
Kevin menghentikan mobilnya di sebuah rumah sakit jiwa. Ia terlihat mengambil sebuah pot mawar biru yang ia beli dari toko bunga tempat Jessica bekerja. Itu adalah bunga kesukaan ibunya.
Seorang dokter kejiwaan langsung menyambut kedatangannya di sana. Kevin berbincang sebentar dengan dokter itu, kemudian mereka berpisah dan berjalan berlawanan arah.
Kevin menghentikan langkahnya dan berdiri di hadapan kaca yang memisahkannya dengan seorang wanita dengan balutan pakaian rumah sakit.
Pria itu hanya memandangnya dengan tatapan kosong, tanpa melakukan apapun. Tenaganya seperti sudah terkuras habis. Hatinya sudah hancur berkeping-keping. Melihat keadaan wanita yang ada di dalam sana.
Wanita itu hanya diam sambil terus menatap lurus kedepan. Kedua tangannya diikat karena takut membahayakan dirinya sendiri. Dan wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Ibu kandung Kevin.
Nyonya Nero mengalami gangguan jiwa setelah kematian suaminya 5 tahun yang lalu. Tekanan batin, dan rasa kehilangan yang teramat sangat besar membuat mentalnya terganggu.
Dengan satu kali tarikan napas panjang, Kevin membuka pintu didepannya dan masuk menghampiri sang ibu.
"Ma, bagaimana kabarmu hari ini? Maaf, karena aku baru bisa mengunjungi Mama lagi. Aku membawakan mawar biru kesukaan Mama."
Nyonya Nero mengangkat wajahnya dan menatap Kevin dengan lunak. Wanita itu mengangkat tangan Kevin dan menggenggamnya.
"Aku menunggu suamiku, dia bilang akan menjemputmu dan mengajakku merayakan ulang tahun pernikahan kami. Tapi kenapa dia tidak datang sampai sekarang."
Kevin berusaha untuk tidak meneteskan air matanya. Hatinya terlalu sakit melihat keadaan Ibunya saat ini. "Papa sedang pergi ke luar negeri dan tidak akan kembali dalam waktu dekat. Sebaiknya Mama jangan menunggunya lagi ya."
"Aku ingin bertemu suamiku. Pertemukan aku dengan suamiku, pertemukan aku dengan suamiku!!"
Tiba-tiba nyonya Nero mengamuk dan melemparkan apapun kearah Kevin, memukulnya dengan lampu tidur, dan bagian ujungnya yang tajam merobek tulang pipi pria itu.
"AKU INGIN BERTEMU SUAMIKU!! JANGAN MENGHALANGIKU. AKU INGIN BERTEMU DENGANNYA, AKU INGIN BERTEMU DENGANNYA!!" teriak Nyonya Nero penuh emosi.
Kevin meraih sang ibu ke dalam pelukannya. Dan Kevin berusaha untuk membuatnya lebih tenang. Kevin mengusap punggung Nyonya Nero dengan gerakan naik-turun, dan apa yang dia lakukan perlahan membuatnya tenang.
Beberapa saat kemudian, beberapa perawat terlihat berdatangan. Salah satu dari mereka menyuntikkan obat penenang pada Nyonya Nero. Dan wanita itu kini mulai terlelap.
"Tuan Muda, wajah Anda terluka. Sebaiknya Anda ikut kami, biarkan dokter kami mengobatinya."
Kevin menggeleng. "Tidak perlu, hanya luka ringan saja." Kevin beranjak dari hadapan perawat itu dan pergi begitu saja.
-
"JESSICA, KELUAR KAU!!"
Jessica dan Sunny yang sedang menyantap makan siangnya dikejutkan oleh teriakan yang berasal dari luar toko.
Gadis dalam balutan dress brukat pink itu meninggalkan makan siangnya begitu saja, dan berlari keluar untuk melihat apa yang terjadi.
__ADS_1
"Dion, apa-apaan kau ini?!"
Dion menghampiri gadis itu, dan tanpa basa-basi dia langsung menampar pipi Jessica dengan sangat keras. Merasa tidak terima ditampar tanpa tau kesalahannya. Jessica pun melayangkan tamparan balasan pada pipi Dion.
"JESSICA!!" bentak Dion sambil memegangi pipinya yang baru saja ditampar oleh Dion.
"Sebelum KESABARANKU habis, sebaiknya kau pergi dari sini." Pinta Jessica mencoba mengendalikan emosinya.
"Aku tidak akan pergi sebelum kau memberikan penjelasan padaku. Apa yang sudah kau lakukan pada Mirra?" Tanya Dion meminta penjelasan.
"Oh, jadi karena istrimu yang tidak tau malu itu?! Jika kau ingin tau apa yang sudah aku lakukan padanya, aku memaksanya berlutut dan mencium kaki ibu!! Kau puas sekarang?"
