
Malam sudah semakin larut. Namun Kevin masih tetap terjaga. Pria itu sudah mencoba untuk menutup matanya tapi tidak bisa. Kemudian dia beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju balkon kamarnya.
Udara malam yang dingin langsung menyambutnya ketika Kevin menginjakkan kakinya di lantai balkon.
Sepasang mutiara berlapis lensa abu-abunya menangkap siluet seorang gadis yang sedang duduk sendiri di bangku taman. Wajahnya mendongak menatap langit malam bertabur bintang.
Kevin beranjak dari balkon kamarnya dan melenggang keluar menghampiri gadis itu yang pastinya adalah Luna.
"Ini sudah larut malam, kenapa kau belum tidur?" Tegur Kevin yang entah sejak sudah berada di samping Luna.
"Kakak ipar?!" Gadis itu tampak terkejut dengan kemunculan Kevin yang tiba-tiba. Luna dan ayahnya menginap di tempat Kevin karena memang dilarang pulang oleh pria bermarga Nero tersebut.
Kevin mengambil tempat di samping Luna. Keduanya saling diam dalam keheningan. Jika sudah berdua bersama Kevin, Luna selalu kehilangan kata-katanya. Luna bingung harus bagaimana berbicara Dengan Kevin yang dingin dan tertutup.
"Seperti apa kakakku?" setelah sekian lama diam. Sebuah pertanyaan keluar dari bibir Luna. Gadis itu menoleh, membuat iris matanya bersirobok dengan sepasang manik abu-abu milik Kevin. "Aku ingin tau lebih banyak tentangnya."
Kevin mengakhiri kontak matanya dengan Luna, pandangannya menerawang mencoba mengingat semua tentang Jessica. Sudut bibirnya tertarik keatas.
"Dia adalah perempuan yang hebat, tangguh, penyayang dan pekerja keras. Dia adalah wanita terbaik dan terhebat yang pernah aku kenal dan aku temui dalam hidupku. Menceritakan tentang Jessica, satu malam tidak akan cukup. Intinya dia adalah wanita yang baik."
Luna tersenyum simpul. "Pasti kau sangat mencintainya?"
"Ya, soal itu tidak perlu dipertanyakan lagi. Aku memang sangat mencintainya." Jawabnya datar.
"Lalu apakah kakak ipar berniat untuk memulai hubungan lagi dengan orang lain? Maksudku menemukan pengganti kakakku?"
Kevin memicingkan matanya dan menatap Luna penasaran. "Kenapa kau bertanya begitu?" Luna gelagapan mendengar pertanyaan Kevin.
Gadis itu menggeleng. "Jangan salah paham dulu, kakak ipar. Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya sekedar bertanya saja." Luna mencoba menjelaskan jika dia memang tidak memiliki maksud apapun.
"Ini sudah malam. Masuklah, kau bisa sakit jika terlalu lama berada di luar." Ucap Kevin yang kemudian dibalas anggukan oleh Luna. Anehnya kenapa Luna tidak bisa menolaknya.
Kemudian Luna bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja. Meninggalkan Kevin yang masih bertahan dalam posisinya. Namun tak lama kemudian, Kevin pun segera berdiri dan melenggang meninggalkan taman.
Dia ada rapat besok pagi, dan untuk itu Kevin hendak tidur lebih awal. Meskipun nyatanya dia sangat kesulitan untuk tidur.
__ADS_1
-
Pagi-pagi sekali Luna dan Tuan Willian sudah meninggalkan kediaman Kevin. Luna ada kelas pagi, sedangkan tuan William harus pergi ke luar negeri untuk sebuah perjalanan bisnis.
Karena malas mengemudi. Luna pun memutuskan untuk menggunakan kendaraan umum. Sudah hampir setengah jam berdiri di halte, namun belum ada satu bus pun yang lewat, sedangkan kelasnya dimulai 20 menit lagi.
Gadis itu terlihat gelisah, entah kesialan macam apa yang dia alami sekarang. Bahkan tak ada satu taxi pun yang lewat. Sampai sebuah mobil sport hitam tiba-tiba berhenti didepannya.
Luna memicingkan matanya. Dia seperti mengenali mobil tersebut. Sampai kaca penumpang terbuka dan terlihatlah sosok tampan yang duduk di balik kemudi.
"Kakak ipar?!"
