"DUDA HOT" (Gairah Cinta Pria Kesepian)

"DUDA HOT" (Gairah Cinta Pria Kesepian)
Kacau


__ADS_3

Suasana di dalam mobil Adrian begitu hening, tidak ada seorang pun yang bersuara. Terlebih Luna dan Kevin yang duduk di jok belakang. Suasana di dalam mobil hitam mewah itu hanya di warnai keheningan.


Mereka sama-sama diam dan terhanyut dalam kesibukan masing-masing, seperti Kevin yang hanya menatap datar keluar, sementara Luna sibuk dengan ponselnya.


Adrian fokus pada jalanan di depan, dan Irene malah tertidur pulas.


Sesekali Adrian melirik ke belakang, Ia menghela nafas panjang. Adrian berfikir jika usahanya untuk mendekatkan mereka berdua, dan menjauhkan Luna dari kekasihnya tidak akan berhasil. Mereka saling diam dan tidak menyapa.


Adrian tidak suka bila Luna menjalin hubungan dengan Mark, karena dia tau jika Mark bukanlah pria baik-baik. Berkali-kali Ia memberitau Luna dan meyakinkannya namun gadis itu tidak mau percaya.


Luna membuktikan bukti yang dapat memperkuat ucapan Adrian, tapi sayangnya Adrian tidak memiliki bukti yang Luna minta. Bisa saja Ia mendapatkan bukti itu namun menurut Adrian itu tidak ada gunannya, karena akan lebih baik bila Luna melihatnya sendiri.


"Nah anak-anak kita sudah sampai dan kita akan makan di sini." Adrian menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran ternama yang cukup terkenal di kota Seoul.


Itu adalah restoran terbaik dan termahal di kota itu, bukan tanpa alasan Adrian memilih tempat itu, karena Ia tau jika Kevin memiliki banyak sekali uang dan makan di tempat itu bukan sebuah masalah untuknya.


"Sayang, tidak salah kau memilih restoran ini?" Irene menoleh dan menatap Adrian tak percaya.


"Kenapa cintaku? Apa kau tidak menyukainya?" Tanya Adrian sambil mencubit pipi Itene.


"Bukan begitu, tapi ini adalah restoran dengan harga selangit. Kau yakin itu tidak akan merepotkan temanmu itu?" Irene menunjuk Kevin.


"Aku tidak masalah bila Adrian memang memilih tempat ini, dan lagi pula aku sudah sering datang kemari." Ujar Kevin menyela kalimat Irene.


"Nah kau mendengarnya sendiri bukan." Imbuh Adrian.


Pria itu segera turun dari dalam mobilnya, diikuti Irene dan Luna. Sedangkan Kevin sudah turun sejak beberapa detik lalu.


Tanpa sengaja mata Kevin melihat pergerakan mencurigakan seorang pria asing berpakaian serba hitam, pria itu menyembunyikan tangannya di balik pakaian yang Ia kenakan dan proa itu menyadari satu hal.


Orang itu membawa senjata, yang lebih mengejutkan lagi senjata itu mengarah pada Luna.


Pria itu celingukan memperhatikan sekitar, saat di rasa aman. Dia mulai menjalankan aksinya.


Awasss ... !! ..


Bruggg .. !!! ..


Duarrr .. !! ...


Kevin segera menyambar tubuh Luna, saat Ia menyadari ada seseorang yang ingin mencelakai gadis itu dengan cara menembaknya dari kejauhan.


Tubuh keduanya berakhir di aspal dengan posisi saling berhadapan, tengan Kevin masih memeluk punggung Luna dan wajah gadis itu tenggelem di lengkungan leher Kevin.


Tubuhnya sedikit gemetar, Luna sangat terkejut sekaligus syok karena insiden tidak terduga yang hampir saja merenggut nyawanya, dan jika saja Kevin tidak bergerak cepat. Mungkin saja nyawanya telah melayang saat ini.


"Luna, Kevin?" Adrian dan Irene menghampiri keduanya dan memastikan jika mereka berdua baik-baik saja.


"Kalian tidak apa-apa?" Tanya Adrian memastikan. Kevin dan Luna segera bangkit kemudian berdiri dengan bantuan Adian dan Irene.


