"DUDA HOT" (Gairah Cinta Pria Kesepian)

"DUDA HOT" (Gairah Cinta Pria Kesepian)
Tidak Buruk Juga


__ADS_3

Jessica terbangun karena gerakan kecil yang di hasilkan oleh sebuah lengan yang melingkari perutnya. Ia merasakan kehangatan yang berasal dari sosok yang ada di balik punggung tel*njangnya itu.


Kemudian Jessica menggerakan badannya perlahan, untuk menghadap pria yang ada di belakangnya. Posisi mereka saling berhadapan, hingga Jessica bisa melihat wajah tampan yang sudah satu tahun terakhir ini selalu menghiasi hari-harinya itu.


Wajahnya terlihat damai ketika tidur seperti ini, bahkan kearoganannya dan sisi liar yang sering kali muncul menghiasi wajahnya kini menghilang, namun sama sekali tidak menghilangkan ketampanan yang telah menjadi garis takdir prianya ini. Takdir ketampanan sang Adonis.


Jessica mengulurkan jemarinya untuk menggapai wajah Kevin. Jari-jari lentiknya menelusuri wajahnya mulai dari bagian mata.


Kelopak matanya menyembunyikan sepasang mutiara yang biasanya menatapnya dengan berbagai macam ekspresi, baik itu rasa jengkel, marah, geli, bergairah hingga beberapa ekspresi yang hingga saat ini tidak dapat Jessica baca.


Kemudian Jessica menurunkan jemarinya untuk menyentuh hidung mancungnya, salah satu anggota wajah Kevin yang semakin menonjolkan pesona sang Adonis. Tidak dapat Jessica pungkiri bila Kevin memang sangat tampan.


Hingga akhirnya senyum mengembang di bibir ranum tipisnya, dan rasa panas menyergap ke dua pipinya saat ia akan menyentuh bibir mereka, bibir yang berhasil membuatnya mabuk kepayang. Bibir yang berulang kali memanggil namanya saat mereka melakukan percintaan yang panas dan luar biasa.


"Terus merona seperti itu dan kupastikan kau akan menjeritkan namaku lagi seperti semalam, baby." Kedua kelopak mata itu terbuka perlahan. Memperlihatkan sepasang mata berlensa abu-abu yang jernih dan menawan.


Jessica menaikan alisnya. Dia dapat merasakan batang keja*tanan Kevin yang mengeras sempurna di balik selimut meteka ketika ia membawa Jessica untuk menempel pada tubuhnya. Matanya kembali tertutup.


Terdengar suara erangan kecil dari tenggorokannya ketika Ia membuka kembali kelopak matanya dan menampilkan mata indahnya yang telah dirasuki oleh gairah. Ia menjulurkan tangannya untuk menangkup pay*dara Jessica.


Di saat Kevin sudah terbakar gairah. Tiba-tiba Jessica beranjak dan menjauh dari Kevin, dan membuat pria itu menggeram keras. "Jessica," sedangkan sang tersangka hanya terkekeh geli melihat wajah kesal suaminya.


Jessica menyembulkan kepalanya di lpintu kamar mandi. "Kita masih bisa melanjutkan nanti malam, Oppa." Serunya menyahuti.


Kevin memicingkan matanya 'Oppa' apa dia tidak salah dengar. Atau mungkin Jessica yang salah minum obat? Tidak biasanya dia mau memanggilnya Oppa. Tapi itu tidak buruk juga.


Kevin berbaring dengan posisi terlentang. Sebelah tangannya menutupi mukanya dan pria itu tertawa pelan. Jessica benar-benar sukses membuatnya seperti orang gila. Dan jika saja yang dia nikahi bukanlah Jessica, apakah semua masih akan tetap sama?


Sebuah ide muncul di benak Kevin. Pria itu bangkit dari berbaringnya dan menyusul Jessica ke kamar mandi.

__ADS_1


Cklekk...


Jessica terkejut mendengar suara pintu kamar mandi di buka dan di kunci di waktu yang nyaris bersamaan. Tak berselang lama Kevin menghampirinya dengan bertel*njang dada.


Tanpa berkata apa-apa. Kevin meraih tengkuk Jessica dan mel*mat bibirnya. Kevin masuk ke dalam bathup yang sama dengan Jessica, posisi mereka saling berhadapan.


Jessica mengangkat kedua tangannya dan mengalungkan dari leher Kevin. Ciuman mereka semakin lama semakin dalam dan menuntut.