"Naiklah, aku akan mengantarmu ke kampus. Kebetulan kita satu arah." Kevin membukakan pintu untuk Luna masih dalam posisi duduknya.
Luna tersenyum. Gadis itu kemudian masuk ke dalam mobil Kevin. Dan selanjutnya mobil itu melaju kencang meninggalkan halte.
Kevin menoleh, menatap gadis disampingnya.
"Kenapa saat bersamaku kau tidak banyak bicara dan menjadi gadis yang sangat pendiam?"
"Kenapa begitu?"
"Karena kakak ipar sangat dingin dan tidak banyak bicara. Berbeda dengan kakak angkat dan Irene. Mereka memiliki tingkat kebawelan yang diluar batas normal." Tuturnya.
Kevin mendengus geli. Baru kali ini Luna bicara sebanyak itu ketika bersamanya. Bahkan dia tidak secanggung biasanya.
"Kau bisa membahas apapun. Jujur saja saling diam seperti itu membuatku tidak nyaman. Aku memang tidak banyak bicara, tapi aku adalah seorang pendengar setia."
Luna tersenyum lebar. "Bagaimana kalau mulai sekarang kita berteman? Dengan begitu aku tidak akan canggung lagi, karena kita berdua bukan lagi orang asing. Bagaimana?"
"Kedengarannya tidak buruk juga."
Diluar dugaan Kevin. Ternyata Luna adalah gadis yang sangat menyenangkan. Dan sejak kepergian Jessica satu tahun yang lalu. Baru kali ini dia bisa berinteraksi dengan perempuan lain dan bicara secara terbuka.
Luna dan Jessica memang terlahir sebagai saudara kembar. Namun banyak sekali perbedaan yang terlihat diantara keduanya. Bukan hanya sifat dan sikapnya saja, bahkan cara berpakaian mereka pun jelas berbeda.
__ADS_1
Jessica lebih suka berpakaian yang tertutup dengan memakai dress di bawah lutut dan berlengan panjang. Sedangkan Luna justru kebalikannya. Mereka benar-benar dua karakter orang yang sangat berbeda.
"Kakak ipar, terimakasih sudah mengantarku. Aku masuk dulu." Luna menundukkan punggungnya ketika sudah berada di luar mobil Kevin.
"Masuklah, sepertinya temanmu sudah menunggumu." Luna lantas menoleh dan mendapati Irene tengah melambai padanya.
Luna tersenyum. "Baiklah, kalau begitu aku masuk du~ yakk!!" Gadis itu berteriak keras ketika tiba-tiba Mark memeluknya dari belakang.
"Luna, akhirnya kau datang juga. Aku sudah menunggumu dari tadi. Sayang, lihatlah aku bawakan bunga kesukaanmu.",
Luna melepaskan pelukan Mark secara paksa. Kemudian gadis itu mengambil bunga tersebut dari tangan Mark lalu memukulkan pada wajah Mark.
"Dasar pria tidak tau malu. Sudah selingkuh dariku sekarang malah peluk-peluk. Ini makan bungamu, aku tidak Sudi menerimanya!!"
Luna melempar bunga tersebut dan pergi begitu saja. Bahkan dia tidak menghiraukan Kevin yang masih di sana. Mobilnya belum bergerak satu inci pun.
"Luna, tunggu aku!!"
Kevin mendengus geli. Pria itu menggelengkan kepala. Kevin menyalakan kembali mesin mobilnya. Dan mobil sport hitam itu segera melaju kencang meninggalkan kampus Luna. Kevin tidak bisa terlambat tiba di kantornya.
-
Rapat baru saja selesai sekitar 10 menit yang lalu. Kevin sudah kembali ke ruangannya. Seorang perempuan muda menghampiri Kevin sambil membawa sebuah dokumen di tangannya.
"Presdir, ini adalah data-data yang Anda minta. Semua data yang Anda butuhkan ada di sini."
"Kerja bagus Erica, dimana Chan, kenapa aku tidak melihat batang hidungnya sejak pagi?"
"Hari ini Chan ijin tidak masuk. Dia tidak bisa jalan karena ulah 7 kucing liarnya. Semalam kan malam Jum'at, jadi tidak mungkin raja mesum itu melewatkannya."
Kevin mendengus berat. Asistennya yang satu itu memang tidak pernah berubah. Selalu saja ada tingkahnya yang bikin geleng-geleng kepala.
-
Bersambung.
__ADS_1