"DUDA HOT" (Gairah Cinta Pria Kesepian)

"DUDA HOT" (Gairah Cinta Pria Kesepian)
Keributan Di Pesta


__ADS_3

Jerremy menghampiri kakaknya yang sedang memagut diri didepan cermin. Tubuh rampingnya dalam balutan dress pink soft yang sedikit mengembang di bagian bawah.


Rambut panjangnya di biarkan tergerai dan wajah cantiknya dalam polesan make up tipis. Tak ketinggalan satu set perhiasan yang kian menyempurnakan penampilannya.


"Noona, kau mau kemana?" Tanya Jerremy.


Jessica menoleh dan tersenyum. "Ben, mengundangku ke acara ulang tahun pernikahan orang tuanya."


"Noona, sebaiknya kau jangan pergi ke sana. Aku memiliki firasat buruk, bagaimana kalau mereka sampai mempermalukan-mu lagi? Kau tau sendiri bukan, jika keluarga kak Ben tidak menyukai dirimu."


Jessica menepuk bahu Jerremy. "Kau tenanglah, Noona akan menjaga diri dengan baik. Lagipula Noona bukanlah gadis yang lemah. Dan Noona tidak akan membiarkan siapapun menghina apalagi merendahkan harga diri, Noona."


Jessica menoleh saat mendengar deru suara mobil yang memasuki halaman rumah sederhananya. "Itu Ben sudah datang, Noona pergi dulu. Jangan lupa ingatan ibu untuk minum obatnya saat bangun nanti. Noona tidak tega untuk membangunkannya."


Jerremy mengangguk. "Baiklah. Noona harus hati-hati, jika terjadi sesuatu langsung hubungi aku."


Jessica tersenyum. Dia tau kenapa Jerremy begitu mencemaskan dirinya. Gadis itu memeluk Jerremy sesaat, dan menyakinkan padanya jika semua akan baik-baik saja."


"Noona pergi dulu, oke." Jessica beranjak dan meninggalkan Jerremy begitu saja.


-


Semua orang yang hadir di pesta tersebut bukanlah mereka yang berasal dari kalangan menengah kebawah. Pakaian dan perhiasan mewah yang melekat ditubuh mereka adalah salah satu bukti nyata bila mereka adalah orang kaya.


Melihat penampilannya yang terlampau sederhana tak membuat Jessica merasa minder sedikit pun, karena pakaian mahal dan perhiasan mewah hanyalah sebuah simbol saja.


Puluhan pasang mata menatap kearahnya dengan berbagai tatapan dan eskpresi, beberapa diantaranya bahkan berbisik dan melemparkan tatapan mencemooh padanya, dan lagi-lagi Jessica tak menghiraukannya.


"Ibu dan ayah ada disebelah sana. Ayo, mereka pasti senang melihat kedatangan calon menantunya."


Jessica menyikapinya dengan senyum gambar. Dia tidak yakin jika mereka akan suka dengan kedatangannya, apalagi kesan pertama saat mereka bertemu dengannya sangat tidak baik.


"Kak Ben." Seorang wanita tiba-tiba saja menghampiri Ben dan langsung memeluknya. Wanita itu melemparkan tatapan sinis pada Jessica.


"Cindy, jangan seperti ini. Malu dilihat orang,"


"Aku tidak peduli, pokoknya Kak Ben harus menemaniku." Sekali lagi Cindy melirik Jessica dengan tatapan yang sama, sinis.

__ADS_1


"Sica, kau duluan saja. Aku akan segera menyusulmu. Gadis ini akan terus memaksa jika tidak dituruti kemauannya."


"Cih, kenapa harus meminta ijin segala padanya. Sudahlah, ayo."


Dari kejauhan Jessica melihat ibu Ben sedang berbincang dengan kakak dan kakak iparnya. Jessica tidak menduga jika mereka akan hadir juga dipesta ini. Dengan perasaan tak yakin, Jessica menghampiri ketiganya.


"Jessica, sedang apa kau di sini?" Sebuah pertanyaan langsung menyerbunya. Elia dan Mirra bertanya secara bersamaan padanya.


"Kalian mengenal gadis ini?" Tanya Ibu Ben pada Elia dan Mirra.


"Tentu saja, Bibi. Gadis ini adalah putri pembantu di rumahku." Jawab Elia yang kemudian dibalas anggukan oleh Mirra. Sedangkan Jessica menatap keduanya tak percaya.


"Apa maksudmu bicara seperti itu?"


"Aku hanya mengatakan fakta. Kenapa kau tidak suka? Ahh, jangan-jangan kau malu mengakuinya karena Ibumu adalah seorang pembantu di rumahku?"


PLAKK!!


Semua orang yang hadir di pesta itu terkejut dengan apa yang Jessica lakukan pada Elia. Gadis itu baru saja menamparnya dengan keras.