Sebelah tangan Kevin menekan tengkuk Jessica, sedangkan tangan satu lagi memeluk tubuh polos Jessica pada dadanya yang tak tertutup sehelai benang pun.


"Aaahhh," Jessica menjerit, ketika Nathan menurunkan ciumannya dan menggigit lehernya, meninggalkan jejak kepemilikan di sana.


Kevin menjauhkan wajahnya dan menatap wajah memerah Jessica. "Bagaimana kalau kita mandi bersama?" Kevin menyeringai membuat wajah Jessica semakin memerah.


Kevin merubah posisi mereka, posisi Jessica memunggungi Kevin. Jessica mengangkat wajahnya, dan bibirnya langsung di sambut bibir Kevin yang mel*matnya dengan lembut.


Kini mereka berlanjut ke tahap yang lain. Saat Kevin menciumnya lagi, Jessica mengeluarkan des*han-******* kecil yang er*tis.


Kevin tahu dia tidak pernah bertahan lama setelah mendengar suara itu dari bibir Jessica. Tangan Kevin bergerak lebih cepat daripada otaknya, tiba-tiba saja sudah meremas bagian depan tubuh Jessica. Dan selanjutnya mereka melanjutkan penyatuan.


Siapapun tahu, hubungan badan yang teratur akan membuat kulit kita menjadi lebih halus dan terawat. Hal itu pula yang terjadi pada Jessica. Hari itu, dia tampak sangat cantik, anggun dan lembut dan menggiurkan.


Tubuh rampingnya dalam balutan dress brokat Hitam kombinasi putih, rambut panjangnya di ikat ekor kuda, tak lupa polesan make up tipis, sepasang anting yang semakin menyempurnakan penampilannya.


"Kau sangat cantik hari ini, Sayang." Kevin memeluk Jessica dari belakang dan mengecup leher serta punggungnya.


"Kau tidak kekantor hari ini?" Jessica melirik pria yang memeluknya ini.


Kevin menggeleng. "Aku ingin menghabiskan banyak waktu denganmu, akhir-akhir ini aku terlalu sibuk bekerja dan tidak memiliki banyak waktu bersama denganmu."

__ADS_1


Jessica merubah posisi mereka. Ia dan Kevin saling berhadapan. Jessica mengalungkan kedua tangannya pada leher Kevin, dan selanjutnya bibir mereka saling bertemu.


Lum*tan lembut menyapu permukaan bibir Jessica, di susul pagutan-pagutan lembut dan menuntut. Namun sayangnya ciuman mereka tidak berlangsung lama. Kevin mengakhiri ciumannya satu menit kemudian.


"Ayo kita ke rumah Ibu. Bukankah sudah lama juga kau tidak pergi mengunjunginya." Jessica tersenyum dan mengangguk. Ternyata dia satu pemikiran dengan Kevin.


"Kalau begitu tunggu sebentar. Aku mengambil tas dulu." Kemudian Jessica beranjak dari hadapan Kevin.


Jessica mengambil tasnya yang ada di atas tempat tidur. Keduanya berjalan beriringan meninggalkan kamar.


-


Mirra dan Dion terperangah melihat kediaman Karina yang dua kali lebih besar dan lebih megah dari rumah mereka. Ini adalah pertama kalinya mereka menginjakkan kaki di rumah baru Karina.


Mirra berjalan mengelilingi bangunan megah tersebut. Semua yang ada di rumah itu bukanlah barang murahan yang berharga rendah, melainkan barang mewah dengan harga selangit.


"Ibu, bagaimana bisa kau tinggal di istana semewah dan semegah ini, dan melupakan kami?" Ucap Mirra.


"Bukan ibu yang ingin melupakan kalian. Tapi kalianlah yang selalu bersikap semena-mena pada Ibu. Kalian hanya datang jika ada perlunya. Ibu tidak pernah mengharapkan apapun dari kalian, Ibu hanya ingin kalian bersikap baik dan lembut pada ibu."


Dion mendecih. Dia tidak suka mendengar ucapan ibunya. Menurutnya ibunya sangat berlebihan.


"Memangnya apa yang ibu harapkan dari kami? Apakah semua yang kami berikan pada Ibu selama ini masih kurang? Apa kurang baik kami pada ibu? Di mata Ibu yang selalu baik hanya Jessica, dan Ibu tidak pernah memandang kami sama sekali!!"


"Karena kalian memang tidak layak di perhatikan oleh Ibu!!" sahut seseorang dari arah belakang. Sontak ketiganya pun menoleh, sepasang suami-istri berjalan beriringan masuk ke dalam.


"Jessica?!"


-

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2