
Kevin memandang pantulan dirinya di cermin. Pria itu mengusap cermin yang ada di depannya menggunakan tangan kanannya, cermin itu tampak beruap hingga Kevin tidak bisa melihat dirinya sendiri dengan jelas.
Kevin meraih plaster yang membalut wajah bagian kanannya dan melepasnya perlahan, ada luka memanjang di bawah matanya.
Luka itu ia dapatkan ketika Ia menyelamatkan Luna saat gadis itu hampir saja kehilangan nyawanya tiga hari yang lalu, kemudian Ia beralih pada kasa yang ada di pelipisnya. Luka yang dia dapat karena kecelakaan kecil yang dialami sore tadi.
Tokk ..
Tokk ..
Tokk ..
Ketukan keras pada pintu kamarnya sedikit menyita perhatian Kevin, pria itu menoleh kemudian beranjak dari kamar mandi dan berjalan menuju pintu untuk melihat siapa gerangan yang telah mengetuk pintunya.
Ckleekkk .. !! ..
Pintu itu terbuka, tampak sosok wanita muda berdiri di depannya dengan senyum yang merekah.
"Sayang." Sapa wanita itu riang.
"Dora, sedang apa kau di sini?" Tanya Kevin to the poin. Pria iru mengerutkan dahinya melihat kedatangan wanita itu ' Yoon Dora '
"Aku dengar dari Tao, katanya kau sedang sakit, makanya aku kesini." Balas Dora dan melenggang masuk ke dalam kamar Kevin.
Pria itu menutup pintu kamarnya kemudian berbalik, tampak Dora yang sedang berbaring di atas tempat tidurnya. Kevin memutar bola matanya jengah.
"Turun dari sana." Pinta Kevin dingin. Dora menggeleng dan justru melambaikan tangannya memanggil Kevin.
"Sayang kemarilah, aku merindukanmu." Ucap Dora manja.
Wanita itu bangkit dari berbaringnya kemudian turun dan menghampiri Kevin yang masih bergeming. Dora mengalungkan kedua tangannya pada leher Kevin dan menatapnya manja, Dora menyandarkan kepalanya pada dada bidang Kevin.
Tangannya meraba permukaan dada bidang Kevin yang terbalut kemeja hitammya, perlahan Ia membuka kancing pada kemeja Kevin dan menelusupkan tangannya ke dalam pakaiannya. Merabanya dengan gerakan mengambang, Kevin memejamkan matanya.
Bruggg .. !! ..
Pria itu mendorong tubuh Dora ke atas tempat tidurnya, posisinya kini berada di atas Dora dengan kedua tangannya di cengkram oleh Kevin.
Dora menarik sudut bibirnya menciptakan smrik tipis di wajah cantiknya, Ia tersenyum penuh kemenangan karena setelah sekian lama akhirnya Ia bisa meluluhkan hati Kevin yang sekeras batu.
Kevin membelai wajah Dora dengan lembut, smrik tipis tersungging di wajah tampannya. Perlahan Kevin mendekatkan wajahnya sambil memiringkan kepalanya, percaya jika Kevin akan menciumnya.
Dora menutup matanya dan sedikit membusungkan dadanya, memberikan pose yang mungkin akan membuat Kevin bergairah padanya.
Dora menarik kaki kanannya dan menaikkan dress yang membalut tubuhnya hingga terlihat pahanya yang mulus tanpa bulu. Kevin melebarkan smriknya dan...
"Ahhh.??" Wanita itu meringis dan merintih merasakan sakit karena cengkraman Kevin pada rahangnya.
Kedua manik abu-abu Kevin menatap tajam Dora, sorot matanya berbeda dari beberapa saat yang lalu.
Rupanya wanita itu sudah salah paham dengan sikap yang baru saja di tunjukkan oleh Kevin. "Op-pa a-p-a yang kau lakukan? Ke-ke-na-pa kau menyakitiku?" Tanya Dora terbata.
__ADS_1
"Jangan kau berfikir jika aku tertarik padamu Yoon Dora, dengan sikapmu yang murahan ini justru membuatku semakin jijik padamu. Keluar dari kamarku dan pergilah dari rumahku." Pinta Kevin menuntut.
"Kau mengusirku.??"
"Ya." Balasnya singkat.
Dora mendorong dan memukul dada Kevin menggunakan tasnya, dan berlalu dari hadapannya. "Sial kau Kevin Nero." Kevin menghela nafas panjang. Pria itu mengusap wajahnya dan mengacak kasar rambut blondenya.
Brakkk .. !! ..
Ia membanting pintu kamarnya keras hingga menimbulkan suara yang begitu memekatkan telinga, dari sikap yang di tunjukkan. Terlihat jelas jika pria itu sedang dalam keadaan kesal.
Kevin berjalan menuju cermin besar yang ada di sisi kanan tempat tidurnya, kumudian berdiri di depan cermin itu, Kevin menutup sebelah matanya kemudian menarik turun sesuatu yang sewarna dengan kulitnya.
Di luar dugaan, setelah kulit palsu itu dilepas. Tampak sebuah bekas luka menghiasi wajah tampannya, luka sepanjang jari kelingking anak-anak yang menyatu saat Kevin menutup matanya.
Dan tampak terpisah saat mata itu terbuka, luka yang selama ini Ia tutupi dari semua orang. Luka yang Ia dapatkan ketika Ia masih berusia 15 tahun, luka yang selalu mengingatkan Kevin pada sosok jelita tanpa nama yang Ia temui 14 tahun lalu.
