
Memiliki dendam pada orang yang sama semakin memudahkan Kevin untuk mencapai tujuannya.
Dalam waktu dekat ini, Kevin berencana untuk bertemu dengan Dicky Kim. Kevin tau jika Dicky dan Dion sedang membutuhkan bantuan seseorang untuk menyelamatkan perusahaannya yang hanpir bangkrut karna kehilangan sahamnya dalam jumlah yang cukup besar.
Kevin berniat untuk menanam saham di perusahaan Dicky, namun tujuan Kevin bukanlah untuk membantu merela melainkan untuk menghancurkan pria itu secara perlahan-lahan.
Kali ini Kevin tidak hanya sendiri. Ia bekerja sama dengan ayah mertuanya yang merupakan ayah kandung dari mendiang istrinya. Saat ini Ia sedang berada di kediaman Luna untuk bertemu dengan Tuan William, tentu saja Kevin tidak sendiri. Ada Adrian yang menemaninya.
Ketiganya larut dalam perbincangan yang hangat dan terlihat serius, sampai kedatangan Luna mengintrupsi perbincangan mereka bertiga.
"Papi,"
Terlihat ketiganya menoleh pada sumber suara. Terlihat Luna berdiri sambil membawa puluhan tangkai mawar dengan berbagai warna dalam pelukannya.
Tubuh Luna seketika terpaku saat sepasang mutiara indahnya menangkap sosok pria dengan balutan kemeja abu-abu dengan lengan di gulung sampai siku, di padukan dengan vest hitam berbincang dengan Ayah serta kakak tirinya.
Luna menjadi sedikit salah tingkah saat melihat sepasang mutiara abu-abu milik orang itu yang tak lain adalah Kevin terkunci pada manik matanya. Luna pun menjadi sangat gugup.
"Maaf, aku tidak tau kalau Papi sedang ada tamu." Ucap Luna dan berancang-acang untuk segera pergi dari sana.
"Luna, kau mau kemana?" Seru Adrian dan menghentikan langkah gadis itu.
"A-ku mau ketaman dulu, aku lupa jika tadi ingin memetik bunga."
"Bunga?!" Adrian mengerutkan dahinya dan menatap Luna penuh selidik. "Jika kau belum memetiknya, lalu yang kau bawa itu apa?" Adrian menunjuk puluhan tangkai mawar yang ada pada Luna dengan senyum misterius yang tidak bisa gadis itu artikan.
Luna tersentak, Ia melihat bunga yang ada dalam genggamannya. Senyum bodoh menghiasi wajah cantiknya.
"Ahhh ,, bagaimana aku bisa lupa? Maksudku, aku harus merangkainya. Bunga yang kemarin sudah layu jadi aku harus segera menggantinya dengan yang baru." Ujarnya panjang.
"Seperti itu? Tapi kenapa kau berkeringat?? Kau juga terlihat gugup? Apa karena ada Kevin di sini?" Luna terkesiap setelah mendengar ucapan Adrian.
Adrian benar-benar sudah membuatnya kehilangan muka, Luna merasa malu. Dan karena insiden beberapa hari yang lalu membuat Luna seakan tidak memiliki muka didepan Kevin.
"Kemarilah, dan duduklah dulu." Tuan Willian menggeser duduknya dan memberikan ruang pada Luna, entah karena sengaja atau kebetulan. Tuan William menempatkan Luna di dekat Kevin.
Melihat wajah adik angkatnya yang tampak memerah membuat Adrian mati-matian menahan senyumnya. Dari gelagat yang di tunjukkan, Adrian sangat paham jika Luna sedikit banyak memiliki hati pada Kevin.
"Ekhhheemmm. Pa, kenapa tiba-tiba saja suhu di ruangan ini sangat panas?" Seru Adrian seraya menatap keduanya menggukan ekor matanya.
"Kalau panas tinggal nyalakan saja AC nya." Sahut Luna tanpa sadar dengan makna dari ucapan Adrian.
"Di nyalakan bagaimana lagi, bukankah pendingin ruangan sudah di nyalakan sedari tadi." Ucap Tuan William menimpali.
