"DUDA HOT" (Gairah Cinta Pria Kesepian)

"DUDA HOT" (Gairah Cinta Pria Kesepian)
Mawar


__ADS_3

Kevin mengerutkan dahinya saat orang itu 'Adrian' memarkirkan mobil mewahnya di halaman sebuah bangunan megah nan mewah yang memiliki dua lantai, yang Kevin sendiri tidak tau siapa pemiliknya.


"Untuk apa kita berhenti di sini? Dan rumah siapa ini?" Kevin menoleh dan menatap Adrian penasaran.


"Yang jelas bukan ini tujuan utama kenapa aku mengajakmu keluar, aku akan menjemput murid sekaligus adik angkatku. Kita akan pergi bersama dia juga."


"Tapi aku tidak pernah tau jika kau memiliki adik angkat, atau jangan-jangan itu adalah kekasihmu." Ucap Kevin penuh selidik.


"Hahaha." Alih-alih ingin membalas ucapan Kevin, Adrian justru tertawa keras membuat Kevin sedikit kebingungan.


"Kenapa kau tertawa? Apa ada yang salah dengan pertanyaanku?" Tanya Kevin penuh selidik.


"Sama sekali tidak, lagipula gadis barbar seperti dia bukan tipeku. Aku sudah memiliki gadis incaran yang manis dan menggemaskan, justru aku ingin menjodohkan dia denganmu." Balas Adrian dan segera keluar dari mobilnya.


"Kau gila?! Aku tidak Sudi. Lagi pula aku sudah tidak ingin memiliki hubungan lagi dengan siapa pun." Tutur Kevin.


Mimik wajahnya berubah sendu. Bagaimana mungkin Kevin memikirkan tentang pasangan baru, sementara dia baru saja kehilangan belahan jiwanya.


Adrian menatap Kevin dengan sendu. Dia memahami betul apa yang tengah dirasakan oleh sahabatnya itu. Adrian pun segera mencairkan suasana dengan tingkah ajaibnya


"Tidak usah berlebihan Kevin Nero, jika kau tidak mau. Aku tidak akan memaksamu." Ucap Adrian.


Kevin mendesah panjang, seharusnya Ia tau bagaimana sifat pria itu. Dan kali ini dia berhasil membuat moodnya turun lagi, Kevin pun segera membuka pintu di sisi kanannya.


Keduanya pun berjalan beriringan menuju pintu utama bangunan megah itu.


Kedatangan kedua pria tampan itu di sambut oleh seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah kepala pembantu di rumah itu.


"Profesor Wu,"


"Bibi, di mana Nonamu? Apa dia ada di rumah?" tanya Adrian pada wanita itu.


"Nona ada di tamannya, silahkan masuk saya akan memanggilkan Nona."


Adrian mengangguk. "Baiklah."


.


.


.


Kejenuhan mulai di rasakan oleh Kevin, sudah hampir 15 menit namun orang yang Adrian tunggu belum juga datang.


Kevin berfikir apakah pemilik rumah itu sangat menyukai mawar sehingga banyak sekali lukisan mawar yang menggantung di dinding, di meja di sudut ruangan juga banyak bunga mawar sampai pengharum ruangan pun beraroma mawar.


"Kakak angkat~"

__ADS_1


Perhatian dua pria tampan itu teralihkan, keduanya menoleh pada sumber suara. Terlihat seorang gadis cantik dengan balutan dress biru cerah bermotif bunga, rambut panjangnya yang berwarna terang di biarkan tergerai indah.


Sudut bibir Adrian tertarik ke atas menyambut kedatangan gadis itu yang pastinya adalah Luna, sedangkan Kevin hanya mampu terpaku menatap sosok yang begitu mirip dengan mendiang istrinya itu.


"Kakak Angkat, untuk apa pagi-pagi begini kau sudah ada di sini? Jangan bilang jika kau~"


"Hahaha sama sekali tidak Lun, hari ini aku membebaskanmu dari semua pelajaran tambahanmu. Bukankah otak juga perlu istirahat." Ujar Adrian menyela kalimat Luna.


Gadis itu sedikit menghela nafas lega, karena hari ini Ia tidak perlu berfikir keras dan pusing karena penjelasan panjang lebar Adrian mengenai pelajaran tambahan yang pria itu berikan padanya.


Luna sendiri bingung kenapa Ayahnya masih harus memberinya pelajaran tambahan untuknya sedangkan semua nilainnya selalu sempurna, bahkan Ia yang terbaik di kampusnya.


"Lantas untuk apa Kakak angkat berada di sini pagi-pagi begin?"


"Tidak untuk apa-apa, aku hanya ingin mengajakmu makan di luar." Balas Adrian.


"Benarkah? Tumben sekali, mimpi apa kau semalam sampai-sampai kau berinisiatif untuk mengajakku makan siang di luar?"


