
"Lotte World..."
Laura bersorak kegirangan ketika Kevin dan Jessica membawanya mendatangi salah satu taman bermain terkenal di Seoul. Gadis kecil itu terlihat begitu antusias. Dia menarik tangan Paman dan Bibinya dan membawanya menuju wahana komedi putar.
"Bibi, bisakah aku menaiki wahana itu?"
Jessica mengangguk. "Tentu saja, Sayang. Kau bisa menaikinya sebanyak yang kau mau."
"Sungguh?" Jessica mengangguk. Gadis kecil bersorak kegirangan.
Kemudian Laura menarik Jessica untuk naik wahana itu bersamanya, sedangkan Kevin memilih menunggu dan memperhatian mereka dari jauh. Melihat senyum di bibir Jessica membuat hatinya menghangat.
Perhatian Kevin sedikit teralihkan oleh dering pada ponselnya. Kevin merogoh saku celananya lalu mengeluarkan benda tipis tersebut. Nama Chan tertera menghiasi layar ponselnya yang menyala terang.
"Ada apa kau menghibungi ku malam-malam begini!" Tanya Kevin to the poin.
"Boss, bisakah kau meminjamkan uang padaku? Aku kehabisan uang dan kucing-kucing liarku ingin supaya aku membawa mereka berbelanja."
Kevin mendengus berat. "Kenapa kau semakin Boss saja, Chan!! Percuma saja kau bekerja setiap hari, lelah hingga otakmu nyaris pecah, jika gaji bulananmu hanya kau gunakan untuk berfoya-foya. Pikirkan masa depanmu juga, jangan hanya memikirkan kesenangan saja!!" Omel Kevin memberi nasehat.
Di seberang sana, Chan langsung terdiam setelah mendengar nasihat Kevin. Selama ini dia tidak pernah berpikir sampai sana yang ada dipikirannya hanya kesenangan, kesenangan dan kesenangan.
Tidak terdengar lagi suara Chan. Kevin pun memutuskan untuk memutus sambungan telfonnya.
Pandangannya kembali pada Jessica dan Laura, keduanya terlihat keluar dari wahana komedi putar. Dan mereka lanjut ke wahana berikutnya.
Laura begitu antusias, bahkan gadis kecil itu sudah bisa tersenyum lebar. Sepertinya dia mulai bisa melupakan kesedihannya atas kepergian ayahnya.
"Kau lelah, Sayang?" Laura mengangguk. "Kita istirahat dulu saja ya, tunggu di sini bersama Paman Kevin. Bibi membeli minum dulu."
"Bibi, hati-hati ya."
Jessica tersenyum seraya mengacak rambut Laura. "Tentu, Bibi akan hati-hati. Aku titip dia sebentar ya." Jessica beranjak dari hadapan Kevin dan pergi begitu saja.
.
.
.
"Sica,"
Jessica menghentikan langkahnya ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Sontak dia menoleh dan mendapati Ben berjalan menghampirinya.
__ADS_1
Merasa tak ada urusan dengan pria itu. Jessica pun memutuskan untuk pergi dan menghindari mantan kekasihnya tersebut. Tapi sepertinya Ben tidak mengijinkannya untuk pergi.
"Sica, beri aku satu kesempatan untuk bicara denganmu."
Jessica menyentak tangan Ben dari lengannya dan menatapnya tajam. "Apa lagi yang perlu kita bicarakan, Ben?! Kita sudah berakhir, dan sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan!!"
"Tidak, Sica!! Jangan mengatakan jika kita sudah berakhir. Aku tau kau masih mencintaiku dan aku juga masih mencintaimu. Kenapa tidak kita mulai semuanya dari awal lagi? Aku yakin kita bisa bahagia."
Jessica tertawa sinis mendengar kalimat Ben. Menurutnya Ben begitu tidak tau malu.
Dulu dia yang memilih untuk meninggalkannya dan menikah dengan wanita pilihan orang tuanya. Bahkan dia tidak berusaha menyelamatkannya ketika dirinya hampir mati tenggelam.
Beruntung Kevin menyelamatkannya dengan tepat waktu sehingga dirinya bisa selamat. Dan Jessica tidak akan pernah melupakan insiden hari itu.
"Terima saja kenyataan, Ben!! Terima saja jika hubungan kita memang sudah berakhir. Lagipula aku sudah bahagia dengan hidupku. Jadi apalagi yang bisa kau harapkan dariku?"
"Kita memang tidak pernah sejalan. Kita sudah memilih jalan hidup masing-masing." Jessica beranjak dari hadapan Ben dan pergi begitu saja.
Dan Ben hanya bisa menatap kepergian Jessica dengan gamang. Sepertinya memang sudah tidak ada harapan antara dirinya dan Jessica untuk kembali bersama lagi.
