
Luna hanya menatap jengah pemuda yang berdiri di hadapannya sambil membawa sebuket bunga yang kemudian dia berikan padanya. Orang itu berlutut dan memohon supaya dia mau kembali dan menerima lagi cintanya.
Tapi sayangnya Luna bukanlah gadis bodoh yang mudah di perbudak cinta. Dan tentu saja Luna menolak tegas ajakan kembali sang mantan kekasih tersebut.
"Luna, aku mohon padamu. Berikan satu kesempatan lagi padaku. Aku berjanji, aku akan menjadi kekasih yang sangat-sangat baik dan bisa selalu kau andalan."
Luna mengambil buket bunga itu lalu memukulkan pada wajah pemuda di hadapannya.
"Makan itu cinta!! Aku sudah tidak peduli dengan cintamu yang mirip.tempat parkir itu. Lagipula aku sudah menemukan seseorang yang lebih-lebih segalanya darimu!! Dia tampan, mapan, kaya dan yang jelas dia bukan tukang selingkuh sepertimu!!" Tegas Luna dan pergi begitu saja.
Tapi sepertinya Mark tidak mengijinkannya. Mark mengejar Luna dan kemudian memeluknya dari belakang. "Yakk!! Mark, apa yang kau lakukan. Bajingan, lepaskan aku!!" Teriak Luna menuntut.
Mark menggeleng. "Tidak mau. Pokoknya kau harus menerima cintaku dulu dan kembali padaku. Baru aku akan melepaskan pelukanku ini." Tuturnya.
Luna mendesah berat. Dengan emosi. Luna menginjak kaki Mark dan...
"Aarrkkhh..." Lolongan kesakitan keluar dari bibirnya ketika Luna menyikut perutnya dengan keras.
Mata Mark samai melotot dan mimik wajahnya menunjukkan dengan jelas jika dia sedang kesakitan. Tapi Luna tidak peduli dan tidak mau ambil pusing. "Lu..Lu..Na.. Kenapa kau harus melakukan hal itu padaku? I..itu tadi sa..kit!!" Ucap Mark terbata-bata.
Luna mengangkat bahunya. "Masa bodoh, itu bukan urusanku. Bye, Mark. Nikmati saja kesakitan mu itu!!" Luna melambaikan tangannya pada Mark dan pergi begitu saja. Meninggalkan pemuda itu yang tampak kesakitan karena ulahnya.
Dan sementara itu. Seorang pria yang sedari tadi menatap mereka dari kejauhan hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat bagaimana bar-barnya gadis bermarga William tersebut.
Siapa lagi orang itu jika bukan Kevin. Kevin melihat semuanya, karena kebetulan Kevin berada di sebuah cafe yang letaknya bersebrangan dengan tempat mereka beradu mulut tadi.
"Kau mau kemana?" Tanya Adrian melihat Kevin yang tiba-tiba saja bangkit dari kursinya.
"Kau nikmati saja makan siangmu dengan tenang. Aku masih ada urusan. Tidak perlu cemas, semua makanannya sudah aku bayar." Kevin menyambar jasnya yang ada di sandaran kursi dan melenggang pergi.
-
"Dasar bajingan itu. Bisa-bisanya dia memintaku kembali padanya setelah meninggalkan diriku dengan seenak jidatnya."
Luna terus saja menggerutu tidak jelas. Dia benar-benar kesal setengah mati pada Mark. Pemuda itu memohon dan merengek supaya dia menerima cintanya kembali setelah selingkuh darinya.
__ADS_1
Kini dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sekelilingnya. Tapi Luna tidak peduli dan tidak mau ambil pusing. Masa bodoh bagaimana mereka menilai dirinya.
Pukk...
"Ayam, ayam, ayam..." Luna terlonjak kaget saat sebuah minuman dingin jatuh di atas pangkuannya. Sontak saja dia mendongak dan mendapati Kevin berdiri disampingnya.
"Tenggorokan-mu pasti kering setelah ngomel-ngomel tidak jelas." Katanya lalu duduk di samping Luna. "Kau terlihat kesal, kenapa?" Tanya Kevin pura-pura tidak tau.
Alih-alih menjawab. Luna malah terlihat menghela napas. "Ini semua karena bajingan itu, bagaimana bisa dia memohon untuk kembali setelah meninggalkan dan mencampakkan diriku. Bukankah itu sangat menyebalkan!!" Ujarnya.
"Sepertinya pria itu sangat mencintaimu."
"Mencintaiku dari mana, asal kakak ipar tau saja, bajingan itu sudah menyelingkuhiku lebih dari 10 kali. Dan bodohnya lagi, aku baru saja menyadarinya!!"
Kevin mendengus untuk yang kesekian kalinya. Sikap dan tingkah Luna yang tidak biasa membuatnya gemas sendiri. Ada saja tingkah dan kelakuannya yang bikin orang lain geleng-geleng kepala.
