"DUDA HOT" (Gairah Cinta Pria Kesepian)

"DUDA HOT" (Gairah Cinta Pria Kesepian)
Luna William


__ADS_3

"Yakkk!! Di mana matamu saat berjalan eo?!"


Seorang gadis memekik dan berteriak keras pada pria yang tidak sengaja bertabrakan dengannya.


Tubuh gadis itu terhempas, pantatnya menghantam lantai cukup keras.


Gadis itu menatap datar tangan kekar yang terulur di depan wajahnya.


" enapa diam saja Nona? Bukankah kau tidak terima aku menjatuhkanmu? Dan aku sudah berbaik hati untuk membantumu, jangan jatuhkan harga diriku di depan rekan-rekan bisnisku." Ujar orang itu angkuh.


Gadis itu mengepalkan kedua tangannya, bukannya merasa bersalah karena telah membuatnya terjatuh. Orang itu justru bersikap begitu angkuh.


Dengan emosi yang tertahan, gadis itu berdiri dari duduknya. Ia menyibakkan rambut panjangnya yang menutupi sebagian wajah cantiknya.


"Je-Jessica?!" Lirihnya bergumam.


Orang itu sedikit terhuyung kebelakang, wajahnya pucat setelah melihat wajah gadis yang saat ini berdiri tepat di depannya.


Kedua matanya terbelalak seketika, keringat dingin mengalir dari pelipisnya.


Gadis yang dia kira Jessica itu memicingkan matanya. "Ada apa, Paman? Kenapa melihatku kau seperti melihat hantu? Apa wajahku terlihat begitu menyeramkan di matamu. Atau kau baru saja melakukan sebuah kejahatan?" Tanya gadis itu.


Orang itu tidak memberikan jawaban apa-apa, dia diam seperti orang bodoh.


Gadis itu mendecih. Pria di depannya ini sudah terlalu banyak membuang waktunya yang berharga. Tubuhnya kembali terhuyung karena senggolan gadis itu pada bahunya. Ia segera tersadar dan membalikkan tubuhnya.


"Tunggu." Langkah gadis itu terhenti seketika. Gadis itu membalikkan tubuhnya dan menatap datar pada pria didepannya.


"Ada apa?" Tanyanya dingin


"Jadi kau masih hidup?" Gadis itu mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan yang baru saja di ucapkan oleh pria didepannya.


"Tentu saja aku masih hidup, jika aku sudah mati mana mungkin saat ini aku bisa berada di tempat ini. Lalu apa kau fikir aku ini hantu?" Ujarnya setengah kesal.


"Jangan bercanda dengan kematian!! Apa kau ingin mempermainkanku? Ikut Kakak pulang sekarang." Orang itu menarik kasar pergelangan tangan gadis muda itu. Namun dengan kasar gadis itu menepisnya dan menatapnya tajam.


"YAKKKK!! Lancang sekali kau berani menyentuhku? Apa kau sudah bosan hidup eo?" Bentak gadis itu dengan nada meninggi.


Dan saat ini keduanya menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung restoran, termasuk Pria paruh baya yang duduk di sudut ruangan dekat jendela. Pria itu menghela nafas panjang.


"Sweet Heart, kemarilah dan jangan hiraukan dia, makananmu bisa dingin Nak." Serunya dari kejauhan.


Gadis itu memiringkan kepalanya dan mengangguk paham. "Kali ini kau selamat karena Papiku memanggilku, jika saja kita bertemu lagi dan kau masih bersikap kurang ajar padak,"


"Jangan harap aku akan melepaskanmu, apalagi mengampuni nyawamu. Camkan itu." Gadis itu memberikan sedikit peringatan sebelum menghampiri Ayahnya yang telah menunggunya.


Selepas kepergian gadis itu. Pria yang tak lain adalah Dion bisa sedikit menghela nafas lega.


Nyaris saja Ia terkena serangan jantung dadakan karena gadis itu, bukan hanya wajahnya saja yang serupa, bahkan sifatnya 11-12 dengan Jessica. Gadis itu liar dan cukup menakutkan.


.


.


.