"Buktinya saja Kakak angkat masih kepanasan."
"Pa, bukankah kau memiliki agenda penting hari ini? Sudah hampir pukul 10 pagi. Papa sebaiknya kita pergi ke kantor saja." Adrian memberikan kode pada Tuan William.
Tuan William yang mengerti segera berdiri."Papi, kah mau kemana? Bukankah Papi tadi ingin berbicara padaku?" Tanya Luna.
"Kita bisa membahasnya lain waktu saja." Jawab Tuan William. "Key, tidak masalah bukan jika kami meninggalkanmu di sini. Papa lupa jika ada pertemuan penting siang ini, seperti yang sudah kita bahas. Kau bisa bertindak mulai sekarang."
"Papa sudah bicaranya, kau bisa terlambat datang ke pertemuan." Seru Adrian.
Entah apa yang sebenarnya tengah Adrian rencanakan kali ini, seharusnya Ia tau jika hari ini tidak ada pertemuan penting antara Tuan William dengan rekan bisnisnya.
Mungkin saja itu hanya akal-akalan Adrian untuk membuat Luna dan Kevin bisa semakin dekat, dan parahnya lagi. Parahnya lagi. Tuan William menurut begitu saja pada Adrian.
.
.
.
30 menit telah berlalu, masih tidak ada perbincangan berarti antara Luna dan Kevin. Keduanya sama-sama diam dalam suasana canggung penuh keheningan.
Sesekali Luna melirik Kevin menggunakan ekor matanya, dan gadis itu menjadi salah tingkah setiap kali pria itu menantap kearahnya secara terang-terangan.
__ADS_1
Entah apa yang membuat Luna selalu gugup setiap kali berada di dekat Kevin, sangat aneh mengingat bila dia adalah gadis yang sangat cerewet dan mudah bergaul dengan siapa pun. Namun dengan Kevin, Luna sering kali kehingan kata-katanya.
"Bunga-bunga itu terlihat indah dan segar, apa kau berniat untuk menjualnya juga?" Tanya Kevin mengakhiri keheningan, gadis itu menoleh dan menatap kakak iparnya.
"Maksud Kakak ipar bagaimana?"
"Boleh aku membelinya? Hanya 50 tangkai saja." Ucap Kevin.
Luna tersenyum tipis dan menggeleng. "Kau ini!! Kenapa tidak langsung bilang saja jika Kakak ipar memang tertarik dengan mawar-mawar itu, kau tidak perlu membayarnya. Aku akan memberikannya dengan cuma-cuma karena dari awal aku memang tidak berniat untuk menjualnya." Tutur Luna.
Suasana mulai mencair dan hangat, tidak ada lagi kata cangung. Lontaran demi lontara kalimat terucap dari bibir Luna maupun Kevin. Mereka terlihat lebih akrab dari hari-hari sebelumnya, saat ini keduanya berada di taman mawar milik Luna.
Ini memang bukan pertama kalinya Kevin melihat ada ratusan mawar tertanam di taman milik seseorang. Sangat indah, dan aromanya yang harum semerbak menarik para kumbang untuk datang mendekat. Kevin tidak mengira jika taman mawar yang Luna miliki seluas itu.
"Kau merawat sendiri semua mawar-mawar ini?" Tanya Kevin, sepasang mutiara abu-abunya mengunci mutiara milik Luna.
Sudut bibir gadis itu tertarik keatas menciptakan lengkungan indah terlukis nyata di wajah cantiknya.
"Bunga sebanyak ini sangat mustahil jika aku mengurusnya sendiri, aku meminta bantuan beberapa pelayan di rumah ini untuk mengurusnya." Balas Luna menuturkan.
"Kenapa kau memilih mawar untuk kau tanam? Bukankah masih banyak bunga lebih bagus dari mawar, dan lagi pula mawar memiliki duri yang sangat tajam." Tutur Kevin panjang lebar.
"Entahlah, aku sendiri tidak mengerti kenapa aku bisa begitu tertarik pada mawar dan sangat tergila-gila pada bunga berduri ini." Balas Luna seraya tersenyum manis.