"Berhentilah mengoceh, Nona William. Lihatlah, kau menjadi pusat perhatian sekarang." Ucap Kevin setengah mencibir.
Sontak gadis itu menoleh dan memperhatikan sekelilingnya. Kali ini giliran Luna yang mendengus berat. "Masa bodohl ah, mereka sama menyebalkan nya dengan bajingan tak tau malu itu." Ucapnya.
Luna mengangkat bahunya. "Entah, aku masih belum memiliki tujuan." Jawabnya.
Kevin bangkit dari duduknya lalu mengulurkan tangannya pada Luna. "Ayo, aku akan mengajakmu ke suatu tempat." Luna mengangkat wajahnya dan menatap Kevin penasaran.
"Kemana?"
"Kau akan tau setibanya di sana." Jawab Kevin.
-
Mobil Kevin berhenti di sebuah pantai yang terletak di barat kota. Pria itu terlihat keluar dari mobilnya disusul Luna yang kemudian berdiri disampingnya.
Pantai itu begitu hening, karena tidak ada orang lain di sana selain mereka berdua. Pantai itu memang jarang di kunjungi dihari-hari biasa seperti ini.
"Aku baru saja menghancurkan orang yang telah membunuh Jessica. Dan saat ini dia mendekam di penjara."
__ADS_1
"Apa kau merasa lega? Aku pikir Kakak ipar akan menghabisinya seperti dia membunuh kakakku."
Kevin menoleh, dan menatap Luna yang juga menatap padanya. "Kematian tidak akan membuatnya jera, dan itu tidak akan cukup. Aku ingin dia merasakan penderitaan yang berkepanjangan sebelum akhirnya meregang nyawa secara mengenaskan." Tuturnya.
Luna tersenyum hambar. "Jujur saja aku sangat menyesal karena baru mengetahui jika ternyata aku memiliki seorang kakak setelah dia tiada. Pasti akan sangat menyenangkan jika kami bertemu lebih awal." Luna mulai berkaca-kaca.
"Takdir Tuhan siapa yang bisa menebaknya. Takdir tak selalu berjalan seperti yang kita harapkan. Kita berharap A, tapi Tuhan malah memberikan takdir B. Seperti aku dan Jessica contohnya, kami memiliki impian yang sangat besar. Tapi siapa yang bisa menebak jika impian itu hanya sekedar impian, dia pergi mendahuluiku. Bukankah itu sangat menyakitkan?!"
"Apa sedalam itu Kakak ipar mencintainya?"
"Ya,"
"Apa itu artinya sudah tidak ada harapan bagi orang lain untuk bisa menempati hati kakak ipar?"
Kevin merubah posisinya. Ia dan Luna saling berhadapan. Kevin merogoh saku celananya kemudian mengeluarkan sebuah pita merah dari dalam saku celananya lalu dia ikatkan pada rambut panjang Luna.
"Tentu saja ada. Dan orang itu adalah gadis kecil yang beberapa tahun lalu menangis ketakutan karena diganggu oleh anak-anak nakal. Kemudian dia memberikan sebuah pita merah ini padaku, dan aku memberikan sebuah kalung untuknya. Gadis kecil yang mengaku bernama Nana."
Luna menatap Kevin tak percaya. Kedua matanya tampak berkaca-kaca. Rasanya Luna tidak percaya jika pada akhirnya dia bisa bertemu kembali dengan anak kecil yang dulu pernah menyelamatkannya. Dan yang lebih mengejutkan lagi orang itu adalah Kevin, kakak iparnya sendiri.
"Dan sekarang aku tanya padamu, maukah kau menggantikan posisi kakakmu dan menjadi belahan jiwaku?" Luna menyeka air matanya. Gadis itu tersenyum dan mengangguk.
"Aku mau." Jawabnya.
Kevin menarik tengkuk Luna dan kemudian mencium bibirnya. Ciuman yang mewakili perasaan Kevin pada Luna. Dan Kevin tidak menduga jika hatinya akan kembali terpaut pada orang lain. Parahnya lagi orang itu adalah adik dari mendiang istrinya.
"Aku mencintaimu, Luna William." Ucap Kevin sesaat setelah mengakhiri ciumannya.
"Aku juga." Balas Luna lalu menghambur ke dalam pelukan Kevin. Gadis itu menarik sudut bibirnya dan tersenyum lebar. Luna bahagia, sangat bahagia. Karena akhirnya perasaannya terbalas.
-
THE END:
Terimakasih buat semua yang ngikutin cerita ini dari awal. Maaf kalau ceritanya pendek dan endingnya kurang greget. Kondisi kesehatan Author sedang memburuk dan tidak memungkinkan untuk mengetik cerita sementara waktu. Mohon pengertiannya ya 🙏🙏
__ADS_1
Buat pecinta "Hot Daddy" jangan cemas. Ceritanya masih berlanjut karena Author punya cadangan bab. Termasuk "RANJANG PANAS TUAN MUDA" di akun Jessica_226.