
"Jerr, apa yang terjadi pada Ibu!" Tanya Jessica meminta penjelasan.
Jessica meninggalkan pekerjaannya yang belum selesai dan langsung pergi ke rumah sakit, setelah mendapatkan kabar dari Jerremy jika ibu mereka tiba-tiba saja pingsan dan dilarikan ke rumah sakit.
Kepanikan terlihat jelas dari raut wajahnya, dan kedua matanya tampak berkaca-kaca."Ibu mengeluhkan sakit di dadanya dan kemudian dia jatuh pingsan. Aku mengambil uang Noona untuk membayar DP rumah sakitnya."
"Ya sudah, Noona akan menyelesaikan sisa administrasinya." Jerremy mengangguk.
Jessica pergi ke bagian administrasi untuk menyelesaikan sisa pembayaran biaya rumah sakit ibunya.
Namun setibanya di sana, Jessica di kejutkan oleh keterangan bagian Administrasi jika semua biaya rumah sakit ibunya telah di lunasi. Dan orang itu juga meminta supaya Ibu Jessica di tempatkan di ruang VIP. Dan hal itu tentu saja mengejutkan gadis berdarah Korea-Amerika tersebut.
"Noona, ada apa? Kenapa wajahmu seperti orang kebingungan begitu? Dan kenapa kau memilih ruangan VIP untuk Ibu? Dari mana kau mendapatkan uang sebanyak itu?"
Jessica tak langsung menjawab dan hanya menatap datar sang adik. Kemudian Jessica memberitahu Jerremy jika biaya rumah sakit Ibu mereka telah dilunasi oleh seseorang.
"Jerr, apakah sebelumnya ada orang yang datang kemari?"
Jerremy menggeleng. "Aku rasa tidak. Hanya aku sendiri. Noona, apakah mungkin yang membayar seluruh biaya rumah sakit ibu adalah kak Dion dan kak Aldo, dan mereka melakukannya tanpa sepengetahuan pasangan masing-masing?"
"Noona rasa bukan mereka, sangat mustahil jika binatang seperti mereka mau membiayai seluruh biaya rumah sakit Ibu."
"Lalu kira-kira siapa?"
"Noona akan mencaritaunya. Sebaiknya kau masuk ke dalam dan temani Ibu. Kau pasti lapar dan belum makan malam, Noona keluar sebentar untuk membeli makanan." Jerremy tidak memberikan jawaban. Pemuda itu hanya menganggukkan kepala sebagai jawabannya.
.
.
.
Jessica menghentikan langkahnya ketika tanpa sengaja dia berpapasan dengan Mirra, yang tak lain dan tak bukan adalah kakak iparnya. Wanita itu bersama seorang laki-laki dan itu bukan Dion.
Gadis itu menatap kakak iparnya dengan seringai meremehkan. "Aku sungguh kasihan pada kakakku yang bodoh itu!! Bagaimana bisa dia dibutakan oleh cintanya pada wanita murahan sepertimu!!"
"JESSICA!!"
PLAKK!!
Jessica menahan tangan Mirra ketika wanita itu hendak menamparnya. Jessica menghempaskan tangan Mirra dan balik menamparnya dengan sangat keras, wajah Mirra sampai menoleh ke samping karena tamparan tersebut.
Melihat Mirra disakiti di depan matanya, tak lantas membuat pria itu diam saja. Dia menghampiri Jessica dan hendak menamparnya, namun sebuah tangan lebih dulu menghentikannya.
"Hanya banc* yang berani menyakiti perempuan!!"
"Aaahhh.." Pria itu meringis kesakitan karena cengkraman pada pergelangan tangannya. Dan kemunculan pria itu membuat Jessica sedikit terkejut.
"Siapa kau?! Dan apa yang kau lakukan pada kekasihku? Memiliki masalah apa kau dengannya?" Teriak Mirra penuh emosi.
Pria itu membuka kaca mata hitamnya. Kedua mata Mirra membelalak setelah melihat siapa orang yang baru saja dia maki itu. "Tuan Nero!!" Dan Kevin hanya menyeringai sinis.
