"DUDA HOT" (Gairah Cinta Pria Kesepian)

"DUDA HOT" (Gairah Cinta Pria Kesepian)
Flashback


__ADS_3

Malam semakin larut, namun Luna masih tetap terjaja. Gadis itu duduk di atas tempat tidurnya sambil memeluk kedua lututnya.


Rasa penasaran masih menghinggapi perasaan Luna, Ia penasaran apakah Kevin adalah orang yang sama yang Ia kenal di saat masih anak-anak atau bukan.


Meskipun sudah mengenal Kevin cukup lama. Namun ini pertama kalinya Ia melihat luka itu, luka yang selama ini Kevin tutupi dengan sempurna tanpa ada seorang pun yang tau jika Ia memiliki bekas luka itu.


"Boleh Appa masuk?" Perhatian Luna sedikit teralihkan, gadis itu menoleh dan mendapati sang ayah berdiri di ambang pintu.


"Tentu saja, masuklah Pi." Pintanya, dengan senyum palsu tersungging di wajah cantiknya.


"Kenapa belum tidur, Sayang? Sudah selarut ini? Apa yang sedang kau fikirkan?" Tuan William mengusap kepala coklat Luna penuh sayang.


"Apa ada hubungannya dengan mobil baru yang kau minta hari itu? Jika ia, besok Papi akan membelikannya untukmu." Sambung Tuan William, Luna menggeleng. "Lantas?"


Luna menggeleng. Gadis itu menundukkan wajahnya dan tidak berminat menjawab pertanyaan ayahnya. "Baiklah jika kau tidak ingin bercerita, Papi tidak akan memaksa. Ini sudah malam, sebaiknya kau tidur sekarang." Tuan William mencium singkat pucuk kepala Luna dan berlalu begitu saja.


Hufffttt .. !! ..


Luna menghela nafas panjang, gadis itu mendongak dan menatap langit-langit kamarnya. Ia masih penasaran dengan bekas luka yang Ken miliki, luka itu mengingatkan Luna pada anak laki-laki yang dulu pernah menyelamatkannya.


Flasback :


Seorang gadis kecil menangis ketakutan karena di ganggu oleh beberapa anak laki-laki. Anak-anak itu tidak hanya mengganggunya, namun juga mencoba mel*cehkannya. tubuh gadis kecil itu terpojok pada tembok dengan kedua tangan di pegang oleh 2 anak laki-laki yang berbeda.


"Hiks lepaskan aku." Pinta gadis kecil itu dengan suara paraunya.


"Kau terlalu cantik untuk di lepaskan, Sayang. Berikan satu ciuman untukku dan teman-temanku."


"Biadab, kalian masih anak-anak tapi kenapa kelakuan kalian seperti binatang." Teriak gadis kecil itu.


"Hahha, kau bilang kenapa? Karena kita begitu menikmatinya. Kita tidak sudi jika sama gadis lokal, tapi kau seorang blasteran dan itu yang membuatku bergairah."


Gadis kecil itu meronta dan berusaha melepaskan diri, namun semakin Ia mencoba. Usahanya semakin terasa sia-sia karna tenaganya kalah kuat dari tenaganya.


"Tolonggg .. Tolonggg .. Tolonggg .." Gadis itu berteriak histeris dengan air mata yang terus menetes di wajah cantiknya.


Gadis itu berharap ada seseorang yang akan datang menyelamatkannya sampai muncul seorang anak kecil laki-laki dan berteriak meminta anak-anak lelaki itu untuk melepaskan gadis kecil tersebut.


"Hanya pengecut yang beraninya sama anak gadis." Teriaknya lantang.


Semua yang ada di sana menoleh pada sumber suara termasuk gadis kecil itu.


Dua di antara 5 anak laki-laki itu menghampiri anak laki-laki yang baru saja berteriak pada mereka, smrik tipis terlukis di wajah kedua anak laki-laki itu melihat postur anak laki-laki itu yang lebih kecil darinya.


"Ada apa? Mau jadi jagoan di sini?"


"Lepaskan gadis itu." Pinta anak itu menuntut.

__ADS_1


"Kurang ajar, habisi anak itu." Mata gadis kecil itu terbelalak melihat anak yang mencoba menyelelamatkannya di keroyok oleh 4 anak sekaligus.


Sejauh ini dia berhasil menghadapi mereka. Tapi dia kalah jumlah di tambah dengan usia mereka yang 3 tahunan lebih tua darinya. Anak itu mulai tidak berdaya karena di keroyok beberapa anak.


"Hentikan!!" Jerit gadia kecil itu histeris."Jangan memukulnya lagi, aku mohon." Lanjutnya dengan air mata yang semakin deras.


Bruggg .. !! ..


Gadis kecil itu mengumpulkan semua keberaniannya untuk melawan, dengan sekuat tenaga Ia menendang sel*kang anak itu membuat dia berteriak kesakitan dan otomatis cengkraman itu terlepas.


Situasi itu segera ia manfaatkan untuk melepaskan diri, gadis kecil itu menyapukan pandanganhya dan mencoba untuk menemukan sesuatu yang mungkin bisa ia gunakan untuk menghentikan kebrutalan anak-anak itu.


Sampai Ia melihat ada balok kayu tergeletak di tanah, tanpa berfikir panjang ia langsung mengambil balok itu yang kemudian Ia hantamkan pada anak-nak itu secara bergantian dan berulang-ulang.