"Aku tidak apa-apa." Balas Kevin dan Luna hampir bersamaan.


Kevin segera mengeluarkan pistol yang terselip dibalik pakaiannya, kemudian mengarahkan pada pria yang hampir saja membunuh Luna.

__ADS_1


"Menunduk." Teriak Kevin memperingatkan.


Adrian dengan sigap merangkul bahu Luna dan Irene, membawa kedua gadis itu merunduk bersamanya.


Duarrrr .. !!! ..


Satu tembakan pria itu lepaskan dan timah panas melesat kerah Kevin.


Sreettt .. !! ..


Kevin berhasil menghindarinya dengan mencondongkan tubuhnya kesamping kiri hingga timah itu tidak menembus tubuhnya, dan timah panas itu hanya menggores wajah sebelah kanannya.


Dalam usahannya menghindar itu, Kevin melepaskan tembakannya kearah pria tersebut.


Duarrr .. !! ..


"Aaahhh~"


Dan tepat sasaran, timah panas milik Kevin berhasil menembus jantung pria itu hingga membuat dia tumbang seketika. Darah menggenangi tubuhnya.


Akibat insiden itu, suasana di sana menjadi sangat kacau. Orang berhamburan meninggalkan tempat tersebut untuk bersembunyi dan mencari perlundungan. Mereka takut jika sampai ada peluru yang salah sasaran.


Setelah di rasa aman, ketiganya segera berdiri dan menghampiri Kevin.


"Tuan, kau terluka." Seru Luna melihat darah yang mengalir dari wajah Kevin. Gadis itu mengeluarkan sapu tangan yang ada di dalam tasnya kemudian Ia arahkan pada wajah pria itu yang terluka.


"Aaahhh~" Dengan reflek Kevin menggenggam pergelangan tangan Luna, membuat gadis itu sedikit terkejut.


Luna mendongakkan wajahnya dan menatap wajah Kevin yang juga menatap padanya, membuat dua pasang mutiara berbeda warna itu saling bersirobok dan saling mengunci.


"Tidak apa-apa hanya luka kecil saja. 3-4 hari juga akan sembuh." Ucap Kevin datar.


"Ini, sebaiknya obati dulu lukamu, Key. Bagaimana jika terjadi infeksi." Adrian menyerahkan kotak p3k pada Kevin.


Melihat Kevin tidak memberikan respon apa-apa. Luna segera mengambil kotak obat itu dari tangan Kevin. "Aku akan mengobati dan membersihkan lukamu, sebaiknya kita duduk di sana saja." Luna menunjuk kursi panjang yang ada di depan toko.


Keduanya berjalan beriringan menuju kursi itu. Sementara Irene dan Adrian memilih untuk pergi dan meninggalkan mereka berdua.


.


.


.


10 menit telah berlalu.


Luna telah selesai mengobati luka di wajah Kevin. Tampak kasa yang hanya berukuran 3 jari orang dewasa membalut lukannya, ada bercak darah yang masih segar pada kasa itu dan menandakan jika luka itu masih sangat baru.


"Terimakasih." Kevin menoleh mendengar kalimat yang baru saja di ucapkan Luna.


"Untuk apa?"


"Karena kau sudah menyelamatkan nyawaku. Mungkin saat ini aku hanya tinggal nama jika saja kau tidak segera menyambar tubuhku. Dan karena diriku kau menjadi terluka." Tutur Luna.

__ADS_1


"Tidak perlu sungkan, hanya luka kecil saja. Kau lapar?" Tanya Kevin seraya menatap wajah Luna.


"Aku~"


"Kita masuk, pasti mereka berdua sudah ada di dalam." Ucap Kevin menyela kalimat Luna.


Pria itu kemudian bangkit dari duduknya dan berdiri di depan Luna, Kevin mengulurkan tangannya. Luna tak langsung menerima uluran tangan Kevin, dan hanya menatap datar tangan pria itu kemudian beralih pada wajah tampannya.


Dengan ragu dan tak yakin, Luna menerima uluran tangan Kevin. Keduanya pun berjalan beriringan memasuki restoran yang telah di pilih oleh Adrian. Adrian dan Irene sudah ada di dalam sana menunggu kedatangan mereka berdua.


