini sudah disamping Kevin.


Kevin menoleh dan mengangguk. "Dan ini akan menjadi kado terbaik saat ulang tahunnya nanti!"


Bukan hanya kalung itu, Kevin juga sudah menyiapkan sebuah cincin berlian untuk sang istri. Bagi Kevin harga bukanlah masalah, yang terpenting adalah kebahagiaan Jessica. Meskipun dia tau jika istrinya itu bukanlah tipe wanita yang menyukai segala macam kemewahan.


.


.


.


"Wow, lihatlah siapa ini?!"


Perhatian Jessica dan Sunny langsung teralihkan oleh kemunculan Cindy dan Mirra. Kakak ipar dan istri dari mantan kekasihnya. Jessica meletakkan perhiasan itu ke tempat semula , kemudian berbalik dan menatap datar dua wanita dihadapannya.


"Oh, ada dua benalu rupanya." Jessica menyeringai.


"Heh!! Bagaimana bisa seorang istri dari pengusaha muda yang sangat sukses mengenakan gaun palsu seperti ini?" Mirra menatap Jessica dengan seringai meremehkan.


"Karena yang Asli di pakai oleh Kak Elia. Lihatlah gaun yang dia pakai, itu adalah yang asli, sedangkan yang kau pakai ini hanyalah tiruannya saja."


Mirra sengaja meninggikan suaranya agar semua orang bisa mendengarnya. Dan niatnya adalah untuk mempermalukan Jessica.


"Benarkah? Bagaimana bisa kau mengatakan jika satu-satunya gaun yang ada di dunia ini sebagai barang tiruan?" Sahut seseorang dari arah belakang.


Sontak saja Jessica menoleh dan mendapati Kevin berjalan menghampirinya. Pria itu berjalan tenang dengan salah satu tangan dia masukkan ke dalam saku celananya.


Jessica tersenyum penuh kemenangan. "Nah, sekarang sudah tau kan? Siapa yang memakai gaun palsu dan siapa yang memakai gaun yang asli? Lagipula mana mungkin istri dari seorang CEO sebuah perusahaan kecil bisa membeli gaun semahal ini."


Bukan Jessica yang dipermalukan, justru Elia-lah yang di permalukan. Parahnya lagi yang mempermalukannya adalah Mirra. Elia menghampiri Mirra dan menyeretnya keluar dari gedung. Dan Jessica berani bersumpah jika Mirra akan dihakimi setelah ini.


Kevin merangkul bahu Jessica dan keduanya saling menatap. "Ayo, aku akan membawamu berkeliling lagi." Jessica tersenyum dan kemudian mengangguk.


-


PLAKKK!!!.


Mirra terkejut ketika Elia mendorongnya dan menampar wajahnya dengan sangat keras. Saking kerasnya tamparan itu sampai membuat wajah Mirra menoleh ke samping.

__ADS_1


Dan Mirra yang tidak terima ditampar oleh Elia balas menamparnya. Mereka pun saling balas menampar sambil melemparkan kata-kata kasar yang tidak mendidik.


"Brengsek!! Berani sekali kau mempermalukan ku di depan umum!! Apa kau sengaja melakukannya?" Bentak Elia sambil memikul kepala Mirra dengan tasnya dengan brutal.


"Yakkk!! Berhenti memukulku!! Kau pikir aku sengaja melakukannya. Justru aku ingin membantumu, sebaiknya jangan salahkan aku tapi salahkan saja gaun palsu mu itu!!"


"Sialan kau!!"


Elia mengambil batu yang ada di tanah dan menghantamkan pada wajah Mirra dengan brutal. Membuat mata kirinya robek dan mengeluarkan banyak darah, luka juga tampak pada bibir, pipi dan hidungnya.


Mirra berteriak kesakitan , sedangkan Elia tidak peduli. "SIALAN KAU!!"


Mirra yang tidak terima langsung menjambak kepala Elia lalu membenturkan wajahnya pada tembok hingga beberapa laki. Membuat wajahnya robek di beberapa bagian, termasuk mata kanannya yang bengkak dan berdarah.


Dion dan Aldo pun segera memisah mereka berdua yang sudah sama-sama terluka parah. Mereka pun sama-sama terkejut melihat wajah istri masing-masing babak belur hingga tak berbentuk lagi.


"Dion, sebaiknya kita bawa mereka ke rumah sakit yang berbeda saja. Jika masih di rumah sakit yang sama. Bisa-bisa mereka malah bertengkar lagi."


"Iya kak, aku sependapat denganmu." Dan akhirnya mereka memutuskan untuk melarikan mereka ke rumah sakit berbeda. Karena takut hal serupa akan kembali terulang.


-


Kabar tentang perkelahian Elia dan Mirra telah sampai ke telinga Jessica. Wanita itu sudah menduga jika hal semacam ini akan terjadi. Bukannya prihatin, Jessica justru merasa puas, bahkan dia berharap jika mereka berdua saling membunuh.


Cklekk...


Perhatiannya sedikit teralihkan oleh kemunculan Kevin. Pria itu baru saja selesai mandi. Tubuhnya hanya berbalut handuk yang panjangnya hanya sepanjang lutut.


Jessica bangkit dari duduknya. Sebuah ciuman langsung menyambut bibirnya. "Kau sudah mendengar apa yang terjadi pada kakak dan kakak ipar mu?"


Jessica mengangguk. "Tapi aku masih belum puas. Aku malah berharap jika mereka akan saling membunuh!!"


Kevin menarik ujung hidung Jessica dan sekali lagi mencium bibirnya. "Kenapa kau jadi sekejam ini, Nyonya Nero?"


"Kenapa? Bukankah aku mempelajari semuanya darimu?" Jessica memiringkan kepalanya, bibirnya menuju bibir Kevin dan kemudian menciumnya.


Dan apa yang telah Jessica mulai maka akan diselesaikan oleh Kevin. Kevin akan mengambil alih semuanya, bukan hanya ciuman itu. Namun juga tubuh istrinya. Malam yang dingin ini akan menjadi malam yang panjang bagi keduanya.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2