
"Tuan Kim, terjadi masalah di perusahaan Anda."
Seorang pria menghampiri Dion di ruangannya. Pria itu sedang duduk sanai di ruang kerjanya sambil menikmati secangkir kopi.
"Masalah apa?" Tanyanya begitu acuh.
"Saham kita terus menurun, banyak perusahaan yang mengundurkan diri dan membatalkan kerjasamanya dengan perusahaan kita. Mereka bergabung dengan perusahaan asing milik pengusaha muda dari China."
"APA?!" Seketika Dio memekik sekencang-kencangnya setelah Ia mendengar penuturan pria di hadapannya. "Bagaimana bisa? Dan apalah perusahaan itu, adalah perusahaan raksasa seperti Js Corp.??" Tanya Dion.
"Benar Tuan, dan bahkan perusahaan itu jauh lebih besar dari perusahaan ini. Mereka tidak hanya cerdik dan tau bagaimana cara menarik parusahaan lain untuk bergabung dengan perusahaan mereka, namun mereka juga~"
BRAKKK .. !! ..
"CUKUP!! AKU TIDAK INGIN DENGAR OMONG KOSONG LAGI TENTANG PERUSAHAAN ITU, AKU TIDAK MAU TAU, BAGAIMANA PUN DAN DENGAN CARA APA PUN. SEMUA SAHAM ITU HARUS KEMBALI PADA KITA."
Pria itu tidak melanjutkan kalimatnya setelah mendengar gebrakan keras pada meja di depannya karna ulah Dion. Pria iti menunduk seketika dan tidak berani membalas tatapan mematikan yang di berikan oleh Dion. Keringat dingin mulai membasahi keningnya, tangannya gemetar menandakan jika Ia sedang ketakutan.
"YAKKKK!! APA YANG MASIH KAU TUNGGU? CEPAT PERGI DAN KERJAKAN TUGASMU!!" Bentak Dion penuh emosi.
"Ba-baik Tuan." Balas pria itu dan berlalu begitu saja.
"AAARRRKKKKHHHHH~"
Dion menggeram keras dan menghancurkan apa pun yang ada di mejanya. Ia marah, Ia tidak terima dengan apa yang menimpa perusahaan yang selama ini di kelolah olehnya.
"Siapa pun kau, aku tidak akan pernah melepaskan-mu!!"
Sepertinya Dion tidak sadar jika orang yang ingin menghancurkannya adalah mantan adik iparnya, yang tak lain dan tak bukan adalah Kevin. Ya, sepertinya Kevin mulai melanjalankan rencananya untuk membalas kematian Jessica.
-
Drettt .. Drett .. Drettt ..
Kevin menghentikan langkahnya saat merasakan ponsel yang ada di saku celanannya berdering menandakan ada 1 panggilan masuk. Dengan cepat Ia mengeluarkan benda tipis itu dan mendapati 1 nama tertera di layar ponselnya.
Merasa penasaran kenapa orang itu menghubunginya, tanpa membuang banyak waktu Kevin pun segera mengangkat panggilan tersebut.
"Ada apa kau menghubungiku?"
Suara dingin Kevin seketika masuk ke dalam pendengaran Ren, membuat pria itu merinding seketika. Namun Ia harus bersikap tenang dan tidak perlu terkejut, memang seperti inilah sikap Kevin.
__ADS_1
"Boss, aku memiliki 1 informasi yang sangat penting untukmu."
"Katakan." Pinta Nathan menyela kalimat Ren.
"Saya, berhasil menarik Mayer Corp untuk gabung dengan perusahaan kita dan membatalkan kerjasamanya dengan JS Corp." Tutur Ren.
"Awal yang bagus, aku ingin cabang terkecil milik mereka jatuh ketangan kita. Kita harus merongrong dari bawah sebelum mengambil alih perusahaan utama."
"Saya paham, Boss. Anda tidak perlu cemas. Kami akan melakukannya dengan sehalus mungkin dengan cara yang tidak akan mereka duga sebelumnya." Tuturnya.
"Bagus, dan jangan membuatku kecewa."
Kevin memutuskan sambungan telfonnya begitu saja, smrik tipis tersungging di sudut bibir kissablenya.
"Dion Kim, terimalah kehancuran~mu!!"
Kevin berjalan menuju dinding kaca di samping meja kerjanya. Sepasang mata tajamnya memindai apa saja yang ada di bawah sana.
Sampai netra-nya menangkap siluet seorang gadis yang wajahnya sangat familiar tengah berdebat dengan seorang pemuda. Kevin memicingkan matanya, dari ekspresinya terlihat jelas jika gadis itu sedang kesal.
Sudut bibir Kevin tertarik ke atas membentuk lengkungan indah di wajah tampannya. Memperhatikan sepasang insan manusia di bawah sana.
