
-Baca novel baru Author Ya, di novel itu banyak mengandung bawang. Kisah perjuangan cinta seorang gadis bernama Vivian untuk mendapatkan cinta Leon yang tidak normal-
-
Hari semakin gelap. Sang fajar telah kembali keperaduannya sejak beberapa jam yang lalu. Kini hanya tersisa bulan dan langit tanpa bintang. Mendung. Kata itu cukup untuk menggambarkan keadaan malam ini yang sepertinya sebentar lagi akan turun.
Di tepi sungai Han. Terlihat dua orang berbeda gender yang sedang duduk di bawah pohon dalam keheningan.
Sesekali si perempuan menoleh dan menatap pria disampingnya. Mengamati dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dan jika boleh jujur, pria itu adalah pria tertampan yang pernah dia kenal dan temui dalam hidupnya. Juga paling dingin.
"Bagaimana kau mengenal Adrian dan kemudian menjadi kakak angkatmu?" Setelah cukup lama diam, akhirnya sebuah pertanyaan keluar dari bibir Kevin dan memecah dalam keheningan.
Luna menoleh. "Panjang ceritanya, singkatnya dia dan keluarganya adalah orang yang paling berjasa dalam hidupku dan Papi." Tuturnya.
"Oh."
Luna seperti mati kutu. Dia bingung bagaimana harus berbincang dengan orang dingin seperti Kevin.
Jika yang saat ini bersamanya adalah Adrian maupun Irene, pasti Luna memiliki banyak topik untuk dibahas. Tapi masalahnya ini adalah Kevin, pria dingin yang tidak banyak bicara.
"Luna," panggil Kevin dan membuat Luna mau tidak mau menoleh padanya. "Sebentar saja, bisakah kau pinjamkan bahumu padaku?" Dua pasang mutiara berbeda warna mereka saling menatap dan bersirobok.
Luna tidak tau harus bersikap bagaimana. Haruskah dia mengijinkan Kevin untuk bersandar padanya atau tidak? Namun melihat tatapan Kevin yang penuh harap membuat Luna tidak bisa menolak apalagi melarangnya.
Gadis itu menatap Kevin sejenak kemudian mengangguk. Mengijinkan Kevin untuk bersandar padanya.
Entah kenapa Luna merasakan jantungnya tiba-tiba berdebar tidak karuan ketika Kevin mulai menyandarkan kepalanya pada bahu kanannya. Gadis itu melirik sekilas pada helaian berwarna keperakan milik pria tampan itu.
"Kenapa kau harus melakukan hal ini padaku? Bagaimana jika tiba-tiba pasanganmu datang dan kemudian salah paham padaku?"
"..." Hampa, tidak ada jawaban. Kevin memilih untuk diam.
Ketenangan Kevin sedikit terusik oleh dering pada ponsel Luna. Pria itu membuka kembali matanya yang sebelumnya tertutup. Ditatapnya Luna sejenak kemudian bangkit dari posisinya.
__ADS_1
"Aku harus pulang sekarang. Papi memintaku untuk pulang."
Kevin menahan pergelangan tangan Luna ketika gadis itu hendak beranjak dari hadapannya. "Kau tidak membawa mobil bukan? Aku akan mengantarkanmu."
"Apa tidak terlalu merepotkan?" Luna menatap Kevin, gadis itu tidak enak jika harus merepotkan Kevin padahal mereka baru bertemu dan saling mengenal.
Kevin menggeleng. "Tidak, kebetulan kita satu arah." Jawabnya datar.
"Baiklah."
.
.
Lagi-lagi keheningan menyelimuti kebersamaan mereka berdua. Baik Kevin maupun Luna sama-sama tidak ada yang bersuara. Keduanya terdiam dalam keheningan masing-masing.
Kevin fokus pada jalanan di depan sana, sedangkan Luna menatap keluar jendela. Sesekali Kevin menatap Luna, dan begitupun sebaliknya.
"Luna." Panggil Kevin mengakhiri keheningan diantara mereka. Luna pun menoleh, membuat dua pasang mutiara berbeda warna milik mereka saling menatap dan bersirobok.
Luna mengerutkan dahinya. "Tentang apa?" Gadis itu merasa penasaran.
"Apakah ayahmu pernah bercerita jika kau memiliki saudara kembar dan seorang adik laki-laki? Maaf jika pertanyaanku terkesan lancang dan tidak sopan, tapi aku harus tetap mengetahui jawabannya."
