"DUDA HOT" (Gairah Cinta Pria Kesepian)

"DUDA HOT" (Gairah Cinta Pria Kesepian)
Liontin


__ADS_3

"KAKAK IPAR?!"


Luna memekik kaget saat melihat sosok Kevin berdiri menjulang disampingnya. Gadis itu segera berdiri. "Aaahhh," Luna nyaris saja terjatuh karena terjegal kakinya sendiri.


Beruntung Kevin langsung menahannya."Luna, hati-hati. Kau bisa celaka karena kecerobohanmu itu!!"


Luna tersenyum tiga jari, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi. "Selain pelupa, ceroboh sepertinya sudah menjadi penyakit yang tidak bisa aku hilangkan." Luna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Kevin mendengus. Dengan gemas dia menjitak kepala coklat Luna. "Ahhh," dan membuat gadis itu meringis kesakitan. "Hais, kenapa semua orang suka sekali menjitak kepalaku? Menyebalkan!!" Luna menggerutu sambil mengusap kepalanya yang baru saja dikotak oleh Kevin.


Tubuh Luna tiba-tiba membeku saat Kevin mengarahkan tangan kanannya ke dadanya. Fikiran yang tidak-tidak mulai memenuhi fikirannya, takut jika Kevin akan berbuat macam-macam padanya.


Fikirannya melayang kemana-mana, membayangkan hal buruk yang mungkin akan pria itu lakukan padanya. Matanya membulat sempurna, sontak Ia menundukkan wajahnya dan mendapati tangan Kevin tengah memegang liontin yang menggantung di lehernya.


Huffttt .. !! ...


Dan Luna bisa menghela nafas lega, rupannya Ia sudah salah paham pada pria itu. "Apa yang kau fikirkan? Apa kau memikirkan yang tidak-tidak?" Kevin mengangkat wajahnya dan kembali menatap wajah Luna yang tampak begitu terkejut.


"A-a-k-u~"


"Dari mana kau mendapatkan liontin ini?" Tanya Kevin menyela ucapan Luna.


Gadis itu menatap Kevin sedikit terkejut. Wajahnya kembali menunduk, Ia meraih liontin yang ada di lehernya dan memegangnya."Maksudmu liontin ini?" Tanya Luna dan di balas anggukan tipis oleh Kevin.


"Hn, Liontin itu terlihat begitu bagus, pasti sangat mahal saat mendapatkannya." Ujar Kevin.


Luna tersenyum tipis dan mengangguk. "Itu benar, ini memang sangat mahal dan berarti hingga tidak ternilai hargannya. 13-14 tahun yang lalu seorang teman yang tidak pernah aku kenal sebelumnya memberikan liontin ini padaku sebagai kenang-kenangan juga ucapan terikasih, aku bertemu dengannya saat dia terluka."


"Aku tidak tau apa penyebabnya karena saat aku tiba di sana dia sudah berlumur darah, aku melihat ada luka memanjang di atas kelopak matanya sampai bawa matanya . Kemudian aku memberikan pita milikku padanya." Tutur Luna panjang lebar.


Mendengar penuturan Luna membuat Kevin terdiam, dia tidak bisa mengatakan apa-apa setelah mendengar penuturan gadis itu, tidak di sangka jika orang yang selama ini Ia cari ternyata tidak terlalu jauh darinya.


Hanya saja Kevin tidak menyadarinya, sampai dia melihat kalung yang tergantung di lehernya. Disadari atau tidak, gadis pemilik pita merah itu adalah cinta pertamanya.


"Aku sangat terkesan mendengar ceritamu itu." Ucap Kevin.


Luna tersenyum tipis. "Apa begitu mengesankan?" Ucap Luna tanpa menatap wajah Kevin.


"Ya, karena liontin itu memiliki sejarah yang begitu tidak terduga." Balas Kevin.


Hawa dingin yang melingkupi diri Luna perlahan memudar, keheningan di antara mereka pecah setelah Kevin memulai percakapan di antara mereka.


Ya meskipun sisi dingin seorang Kevin Nero masih melekat dalam dirinya, tapi setidaknya pria itu tidak seperti patung yang terbuat dari es yang hanya mampu diam dengan suhu yang begitu dingin dan mampu membekukan siapa pun.