__ADS_1
"Kenapa kau sangat terkejut, Nyonya?" Sinis Kevin mencibir.
"Melihat kelakuanmu membuatku sangat malu. Bagaimana bisa aku memiliki rekan bisnis yang istrinya memiliki perilaku seperti binatang!! Kau sangat murahan dan tidak tau malu!! Aku jadi malas bekerjasama dengan perusahaan suamimu!"
Mirra menangkupkan kedua tangannya di depan dada. "Tuan Nero, saya mohon pada Anda. Jangan cabut saham Anda di perusahaan kami."
"Apa yang saya lakukan jelas tidak ada sangkut pautnya dengan kerjasama Anda dan suami saya. Saya mohon dengan sangat pada Anda. Dan saya akan melakukan apapun, asalkan Anda tetap mau berinvestasi di perusahaan kami."
Kevin menyeringai lebar. "Kalau begitu berlututlah dan cium kaki Nona ini. Maka aku akan mempertimbangkannya." Sontak kedua mata Mirra membelalak sempurna.
"Saya tidak mau. Bagaimana mungkin Anda meminta saya merendahkan harga diri, di depan orang yang bahkan derajatnya lebih rendah dari saya." Mirra menolak tegas.
"Jika itu adalah pilihanmu, maka aku juga memiliki pilihanku sendiri. Aku akan mencabut semua saham yang aku tanam diperusahaan suamimu, bagaimana? Adil bukan?"
Mirra mengepalkan tangannya dan menatap Jessica dengan tajam. Mirra menutup matanya dan...
"Baik, saya akan melakukannya!!"
Kini giliran Jessica yang menyeringai lebar. Dan tentu saja hal semacam ini akan dia manfaatkan dengan sebaik-baiknya. "Tunggu!" Mirra mengurungkan niatnya untuk berlutut di depan Jessica, setelah gadis itu menghentikannya.
Mirra menyeringai penuh kemenangan. Dia yakin jika adik iparnya itu tidak akan membiarkan dirinya melakukan hal rendahan seperti ini.
"Bukan padaku seharusnya kau berlutut. Tapi pada Ibu, karena terlalu banyak dosa yang kau lakukan padanya. Ikut aku ke rumah sakit dan cium kaki Ibuku!!"
"Apa?!"
Jessica berbalik dan menatap Kevin. "Tuan Nero. Saya tidak butuh permintaan maafnya. Tapi saya ingin supaya wanita ini berlutut dan mencium kaki ibu saya,"
"Jessica kau-!!" Mirra menggantung kalimatnya. Dan dia tidak memiliki pilihan lain lagi selain menuruti keinginan gadis ini. "Baik, aku akan mengikuti perintah mu!! Aku akan mencium kaki ibu!!"
"Bagus, kalau begitu ikut aku."
"Kau satu mobil denganku, biar mobil mereka Chan yang mengemudikannya." Dan Jessica hanya mengangguk mengiyakan keputusan Kevin.
.
.
.
Keheningan menyelimuti kebersamaan Jessica dan Kevin. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir keduanya. Keduanya memilih diam dalam kebisuan.
Sesekali Kevin menoleh dan menatap gadis disampingnya. Dia begitu cantik meskipun dilihat dari sisi manapun.
Dan keinginan Kevin untuk memilikinya pun semakin besar. Tapi Kevin tidak ingin gegabah dan ia akan melakukan pendekatan dengan perlahan. Dan membuat semua terasa sealami mungkin.
"Jadi wanita itu adalah kakak iparmu?" Setelah cukup lama saling diam. Sebuah pertanyaan keluar dari bibir Kevin.
Jessica mengangguk. "Ya," dan menjawab singkat.
"Kelihatannya hubungan kalian tidak terlalu baik."
__ADS_1
"Bukan kelihatannya lagi, tapi hubungan kami sejak awal memang tidak baik. Karena wanita itu kini kakak laki-lakiku menjadi anak yang durhaka."