__ADS_1


"Menyebalkan, dasar tidak memiliki sopan santu. Memancing emosi saja."


Gadis itu terus mengumpat tidak jelas karena insiden tidak mengenakan yang baru saja Ia alami. Sesekali Ia memegangi pantatnya yang masih terasa sedikit nyeri.


"Luna, you oke?" Tanya paruh baya yang ada di depannya.


"Papi, sakit." Ucap gadis bernama Luna itu sambil memegangi pantatnya.


"Hanya sebentar, sakitnya akan segera hilang."


" Ya semoga. Oya Papi, apakah Papi melihatnya tadi? Pria tua itu benar-benar tidak sopan padaku, masak dia menarik lenganku dan berkata kasar padaku."


"Dia juga menanyakan apakah aku masih hidup? Dia mengira aku telah mempermaikan dirinya, jika saja Papi tidak memanggilku. Mungkin pria itu sudah menjadi mayat saat ini." Tutur Luna panjang lebar.


Tuan William tidak merasa heran lagi dengan sikap dan perilaku putrinya. Terkadang dia berpikir apakah putrinya ini benar-benar seorang perempuan atau bukan.


Penampilannya memang sangat anggun dan feminim, namun tingkah lakunya tidak ada bedanya dengan preman di jalanan. Dia terlalu bar-bar untuk ukuran seorang perempuan.


"Oya, Lun, kenapa kau lama sekali? Kau juga berkeringat, di mana mobilmu?"


"Aku terlambat karena aku tadi berjalan kaki. Agar bisa segera sampai, aku mengambil jalan pintas dan melewati sebuah pemakaman, dan apakah Papi tau? Itu sangat menyeramkan. Mobilku rusak dan masuk bengkel."


"Lagi?" Ucap paruh baya itu menyela kalimat Jessica, gadis itu mengangguk tanpa ada rasa bersalah.


"Apa kau ugal-ugalan lagi di jalanan?" Tanya Tuan William.


Luna menggeleng cepat. "Tidak, Papi, aku berjalan cukup pelan. Hanya 100 km perjam." Balas Luna tanpa dosa.


" Apa?!!"


"Jangan berlebihan Pi, itu sangat pelan kok. Papi belikan mobil baru ya. Aku melihat ada mobil keluaran terbaru dan itu sangat perfect, belum ada yang memilikinya dan biarkan aku jadi yang pertama." Rengek Luna sambil menatap Tuan William dengan penuh harap sambil beraegyo.


"Papi jahat, jika saja Mami masih ada pasti dia mau membelikannya untukku. Hiks.. Papi sangat jahat dan Papi tidak menyayangiku lagi." Luna mengeluarkan jurus andalannya agar Tuan William mau menuruti permintaannya.


"Jangan menangis, baiklah Papi akan membeli mobil itu untukmu tapi ini yang terakhir kalinya."


Mata Luna lantas berbinar. "Benarkah? Papi, kau memang yang terbaik. Aku semakin menyayangi Papi. I Love You, Papi." Luna segera berhambur kedalam pelukan Ayahnya. Dia tau jika sang ayah tidak mungkin bisa menolak permintaannya.


"Papi juga mencintaimu, Sweet Heart."


~


"Tuan, ini uang hasil transaksi semalam."


Seorang pria menyerahkan satu koper berisi uang pada Kevin, uang itu adalah hasil transaksi senjata gelap dengan salah satu rekan bisnisnya.


Kevin mengambil koper itu dan memeriksa isinya. "Kerja yang bagus Tao, lalu bagaimana denganmu, Ren? Apa pengintaianmu berhasil? Apakah kau mendapatkan apa yang aku inginkan?" Tanya Kevin pada pemuda berkulit seputih susu yang hobi menontor kartun 'Oh Ren'.


"Tentu Boss, JS Group saat ini memiliki 7 cabang di 3 negara berbeda. Korea, America dan China, perusahaan ini adalah perusahaan Garment terbesar di Korea dan America."


"Selain itu mereka juga memiliki perusahaan lain, namun perusahaan ini di kelola oleh Kim Terra. Istri dari Dicky Kim , perusahaan ini bukanlah perusahaan besar namun cukup berpengaruh."