"Kenapa?"
"Karena aku pernah mengenal seseorang yang wajahnya sangat mirip denganmu. Tidak hanya mirip, tapi serupa. Namanya Jessica, tapi sayangnya dia sudah meninggal satu tahun yang lalu."
Luna tersentak. "Je-Jessica!" Kevin mengangguk. Dari reaksi Luna, Kevin yakin jika Luna mengetahui sesuatu tentang Jessica.
"Aku tidak tau dari mana harus memulainya. Tapi aku ingat, papi pernah mengatakan jika aku memiliki saudara kembar bernama Jessica, dan seorang adik laki-laki bernama Jerremy. Tapi sayangnya mereka meninggal dalam kecelakaan bersama mami."
"Aku masih sangat kecil ketika peristiwa itu terjadi. Jadi aku tidak bisa mengingat peristiwa itu dengan baik. Ditambah lagi dengan trauma yang pernah aku alami pasca kecelakaan sehingga aku tidak bisa mengingat semua kejadian itu dengan baik."
Mendengar cerita Luna, membuat keyakinan Kevin semakin besar jika Luna dan Jessica memang saudara kembar yang terpisah karena keadaan. Dan itu artinya Jerremy masih memiliki kakak dan ayah.
__ADS_1
"Bagaimana jika aku mengatakan jika adikmu masih hidup?"
Luna tertawa mendengar ucapan Kevin. Luna menganggap itu adalah lelucon saja. "Itu tidak mungkin, Tuan Nero. Karena adikku sudah lama meninggal." Ucapnya.
"Aku mengatakan yang sebenarnya. Dan jika kau tidak percaya. Kau bisa melakukan tes DNA. Kau mau percaya aku tidak, tapi mendiang istriku adalah kakak kembarmu!!"
Kevin mengeluarkan dompetnya lalu menunjukkan sebuah foto pernikahan dirinya dan Jessica pada Luna. Dengan gemetar, Luna mengambil foto tersebut dari tangan Kevin.
Mimik wajahnya menunjukkan ketidak percayaan ketika melihat foto tersebut. "I-Ini?!"
"Itu adalah foto pernikahan kami dua tahun yang lalu. Satu tahun yang lalu dia meninggal ditangan kakak angkatnya. Seperti kau dan ayahmu yang mengira mereka telah tiada, mereka pun berpikiran jika kalian juga telah tiada."
"Jessica dan Jerremy di selamatkan oleh pembantu kalian yang bernama Karina dan suaminya, kemudian diangkat anak oleh mereka berdua."
Mendengar ucapan Kevin membuat air mata Luna sudah tidak terbendung lagi. Air matanya jatuh bercucuran membasahi wajah cantiknya.
Antara sedih dan bahagia. Orang yang selama ini dia kira telah tiada ternyata masih hidup. Tapi di sisi lain Luna juga merasa sedih, karena Jessica pergi lebih dulu sebelum mereka berdua bertemu.
"Jika saja aku tau Jessica masih hidup, pasti aku sudah mencarinya sejak lama. Dan dia, mungkin masih ada hingga saat ini. Sungguh aku sangat menyesal karena tau kebenaran ini setelah dia tiada."
Mendengar tangisan Luna membuat Kevin merasa tidak tega. Pria itu meraih tubuh Luna lalu membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Dan Luna yang memang membutuhkan sandaran tidak menolak pelukan Kevin, Luna membiarkan Kevin memeluk dirinya.
Dan saat Luna mulai tenang. Kevin melepaskan pelukannya. "Lalu bagaimana dengan Jerremy? Di mana dia sekarang?" Tanya Luna penasaran.
"Dia tinggal bersamaku. Jika kau mau, aku akan segera mempertemukan kalian berdua. Karena bagaimana pun Jerremy juga berhak tau jika dia masih memiliki keluarga."
Luna menggenggam lengan Kevin dan menatapnya dengan tatapan memohon. "Tuan Nero, aku mohon pertemukan aku dengannya. Aku ingin bertemu adikku."
Luna tidak mungkin menundanya ketika dia mengetahui jika ternyata adiknya masih hidup. Dan Luna ingin segera bertemu dengan Jerremy. Bukan hanya Luna, Tuan William juga berhak tau jika putra bungsunya masih hidup dan baik-baik saja."
"Baiklah, aku akan membawamu menemuinya."
-
Bersambung.
__ADS_1