
"Kakak Ipar..."
Jerremy bangun dari duduknya dan segera menghampiri Kevin setelah pria itu tiba di rumah. Kevin mengerutkan dahinya melihat wajah adik iparnya yang begitu sumringah.
"Ada apa kau menyuruhku untuk cepat pulang? Dan hal penting apa yang ingin kau sampaikan padaku?" Tanya Kevin penasaran.
"Ini." Kevin menatap datar map berwarna biru tua yang Jerremy berikan padanya.
Kevin tak langsung mengambil map tersebut. Dia menatap pemuda itu sejenak dan kemudian mengambil map tersebut dari tangannya
"Apa ini?"
"Itu hasil ujianku, Kakak ipar, seperti harapanmu. Aku masuk 10 besar dan aku berada di urutan ke 10. Hebat kan aku." Ujar Jerremy membanggakan diri.
Kevin terkejut dan mentap bocah itu tak percaya, hanya karena itu Kevin memintanya untuk segera pulang. Sedangkan Tao dan Ren yang sedang main catur menggeleng melihat tingkah Jerremy.
"Dasar anak ayam, dapat urutan ke 10 saja bangga." Ucap Tao menyahut.
"Yakkk!! Hyung kenapa kau berbicara seperti itu? Seharusnya kau bangga padaku." Jerrmy tidak terima atas ucapan Tao yang menurutnya sangat menyebalkan itu.
Kevin mendengus kasar. "Mulai malam ini aku akan menyita ponselmu dan kau tidak boleh menonton tv lagi, kau harus belajar dengan benar sampai kau bisa dapat nilai terbaik seperti yang aku harapkan. Tidak ada fasilitas tidak ada tambahan uang jajan." Tutur Kevin.
"APA?!" Jerremy memekik kencang setelah mendengar penuturan Kevin. "Kakak ipar, apa kau bercanda? Bagaimana mungkin aku bisa hidup tanpa ponsel itu, bagaimana aku bisa berinteraksi dengan para gadis yang selama ini menggagumiku?"
"Dan jika kau melarangku menonton tv, bagaimana bisa aku mengikuti perkembangan semua kartun dan animasi favoritku? Dan lagi, jika tidak ada mobil, motor dan tambahan uang jajan bagaimana bisa aku hidup?
"Melihat kau memperlakukanku dengan sekejam ini pasti membuat Sica Noona dan Ibu sedih di surga sana." Jerremy berkata begitu panjang lebar, mencoba melayangkan protesnya pada Kevin.
Tak lama setelah kepergian Jessica. Enam bulan kemudian Karina meninggal karena penyakit yang dia derita.
Dan setelah kepergian Ibunya, Jerremy hidup bersama Kevin. Karena hanya dia satu-satunya yang peduli dan mau menampung dirinya. Karena Dion tidak mau peduli, bahkan dia tidak datang di pemakaman Ibunya sendiri.
"Tao, aku ingin kau mengawasi bocah ini, pastikan dia belajar dengan benar." Ujar Kevin di tengah langkahnya.
Dengan sigap Tao bangkit dari duduknya."Dengan senang hati, Boss." Balas Tao dengan senyum menggembang. 'Hahahah tamat sudah riwayatmu, bocah tengik.' Batin Tao penuh kemenangan.
Huffttt .. !!! ..
Jerremy menghela nafas panjang. "Kakak ipar sangat menyebalkan, dia bilang aku harus masuk 10 besar. Setelah aku berada di urutan ke 10, dia malah mencabut semua fasilitasku, yang benar saja.."
Pemuda itu terus saja mendumal tidak jelas, bahkan sampai Ia berada di kamarnya.
Tao dan Ren terkikik geli dan menggelengkan kepala melihat tingkah pemuda itu.
.
.
Kevin merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur king size miliknya, menggunakan tangan kirinya sebagai penopang kepalanya, sementara tangan kanannya Ia letakkan di atas dahinya.
Pertemuan singkatnya dengan Luna membuat Kevin menjadi penasaran dengan siapa gadis itu sebenarnya. Tiba-tiba Kevin teringat pada cerita Karina satu bulan setelah kepergian Jessica
__ADS_1
Karina pernah mengatakan padanya bila Jessica memiliki saudari kembar yang sudah lama meninggal. Karina juga bercerita bila Jessica dan Jerremy bukanlah anak kandungnya. Melainkan anak dari majikannya.
Kedua orang tuanya serta saudari kembarnya meninggal dunia. Hanya Jessica dan Jerremy yang masih hidup. Pada saat itu Jessica baru berusi 5 tahun, sedangkan Jerremy masih bayi.
Mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan hebat hingga nyaris masuk jurang.
Jasad Ibu kandung Jessica di temukan dua hari kemudian, sedangkan jasad ayah serta saudari kembarnya tidak pernah ditemukan. Ada yang beranggapan jika mereka terjatuh ke dalam jurang.
Dan cerita Karina membuat Kevin berpikir jika yang bertemu dengannya tadi adalah saudari kembar dari Jessica.
Tapi bagaimana mungkin? Karena Karina sendiri mengatakan jika adik kembar Jessica telah meninggal dalam kecelakaan itu bersama dengan kedua orang tuanya.
Dan yang menjadi pertanyaannya, mungkinkah di dunia ini ada orang yang wajahnya begitu mirip tanpa memiliki ikatan darah, ada pun pasti hanya segelintir orang saja, dan itu pun tidak bisa di nyatakan sama. Sementara Jessica dan Luna, mereka bagaikan pinang di belah dua.
"Apa mungkin gadis itu adalah saudara kembar Jessica?" Gumam Kevin penuh keraguan.
