"DUDA HOT" (Gairah Cinta Pria Kesepian)

"DUDA HOT" (Gairah Cinta Pria Kesepian)
Penyesalan


__ADS_3


-Baca Ya, novel yang banyak mengandung bawang. Perjuangan cinta seorang gadis bernama Vivian untuk mendapatkan cinta Leon yang tidak normal-


-


Kevin dan Luna berjalan beriringan memasuki cafe tempat Irene dan Adrian menunggu mereka. Setibanya di dalam, Luna sedikit mempercepat langkahnya dan meninggalkan Kevin beberapa langkah di belakangnya.


Tanpa permisi, Luna langsung menyambar minuman yang ada di depan Irene lalu meneguknya hingga tidak tersisa.


"Yakkk!! Luna William, itu minumanku." Pekik Irene dengan nada sedikit meninggi.


"Diamlah Miss bawel, ini kan hanya minuman. Aku akan menggantinya dua kali lipat, tapi bulan depan." Balas Luna tanpa dosa.


Huffttt .. !! ..


Irene menghela nafas panjang. Hal semacam itu bukanlah sesuatu yang baru apalagi pertama kali Ia alami, Luna memang sudah sering melakukannya.


Tidak setiap hari memang, namun itu cukup membuat Irene naik darah, dan hanya di saat-saat tertentu saja Luna melakukannya. Seperti saat Ia sedang gugup, kesal, bimbang dan ketakutan.


Namun sayangnya Irene tidak tau apa alasan Luna melakukan kebiasaan anehnya itu kali ini.


"Kevin, bagaimana lukamu?" Tunjuk Adrian pada kasa yang membalut wajah Kevin.


"Tidak terlalu buruk, hanya luka kecil saja." Balasnya datar.


"Baguslah, jadi aku tidak perlu susah-susah mencarikanmu Dokter specialis untuk mengoplas wajahmu agar tetap tampan." Ujar Adrian asal, sementara Kevin hanya tersenyum tipis menyikapi ucapan Adrian yang menurutnya sangat berlebihan.


" Konyol." Sahut Kevin menimpali.


"Makanya bergentilah bermain-main dengan senjata api, Kevin Nero, agar kau tidak selalu terluka, lagi pula apa untungnya memakai benda itu eo?"


Kevin sedikit tersentak mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari bibir Adrian. Pria itu mengucapkan kalimat itu begitu mudah tanpa ada beban apa-apa. Tapi bagi Kevin, Itu sangat menyakitkan. Kevin mendongak dan menatap Adrian datar.


"Kau tidak akan pernah mengerti, bahkan seekor semut pun membutuhkan senjata untuk melindungi dirinya dari serangan musuhnya."


"Saat aku memegang senjata di tanganku, aku tidak bisa melindungi orang yang paling aku sayangi, dan justu membiarkan dia terbunuh di depan mataku. Bagaimana jika tidak ada senjata sama sekali?"


"Bagaimana aku bisa melindungi orang-orang di sekelilingku Ge? Apakah aku harus kehilangan lagi? Apakah aku harus membiarkan mereka yang aku sayangi terbunuh lagi?" Ujar Kevin panjang lebar.


Kevin menatap langsung sepasang manik hitam milik Adrian dalam dan mencoba mencari jawaban atas pertanyaannya itu.


Tanpa Adrian sadari, penuturan yang terlontar dari bibirnya membuat Kevin teringat pada peristiwa menyakitkan yang terjadi 1 tahun yang lalu. Peristiwa di mana Ia harus kehilangan orang yang sangat dia cintai yang pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.


Raut wajahnya berubah seketika, sorot matanya tak secerah sebelumnya. Ada kesedihan, kepiluan, penyesalan dan rasa sakit yang tersirat dari sorot matanya.


Meskipun 1 tahun telah berlalu, namun peristiwa menyakitkan itu masih sangat segar di dalam ingatan Kevin. Ia tidak bisa begitu saja melupakan apalagi menghapus Jessica dari hati serta ingatannya.


Meskipun kisah cinta yang mereka jalani terbilang sangat singkat, namun cinta yang Kevin pada Jessica teramat sangat dalam. Dia sangat mencintai mendiang istrinya itu.