Kemudian Luna memisahkan diri dari Kevin, dengan sangat berhati-hati gadis itu memetik mawar-mawar miliknya yang mulai bermekaran. Ada puluhan mawar dengan jenis dan warna berbeda yang tumbuh di taman milik Luna.
Satu persatu Ia petik, sedangkan Kevin tidak melakukan apa-apa. Pria itu hanya memandang Luna dari tempatnya berdiri.
Manik abu-abu miliknya mengikuti kemana Luna berjalan, indahnya bunga-bunga yang tumbuh di taman itu berpadu dengan cantiknya paras wajah gadis itu adalah sebuah kombinasi sastra yang tergambar dengan sempurna.
Tidak salah jika kecantikan itu membuat pria dingin dan acuh seperti Kevin bisa tertarik dan respeck padanya, ditambah lagi dengan parasnya yang selalu mengingatkannya pada mendiang istrinya.
"Ahhhh.??"
Kevin tersentak saat mendengar rintih kesakitan Luna, pria itu beranjak dari tempatnya berdiri dan menghampiri gadis itu.
"Jarimu berdarah." Dengan sigap Kevin menghisap darah yang ada di telunjuk Luna, darah itu berasal dari luka bekas tertusuk duri mawar secara tidak sengaja.
"Hanya luka kecil saja. Kakak ipar tidak perlu panik." Kemudian Luna menarik jarinya yang masih di pegang oleh Kevin sembari tersenyun kikuk.
Luna. menjadi salah tingkah, Ia beranjak dari hadapan Kevin dan berniat melanjutkan memetik bunga. "Aku akan menyelesaikan memetik bunganya." Ucapnya.
Luna tersentak saat Kevin mengambil alih gunting potong yang ada di tangannya lalu meletakkannya, pria itu meraih pergelangan tangan Luna dan membawa gadis itu pergi dari sana.
"Kita pergi saja dari taman ini." Ucapnya dingin.
"Ehhh?" Luna pun terkesiap dan menatap Kevin penuh kebingungan.
"Sudah cukup bunga yang kau petik."
"Bukankan kau bilang, kau ingin 50 tangkai? Ini baru 30." Luna menghentikan langkahnya dan menatap Kevin penuh keheranan.
"Tidak masalah, setelah aku fikir-fikir untuk apa bunga sebanyak itu." Balas Kevin.
Luna pun mengangguk mengerti. "Aku akan merangkai dan membungkus bungannya, tunggulah di dalam." Luna beranjak dan berlalu begitu saja, meninggalkan Kevin begitu saja.
Dan tak sedikit pun Kevin tidak melepaskan kontak matanya dari punggung Luna hingga sosoknya menghilang dari jangkauan matanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi padaku, kenapa hatiku selalu bergetar setiap kali menatap matamu, Luna William?!"
-
Dion duduk gelisah di sofa yang ada di sudut ruangan kerjanya. Fikirannya melayang jauh, berbagai masalah yang datang akhir-akhir ini membuatnya begitu stres. Berbagai masalah mulai datang dalam hidupnya, secara silih berganti dan bertubi-tubi.
Dio tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi, hidupnya yang awalnya baik-baik saja tiba-tiba menjadi buruk seperti ini. Jika tidak salah prediksi, semua itu berawal setelah kepergian Jessica.
Tokk ,, Tokk ,, Tok ,,
__ADS_1
Ketukan keras pada pintu membuat perhatian Dion sedikit teralihkan.
"Masuk." Serunya kencang.
Dion bangkit dari sofa dan kemudian berjalan menuju kursi jabatannya kemudian duduk nyaman di sana.
Krieettt ,, !! ,,
Decitan pintu terdengar, tampak seorang pria yang usianya lebih muda darinya masuk dengan membawa map berwarna gelap.
"Presdir, ini laporan yang anda minta."
Dion menatap pria itu sekilas kemudian mengambil map berisi laporan yang di berikan oleh bawahannya tersebut. Sepasang mutiara hitamnya meneliti setiap baris kata yang tertulis di atas kertas yang saat ini ada di dalam genggamannya.
