"DUDA HOT" (Gairah Cinta Pria Kesepian)

"DUDA HOT" (Gairah Cinta Pria Kesepian)
Ingin Memiliki Anak


__ADS_3

Kehangatan menyelimuti kebersamaan Jessica, Kevin dan Nyonya Karina. Ada juga Paman Nam. Karina meminta pria setengah baya itu untuk ikut bergabung bersama mereka bertiga. Dan Paman Nam menyetujuinya.


Setelah makan malam. Saat ini mereka berkumpul di ruang keluarga.


Nyonya Karina menanyakan perihal cucu pada putri dan menantunya. Dan mendapatkan pertanyaan seperti itu dari ibunya, membuat mimik wajah Jessica langsung berubah.


"Kami masih mengusahakannya, Bu. Ibu tunggu saja hasil terbaiknya dari kami." Ucap Kevin tersenyum. Pria itu menggenggam tangan Jessica, memandangnya dengan senyum yang sama.


Bukan hanya Karina yang ingin segera menimang cucu. Sebenarnya sudah lama Jessica ingin memiliki anak, tapi Tuhan masih belum memberikan kepercayaan padanya dan Kevin.


Sudah satu tahun mereka menikah. Namun tanda-tanda bila Jessica akan segera hamil belum terlihat juga. Dan hal tersebut membuat wanita itu menjadi cemas dan gelisah.


"Jujur saja, Ibu sudah sangat tidak sabar untuk segera menimang cucu dari kalian. Jadi jangan menundanya terlalu lama, mumpung Ibu masih sehat, jika Ibu sudah tua, bagaimana nanti Ibu akan bermain bersama mereka?!"


"Target kami, tahun ini Sica sudah berisi. Jadi Ibu doakan supaya tahun ini Sica sudah hamil."


Karina mengangguk. "Ibu selalu berdoa yang terbaik untuk kalian berdua." Jessica menghampiri Ibunya dan kemudian memeluknya.


"Terimakasih, Bu. Kau memang Ibu terbaik yang ada di dunia ini. Aku sungguh beruntung terlahir dari rahim Ibu."


Melihat kedekatan Jessica dan Nyonya Karina membuat Kevin merasa iri sekaligus hatinya menghangat. Sudah lama dia tidak merasakan kehangatan pelukan seorang Ibu, lebih tepatnya setelah Ibunya masuk rumah sakit jiwa.


Karina melonggarkan pelukan Jessica,lalu pandangannya bergulir pada Kevin. Karina tersenyum, wanita itu mengulurkan tangannya pada Kevin.


"Kemari lah, Nak. Ibu juga ingin memelukmu." Ucap Karina.


Kevin menatap Jessica. Jessica mengangguk, wanita itu beranjak dua langkah dan memberikan ruang pada suaminya. Dengan ragu Kevin memeluk Ibu mertuanya itu.


Hangat dan nyaman....


Kevin menutup matanya dan memeluk Karina dengan erat. Pelukan Karina persis seperti pelukan Victoria. Dan pelukan seperti inilah yang sangat Kevin rindukan selama ini.


"Ibu, bisakah aku memelukmu lebih lama lagi?" Bisik Kevin, suaranya terdengar parau.


Karina mengangguk. "Tentu saja, Nak. Kau boleh memeluk Ibu selama apapun yang kau mau. Ibu sudah menganggapnya sebagai putra Ibu sendiri,"

__ADS_1


Melihat interaksi antara Kevin dan Ibunya membuat perasaan Jessica menghangat. Sungguh betapa sangat beruntungnya Jessica memiliki suami sebaik Kevin. Dia adalah sosok yang hangat dan penyayang.


Jika bagi orang yang belum mengenalnya dengan baik. Pasti mereka akan berpikir jika Kevin adalah seorang pria dingin tertutup, dan bermulut tajam. Tapi tidak setelah mengenalnya dengan baik. Karena sebenarnya Kevin adalah orang yang hangat dan penyayang.


Hanya saja dia tidak pernah menunjukkan sisi lainnya itu pada semua orang, hanya pada orang-orang terdekatnya saja, terutama pada sang istri tercinta, ibu serta Ibu mertuanya.


-


"Mama~" seru Laura saat melihat kedatangan Elia.


Alih-alih memeluk putrinya. Elia malah melewatinya begitu saja. Wanita itu pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua. Dari arah tangga, Elia mendengar suara ******* wanita yang berasal dari kamar suaminya.


Kedua tangan Elia terkepal kuat. Dengan emosi yang menggebu-gebu, Elia menendang pintu kamar bercat coklat itu dan mengejutkan dua orang yang sedang bercinta di dalam sana.


"ALDO WONG!!"


"Elia, sedang apa kau di sini?"