"Dan dari ke 7 cabang ini, perusahaan utama berada di Korea dan lebih tepatnya di Seoul. Hanya itu informasi yang bisa aku dapat, Boss."


"Itu sudah cukup Ren, dan kita akan segera masuk kerencana pertama kita. Aku ingin cabang ke 7 menjadi milik kita."

__ADS_1


"Tapi, itu adalah yang paling kecil dari JS Group." Ucap Tao.


"Aku tau, aku tidak akan melakukannya secara langsung. Aku akan merong-rongnya dari yang paling bawah, aku akan melakukannya secara perlahan. Mereka harus menderita terlebih dulu, semua yang Ia miliki saat ini akan aku kembalikan pada yang berhak."


"Mereka akan mendapatkan karma untuk semua dosa-dosannya, dan dengan tanganku sendiri aku akan menghancurkan keluarga itu." Kevin mengepalkan kedua tangannya yang terletak di atas meja kerjanya. Matanya berkilat penuh dendam.


Kematian orang tuannya, kematian Jessica. Kevin pasti akan membalaskan semuanya. Beberapa bulan setelah kematian Jessica, Kevin menemukan sebuah fakta mengejutkan, jika ayah Mirra adalah dalang di balik kematian orang tuanya.


"Boss, apa aku sudah bisa pergi sekarang?" Ucap Ren. Pemuda itu terlihat begitu risau.


"Memangnya kau akan kemana Ren? Kenapa kau buru-buru sekali?" Tanya Tao penasaran.


"Hehehe." Ren tersenyum bodoh sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ini sudah jam 5 sore, Masha & The Bear akan segera mulai." Lanjutnya dengan senyum bodoh.


Tao mendengus dan menggelengkan kepala. Seharusnya ia tau jika bocah yang satu ini masih sangat kekanakan meskipun usianya sudh hampir 20 tahun.


.


.


.


Hari yang panjang dan cukup melelahkan bagi Kevin, seharian ini Ia di hadapkan dengan barbagai hal dalam pekerjaannya.


Dan malam ini Ia ingin bersantai untuk menjernikan fikirannya.


Sebenarnya Kevin tidak sesibuk itu, Ia sengaja menyibukkan dirinya agar Ia bisa sejenak melupakan Jessica dari ingatannya.


Ia mencari pengalihan, karena saat Ia tidak melakukan apa pun. Pasti bayangan wanita itu akan kembali melintas di kepalanya dan membuat sesak dadanya.


"Sayang, aku merindukanmu." lirihnya sambil menatap langit gelap.


Kedua matanya perlahan terpejam, saat ini Kevin sedang berada di taman kota. Duduk di depan sebuah air mancur yang di kelilingi lampu berwarna-warni yang membuat air mancur itu terlihat begitu indah.


Sudut bibirnya tertarik keatas, menciptakan smrik tipis di wajah tampannya.


Seharusnya malam seperti ini bisa Ia lewatkan bersama seseorang yang special, namun sayangnya Kevin hanya sendiri saja.


"Adakah keajaibam untukku Tuhan? Akankah kau mempertemukan aku kembali dengannya?" lirih Kevin bergumam.


"Yakkk!! Luna William, tunggu aku!!"


Dari kejauhan Kevin melihat dua orang gadis yang sedang kejar-kejaran, sayangnya Kevin tidak bisa melihat wajah keduanya karna terlalu minim penerangan. Pria itu mendecih dan menggeleng pelan.


"Dasar kekanakan.".


"Rania, cepat sedikit, kita bisa kehilangan jejak penjambret itu."


Kedua gadis itu semakin mendekat, Kevin sedikit memiringkan kepalanya dan menyipitkan matanya sampai salah satu dari kedua gadis itu berada di tempat yang sedikit bercahaya, sehingga cukup bagi Kevin untuk melihat wajahnya dengan cukup jelas.


Pria itu bangkit dari duduknya, nyaris tidak percaya dengan apa yang saat ini Ia lihat dengan mata kepalanya.


"Jessica?!"


.

__ADS_1


.


T.B.C


__ADS_2