Dan Kevin tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya. Karna Jessica terbunuh demi bisa melindunginya. Jika saja Jessica tidak memeluknya ketika Dion hendak membunuhnya, pasti wanita itu masih ada disampingnya hingga detik ini.


"Key, aku tidak bermaksud untuk menyinggung perasaanmu apalagi untuk~"


"Tidak perlu membahasnya lagi Ge, maaf aku harus pergi sekarang. Kalian pesanlah apa pun yang kalian mau, aku akan membayar semuanya." Kevin bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.


Adrian menghela nafas panjang, matanya menatap punggung Kevin yang semakin menjauh dengan sendu. Seharusnya Ia paham, jika Kevin adalah orang yang sangat sensitif dan tidak seharusnya Ia melontarkan kalimat yang dapat menyinggung perasaannya.


Mungkin mempertemukan Kevin dengan Luna bukanlah pilihan yang tepat. Mengingat jika wajah Luna dan Jessica bak pinang dibelah dua.


Mengerti situasinya begitu rumit, Luna pun segera bangkit dari duduknya membuat Irene dan Adrian mengerutkan dahinya. Menatap gadis itu penuh tanda tanya.


"Kau mau kemana Lun?" Tanya Adrian.


"Ahh~aku melupakan sesuatu, Kakak angkat, Irene aku harus pergi sekarang. Dan untuk kalian berdua, selamat berkencan." Seru Luna di tengah-tengah langkahnya.


Irene dan Adtian hanya bisa mendengus sambil menggelengkan kepalanya, melihat tingkah gadis itu.


" Ada-ada saja."


.

__ADS_1


.


.


Kevin menghentikan mobilnya di depan sebuah bangunan megah nan mewah yang memiliki tiga lantai.


Namun setibanya di sana, Ia di kejutan dengan banyaknya mayat yang bergelimpangan di tanah. Kevin membuka pintu di samping kirinya dan segera turun dari mobil untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.


"Bos kau di sini, cepatlah. Di dalam sangat genting, musuh datang menyerang." Ucap salah satu anak buah Kevin yang telah terluka.


"APA!! Bajingan mana yang berani masuk ke dalam kandang singa" geramnya marah.


Tanpa menghiraukan orang itu. Kevin pun bergegas masuk untuk melihat kegentingan yang terjadi di dalam.


Dari jarak sekitar 6 meter, Kevin melihat beberapa pria yang sangat Ia kenal tengah.afu jotos dan berhadapan dengan anak buahnya


"Punya nyali juga kau datang ketempat ini, Kim Dante." Ucap Kevin datar.


Semua orang yang ada di sana menoleh dan menatap pada sumber suara, senyum Kai, Ren dan Tao terkembang seketika melihat kedatangan Kevin.


Dengan santainya Kevin berjalan menghampiri Dante yang berdiri sekitar 4 meter di depannya.


Pria itu melepaskan kancing pada lengan kemeja yang membalut tubuhnya dan menggulungnya ke atas hingga sebatas siku, sebuah pistol kini telah berpindah kedalam genggamannya.


Kevin mengangkat pistol itu dan mengarahkan tepat di dahi Dante, membuat pria itu hanya bisa menelan ludah. Keringat dingin mengucur dari dahinya membuat smrik Kevin mengembang tipis, menghiasi wajah tampannya.


"Kau sudah datang ketempat yang salah, Kim Dante." Ucap Kevin santai namun begitu menusuk.


"Aku fikir kau hanya seorang pengecut, Kevin Nero, yang tidak berani menghadapiku." Nada bicaranya sedikit gemetar. Dante dalam keadaan gugup setengah mati.


Kevin menyeringai tajam. "Aku tidaklah sepengecut itu, tapi sayangnya kau datang di waktu yang kurang tepat."


"Saat ini emosiku sedang memuncak, dan aku ingin sekali memecahkan kepala seseorang, mungkinkah kau akan menyerahkan kepalamu itu padaku secara cuma-cuma?" Tanya Kevin menyeringai.