"Ahh sakit." Membuat anak-anak itu berteriak kesakitan dan akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.


Gadis kecil itu membuang balok kayu yang ada di tangannya dan segera menghampiri anak laki-laki yang mencoba menyelamatkannya.


"Kakak kau terluka parah dan mata kirimu berdarah." Gadis kecil itu bingung harus menutup luka itu dengan apa. Akhirnya dia melepaskan pita merah yang mengikat rambut panjangnya.


"Pita ini memang tidak bisa menyembuhkan, tapi setidaknya akan menghentikan pendarahannya." Ucap gadis kecil itu.


"Kau tidak apa-apa?" tanya anak itu memastikan, gadis manis itu tersenyum tipis dan menggeleng.


"Aku Nana." gadis itu mengulurkan tangannya, anak kecil itu menarik sudut bibirnya dan membalas uluran tangan itu.


"Aku Ke~" Anak laki-laki itu menggantung kalimatnya dan mengurungkan niatnya untuk memberi tau namanya dan malah mengekuarkan kalung dari kantong celanannya.


"Kakak tampan. Kau harus menjadi kuat, agar suatu hari nanti saat kita bertemu lagi kau bisa melindungiku."


"Pasti."


Flasback End:


Brugggg .. !! ..


Luna merebahkan tubuhnya tanpa mengalihkan pandangannya dari langit-langit kamarnya. Dari langit-langit kamarnya Jessica mengalihkan pandangannya dan menatap liontin yang menggantung di lehernya.


"Aaarrkkk, Kevin Nero lama-lama kau membuatku gila." Serunya, tidak ingin semakin terlarut dalam fikirannya tentang Kevin.


Luna mematikan lampu yang ada di atas meja kecil di samping kanannya dan mulai memejamkan matanya, akan lebih baik jika Ia tidur sekarang.


-


Sean tersenyum bodoh seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal melihat kedatangan Kevin.


"Hyung kau sudah pulang?" Ucapnya.

__ADS_1


"Dasar anak Ayam, jelas-jelas Boss sudah ada di rumah. Pastilah dia sudah pulang." Sahut Tao menyambung, sontak Sean menoleh dan menatap Tao kesal.


"Memangnya siapa yang berbicara padamu Hyung." Desisnya tajam.


"Dari mana saja kau tadi? Di saat yang lain sibuk mengurus musuh yang menyerang kenapa kau malah menghilang?" Tanya Kevin to the poin.


"Hyung, kau kan tau sendiri kalau aku tidak suka keributan, jadi aku memilih untuk tidak ikut andil dan belajar di dalam." tutur Sean menjelaskan.


"Bohong dia Boss." Pekik Kai yang sibuk memainkan ponselnya.


"Apa maksudmu Hyung?" Tanya Sean cepat.


"Jelas-jelas dia nonton kartun , pakai alasan belajar."


"YAAKKK!!" Pekik Sean tertahan.


"Kalau kau tidak percaya, Hyung aku ada buktinya." Tao memberikan ponselnya pada Sean.


Glekkk .. !! ...


Sean menelan salivannya sedikit bersusah layah, keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhnya. Ia semakin mencerut mekihat tatapan mematikan Kevin.


Tanpa sepengetahuan siapa pun, Tao menaruh ponselnya yang dalam keadaan menyala di samping tv untuk mendapatkan bukti kenakalan Sean.


Sebenarnya sudah berkali-kali Tao melihat Sean mencuri waktu untuk menonton telivisi di saat Kevin tidak ada di rumah dan tidak belajar sama sekali. Dan hari ini dia baru mendapatkan bukti itu.


"Hehehehe hanya 1 kali saja Hyung." Ucapnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Untuk kali ini kau aku maafkan, tapi sekali lagi kau mengulangi. Kau akan tidur di kamar mandi." Kevin mengembalikan ponsel itu dari Tao dan berlalu begitu saja. Sean mengusap dadanya, pemuda itu menjulurkan lidahnya dan berlalu begitu saja.


.


.


.


Kevin memandang dirinya diri pantulan cermin yang ada di depannya. Perlahan Kevin menghapus uap yang ada di cermin itu hingga Ia bisa melihat wajahnya dengan jelas teemasuk bekas luka yang ada di mata kirinya.


Kevin menutup matanya dengan perlahan, Ia ingin sekali memberi tau Luna jika Ia memang anak laki-laki itu. Namun entah apa sebabnya lidahnya terasa keluh hanya untuk mengatakan satu kalimat saja.


Kevin mulai menyalahkan shower dan membiarkan air dingin itu mengguyur sekujur tubuhnya yang hanya terbalut jeans hitam panjang yang membalut kakinya. setelah cukup lama.


Kevin mematikan shower yang masih menyala itu kemudian meraih handuk putih yang tersampir di pintu dan menggunakannya untuk menutupi tubuh bagian bawahnya yang tak terbalut apa pun karna celana hitam itu telah Kevin lepaskan.


Kevin berjalan keluar dan berjalan menuju lemari pakaiannya, pria itu mengambil singlet putih dan jeans biru ketat kemudian mengenakannya.


Kevin berjalan menuju tempat tidurnya dan membaringkan tubuhnya yang terasa lelah, tak lupa Ia mematikan lampu kamarnya dan mulai memejamkan matanya. Membiarkan dirinya terlarut dalam mimpi sampai fajar nanti.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2