"Tutup mulutmu itu, anak durhaka!! Aku tidak masalah meskipun kau tidak mau mengakui ku sebagai adikmu, tapi aku tidak terima jika kau mengakui ibu kandungmu sebagai pembantumu!!" Bentak Jessica penuh emosi.


PLAKK!!


Dua tamparan keras Jessica daratkan pada pipi Mirra, gadis itu semakin terbakar emosi mendengar ucapan kakak iparnya tersebut. Bagaimana bisa Mirra mengatakan dengan entengnya jika ibunya telah meninggal.


"Kalian berdua benar-benar kurang ajar!! Kalian anak dan menantu durhaka. Kau Elia," Jessica menunjuk Elia tepat di depan mukanya.


"Bagaimana bisa kau mengakui di depan semua orang jika wanita yang telah melahirkan-mu dengan mempertaruhkan nyawanya sebagai pembantumu!! Apa kau malu memiliki seorang ibu yang miskin?"


"Sadar diri jadi orang, ingat dari mana sebenarnya kau berasal. Jangan hanya mengejar gengsi kau korbankan ibumu sendiri."


Elia memperhatikan sekelilingnya. Semua orang kini menatap sinis padanya, orang-orang saling berbisik dan membicarakannya. Bukan hanya Elia, namun pandangan itu juga ditunjukkan pada Mirra.


"Jessica, aku tidak tau dendam apa yang kau miliki pada kami, sampai-sampai kau ingin mempermalukan kami di depan semua orang. Memangnya kau memiliki bukti apa jika ibumu yang hanya seorang babu itu adalah ibu mertuaku dan ibu kandung dari kakak iparmu?"


"Jika ingin membuat sensasi sebaiknya gunakan otakmu dengan baik. Lagipula aku yang seorang sosialita tidak mungkin memiliki ibu yang miskin dan tinggal di rumah jelek seperti itu." Sahut Elia menimpali.

__ADS_1


"Kalian!!"


"CUKUP!!" bentak nyonya Lolita dengan emosi. Lalu pandangannya bergulir pada Jessica. "Ini yang tidak aku suka darimu.Gadis yang berasal dari keluarga miskin sudah pasti tidak berpendidikan dan tidak memiliki sopan santun."


"Sejak awal aku memang tidak pernah setuju putraku berhubungan dengan gadis sepertimu!! Karena sampai kapan pun kau tidak akan pernah sebanding dengannya!!"


"Ibu, kenapa kau berbicara seperti itu pada, Jessica? Kenapa Ibu harus mempermalukannya?"


Nyonya Lolita mengangkat sebelah tangannya dan menatap tajam putranya. "Cukup, Ben!! Jangan mendebat Ibu lagi, putuskan hubungamu dengannya dan menikahlah dengan Cindy,"


"Aku tidak mau!! Ibu, aku mencintai Jessica, jadi aku mohon mengertilah."


"Oh, jadi kau lebih memilih dia dibandingkan Cindy, itu artinya kau akan kehilangan semua fasilitas yang kau miliki saat ini."


"Apa maksud, Ayah?"


"Ibu rasa kau tidak sebodoh itu sehingga kau tidak mengerti maksud dari Ayahmu, Ben. Sekarang putusakn Ben, kau tetap ingin bersama gadis miskin ini atau menikah dengan Cindy?!"


Ben menghampiri Jessica dengan wajah menunduk ke bawah. Tanpa Ben mengatakan apapun tentu saja Jessica sudah tau apa keputusan Ben.


Tanpa mengatakan apapun, Jessica beranjak dan pergi begitu saja, bahkan dia tidak memberikan kesempatan pada Ben untuk bicara.


Diam-diam Mirra menyeringai tajam. Saat melihat ada kesempatan untuk mencelakai Jessica kenapa tidak, dia tau jika adik iparnya itu sangat payah dalam hal berenang. Dan hal tersebut akan dia manfaatkan untuk mencelakainya.


Kedua mata Jessica membelalak saat merasakan sebuah tangan mendorongnya dari samping. Akibatnya dia hilang keseimbangan dan oleng kesamping, kakinya tergelincir dan...


BYURR...


"JESSICA!!"


Ben berteriak histeris melihat tubuh gadis itu jatuh ke dalam kolam renang. Bukan hanya Ben, semua tamu undangan pun ikut terkejut. Ben tau jika gadis itu tidak bisa berenang.


Baru saja Ben ingin menolong gadis itu, tapi seseorang lebih dulu masuk ke dalam air dan menolongnya. Dan tak lama kemudian orang itu membawa Jessica keluar dari dalam kolam. Semua orang lega melihat gadis itu baik-baik saja.


"Syukurlah, aku bisa menyelamatkanmu dengan tepat waktu."


"Tuan Nero?"

__ADS_1


-


Bersambung


__ADS_2