Dante diam tidak memberikan jawaban apa-apa, Ia hanya memandang Kevin dengan tatapan yang tidak sulit untuk di artikan. Kevin menarik sudut bibirnya dan tersenyum meremehkan. Pria itu mencondongkan tubuhnya kemudian membisikan sesuatu pada Dante.


"Sebelum aku berubah pikiran, dan ku habisi kalian semua di sini, pergilah selagi kau masih memiliki kesempatan. Bawa semua anak buahmu jika kau tidak ingin berakhir dengan hasil yang sangat fatal." Kevin membuka jarak di antara ia dan Dante, smrik masih terlihat nyata di wajah tampannya.


Kedua tangan Dabte terkepal kuat, Ia tidak terima di permalukan seperti itu terutama di depan anak buah dan beberapa orang kepercayaannya. Dante mengangkat pistol di tangannya dan...


Duarrrr ... !!! ...


Suara tembakan yang begitu keras menggema di mansion mewah itu, kepulan asap putih menguar dari ujung pistol yang di pegang oleh Kevin. Satu tembakan menembus jantung Dante dan membuat tubuh pria itu roboh seketika.


Senjata di tangannya jatuh begitu saja. Bahkan nyawanya melayang sebelum Ia sempat melepaskan tembakannya pada Kevin.


Rupanya sejak awal Kevin sudah mengetahui rencana Dante, dan hal itu bukan lagi sesuatu yang baru.


Itu adalah permainan lama yang sering di lakukan oleh lawannya ketika mereka dalam keadaan terdesak, dan apa yang di lakukan oleh Dante adalah salah satu contohnya.


Namun Kevin bukanlah orang yang mudah terkecoh karena pengalamanlah yang mengajari segalanya.


"Sialan kau, Kevin Nero, kau akan membayar mahal untuk hal ini." Teriak Chen penuh amarah.


"Memangnya apa yang akan kau lakukan, Chen?" Tanya Kai meremehkan.


"Menghabisi kalian semua."


"Benarkah? Apa kau yakin bisa melakukannya?" Sahut Tao yang saat ini berdiri tepat di belakang Chen.


Glekkk .. !! ..


Pria itu menelan salivannya sedikit bersusah payah saat merasakan sesuatu menempel pada kepala belakangnya. Peluh mulai mengalir dari dahi Chen, dengan ragu Ia melirik kebelakang menggunakan ekor matanya.


Tao menatapnya dengan smrik mengerikan yang menjadi andalannya. "A-a-p-a yang sebenarnya kau inginkan, Kevin Nero?" Tanya Chen terbata.


"Bergabunglah dengan kami,Chen dan lupakan dendam lama kita." Pinta Kevin sambil mengulurkan tangannya pada Chen.


Chen tersentak kaget. Tao dan Kau menghampiri Chen. Kedua pemuda itu menepuk bahu Chen dan tersenyum tipis.


Sementara Chen memilih menundukkan kepalanya

__ADS_1


Pukkk .. !! ..


Chen menoleh saat merasakan tepukan lagi pada bahunya, dan kini berasal dari arah belakang. Tampak Ren berdiri di belakangnya.


"Ren,"


"Aku tau menghapus luka lama memang sangatlah sulit Chen, luka di tangan yang terlihat saja kadang-kadang masih terasa sakit meskipun bekas luka itu sudah tidak ada lagi. Apalagi luka di dalam hati yang tidak terlihat oleh mata. Chen, lupakan peristiwa di masa lalu dan kita bisa memulai lembaran baru." Ujar Ren.


Chen menurunkan tangan Ren dari bahunya kemudian pemuda itu berjalan beberapa langkah ke depan. Chen menutup matanya sejenak, dan perlahan mata itu kembali terbuka. Chen mendongak menatap langit biru yang terbentang luas di atas sana.


"Masih pantaskah aku mendapatkan maaf dari kalian setelah semua penghianatan yang telah aku lakukan? Aku telah menyakiti perasaan kalian semua, aku bersalah terutama pada, Boss." Chen menundukkan wajahnya dan menatap lantai yang Ia pijaki, kemudian mendongak dan menatap Kevin serta Ren sendu.


