
GLEKKK .. !! ..
Susah payah Luna menelan salivanya dan kedua matanya terbelalak sempurna melihat banyaknya mayat yang tergeletak di lantai dan darah ada hampir di mana-mana.
Melihat darah yang begitu banyak membuat kepala Luna menjadi pusing dan pandangannya terasa berkunang-kunang, gadis itu tidak tau apa maksud Kevin membawanya ketempat seperti ini, dan Luna tidak tau apa hubungan Kevin dengan semua kejadian ini.
Karena yang Luna tau saat ini adalah, Ia hampir mati berdiri dan bisa menjadi gila karena berada di tempat yang tak seharusnya.
DUARRRR ... !! ..
"Aaahhhh.??"
Gadis itu menjerit histeris seraya menutup kedua telingannya serta matanya rapat-rapat saat Ia mendengar suara tembakan yang begitu keras dan terdengar mengerikan.
Sekujur tubuhnya gemetar, peluh mulai membasahi sekujur tubuhnya. Luna sungguh-sungguh takut sesuatu yang buruk menimpa dirinya.
"Kau mau kemana? Jangan pergi, a-a-k-u takut." Luna menggeleng kuat, gadis itu mencengkram kuat lengan Kevin melihat pria itu hendak keluar dari mobilnya.
"Aku tidak mungkin berdiam diri seperti ini melihat nyawa teman-temanku dan anak buahku terancam. Kediamanku di serang, aku harus keluar untuk menyelesakan masalah ini." Ujar Kevin seraya melepaskan cengkraman tangan Luna dari lengannya.
"Tapi~"
"Tetaplah di sini dan jangan coba-coba untuk keluar jika kau tidak ingin nyawamu melayang. Jika memungkinkan bersembunyilah, karena insiden ini tidak patut untuk di saksikan seorang wanita." Tutur Kevin dan segera keluar dari mobinya meninggakan Luna sendiri di dalam mobil.
Selikas pria itu melirik Luna menggunakan ekor matanya, helaan nafas panjang Ia hempaskan. Sebenarnya Kevin merasa tidak tega meninggalkan Luna sendiri di sana tanpa perlindungan apa pun, tapi akan lebih bahaya jika gadis itu ikut keluar bersamanya.
Meskipun berat, namun Kevin harus tetap melakukannya.
Brakkk .. !! ..
Kevin menarik dasi pria yang tiba-tiba menyerangnya dari belakang, kemudian melilitkan dasi itu kelehernya sebelum akhirnya Ia banting ke lantai dengan cukup keras.
"AAARRKKKHHH!!" Tidak cukup sampai di situ, Kevin juga menginjak tangan pria itu yang hendak mengambil senjatannya hingga menimbulkan suara mirip tulang yang patah.
Dengan kasar Kevin menarik rambutnya dan menyaduk wajahnya menggunakan lututnya hingga pria itu muntah darah, sebelum akhirnya dia meregang nyawa.
Duarrr .. Duarrr ... Duarrr ..
Temabakan demi tembakan Kevin lepaskan pada setiap lawan yang menghampirinya, tanpa ampun dan belas kasih dari hati nuraninya.
Kevin menembaki orang-orang itu hingga beberapa kali membuat tubuh mereka tumbang seketika dan meregang nyawa.
Tidak hanya dari pihak lawan, banyak dari orang-orang Kevin yang juga terkapar, terluka dan meregang nyawa di sana. Tidak butuh waktu lama bagi Kevin untuk bisa mengatasi kekacauan yang terjadi di kediamannya, semua telah terkendali.
Dari pihak lawan hanya menyisahkan dua orang yang hidup, Kevin memang sengaja tidak membunuh mereka karena mereka berdua adalah kunci untuk Ia bisa mengetahui siapa dalang di balik insiden yang terjadi di kediamannya itu.
__ADS_1
"Boss," Seru Kai seraya menghampiri Kevin.