Elia menyambar besi pemukul baseball di samping pintu. Dengan membabi buta, Elia memukul Aldo dan wanita selingkuhannya itu hingga mereka terluka parah.


"Brengsek kalian berdua. Suami dan sahabat macam apa kalian ini, bagaimana bisa kalian melakukan hal ini padaku!!" Teriak Elia dengan keras. Wanita itu menangis sejadi-jadinya.


"Elia, hentikan!!" Teriak Aldo sambil memegangi kepalanya yang sudah berlumur darah. Sedangkan si wanita sudah tak sadarkan diri akibat luka parah pada kepalanya.


Aldo merebut tongkat besi dari tangan Elia lalu membuangnya. Aldo mendorong Elia sambil mencekik lehernya. Elia yang merasa terancam langsung menendang sosis berurat Aldo hingga pria itu jatuh tersungkur di lantai.


Elia mengambil kembali tongkat besinya yang ada di lantai. Dengan emosi menggebu-gebu. Elia menghampiri Aldo dan kembali memukul kepalanya untuk yang kedua kalinya. Seketika itu juga Aldo jatuh terkapar di lantai.


Elia segera tersadar dan menyadari perbuatannya. Kedua matanya membelalak. Elia membuang tongkat besi di tangannya dan pergi begitu saja. Bahkan dia tak menghiraukan Laura yang sedang menangis ketakutan.


"Papa... Papa.. Papa." Teriak bocah perempuan itu sambil menangis histeris.


Laura yang ketakutan melihat banyak darah di lantai memutuskan untuk berlari meninggalkan rumahnya. Hal buruk bisa saja terjadi pada ayahnya jika dia tidak segera mencari bantuan.


"Hiks, tolong papaku. Tolong papaku," gadis kecil itu berteriak meminta bantuan, tapi tak seorang pun yang menghiraukan dirinya. Seorang orang bersikap acuh dan tidak peduli.

__ADS_1


Laura tak mau menyerah. Dia harus mencari pertolongan sekarang. Laura tidak ingin jika ayahnya sampai meninggal karena kehabisan darah.


-


Mobil Kevin berhenti ketika lampu lalu lintas berganti merah. Pria itu menoleh dan menatap Jessica yang sedari tadi terus melihat ke luar jendela.


Kevin meraih tangan kanan Jessica lalu menggenggamnya. Membuat wanita itu mau tidak mau menolehkan kepala. "Masih memikirkan kata-kata ibu tadi?"


Jessica mengangguk. "Sepertinya kita sudah mengecewakan Ibu. Kita sudah satu tahun menikah, tapi sampai sekarang aku masih belum hamil. Apa mungkin aku mandul?"


"Bukankah kita sudah memeriksakannya dan dokter mengatakan jika kita sama-sama normal. Belum bukan berarti tidak bisa, cepat atau lambat kau pasti akan segera hamil."


Jessica tersenyum dan kemudian mengangguk. Wanita itu melihat ke arah depan, dan detik itu juga dia melihat sosok gadis kecil yang sedang menangis tersedu-sedu di pinggir jalan.


"Kevin, bukankah itu Laura?" Kevin mengikuti arah tunjuk Jessica.


"Tapi apa yang dia lakukan di sana?"


"Aku sendiri tidak tau, dan kita harus segera mencari taunya."


Kevin pun segera menepikan mobilnya. Jessica bergegas keluar dari mobil Kevin dan menghampiri Laura yang sedang menangis histeris sambil berteriak 'Tolong Papaku'.


"Laura..."


Mendengar seseorang memanggil namanya. Gadis kecil itu pun segera menoleh. Tangisnya semakin pecah setelah melihat siapa yang memanggilnya.


"Huaaa~Bibi Sica.." Tubuh Jessica terhuyung kebelakang karena pelukan Laura. Gadis kecil itu menangis semakin keras dalam pelukan bibinya. "Hiks~Bibi, tolong papa Laura, tolong papa Laura."


Jessica melonggarkan pelukannya dan menatap bingung keponakannya itu. "Apa yang terjadi pada papa, Laura?" Tanya Jessica penasaran.


"Papa Laura berdarah-darah. Mama mengamuk lalu memukul Papa dan teman perempuannya hingga mereka jatuh di lantai. Bibi, Paman, ayo ke sana. Tolong papa Laura, tolong papa Laura, Laura mohon..."


Kevin berlutut di depan gadis kecil itu dan mencoba menenangkannya. "Baiklah, ayo kita ke sana. Kita tolong papa Laura , tapi Laura jangan menangis lagi." Kevin menyeka air mata di pipi Laura, Laura mengangguk.


Jessica menuntun Laura kemudian membawa gadis kecil itu masuk ke dalam mobil. Jessica memangku gadis kecil itu di depan. Dan dalam hatinya, Jessica terus bertanya-tanya, apa yang terjadi sebenarnya.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2