"Bagaimana kau bisa mengena kakak angkat ku? Emm maksudku Adrian Oppa?" Luna menoleh dan menatap Kevin penasaran, pria itu juga menoleh hingga membuat pandangan mereka kembali bertemu.


"Aku pertama kali bertemu dan menggenalnya ketika aku ada di Eropa, dia dan aku kuliah di universitas yang sama namun jurusan berbeda. Dia adalah satu-satunya teman yang aku miliki di sana, aku bukanlah seorang yang pemilih."


"Hanya saja aku tidak terlalu suka bergaul dengan orang pribumi, itulah kenapa aku tidak memiliki teman sama sekali." Tutur Kevin.


Sreggg .. !! ..


Kevin memasang baik-baik pendengarannya saat Ia mendengar pergerakan dan bayangan orang mencurigakan di sekitar tempatnya dan Luna berada.


Pria itu memperhatikan sekitar dengan menggunakan ekor matanya dan Ia menemukannya, itu adalah orang yang sama yang hari itu hampir membunuh Luna, sedang bersembunyi dan mengawasi gadis itu.

__ADS_1


Sebisa mungkin Kevin bersikap tenang seolah-olah Ia tidak mengetahui apa-apa, Ia tidak ingin orang-orang itu curiga dan menggagalkan rencananya.


"Ada apa?" Luna menatap Kevin kebingungan melihat gerak geriknya.


"Ada yang sedang mengintai kita, sebaiknya bersikaplah biasa saja seolah kau tidak mengetahui apa-apa." Ujar Kevin memberitahu.


Luna hendak menoleh kebelakang namun di tahan oleh Kevin. "Tetaplah menatap ke depan dan jangan menenggok kebelakang." Pinta Kevin.


"Tapi-"


"Percayalah padaku, tidak akan terjadi apa pun padamu. aku berani menjamin itu." Ucap Kevin meyakinkan.


Kevin beranjak dari sisi Luna kemudian berbalik dan bergegas menjauh.


Greppp .. !! ..


Namun cengkraman Luna pada pergelangan tangannya menghentikan langkah Kevin. Kevin menatap datar tangan Luna kemudian beralih menatap wajah cantiknya dengan tatapan yang sama.


"Jangan cemas, aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu. Aku akan membereskan mereka bertiga, tetaplah di sini dan bersikaplah setenang mungkin. Pegang pistol ini, gunakan jika kau berada di suasana terdesak." Kevin mengambil pistol yang ada di selipan pinggangnya kemudian memberikan pada Luna.


Pria itu beranjak dan berlalu begitu saja. Meninggalkan Luna sendiri di tepi sungai Han."Tuhan jangan ambil nyawaku dulu. Aku belum siap mati, aku belum menikah apalagi merasakan malam pertama. Lindungi aku Tuhan." Lirih Luna memohon.


.


.


.


Tanpa 3 pria itu sadari, seorang pria dengan balutan kemeja hitam tanpa lengan di padukan dengan vest abu-abu berkerah berdiri di belakang mereka.


"Tapi bagaimana kalau pria itu kembali lagi dan memergoki aksi kita?Aku tidak ingin mati konyol seperti si bodoh itu."


"Tidak mungkin, aku berani menjaminnya."


"Memang jaminan apa yang akan kau berikan?" Tanya orang itu tiba-tiba.


Ketiga pria itu tersentak. Sontak Ketiganya membalikkan tubuh dengan kaku, dan terkejut melihat Kevin berdiri di depan mereka dengan tatapan mematikan.


Salah satu dari ketiga pria itu menelan salivannya melihat Kevin meninggalkan tempatnya dan berjalan menghampirinya serta kedua temannya.


Dengan kasar Kevin mengambil pistol di tangan orang itu, dan membuat keringat dingin mengucur dari keningnya dan membasahi sekujur tubuhnya.


Kevin mengangkat pistol itu dan meletakkan tepat di kening pria itu membuat tubuhnya gemetar hebat. Berkali-kali Ia menelan salivannya.


"Yang masih menyayangi nyawannya sebaiknya pergilah dari sini dan laporkan pada bos kalian untuk segera bersiap-siap karena mautnya semakin dekat. Aku akan menghitungnya sampia tiga."


