
Sang Dewi malam penuh berpendar lembut di ufuk langit, perlahan, malu-malu menapaki orbitnya menuju tahtanya di puncak langit.
Bintang-bintang berpendar dalam konfigurasinya, laksana kerling manja sang gadis remaja.
Angin mendesau lembut, menggoyangkan dedaunan, melantunkan irama temaram malam. Aroma bunga merebak di angkasa, membangkitkan khayalan keindahan yang terindah.
Seorang gadis terlihat duduk di sebuah ayunan di sebuah taman kota. Disampingnya seorang pria juga duduk namun dalam posisi diam, berbeda dari si gadis yang asik menggerakan ayunan yang didudukinya.
Bosan dengan suasana hening diantara mereka. Si gadis pun berinisiatif untuk membuka percakapan dengan sosok tampan disampingnya tersebut.
"Kakak Ipar, apa kau memang sependiam ini? Jujur saja, bersama denganmu membuatku terkadang menjadi mati kutu. Kau tidak banyak bicara juga sangat pendiam. Apa memang seperti ini dirimu?"
"Lalu menurutmu?"
"Ya, memang seperti inilah dirimu. Dan jika boleh jujur, kau ini adalah pria paling dingin yang pernah aku temui dan aku kenal dalam hidupku!!"
"Dan kau adalah gadis paling berisik dan paling bawel yang pernah aku kenal."
Luna terkekeh. Iya tidak ingat, Kevin adalah orang keberapa yang mengatakan jika dirinya adalah gadis paling bawel dan paling berisik. Alih-alih merasa tersinggung. Luna justru menyadari jika dirinya memang sangat bawel dan berisik.
"Huh. Dingin."
Desir angin malam membuat Luna sedikit mengigil kedinginan. Dia sangat merutuki kebodohannya yang tidak membawa mantel hangat dan hanya memakai pakaian berbahan tipis.
Kevin yang menyadari hal tersebut pun tak lantas tinggal diam. Pria itu melepaskan jasnya lalu menyampirkan pada pundak Luna. Membuat gadis itu sedikit tersentak kaget, namun sedetik kemudian senyum lebar tersungging di bibir tipisnya.
"Makanya, lain kali sebaiknya kau membawa mantel hangatmu jika kau tidak ingin mati karena kedinginan." Omel Kevin memberi nasehat.
Entah apa sebabnya Kevin selalu respek pada gadis bermarga William ini? Mungkin karena wajah Luna yang mirip dengan Jessica, atau mungkin karena hal lainnya? Entahlah Kevin juga tidak tau apa alasannya.
Tapi Kevin selalu menemukan kenyamanan saat berada di dekat Luna. Dan dia menemukan sesuatu yang hilang dalam hatinya ketika gadis itu bersamanya.
"Kakak Ipar, kenapa kau menatapku seperti itu? Apa ada yang aneh di wajahku?" Tanya Luna memastikan. Lantas Kevin menoleh, membalas tatapan Luna yang teduh dan menenangkan. Hatinya seakan tersihir oleh sepasang manik coklatnya yang indah itu.
Kevin menggeleng. "Sudah malam, sebaiknya aku antar kau pulang." Ucapnya datar. Kevin bangkit dari duduknya, nada bicaranya begitu dingin begitu pun dengan tatapan yang dia tunjukkan.
__ADS_1
Huffttt .. !! ..
Membuat gadis itu mendengus panjang, dengan terpaksa Ia pun bangkit dari duduknya dan segera mengejar Kevin yang lebih dulu meninggalkannya
"Dasar tidak memiliki perasaan, setelah membuatku hampir saja mati karena serangan jantung, sekarang dia balah bersikap dingin padaku dan meninggalkanku begitu saja!! Dasar patung es menyebalkan!!" Dumal Luna dengan pandangan kesal Ia tunjukkan pada Kevin.
Taaappp .. !! ..
Gadis itu tersentak karena Kevin tiba-tiba saja berhenti. Membuat Luna ikut berhenti pula. Keningnya bertabrakan dengan punggung Kevin yang bidang.
"Aduh," Luna mengusap keningnya. "Ada apa, Kakak Ipar?" Tanya Luna penasaran, pria itu melirik Luna menggunkan ekor matanya.
Kevin tidak langsung menjawab, Ia seperti sedang mencemaskan sesuatu. Kevin mengambil pistolnya secara diam-diam, saat ia merasakan ada pergerakan mencurigakan di sekitar tempat itu. Matanya terbelalak melihat ada sebuah pistol yang mengarah pada Luna.