Dari cermin, pandangan Kevin beralih pada laci kecil yang ada di sisi bawah. Tangan kanan Kevin bergearak untuk membu laci itu, terlihat sebuah pita berwarna merah tergeletak di dalamnya.
Kini pandangan mata Kevin beralih sepenuhnya pada pita merah yang telah berpindah ke tangannya dan menatapnya dalam.
"Aku pernah berjanji padamu, jika suatu saat nanti aku akan menemukanmu dan mengembalikan pita ini padamu." Ucapnya.
"Boss, apa kau ada di dalam, semua sudah menunggumu untuk makan malam." Seru seseorang dari luar kamar Kevin. Kevin menoleh dan menatap pintu itu datar
"10 menit lagi aku akan turun."
"Baiklah Boss, kami semua menunggumu."
Namun sebelum itu, tak lupa Kevin menutupi bekas luka di wajahnya dengan menggunakan kulit palsu karena dia tidak ingin bekas luka itu dilihat oleh orang lain.
-
"Dasar pria menyebalkan."
Sepanjang jalan Luna terus saja mengumpat tidak jelas, bagaimana tidak. Mark terus saja membayangi dirinya dan itu membuatnya kesal setengah mati.
"Senior." Seru seseorang dari arah belakanv, seorang pemuda menghampiri Luna lalu menepuk bahunya.
Luna menoleh dengan malas, tampak pemuda berkulit putih bersuara cadel berdiri tepat di belakangnya.
"Sean," pemuda itu yang ternyata adalah Sean menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tersenyum bodoh. "Sedang apa kau di sini?" Luna mengerutkan dahinya melihat Sean berada di halte bus, itu adalah hal yang sangat langkah karna biasanya Ia selalu membawa motor sendiri.
"Pergi kuliah, karena ulah bocah menyebalkan itu. Kakak angkat ku ikut-ikutan menyita semua fasilitasku dan memintaku naik kendaraan umum." Ujar Sean menjelaskan.
"Pasti kau bikin ulah lagi ya?" Luna menyipitkan matanya dan menatap Sean penuh selidik.
"Tidak, dia saja yang keterlaluan." Balas Sean sambil mendesah panjang.
"Itu busnya datang." Seru Luna melihat kedatangan bus yang akan membawanya pulang ke rumahnya.
__ADS_1
"Ahh, kau benar Nunna, tapi aku tidak tau caranya naik kendaraan umum." Sean menggaruk tengkuknya dan tersenyum konyol.
Luna menepuk jidatnya dan menggeleng pelan."Dasar anak ayam, baiklah aku akan mengajarimu bagaimana naik kendaraan umum."
"Benarkah?" Mata Sean berbinar mendengar ucapan Luna.
" Tentu."
"Terimakasih, Noona, kau memang yang terbaik. Aku jadi semakin ingin menjodohkanmu dengan kakak angkat ku, agar aku memiliki kakak ipar sebaik dirimu. Tapi dia seorang duda. Duda yang sangat tampan namun juga kesepian." Ujar Sean panjang lebar.
Pletakkk ... !! ..
"Appooo!!" Akibatnya satu jitakan keras mendarat mulus pada kepala Sean. "Yak, Noona kenapa kau malah menjitakku eo?" Pekik Sean dengan nada meninggi.
"Siapa suruh kau bicara asal ini dan itu," cibir Luna.
Tiba-tiba sebuah mobil melintas di samping bus yang akan Luna dan Sean naiki. Tapi bukan itu yang menarik perhatian Luna. Melainkan dua orang yang ada di dalam mobil tersebut.
"Dasar buaya, sekalinya buaya tetap saja buaya!!"
"Yaaakk!! Nunna kau mau kemana?" Seru Sean namun di hiraukan oleh Luna.
Sean menghela nafas, inilah yang paling Ia benci dari senior cantiknya yang satu itu. Selalu mengabaikanya dan meninggalkannya begitu saja.
"Selalu saja di tinggalkan." Dengus Sean sebal, Ia tidak memiliki pilihan lain selain pergi sendiri.
.
.
.
Luna menyandarkan tubuhnya pada pohon besar yang ada di belakangnya. Saat ini ia sedang berada di tepi Sungai Han. Matanya menatap lurus pada air yang mengalir di depannya, senyum pahit terlukis di wajah cantiknya.
Tangannya mengambil kerikil-kerikil kecil di tanah kemudian melemparkan kedalam sungai dengan malas.
"Dasar buaya, sekalinya buaya tetap saja buaya. Dasar buaya menyebalkan!!" Luna terus saja menggerutu tidak jelas.
Dia benar-benar sebal setengah mati pada pria yang hingga detik ini masih berstatus sebagai kekasihnya itu.
"Apa kau sudah mulai tidak waras, berbicara sendiri?" Ucap seseorang tiba-tiba.
Mendengar ada yang berbicara kurang mengenakan membuat Luna semakin kesal, dengan emosi yang telah sampai di ubun-ubunya.
Luna mendongakkan wajahnya dan mendapati seorang pria tampan dengan balutan kemeja hitam tanpa lengan yang di padukan dengan vest abu-abu berkerah berdiri tepat di depannya dengan kedua tangan di masukan ke dalam saku celananya.
Sorot mata Luna yang awalnya berkilatan tajam meneduh seketika setelah melihat wajah dan tatapan dingin orang itu.
"Kakak ipar?!"
.
__ADS_1
.
Bersambung.