Semua telah terlambat dan nasi telah menjadi bubur. Yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah merelakannya bahagia bersama orang lain.
-
Malam ini langit terlihat lebih cerah, jutaan manik-manik langit terlihat memainkan sinarnya. Bulan bulat penuh bertahta di singgasananya. Membuat mata tak akan pernah jenuh untuk menatapnya.
Jessica tersentak kaget saat merasakan ada sepasang tangan kekar yang memeluknya dari belakang. Sudut bibirnya tertarik ke atas, Jessica melepaskan pelukan itu, posisinya dan Kevin kini saling berhadapan.
Kevin menangkup sisi wajah Jessica dan kemudian mengecup singkat bibirnya. "Ini sudah malam, kenapa belum tidur?"
"Aku tidak bisa tidur. Terlalu banyak yang mengganggu pikiranku. Lalu kenapa kau sendiri tidak tidur?"
"Bagaimana aku bisa tidur jika istriku tiba-tiba saja menghilang." Jawab Kevin sambil menarik gemas ujung hidung mancung Jessica.
Jessica mengalungkan kedua tangannya pada leher Kevin. "Bukankah malam ini sangat dingin? Apa kita harus melakukannya?"
"Kau menginginkannya?" Jessica mengangguk.
"Kalau begitu tunggu apa lagi?! Karena terlalu lama di tunda itu sangat tidak baik." Kemudian Kevin mengangkat tubuh Jessica bridal style dan membawanya masuk ke dalam ruangan kamar.
Kevin menurunkan Jessica di atas tempat tidur, perlahan dengan bibir mereka yang telah menyatu sejak beberapa saat lalu. Kevin terus mel*mat bibir Jessica, atas bawah bergantian.
Des*han dan erangan berkali-kali lolos dari bibirnya ketika Kevin mencumbunya semakin dalam dan keras.
__ADS_1
Jari-jari lentiknya mencengkram helaian Kevin dan menekan kepalanya agar ciumannya semakin dalam lagi.
Wanita itu melengkuhkan kepalanya ke atas ketika Kevin menurunkan ciumannya pada lehernya dan memberikan beberapa tanda kepemilikan di sana.
"Aaahhh." Jessica menjerit ketika Kevin menggigit dadanya. Namun dia juga merasakan sensasi nikmat yang tidak mungkin dia temukan dari orang lain.
Kevin menyeringai. "Sepertinya kau sangat menikmatinya, Sayang. Lanjut ke intinya atau berhenti di sini?"
"Kita tidak bisa lanjut, aku sedang kedatangan tamu. Tidak apa-apa, 'kan?" Jessica menatap Kevin penuh sesal.
Kevin menangkup wajah Jessica kemudian mencium singkat bibirnya. "Tentu saja tidak, aku bisa memahaminya Sayang." Ucapnya kemudian mengecup singkat bibir Jessica.
"Maaf,"
"Tidak apa-apa. Tidurlah, ini sudah malam. Aku juga akan segera tidur." Jessica tersenyum kemudian mengangguk.
"Baiklah, good night."
-
Hiruk pikuk suasana perkantoran sudah mulai terasa. Jam masih menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit, tetapi sudah banyak karyawan yang datang. Padahal jam kerja baru dimulai pukul setengah delapan.
Derap langkah kaki seseorang yang menggema membuat semua karyawan langsung berdiri. Mereka membungkuk memberi hormat pada atasannya yang baru saja tiba di kantor.
"Ericka, apa saja agendaku hari ini?" Tanya Kevin pada sosok wanita yang berjalan di sampingnya.
"Ada rapat penting jam 8 dan jam 2 siang. Jam 5 ada tamu dari luar negeri. Hanya itu sekejul Anda hari ini Presdir."
"Hn," kemudian Kevin masuk ke dalam ruangannya, sedangkan Ericka kembali ke meja kerjanya.
Ponsel di saku celana Kevin tiba-tiba berdering. Nama Jessica menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. Tak ingin membuat istrinya menunggu terlalu lama. Kevin pun segera menerima panggilan tersebut.
"Ada apa, Sayang?"
"Ini saya tuan, Nero, Sunny. Jessica baru saja mengalami musibah. Dia di serempet mobil dan sekarang ada di klinik di samping Vivian'S Florist."
"Apa?! Baiklah aku akan segera ke sana sekarang." ucapnya.
Kevin menyambar kenci mobilnya yang dia letakkan di atas meja kerjanya dan bergegas pergi. Dalam hatinya dia terus berdoa semoga kecelakaan yang Jessica alami tidak sampai berakibat fatal.
-
Bersambung.
__ADS_1