Greppp .. !! ..
Duarrr .. !! ..
Kevin langsung menyambar tubuh Luna sebelum orang itu melepaskan tembakannya, tepat sesaat tubuh mereka terhempas ke tanah. Suara tembakan terdengar, jika saja Kevin lengah 1 detik saja. Mungkin nyawa Luna sudah melayang saat itu juga.
Masih dalam posisinya, Kevin mengarahkan pistolnya pada sumber tembakan itu berasal dan..
"Ahhh!!"
Derdengar suara geraman orang kesakitan, Kevin segera bangkit dari posisinya kemudian menghampiri orang itu yang belum sepenuhnya mati.
Kevin menarik kasar krah kemeja yang orang itu kenakan tanpa menghiraukan kondisinya yang setengah sekarat. "Katakan siapa yang menyuruhmu untuk membunuh gadis itu?!" Tanyanya tanpa basa basi.
"Pe..perempuan bernama Amelia. Dialah yang menyuruhku." Kevin mengerutkan dahinya, Ia sama sekali tidak memgenal siapa orang yang pria itu maksud sampai Luna datang dan berdiri di samping Kevin.
"Dia adalah perempuan yang kita temui di restoran, perempuan itu adalah orang yang telah bersekingkuh dengan Mark." Ujarnya.
"Kau yakin?" Kevin menoleh, dan menatap Luna yang juga menatap padanya.
Gadis itu mengangguk. "Sangat, aku sangat yakin dialah orangnya." Balasnya.
__ADS_1
"Baiklah." Kevin beranjak dari sisi Luna dan berlalu begitu saja, namun langkahnya harus terhenti karena cengkraman lembut pada pergelangan tangannya. Kevin menoleh dan menatap dingin Luna.
Kevin menatap sebuah bekas luka di wajah Kevin. Dia seperti mengenali bekas luka itu."Apakah itu bekas luka?" Luna menunjuk bekas luka memanjang yang ada di mata kiri Kevin, bekas luka di mata kirinya yang tampak terpisah ketika pria itu membuka matanya dan menyatu saat mata itu tertutup.
Dengan cepap pria itu menutup matanya menggunakan telapak tangannya. "Bukan." Balasnya dingin. "Kenapa kau ingin mengetahuinya?"
Luna diam, gadis itu tidak memberikan jawaban apa-apa. Wajahnya menunduk dan menatap hils yang membalut kakinya "Kenapa diam? Memangnya apa alasanmu ingin mengetahui ini sebuah bekas luka atau bukan?" Luna mendongak setelah mendengar pertanyaan Kevin.
"Karena luka itu~"
"Sudahlah, ini sudah terlalu larut. Tidak baik seorang gadis berada di luar dalam waktu selarut ini, sebaiknya aku antar kau pulang sekarang." Ujar Kevin menyela kalimat Luna.
Gadis itu masih membeku di tempatnya tanpa beranjak sedikit pun dari sana.
Sementara Kevin sudah semakin menjauh."Karena aku hanya ingin memastikan kau anak itu atau bukan." Teriak Luna dengan sangat lantang.
Tappp .. !! ..
Seketika pria itu menghentikan langkahnya setelah mendengar seruan keras Luna.
Langit malam yang awalnya begitu bersahabat tiba-tiba saja menjadi gelap. Tak berselang lama tetesan-tetesan cairan tak berwarna turun dengan derasnya yang langsung mengguyur tubuh Luna maupun Kevin.
Pria itu membalikkan tubuhnya, menatap Luna yang masih bergeming dari tempatnya berdiri. Dengan 1000 langkah, Kevin menghampiri Luna dan...
CHUUU .. !! ..
Pria itu meraih tengkuk Luna dan mendaratkan satu ciuman pada bibirnya. Mata Luna terbelalak karena apa yang Kevin lakukan, gadis itu tidak memberikan respon apa-apa.
Ia masih sangat terkejut dengan apa yang Kevin lakukan, meskipun ini bukan pertama kalinya mereka berciuman. Namun itu cukup untuk membuat gadis itu terkena serangan jantung dadakan.
Setelah beberapa saat, Kevin mengakhiri ciuman itu. Matanya mengunci mata Luna yang juga menatap padanya.
"Kita pulang." Ucapnya, gadis itu mengangguk tipis.
" Baiklah."
__ADS_1
-
Bersambung.