"SATU." ketiga orang itu masih belum bergeming sedikit pun dari tempatnya dan justru saling menatap satu sama lain.


"DUA ." Seru Kevin menyeruhkam angka dua, pria itu menatap tiga pria di depannya secara bergantian. Mereka masih belum bergeming


"Baiklah, satu kesempatan terakhir. Jika dalam hitungan ketiga kalian masih belum mengambil keputusan juga. Jangan salahkan aku jika pistol ini yang berbicara." Ujar Kevin.


Smrik tipis tersungging di wajah Kevin, melihat ekspresi ketiga orang itu


"TI---!!"

__ADS_1


"Baik kami akan pergi." Sahut mereka sebelum Kevin menyelesaikan kalimatnya. Smrik Kevin semakin melebar.


"Pilihan dan keputusan yang bijak, pergilah." Pinta Kevin.


Pria itu membalikkan tubuhnya dan menatap punggung ketiga pria itu yang semakin menjauh dengan tajam.


Jujur saja Kevin sangat penasaran dengan nona yang dimaksud oleh ketiga pria itu. Dan yang menjadi pertanyaannya apa tujuan orang itu ingin menghabisi Luna.


Pria itu melirik kearah Luna dan gadis itu masih berada di tempat yang sama. Kevin membuang pistol itu ke dalam air agar tidak ada yang menyalagunakan untuk sesuatu yang mungkin akan menimbulkan masalah.


"Kau ingin pergi kemana? Aku akan mengantarmu." Ucap Kevin yang entah sejak kapan sudah ada di depan Luna.


Luna mendongak dan menatap wajah datar Kevin yang juga menatap wajahnya."Pulang." Balasnya singkat.


" Baiklah."


-ll


PLAKKK .. !! ..


"BODOH KALIAN SEMUA, MEMBUNUH 1 WANITA SAJA TIDAK BISA."


3 tamparan keras mendarat mulus pada wajah ketiga pria yang berjajar di depannya. Wanita muda itu tidak bisa menahan emosinya melihat kegagalan anak buahnya untuk membunuh Luna.


Ini bukan pertama kalinya, karena sebelumnya hal serupa juga telah terjadi. Orang kirimannya gagal membunuh Luna karena ikut campur tangan Kevin.


Pria itu menyelamatkan Luna dari terjangan timah panas yang mengarah padanya dan melenyapkan satu anak buah wanita muda itu.


Dan rencanannya kembali gagal karena Luna kembali ikut campur sampai membuat ketiga anak buahnya begiti ketakutan.


"Katakan siapa pria itu dan kenapa dia selalu ikut campu?" Tanya wanita itu dengan nada suara berat dan dingin.


"Dia meminta Nonna untuk segera mempersiapkan diri karena mautnya akan segera datang."


"KURANG AJARRRRR!!" Pria itu tersentak kaget karena terikan keras wanita muda didepannya, dia hampir saja membuatnya mati karena serangan jantung dadakan.


"Oh rupannya dia mau bermain-main denganku? Apa dia sudah bosan hidup, satu lagi targetku aku harus bisa membunuh mereka berdua. Karena yang berani menghalangi jalanku maka harus mati!!"


"Jika mereka tetap aku biarkan tetap hidup, pasti akan membuat hidupku semakin runyam. Apalagi gadis itu, dia adalah ancaman terbesarku. Aku harus bisa menyingkirkannya sebelum dia menimbulkan masalah untukku." Wanita itu mengepalkan kedua tanannya dan sorot matanya menatap tajam kedepan.


"Nona,,"


"Apa lagi?" Tanyanya menyela ucapan pria di depannya.


"Bisa kita pergi sekarang?"


"Pergilah, kehadiran kalian hanya membuat aku naik darah." Wanita itu mengibaskan tangannya bermaksud mengusir ketiga anak buahnya.


Kemudian berjalan menuju sofa sambil memegangi kepalanya yang seperti ingin pecah.


Kegagalan membunuh Luna di tambah dengan ancama Kevin membuat kepala wanita itu seperti ingin meledak.


Namun bukan Dessy namanya jika membiarkannya begitu saja, Ia akan menghalalkan segala cara untuk bisa menyingkirkan mereka dan mencapai tujuannya.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2