"DUDA HOT" (Gairah Cinta Pria Kesepian)

"DUDA HOT" (Gairah Cinta Pria Kesepian)
Cita-Cita Luna


__ADS_3

Apa yang yang nyaris saja menimpa Luna telah sampai ke telinga Tuan William. Ayah tiga anak itu sangat terkejut setelah mendengar penjelasan Kevin jika putrinya hampir saja menjadi korban pembunuhan.


Dan saat Kevin menyebut kata 'Nona' Tuan William langsung bisa menebak siapa yang hendak mencelakai putrinya itu.


"Nak Kevin, entah bagaimana Paman harus berterimakasih padamu. Jika tidak ada Nak Kevin, entah bagaimana nasib Luna. Paman sudah kehilangan Jessica dan Ibunya, dan Paman tidak ingin kehilangan Luna juga."


"Tidak perlu berkecil hati, Paman. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Jika saja yang diposisi Luna adalah orang lain, saya pun akan melakukan hal yang sama." Terangnya.


"Tapi tetap saja, Nak Kevin berperan penting dalam keselamatan hidup Luna. Dan Paman tidak tau bagaimana caranya harus membalas kebaikan Nak Kevin."


"Saya tidak butuh balasan dan imbalan apapun, Paman. Saya melakukannya dengan suka rela."


Tuan William adalah ayah mertuanya, ayah kandung dari mendiang istrinya. Entah kenapa Kevin tidak merasa nyaman jika harus memanggilnya dengan sebutan 'Ayah Mertua' mungkin karena Jessica telah tiada. Itulah kenapa dia lebih nyaman memanggil Tuan William dengan sebutan Paman.


"Nak Kevin, bagaimana kalau kau ikut makan malam di sini bersama kami? Paman akan sangat senang jika Nak Kevin tidak menolaknya."


Kevin menatap paruh baya di depannya dan mengangguk samar. Kevin merasa tidak enak untuk menolak tawaran pria paruh baya itu. Hanya makan malam. Kenapa Kevin harus menolaknya.


Perbincangan Kevin dan Tuan William di-intrupsi oleh kedatangan Luna. Gadis itu menghampiri dua pria berbeda usia tersebut setelah mandi dan mengganti pakaiannya.


Untuk sesaat Kevin terpaku melihat bagaimana cantik dan anggunnya Luna dalam balutan dress berwarna Salem sepanjang lutut setengah lengan berbahan brukat. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai dan jatuh dipunggngnya.


Senyum lembut di bibir merah mudanya memancarkan aura kecantikannya yang begitu natural. Itu adalah senyum yang sama milik seorang gadis kecil yang pernah dia temui dimasa lalu.


"Papi." Seru Luna dan segera bergabung dengan mereka berdua. Lalu pandangannya bergulir pada Kevin. "Kakak ipar, berhenti menatapku seperti itu, lama-lama kau bisa jatuh cinta padaku." Luna menggerlingkan sebelah matanya pada Kevin.


Kevin mendengus geli. Tingkah dan sikap Luna memang sangat berbanding balik dengan Jessica. Meskipun wajah mereka sama, tapi mereka dua karakter yang berbeda.


"Luna, berhenti menggoda dan mengganggu kakak iparmu. Sebaiknya ajak dia ke meja makan. Kita makan malam sama-sama."


Luna mengangguk. "Oke, Pi. Kakak Ipar, sebelum Papi mengomeliku lagi. Sebaiknya sekarang ikut ikut dan kita makan malam sama-sama." Luna memeluk lengan Kevin dan menarik pria itu menuju meja makan. Sedangkan Tuan William hanya menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya.


"PAPI, NOONA, AKU DATANG!!"


Teriakan keras dari arah depan menghentikan langkah mereka bertiga. Terlihat Jerremy yang datang bersama Sean. Keduanya tampak terkejut melihat keberadaan Kevin di sana. Sean terutama.

__ADS_1


"Noona, kau dan Kevin Hyung sudah saling mengenal rupanya?"


"Memang,"


"Kau tau, dialah orang yang aku maksud hari itu. Orang yang ingin aku jodohkan dengan-" buru-buru Luna membekap mulut Sean dengan tangannya sebelum pemuda itu semakin banyak bicara. "Noona, apa yang emm?!" Luna kembali membekap mulut Sean.


"Diam-lah bocah, sebaiknya kau tidak banyak bicara!!" Seru Luna setengah berbisik.


"YAKK!! Kalian berdua, apa yang sebenarnya kalian bicarakan? Kenapa berbisik-bisik?" Tanya Jerremy penasaran.


"St, anak kecil sebaiknya tidak usah ikut campur." Sean dan Luna menjawab dengan kompak. Sedangkan Jerremy langsung mempoutkan bibirnya.


Jerremy menghampiri Tuan William dan mengadu padanya. "Papi, lihat mereka berdua. Mereka menindas-ku lagi."