"Dengarkan aku Chen, tidak ada di dunia ini manusia yang murni tanpa kesalahan. Tidak ada manusia sempurna, sesuci-sucinya manusia pasti memiliki noda."


"Ibarat bayi yang baru saja dilahirkan, dia terlahir seperti kapas putih yang suci dan bersih. Namun saat bayi itu beranjak dewasa pasti dia juga melakukan sebuah kesalahan."


"Begitu pun juga dirimu, seburuk-buruknya yang kau lakukan di masa lalu. Aku akan tetap memaafkanmu, karna kau adalah sahabat." Tutur Kevin panjang lebar.


"Boss,"


Tubuh Kevin terhuyung kebelakang karena pelukan Chen yang sangat tiba-tiba. Kevin menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis , Ia mengangkat tangannya dan membalas pelukan Chen.


"Ngomong-ngomong di mana Sean? Kenapa aku tidak melihat batang hidungnya?" Tanya Kevin


.


"Ahh iya, di mana anak Ayam itu? Atau jangan-jangan dia sedang~" Tao tidak melanjutkan kalimatnya dan berfikir bila Sehun sedang menonton kartun favoritenya.


"Aku di sini, Boss!!"


Semua orang menoleh pasa sumber suara, terlihat namja jangkung berkulit seputih susu berdiri di ambang pintu sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, pemuda itu tak lain tak bukan adalah Sean.


Sean menggaruk tengkuknya yang tidak gatal di iringi senyum konyol terlukis di wajah tampannya.


"Dari mana saja kau?" Tanya Kevin sedikit dingin.


"Aku~"


" Pasti mencuri waktu untuk menonton kartun." Sahut Tao menyela kalimat Sean.


"Benarkah? Kau asik nonton kartun sementara rekan-rekanmu bertaruh nyawa di sini?" Kevin menatap Sean penuh selidik, pemuda itu menggeleng cepat.


"Tidak boss, aku baru saja selesai membantu Jerremy belajar. Ini buktinya."


Sean mengangkat buku di tangannya untuk meyakinkan Kevin dan berharap Ia akan mempercayainya, meskipun pada kenyataannya Ia tidak belajar sama sekali. Namja itu memanfaatkan waktu yang ada untuk menonton kartun favoritenya.


" Aku harap kau tidak membohongiku, Oh Sean, atau kau akan menanggung akibatnya." Ucap Ken dingin.


"Hahaha tentu saja tidak, Boss." Balas Sean.


"Oya Boss, apa yang terjadi pada wajahmu? Kenapa di perban seperti itu? Dan sepertinya itu masih sangat baru, darah yang ada di kasa itu tampak masih basah?"


Ren mengerutkan saginya sambil menunjuk kasa yang hanya selebar 3 jari orang dewasa membalut salah satu pipi Kevin.


Pria itu merabah permukaan wajahnya yang terbalut kasa.


"Ini hanya luka kecil saja, 3-4 hari juga akan sembuh." Balas Kevin.


Pria itu termenung untuk beberapa saat, kasa yang masih membalas wajahnya mengingatkan Kevin pada saat Luna mengobatinya.


Gadis itu memang memiliki wajah yang sama dengan Jessica namun sikap mereka sangat berbanding balik. Jelas sekali mereka berdua adalah orang yang berbeda.


" Ada apa Boss, kenapa kau melamun?" Tegur Chen melihat Kevin yang tiba-tiba termenung.


Kevin menggeleng. "Tidak ada apa-apa, aku akan istirahat, jangan ada 1 pun yang menggangguku." Ucap Kevin dan berlalu.


Kai, Tao, Ren, Sean dan Chen saling bertukar pandang. Mereka mengerutkan dahinya dan berfikir ada apa dengan Kevin saat ini, namja itu terlihat berbeda dari sebelumnya seperti ada yang mengganggu pikirannya.


Dan beginilah jalan hidup yang Kevin ambil setelah kepergian Jessica. Kevin kembali kekehidupan lamanya, kehidupan yang penuh bahaya dan pertumpahan darah.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2