"Ini adalah hasil laporan minggu ini Presdir,, saham di perusahaan kita semakin menurun. Beberapa Investor yang menanam saham di perusahaan ini mulai menarik investasinya dari perusahaan kita. Mereka tidak ingin mengambil resiko, kita harus segera mengambil tindakan. Karena jika di biarkan seperti ini, maka perusahaan ini bisa bangkrut."
Dion mengerutkan dahinya, Ia melepaskan kaca mata baca yang bertengger di hidungnya. Kedua tangannya mulai berkeringat dingin, Dion benar-benar merasa cemas.
"Baiklah segera kumpulkan beberpa perwakilan dari divisi dan para petinggi. Kita akan mengadakan rapat 1 jam lagi."
"Baik Presdir." Pria itu pun beranjak dari ruangan Dion, meninggalkan pria itu sendiri dengan beban berat yang terpikul di atas pundaknya.
"Mungkinkah ini akhir dari masamu, Dion Kim?"
-
15 menit telah berlalu, Kevin masih duduk di tempat yang sama. Manik matanya sibuk dengan ponsel yang ada di dalam genggamannya hingga Ia tidak menyadari kehadiran seseorang yang saat ini berdiri tepat di hadapannya.
"Apa kau ingin membawa bunga-bunga ini ke makan Jessica?" Ucap orang itu. Kevin mendongak dan Luna sudah ada di hadapannya.
"Kau sudah selesai merangkainya?" Kevin beralih menatap mawar yang telah terangkai indah yang ada di dalam genggaman Luna, sudut bibir Luna tertarik keatas. Gadis itu tersenyum tipis.
"Maaf jika tidak seindah rangkaian yang biasanya ada di toko-toko bunga."
"Tidak, bahkan ini lebih indah." Ucap Kevin dan membuat wajah Luna merona.
"Jangan membuatku besar kepala, karena aku baru saja belajar merangkainya."
"Kau mau pergi?" Kevin mengerutkan alisnya melihat Luna telah menganti pakaiannya.
"Aku akan bertemu Irene, maaf Kakak ipar, aku tidak bermaksud mengusirmu, tapi kau harus pulang sekarang." Luna merasa tidak enak pada Kevin, secara tidak langsung Ia telah mengusir pria itu.
Namun Luna juga tidak bisa membatalkan janjinya dengan Irene, karena gadis itu pasti sudah menunggunya di tempat mereka berjanji akan bertemu. Parahnya lagi Luna sudah terlambat selama 5 menit.
"Tidak masalah." Kevin bangkit dari duduknya, keduanya berjalan beriringan menuju halaman depan. Dan berpisah saat Luna maupun Kevin masuk kebdalam mobil masing-masing.
.
.
.
Kepulangan Kevin di sambut tatapan penuh keheranan orang orang-orang yang tinggal 1 atap dengannya, bukan karena Kevin yang semakin tampan melainkan apa yang dia bawah.
"Boss, ada angin apa kau pulang dengan membeli bunga? Apa kau akan pergi berkencan?" Kevin langsung di sambut pertanyaan bertubi-tubi oleh Ren, sedangkan Kevin hanya menanggapinya acuh.
"Tidak juga."
"Lantas bunga itu?" Ren ikut duduk bersama Kevin, sepertinya pria itu masih penasaran kenapa Kevin pulang sambil membawa bunga mawar jika tidak ingin berkencan.
"Aku fikir mawar adalah bunga yang indah, aku membawanya pulang karena ingin aku letakkan di kamarku."
"Sejak kapan kau tertarik dengan bunga? Terlebih mawar?" Tanya Ren menyela kalimat Kevin.
Kevin pun terdiam. Benar, memangnya sejak kapan Ia bisa tertarik dengan bunga mawar. Bukankah selama ini Ia anti dengan yang namanya bunga, dan kali ini Ia justru menbawa puluhan tangkai mawar pulang ke rumahnya.
"Entahlah, lagi pula ini bukan sesuatu yang harus di bahas bukan." Kemudian Kevin beranjak dari duduknya dan berlalu begitu saja.
__ADS_1
-
Bersambung.