Pria itu menghela nafas panjang, Ia tidak ingin terlalu memikirkan tetang hal itu.
Saat ini yang harus Ia lakukan adalah tidur, karena besok pagi Ia harus bertemu dengan teman lamanya sekaligus seniornya saat masih kuliahdulu.
Dan pada pukul 8 pagi, orang itu akan tiba di kediamannya. Baru saja Kevin menutup matanya, tapi tiba-tiba saja....
Brakkk ... !!! ...
Kevib terkejut setelah mendengar dentuman keras mirip benda terjatuh di depan pagar rumahnya.
Kevin berlari menuju balkon kamarnya, Ren dan Tao sudah ada di sana. Mereka berdua tampak kebingungan melihat ada bingkisan yang tergeletak di depan pagar.
Merasa penasaran, Kevin pun bergegas meninggalkan kamarnya dan menghampiri kedua anak buahnya itu, di luar Ia berpapasan dengan Jerremy yang juga juga tampak kebingungan.
Kevin menggeleng. "Aku sendiri juga tidak tau, sebaiknya kita ke sana dan melihatnya." Jerremy mengangguk.
.
.
.
Kevin menghampiri Tao dan Ren. "Ada apa ini? Dan suara apa itu tadi?" Ucap Kevin sambil menatap kedua pria itu bergantian. Keduanya pun menoleh lalu menggelengkan kepala.
"Kami sendiri tidak tau, saat aku dan Tao keluar, kotak ini sudah ada di sini. Tapi kita berdua tidak berani untuk membukannya." Jelas Ren memaparkan.
"Biar aku saja." Kevin maju dua langkah ke depan kemudian mengambil bingkisan itu.
Tanpa ragu sedikit pun, Kevin membuka bingkisan tersebut.
Duaaarrr .. !!! ..
"Aaahhhh .. "
"Kakak ipar//Boss!!" Seru Jerremy, Tao dan Ren bersamaan.
__ADS_1
Di luar dugaan, kotak itu meledak dan melukai lengan kiri serta pelipis kanan Kevin. Untungnya hanya ledakan kecil saja, sehingga luka yang di alami Kevin tidak begitu parah.
"Sial sepertinya ada yang ingin bermain-main denganku." Ucap Kevin sedikit geram.
"Kakak Ipar, lengan dan pelipismu berdarah." Ucap Jerremy.
Kevin mengangkat tangan kirinya, benar kata Jerremy. Wajahnya sedikit basah dan saat Ia melihatnya, itu darah yang berasal dari pelipisnya.
"Hanya luka kecil saja." Balas Kevin datar.
"Boss, lihat ini, aku rasa pelakunya tidak sengaja menjatuhkan benda ini." Kevin mengambil benda yang kini ada di tangan Tao.
Smrik tipis di bibir Kevin mengembang tipis. Dia tau siapa pelakunya. "Aku tau siapa pelakunya, dan barang ini adalah miliknya. Sepertinya seekor tikus ingin bermain-bermain dengan Singa. Sudah bosan hidup dia rupanya." Kevin meremas benda itu dan membuangnya begitu saja.
"Lalu tindakan apa yang akan kau ambil, Boss?" Tanya Ren penasaran.
"Tentu saja membalasnya, dan memberi tau padanya jika dia telah mencari madalah dengan orang yang salah." Balas Kevin dengan seringai tajam andalannya.
Jerremy, Ren dan Tao sedikit merinding melihat smrik dibibir Kevin. Smriknya lebih mengerikan dari hantu berwajah seram sekalipun.
"Boss, sebaiknya kita masuk, lukamu perlu di obati." Ucap Tao.
"Si panda ini benar, Kakak Ipar, kau bisa infeksi jika lukannya tidak segera di bersihkan dan di obati." Sahut Jerremy dan langsung mendapat tatapan tajam dari Tao. "Hehehe." Jerremy mengangkat tangannya, jarinya membentuk huruf V.
Dan lagi, pemuda itu bersikap menyebalkan."Jangan mulai kalian, jika tidak ingin tidur di kamar mandi lagi malam ini." Ancam Kevin dan berlalu begitu saja.
-
Mengurus taman dan mawar-mawarnya.
Itu adalah pekerjaan rutin yang setiap pagi selalu di lakukan oleh Luna.
Hal lain bisa Ia percayakan pada orang-orang yang bekerja di rumahnya, namun soal urusan taman dan bunga. Itu selalu Ia lakukan sendiri.
Mulai dari menyiram, memberi pupuk, memetik bahkan saat menanam. Luna sangat menyayangi bunga-bungannya. Di antara semua bunga yang tumbuh di taman miliknya, mawar adalah bunga kesukaan Luna. Karena menurutnya Mawar itu sangat cantik dan juga berbahaya.
Gadis itu tidak akan segan-segan mengambil mawar liar yang tumbuh di jalan tanpa ada pemiliknya, lalu membawanya pulang, merawatnya hingga menghasilkan bunga yang sangat indah.
"Maaf Nona, Tuan Adrian ada di sini."
Luna membalikkan tubuhnya dan menatap wajah wanita paruh baya yang ada di hadapannya.
"Baik Bibi, suruh dia menunggu sebentar, aku akan segera menemuinya."
"Baik Nona."
Wanita itu mundur beberapa langkah kemudian berbalik dan melenggang pergi.
Luna melepas sarung tangan yang Ia kenakan, kemudian mengambil beberapa tangkai mawar yang telah Ia petik yang nantinya akan Ia taruh di ruang tamu dan kamarnya sebagai penghias ruangan.
Tak ingin membuat tamunya menunggu terlalu lama. Luna pun bergegas meninggalkan taman untuk menemui pria bernama Adrian tersebut.
__ADS_1
-
Bersambung.