Si perempuan terlihat menghubugi seseorang. Dan di saat yang sama. Ponsel milik Kevin tiba-tiba berdering yang menandakan ada panggilan masuk.
"Kakak ipar. Aku butuh bantuan-mu, sekarang aku ada di depan perusahaan-mu. Bisakah kau berpura-pura menjadi kekasihku atau apalah dan lepaskan aku dari orang gila ini!!"
"Kau di sebelah mana?" Kevin pura-pura tidak tau, padahal dia melihat jelas keberadaan Luna yang sedang bersembunyi di balik mobil-mobil yang terparkir di parkiran.
"Parkiran,"
"Lima menit lagi aku akan segera tiba di sana." Kevin memutuskan sambungan telfonnya lalu menyimpan kembali di dalam saku celananya.
-
"Luna, aku mohon jangan sembunyi dariku. Aku masih sangat mencintaimu, keluarlah dan ayo kita bicara baik-baik." Seru Mark dengan suara sedikit meninggi.
Mark mencari keberadaan Luna namun tidak ketemu juga. Mark tidak tau di mana gadis itu bersembunyi. Mark ingin membicarakan mengenai kelanjutan hubungan mereka. Tapi Luna selalu menghindar dan menjauh darinya.
"Luna, keluarlah. Aku sudah di sini."
Sontak saja Mark menoleh dan mendapati sosok tampan dalam balutan kemeja putih, celana bahan hitam dan Vest V-neck yang senada dengan warna celana bahannya. Sorot matanya tajam dan penuh intimidasi.
__ADS_1
Glukk!!!
Susah payah Mark menelan saliva-nya. Tidak pernah dia bertemu laki-laki dengan tatapan setajam tatapan Kevin. Tubuh Mark serasa membeku ketika pria itu berjalan kearahnya.
"Oppa!!"
Mark menoleh dan segera merentangkan kedua tangannya saat melihat kemunculan Luna. Dan rasanya Mark begitu bahagia mendengar Luna memanggilnya dengan sebutan Oppa.
Luna menepis tangan kanan Mark dan melewatinya begitu saja. Gadis itu berhambur kedalam pelukan Kevin.
Dan apa yang Luna lakukan tentu saja tidak membuat Kevin terkejut. Pasalnya Luna sudah mengkode dan mengatakan jika dia membutuhkan bantuannya. Dan Kevin akan menemani Luna berakting.
"Oppa, kau dari mana saja? Kenapa lama sekali? Apa kau tau berapa lama aku menunggumu di sini?!"
"Maaf, aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu."
"Oppa." Luna mengangkat wajahnya dan membuat mata mereka saling bersirobok. Saling menatap selama beberapa detik.
Gugup menghinggapi perasaan Luna karena ditatap sedalam itu oleh Kevin. Membuat pipinya memanas hingga rona merah muncul di kedua pipinya.
Sebisa mungkin Luna menyembunyikan kegugupannya. Berhadapan dengan Kevin benar-benar membuat Luna seperti orang bodoh. Dia kehilangan kemampuannya untuk bicara.
"Apa dia pria gila yang mengganggumu?" Tanya
Luna mengangguk. "Ya, dia adalah orangnya. Orang yang terus saja menggangguku dan membuat hari-hariku tidak nyaman." Tuturnya.
Mark menghampiri mereka dan menatap Luna penuh tanya. "Luna, Sayangku. Siapa pria ini? Kenapa kau memeluknya? Dan kenapa juga kau begitu manja dan memanggilnya Oppa?" Tanya Mark meminta penjelasan.
"Dia adalah tunangan-ku, calon suamiku."
"Apa? Kau pasti bercanda, Sayang bukankah kau sangat mencintai dan bagaimana dengan mudahnya kau mengatakan jika dia adalah calon suamimu?! Aku tidak percaya, apa buktinya jika kalian memang sepasang kekasih?"
"Kau ingin bukti? Akan ku buktikan!!" Kevin menarik tengkuk Luna dan mencium bibirnya, membuat kedua mata Luna membelalak saking kagetnya.
Jantung Luna berdebar kencang saat merasakan lembut dan basah bibir Kevin yang menyapu dan mel*mat bibir bawahnya. Kedua tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya. Ini semua diluar dugaan Luna, dia tidak percaya jika Kevin akan menciumnya. Tepat di bibirnya.
Sementara itu. Mark yang menyaksikan hal tersebut langsung jatuh pingsan. Terkejut dan tidak percaya jika Kevin akan mencium Luna tepat dibibirnya. Dan ciuman tersebut tentu saja menjadi sebuah pembuktian nyata jika Luna dan Kevin benar-benar memiliki sebuah hubungan yang rekat dan intim.
"Luna William, bumi memanggilmu!!"
-
__ADS_1
Bersambung.