"Urus mereka berdua dan cari tau siapa dalang di balik kejadian ini, aku ingin tau siapa yang telah menyuruh mereka untuk menyerang kemari. Pastikan kau mendapatkan informasi yang akurat dan bisa di percaya." Pinta Kevin seraya menyerahkan kedua orang itu pada Kai.
"Tidak perlu cemas Boss. Aku, Ren Hyung, Chen Hyung dan Tao akan mengurus masalah ini, kami mendapatkan informasi yang kau inginkan." Tutur Kai.
"Lalu di mana Sean? Aku tidak melihat batang hidungnya, apa bocah itu sembunyi seperti seorang pengecut lagi?" Tanya Kevin.
"Aku rasa tidak Boss, mungkin saja bocah tengik itu sedang memanfaatkan kekacauan ini untuk memenuhi hasratnya." Sahut Tao tiba-tiba, Kevin mengerutkan dahinya, menatap Tao penuh selidik.
"Maksudmu,"
"Kau pasti mengetahui jawabannya Boss." Balas Tao cepat.
"Sekarang aku paham apa yang kau bicarakan, aku akan mengurusnya nanti. Sekarang aku harus pergi."
"Pergi lagi? Tapi kau baru saja tiba, Boss?" Ucap Ren menyahut.
"Ada seorang gadis di dalam mobilku, dan aku harus segera mengantarkannya pulang." Jawab Kevin.
" Gadis? Apa dia kekasih Boss?" Chen menyipitkan matanya dan menatap Kevin penuh selidik.
"Bukan, dia adalah adik tiri dari sahabatku dan dia memintaku mengantarkannya pulang." Tutur Kevin.
"Ahh, aku paham." Ren mengangguk perlahan-lahan dengan senyum misterius tersungging di wajahnya. Kevin menautkan dahinya melihat Ren tersenyum seperti itu padanya.
"Ahahaha ani .. tidak, tidak .. sebaiknya Boss cepat antarkan gadis itu pulang sudah larut malam."
"Baru akan aku lakukan." Balas Kevin dingin dan berlalu begitu saja.
"Hyung kalian mau bertaruh untuk mereka berdua? Aku rasa Boss Kevin memiliki hubungan sepecial dengan gadis itu, bagaimana dengan kalian?" Tanya Tao seraya menatap Hyung-Hyunghya secara bergantian.
"Aku tidak berani karena aku masih menyayangi nyawaku." Sahut Ren dan berlalu begitu saja.
"Jangan seperti ini Hyung, kan hanya main-main saja." Tao mencoba membujuk Ren yang menolak tegas usulnya karena tidak ingin mendapatkan masalah dari Kevin.
Begitu pun dengan Kai dan Chen, mereka sama-sama dan satu pendapat dengan Ren.
Berhadapan dengan Kevin yang sedang marah lebih mengerikan di bandingkan bertemu dengan malaikat kematian. Mereka tidak ingin nasibnya fatal di tangan Boss-nya itu.
"Lakukan sediri, kita tidak ikut-ikut." Ucap Kai dan segera menyusul Ren.
Tao mendengus kasar, dengan kesal dan muka kusut. Tao segera menyusul ke 3 temannya. "Menyebalkan, mereka bertiga tidak asik sama sekali." Dumal Tao di tengah langkahnya.
-
__ADS_1
Tubuh Luna terpaku melihat bagaimana cara Kevin menghabisi orang-orang itu. Kevin begitu sadis dan tak berbelas kasih sama sekali.
Luna hanya mampu terdiam dan tidak mampu mengatakan sepatah kalimat pun, matanya terbelalak sempurna melihat peristiwa mengerikan terjadi di depan matanya. Sepanjang hidupnya, ini pertama kalinya Ia melihat pembunuhan secara nyata dan sadis.
"Ba-ga-i-ma-na dia bisa melakukannya.??" Gumam Luna tidak percaya.