~


"Bukankah aku sudah mengatakan jika Boss sedang tidak ada, kenapa kau memaksa untuk masuk dan ingin bertemu dengannya." Teriak Ren.


Ren mendorong kasar tubuh seorang pria yang berusaha menerobos masuk ke dalam kediaman Kevin, padahal Ren sudah mengatakan dengan tegas jika Kevin sedang tidak ada di tempat. Namun orang itu tidak percaya dan meyakini jika Kevin ada di dalam sana.


"Jangan coba membohongiku, aku tau jika bosmu itu ada di dalam."


"Arrkkhhhh!! Jangan menguji kesabaranku Dante Kim, dan jangan memaksaku untuk melakukan sesuatu yang tidak aku inginkan padamu." Teriak Ren lagi.


"Jangan sombong kau bocah, memangnya apa yang bisa kau lakukan padaku, eo?" Tanya Dante meremehkan. "Lihatlah di sekelilingmu." Tunjuk Dante dengan smrik tipis tersungging di wajahnya.


Mata Ren pun terbelalak melihat banyaknya orang bersenjata telah mengepung kediaman Kevin.


"Brengsek kau, Dante Kim." Geram Tao karena kelicikan pria itu.


Dante menarik sudut bibirnya dan tersenyum penuh kemenangan. Inilah yang paling Ia sukai, membuat musuh tidak berkutik lagi.


"Bagaiamana? Apa kalian ingin bermain-main dengan anak buahku? Atau menyerahkan Kevin padaku secara baik-baik, maka kalian aman tidak akan ada kerusuhan di tempat ini." Ujarnya.


"Bodoh, apa kau fikir Boss itu adalah barang yang bisa di serahkan dan di tukar dengan sesuka hatimu? Jangan bertindak bodoh Dante Kim, apa kau belum mengenal Boss dengan baik? Apa kau lupa siapa dia?" Ucap Ren.


"Tentu, tentu saja aku tau dan aku sangat paham. Dia hanyalah seorang bocah ingusan yang hanya mengandalkan uang sebagai kekuatannya." Tutur Dante meremehkan.


"Itu bukan Boss, tapi kau sendiri." Sahut seseorang dari arah belakang.


Semua orang yang ada di depan kediaman Kevin menoleh pada sumber suara. Tampak seorang pria berkulit sedikit gelap berjalan menghampiri Ren dan Tao.


"Kai?!" Seru Tao dengan senyum terkembang lebar.


"Hahaha... jangan cemas, sobat, aku sudah ada di sini dan aku telah kembali untuk bersama kalian lagi." Tutur Kai dengan senyum yang begitu sumringan.


Kai tampak celingukan seperti mencari sesuatu. Di sana hanya ada Ren dan Tao, lalu di mana Sean. "Hei kenapa kalian hanya berdua saja? Memangnya di mana Sean dan Anak Ayam itu?" Lanjut Kai penuh keheranan.


"Entah, mungkin saja bersembunyi, kau tau sendiri bukan anak ayam itu bocah seperti apa. Tanpa dia, kita bertiga saja mampu menghadapi mereka semua." Ujar Tao. Kai mengangguk paham.


Di saat ketiga Hyungnya berada di dalam suasana genting. Saat ini Sean malah asik sedang menonton kartun favoritnya bersama Jerremy.


Situasi panas itu tentu saja Jerremy manfaatkan untuk mencuri sedikit waktu dan menikmati apa yang Ia sukai. Karena Ia tau, jika tidak ada hal genting semacam ini. Tidak akan ada kesempatan untuknya lagi, Jerremy tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada.


Karena Ia tau, jika perdebatan di luar usai. Maka dirinya juga usai, Ia harus kembali dan berpura-pura lagi menjadi pemuda penurut yang patuh pada perintah Kevin untuk belajar dengan giat. Padahal Ia sering sekali mencuri waktu seperti itu. Dan kebetulan Sean satu server dengannya


"Yeee akhirnya aku bisa melihat Doraemon dan Tom & Jerry lagi."

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2