Tuan William mengusap punggung putra bungsunya tersebut dan menghela napas."Sudah-sudah, tidak usah bertengkar lagi. Ayo kita makan malam sekarang, Nak Kevin, ayo."


Dan selanjutnya kebersamaan mereka di meja makan diwarnai keheningan tak sepatah kata pun keluar dari mulut mereka berlima. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan piring yang saling bersentuhan. Semua diam.


.


.


.


Malam ini langit memang terlihat lebih cerah dari malam-malam sebelumnya. Sang penguasa malam tampak gagah di singgasananya. Jutaan manik-manik langit memainkan sinarnya.


Perhatian Luna sedikit teralihkan oleh kedatangan seseorang. Gadis itu menoleh dan mendapati Kevin berjalan menghampirinya. Kemudian Kevin mengambil tempat di samping Luna.


Glukk!!


Susah payah Luna menelan salivanya ketika pria itu menoleh dan membuat mata berbeda warna mereka saling bersirobok. Membuat Luna menjadi salah tingkah dan gugup setengah mati.


"Uhh, kenapa udaranya jadi sanagat dingin ya." Ucap Luna sambil menggosok lengannya dengan jari-jari lentiknya. Sebenarnya itu hanyalah pengalihan untuk menghilangkan kegugupannya.


Pukk...!!

__ADS_1


Luna terlonjak kaget saat merasakan sesuatu yang hangat jatuh di atas bahunya. Dan itu adalah jas milik Kevin. Lalu mata coklatnya bergulir pada Kevin yang juga menatap padanya. Mata mereka kembali bertemu.


"Kenapa wajahmu merah? Apa kau sakit?" Tanya Kevin melihat pipi Luna yang memerah seperti kepiting rebus.


"Mu..mungkin saja karena udara di sini sangat dingin, makanya pipiku memerah." Luna tersenyum bodoh, dia sedikit salah tingkah. Tidak mungkin dia mengatakan jika pipinya memerah karena Kevin bukan?!


"Sebaiknya kau masuk. Kau bisa sakit jika terlalu lama ada di sini."


"Sebentar lagi, Kakak Ipar. Aku tidak apa-apa, sungguh!! Oya, aku pikir kau sudah pulang."


"Belum, mungkin sebentar lagi. Masih ada hal penting yang harus aku bahas dengan ayahmu."


"Apakah itu tentang bisnis?"


Kevin mengangguk. "Rencananya perusahaanku dan perusahaan ayahmu akan mengadakan kerjasama." Tuturnya. Luna mengangguk paham.


Membicarakan tentang bisnis. Kemampuan ayahnya di dunia bisnis memang tidak bisa diragukan lagi. Dia sudah bergelut dengan dunia perbisnisan selama puluhan tahun. Dan dia juga memiliki kolega yang berasal dari berbagai negara di lima benua.


Tapi sayangnya ilmu perbisnisan yang Tuan William kuasai tidak menurun pada Luna. Sejak awal Luna memang tidak pernah tertarik dengan dunia bisnis, itulah kenapa dia tidak mau mempelajari apapun tentang bisnis.


Sejak kecil Luna telah bercita-cita menjadi seorang dokter. Dan saat ini Luna sedang dalam proses untuk mewujudkan cita-citanya tersebut.


"Aku dengar dari ayahmu kau ingin menjadi dokter, bukanlah kau berasal dari keluarga pembisnis, lalu kenapa kau malah ingin menjadi dokter?"


"Karena aku tidak pernah tertarik dengan dunia perbisnisan. Aku lebih tertarik dengan dunia emergency, sejak kecil aku bercita-cita menjadi dokter. Aku ingin memiliki rumah sakit sendiri."


"Jujur saja aku merasa miris dengan dunia kedokteran di negeri ini. Di mana hanya mereka yang beruang-lah yang selalu mendapatkan pengobatan yang layak. Sedangkan mereka yang tidak mampu selalu tersisihkan."


"Aku ingin membangun sebuah rumah sakit, di mana orang yang berasal dari latar belakang tidak mampu bisa mendapatkan pengobatan dan penangan yang layak tanpa harus memikirkan biaya."


Dan betapa Kevin sangat terkesan mendengar apa yang Luna cita-citakan. Sungguh betapa mulia hati gadis disampingnya ini. Dan impian Luna mengetuk hati Kevin untuk bisa membantu dan mendukung cita-citanya itu.


"Kalau begitu aku akan mendukung cita-citamu itu secara penuh. Dan setelah impian besarmu terwujud. Aku akan menjadi orang pertama yang menjadi donatur di rumah sakit milikmu."


Luna tersenyum sumringah mendengar ucapan Kevin. "Tentu kakak ipar. Dan aku akan mewujudkan cita-citaku itu dalam tiga tahun."

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2