"Dia tidak lagi memiliki rasa hormat pada ibunya, dan mereka selalu memperlakukan Ibu seperti sampah. Dan aku tidak bisa menerima itu semua."
"Lalu bagaimana dengan Aldo dan istrinya? Apa yang saat itu kau lakukan di rumah mereka, kau sampai membuat keributan di sana?"
Jessica mendesah berat. "Elia adalah kakak tertuaku. Sama seperti Dion, sejak menikah dia tidak pernah lagi bersikap baik pada Ibu. Kehidupan mewah yang dia dapatkan dari suaminya, membuatnya lupa diri dan melupakan dari mana sebenarnya dia berasal."
"Jujur saja, kau membuatku kagum. Kau begitu berani menghadapi kakak-kakakmu yang sudah berbuat yang tidak baik pada ibumu."
"Aku tidak suka Ibu diperlakukan seperti itu. Orang yang seharusnya mereka hormati malah mereka perlakukan seperti sampah!! Dan itu yang membuatku sangat marah. Dan terkadang aku ingin sekali membunuh mereka berempat."
Dan kali ini Kevin memilih untuk diam dan tidak bertanya lagi. Kebersamaan mereka kembali diwarnai keheningan. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir keduanya. Dan keduanya sama-sama diam dalam kebisuan.
-
Karina tercekat ketika Mirra tiba-tiba saja berlutut dan mencium kakinya. Ibu empat anak itu ingin menghentikan tindakan Mirra, namun ditahan oleh Jessica.
Sebagai seorang Ibu, tentu saja Karina tidak ingin jika anaknya sampai merendahkan harga dirinya, bahkan itu padanya.
Dan Karina tau jika yang dilakukan oleh menantunya itu bukan dilandasi ketulusan melainkan sebuah tekanan.
"Dia memang pantas mencium kaki, Ibu. Dosanya pada Ibu sudah terlalu banyak. Jadi biarkan saja dia berlutut seperti itu."
"Tapi, Sica-"
"Jangan mendebat Sica Noona, Bu. Dia tidak akan merubah keputusannya." Sahut Jerremy menimpali.
Kedua tangan Mirra terkepal kuat dan kedua matanya berkilat penuh kebencian ketika dia menatap Jessica. Amarah terlihat jelas dari sorot matanya, dendam dimatanya begitu ketara. Dan hal itu disadari oleh Kevin yang juga ada di sana.
Mirra mendekati Jessica dan berbisik di telinganya."Ini belum berakhir. Ingat, bagaimana aku akan membalas semua penghinaan ini!!" Mirra menyambar tasnya dan pergi begitu saja.
"Dan aku akan sangat menantikannya!!"
Jessica mendekati Karina yang tampak kebingungan. Dia membutuhkan penjelasan sekarang.
"Bu, berhentilah bersikap baik dan lunak pada mereka. Mereka memang putra-putrimu. Tapi sekalipun mereka tidak pernah menganggapmu sebagai Ibunya."
"Sica, dengarkan Ibu. Sejahat apapun seorang anak pada Ibunya, tapi seorang Ibu tidak akan pernah bisa membenci darah dagingnya."
"Sejahat apapun mereka, dan sebesar apapun kesalahan yang mereka perbuat, seorang Ibu pasti akan memaafkannya."
"Saat ini kedua kakakmu hanya tersesat jalan, tapi percayalah jika suatu saat nanti mereka akan kembali pada kita. Dia akan melihat dan memandang kembali ibunya."
Jessica menyeka air matanya dan langsung memeluk ibunya, begitupun Jerremy. Pemuda itu ikut memeluk sang Ibu.
Sedangkan Kevin memilih untuk meninggalkan mereka bertiga. Dia terlihat menyeka air mata di tengah langkahnya. Hati Kevin tersentuh. Dan saat ini juga, dia ingin sekali bertemu dengan ibunya.
-
Bersambung.
__ADS_1