Luna menatap Adrian penuh selidik. Bagaimana Luna tidak merasa curiga, dia mengenal betul kakak angkatnya itu.


Adrian adalah tipe orang yang sangat pelit dan perhitungan. Bahkan Luna sering membayar makanannya jika mereka sedang makan di luar. Adrian selalu saja beralasan jika dompetnya tertinggal, atau mungkin tidak memiliki uang cash.


"Asal kau sendiri yang membayarnya. Aku tidak mau kau bodohi lagi."


Dan sementara itu, Kevin yang sejak tadi berada di samping Adrian tak sedikit pun lolos dari Luna. Entah apa yang saat ini Ia fikirkan, apa mungkin Kevin masih berfikir jika Luna adalah Jessica?


"Bukan aku, tapi Tuan Muda Neno. Karena hari ini dia berulang tahun."


"Tuan Muda Nero?" Luna baru menyadari jika Adrian tidak datang hanya sendiri saja, ada orang lain bersamanya.


Gadis itu menoleh dan terkejut melihat pria yang berdiri di hadapannya. "Eoo? Kau?" Luna berseru sambil menunjuk Kevin. Luna teringat wajah tampan itu. Dia adalah pria yang pernah membantunya menangkap penjambret.


"Kalian sudah saling mengenal?" Tanya Adrian seraya menatap Luna dan Kevin secara bergantian.


Luna menggeleng. "Mengenal sih tidak, tapi aku sudah pernah bertemu 1 kali dengannya dan itu semalam." Balas Luna menjelaskan.


"Hahah sepertinya itu adalah awal yang baik untuk kalian berdua, dan pertemuan kalian semalam aku rasa bukan hanya sebuah kebetulan. Tapi memang takdir Tuhan." Ujar Adrian panjang lebar.


Kevin terdiam beberapa detik dan mencerna setiap kalimat yang baru saja terucap dari bibir Adrian, Adrian mengatakan seolah-olah pertemuannya dan Luna bukanlah sebuah kebetulan namun memang sebuah rencana Tuhan.


" Takdir Tuhan?"


.


.


.

__ADS_1


"Luna, stop!"


Luna mengurungkan niatnya untuk membuka pintu di depannya karena teriak keras Adrian. Gadis itu membalikkan tubuhnya dan menatap Adrian penuh tanda tanya.


"Kenapa?"


"Kau tidak boleh duduk di depan."


Adrian memejamkan matanya sambil mengangkat jari telunjuknya, menggoyangkannya dan kepalanya menggeleng membuat Luna semakin kebingungan. Bukan hanya Luna, namun juga Kevin yang ada di samping Adrian.


"Kenapa?" Tanya Luna penuh keheranan.


"Mundur dan kau tidak boleh duduk di situ, kau akan duduk di belakang bersama Kevin."


"Apa, tapi kenapa?" Heran Luna dengan kedua mata membulat sempurna, gadis itu menatap Adrian tak percaya. Ia tidak tau rencana apa yang sedang dia jalankan kali ini.


"Kau tidak bisa duduk di sampingku Luna sayang, tempat itu sudah ada yang menempati." Ucap Adrian menuturkan.


Luna menyipitman matanya dan mentap Adrian penuh selidik.


Pria itu mengulurkan tangannya dan tak lama setelahnya terlihat seorang gadis yang sangat Luna kenal menghampiri Adrian dan meraih tangannya.


"Irene?" Luna memekik dan menatap mereka berdua dengan pandangan bertanya., Irene tersenyum tiga jari sambil mengangkat tangan. Jarinya membentuk huruf V.


"Apa yang terjadi pada kalian berdua?" Luna menatap Irene dan Adrian bergantian.


"Kami baru saja jadian." Balas Irene tersipu.


"Benarkah? Berarti ada pajak untukku hari ini." Mata Luna berbinar menatap sahabat serta kakak angkatnya itu secara bergantian.


"Tidak ada pajak Luna William, karena yang akan mentraktik kita hari ini adalah boss besar Nero. Dia sedang berulang tahun." Adrian menunjuk Kevin yang sedari tadi hanya diam di sampingnya "Benarkan Kevin, dan kau tidak keberatan bukan?" Lanjut Adrian.


"Tidak." Balas Kevin singkat. Adrian tersenyum lebar.


"Jika begitu kita brangkat." Serunya senang.


Semua sudah masuk ke dalam mobil milik Adrian, hanya tinggal Luna saja yang belum. Gadis itu masih berdiri terpaku di tempatnya.


Entah apa yang terjadi dan Ia fikirkan saat ini


"Yakk!! Luna William, sampai kapan kau akan berdiri saja di sana?" Seru Irene dan langsung mengalihkan perhatian Luna.


"Iya-iya dasar bawel." Luna membuka pintu di depannya dan masuk kedalam mobil Adrian.


Luna duduk tepat di samping Kevin. Membuat keduanya menjadi canggung satu sama lain.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2