"KAU!!" Geram Dion penuh emosi.
PLAKK..
Jessica menahan tangan Dion, ketika sekali lagi dia mencoba untuk menamparnya. Jessica menghempaskan tangan Dion dan meninggalkannya begitu saja.
Sadar atau tidak, kini Dion menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada disekitarnya.
Tak ingin kehilangan harga dirinya yang setinggi langit. Dion pun segera masuk ke dalam mobilnya. Dan mobil itu melesat meninggalkan toko bunga tempat Jessica bekerja.
-
Memangnya anak mana yang akan baik-baik saja ketika melihat keadaan ibunya seperti itu. Kevin sudah melakukan berbagai upaya untuk membuat ibunya sembuh, namun tak satupun usahanya ada yang membuahkan hasil.
"Paman, wajahmu berdarah. Sebaiknya di obati atau akan meninggalkan bekas."
Perhatian Kevin sedikit teralihkan oleh kemunculan bocah perempuan itu. Pria bermarga Nero itu tersenyum tipis. "Baiklah, gadis kecil. Akan Paman obati nanti, kenapa kau hanya sendiri? Dimana ibumu?"
"Aku sudah tidak memiliki Ibu ataupun ayah, kakak cantik bilang mereka sudah tenang di Surga sana. Selama ini aku tinggal di panti asuhan, untungnya ada kakak cantik yang selalu menemaniku. Dan aku memiliki banyak teman yang sayang padaku."
Hati Kevin terenyuh mendengar ucapan gadis kecil ini. Kenapa takdir begitu tidak adil padanya. Dia yang masih berusia 6 tahun harus kehilangan kedua orang tuanya, disaat dia masih begitu membutuhkan kasih sayangnya.
"Nak, siapa namamu?"
"Namaku sama seperti nama kakak cantik, Jessica. Aku memanggilnya kakak cantik karena nama kami sama."
"Jessica?" Gadis kecil bernama Jessica itu mengangguk.
"Dia ada di sana." Kevin mengikuti arah tunjuk gadis kecil itu. "Kakak cantik sedang membagikan bunga dan permen pada anak-anak yang kurang beruntung sepertiku."
Kevin bangkit dari duduknya dan menatap gadis itu dari kejauhan. Sosok Jessica terlihat bak malaikat dalam balutan dress putih selutut-nya. Dia memiliki hati yang besar dan rasa peduli yang sangat tinggi pada orang lain.
__ADS_1
"Paman, bagaimana kalau kita ke sana dan menemui kakak cantik." Usul gadis kecil itu.
Gadis kecil itu menarik tangan Kevin dan membawanya menghampiri Jessica. Suara tawa gadis kecil itu yang begitu khas langsung berkuar di dalam pendengaran Jessica.
"Sayang, kau dari mana saja? Kakak mencarimu dari tadi. Ibu panti bisa marah jika kita tidak segera kembali."
"Kakak cantik, wajah Paman ini terluka dan kau harus mengobatinya." Sontak saja Jessica mengangkat wajahnya dan matanya membelalak melihat wajah orang itu berlumur darah.
"Tuan Nero, kau terluka!!"
"Kaka cantik, kau obati saja dulu Paman ini. Aku akan bermain dengan teman-teman yang lain." Jessica mengangguk.
"Kita obati wajahmu di sana saja." Jessica menunjuk sebuah kursi taman berhadapan dengan air mancur.
Kevin memandang Jessica sebentar dan kemudian mengangguk. "Baiklah."
.
.
.
Sebuah perban yang telah menyatu dengan plaster merekat kuat pada pipi Kevin yang terluka. Darah segar yang menyembul di atas permukaan perbannya membuktikan jika luka itu masih sangat baru.
"Bagaimana kau bisa terluka dan membiarkan lukanya tetap terbuka? Maaf, bukan maksudku ingin menguruimu, hanya saja luka seperti ini jangan dibiarkan terbuka terlalu lama."
"Aku tidak tau bagaimana cara mengobatinya. Karena setiap aku terluka tidak ada orang yang bisa mengobatinya, makanya aku selalu membiarkannya."
"Bagaimana dengan ibumu, atau mungkin pasanganmu?"
"Ibuku sedang sakit, dan dia tidak mungkin bisa melakukannya. Dan aku tidak memiliki pasangan."
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk-"
"Lupakan, sebaiknya sekarang kita antarkan anak-anak itu pulang. Dan setelah itu temani aku makan malam. Dan aku tidak menerima penolak-kan!!"
Jessica terkekeh. "Sepertinya kau adalah orang yang pemaksa, tapi baiklah aku akan menemanimu. Dan bisakah kita berangkat sekarang? Anak-anak itu bisa mendapatkan masalah jika kembali tidak tepat waktu,"
"Tentu."
-
Bersambung.
__ADS_1