Sebuah tanda tanya besar memenuhi kepalanya, mengenai siapa Kevin sebenarnya, Luna menjadi ragu apakah Kevin adalah orang baik-baik atau justru seorang penjahat, mengingat bagaimana sadisnya dia saat menghabisi lawan-lawannya.
Hanya dalam waktu yang relatif singkat, Kevin dapat membunuh hampir semua musuh-musuhnya dan menyisahkan 2 orang yang dia biarkan hidup hingga detik ini. Untuk selanjutnya Luna tidak tau bagaimana nasib mereka berdua, tetap hidup atau mati juga seperti yang lainnya.
GLEKKK .. !! ..
Luna menelan salivanya dengan susah payah melihat Kevin berjalan kearahnya sambil memegang pistol di tangannyam
Jantung Luna seakan berhenti berdetak detik itu juga membayangkan jika Kevin akan membunuhnya juga seperti saat pria itu menghabisi musuh-musuhnya karena Ia melihat semuanya.
Peluh membanjiri sekujur tubuhnya melihat Kevin yang semakin mendekat, tinggal beberapa langkah lagi pria mencapai tempatnya berada.
Ckllekkk ,, !! ,,
DEGGG .. !! ..
Luna. tersentak medengar suara pintu mobil di sebelahnya terbuka, gadis itu menahan nafas melihat Kevin masuk ke dalam mobil dengan raut wajah yang sulit Luna artikan.
"Pasti kau syok melihat apa yang baru saja terjadi." Kevin menoleh dan menatap Luna dengan tatapan dinginnya.
Gadis itu tidak memberikan respon apa-apa, ia hanya mampu terpaku. Kevin mengerutkan dahinya melihat ekspresi wajah Luna. Pria itu tersenyum tipis, seharusnya Ia tau apa yang membuat Luna menjadi seperti itu.
Kevin menyimpan kembali senjata di tangannya. Pasti Luna berfikir jika Ia akan membunuhnya juga.
"Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu, apa lagi membunuhmu. Sekarang aku akan mengantarkanmu pulang." Kevin menyalahkan mesin mobilnya dan menginjak pedal gasnya, dalam hitungan detik. Mobil Audi milik Kevin telah melesat jauh meninggalkan markasnya.
"Kenapa kau tidak bicara sama sekali?" Tanya Kevin memecah keheningan, pria itu menoleh dan menatap Luna penuh tanda tanya. Yang kemudian tatapan itu di balas oleh gadis itu.
"Aku tidak tau kau ini orang baik atau orang jahat, kenapa kau membiarkan aku hidup meskipun aku telah melihat semuanya? Bukankah aku telah melihat semuanya? Bukankah seharusnya aku di lenyapkan?" Ujar Luna, Kevin mengerutkan dahinya tidak mengerti apa maksud dari pertanyaan gadis itu.
"Apa maksudmu? Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Aku telah melihat semua, saat kau menghabisi orang-orang itu. Itu artinya aku adalah seorang saksi mata, bukankah seorang saksi mata harus di habisi juga? Lalu kenapa kau membiarkan aku tetap hidup? Apa kau memiliki rencana untukku?" Tanya Luna.
"Hahaha, kau ini ada-ada saja, kau terlalu polos. Lagi pula aku tidak memiliki alasan untuk membunuhmu, aku membunuh mereka dan menahan kedua orang itu bukan tanpa alasan."
"Mereka menyerang kediamanku di saat aku tidak ada di sana, dan membuat orang-orangku banyak yang mati terbunuh, itulah kenapa aku membunuh mereka semua dan kenapa aku menangkap kedua orang itu karna aku ingin tau siapa dalang di balik penyerangan itu dan apa tujuannya." Tutur Kevin.
Luna mengangguk paham. Sepertinya dia sudah salah paham pada Kevin. Tapi tetap saja dia tidak bisa merasa tenang. Bagaimana jika Kevin bukanlah orang baik seperti yang dia pikirkan selama ini?! Entahlah, Hanya waktu yang bisa menjawabnya.
__ADS_1
-
Bersambung.