"DUDA HOT" (Gairah Cinta Pria Kesepian)

"DUDA HOT" (Gairah Cinta Pria Kesepian)
Keterkejutan Mirra


__ADS_3


-Baca novel baru Author Ya, di novel itu banyak mengandung bawang. Kisah perjuangan cinta seorang gadis bernama Vivian untuk mendapatkan cinta Leon yang tidak normal-


-


Luna melirik sekilas jam yang melingkar di pergelangan tangannya, kedua matanya terbelalak melihat waktu telah menujukkan pukul 11 siang, gadis itu menepuk dahinya sendiri.


"Aisss, bagaimana mungkin aku bisa lupa jika hari ini adalah hari yang sangat penting." Ucap Luna.


Gadis itu terus merutuki kebodohannya karena hampir saja melupakan jika hari ini adalah hari peringatan kematian Ibu dan saudara-saudaranya. Gadis itu sedikit mempercepat langkahnya agar bisa cepat sampai di rumah.


" Permisi-permisi."


Ia berusaha membela lautan manusia yang sedang berkumpul di 1 titik, meskipun kesulitan namun Ia tidak akan menyerah begitu saja. Luna hanya memiliki waktu 30 menit sebelum acaranya di mulai.


Huffttt .. !! ..


Dan setelah bersusah payah, akhirnya Luna bisa keluar dari kerumunan itu. Gadis itu menyeka peluh yang ada di dahinya. Kemudian berjalan menuju jalan dan menemukan taxi yang akan membawanya pulang.


Drettt .. Drettt .. Drettt ..


Poselnya bergetar dan menandakan ada 1 panggilan masuk, gadis itu menghentikan sejenak langkahnya untuk mengambil ponsel itu dari dalam tasnya.


Dan saat itu, terlihat ada taxi yang bergerak kearahnya. Melihat itu, Luna mengurungkan niatnya untuk mengambil ponselnya dan berjalan sedikit lebih cepat menuju pinggir jalan namun tiba-tiba saja...


Bruggg .. !! ..


Ia bertabrakan dengan seorang wanita paruh baya membuat tubuh keduanya sama-sama terhuyung. Merasa bersalah, Luna segera menghampiri wanita itu dan meminta maaf padanya..


"Nyonya, kau tidak apa-apa?" Tanya Jessica memastikan."Maaf, aku sungguh tidak sengaja." Lanjutnya penuh sesal.


Wanita itu mendongakkan wajahnya dan hendak membuat perhitungan dengan Luna, dan.."Ya Tuhan!!" Wanita itu memekik keras.


Ia segera membekap mulutnya menggunakan kedua tangannya dan tubuhnya sedikit terhuyung kebelakang setelah melihat wajah Luna. Kedua mata wanita itu membelalak sempurna saking kagetnya.


Wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Mirra, berjalan beberapa langkah kebelakang sambil menggelengkan kepala. Dengan keras kemudian dia berteriak. "HANTU!!" dan lari tunggang-langgang.

__ADS_1


Luna memiringkan kepala sambil memicingkan matanya. "Hantu?! Apa wanita itu ngelindur, siang-siang begini mana ada hantu. Lagipula aku yang secantik ini malah di sebut hantu, dasar wanita menyebalkan!!"


Tak ingin terlalu ambil pusing. Luna pun melanjutkan langkah kakinya. Dia harus segera tiba di tempat pemakaman sebelum mendapatkan masalah dan Omelan dari ayahnya karena terlambat datang di acara peringatan kematian ibunya.


-


"Jauhkan tanganmu dariku atau ku potong!!"


Kevin menatap sinis pada sosok wanita berpakaian super mini yang saat ini berdiri tepat disampingnya.


Wanita itu bernama Amalia, dia adalah salah satu jal*ng yang sering di pakai oleh Adrian sebelum dia memutuskan untuk mengencani Irene. Sudah sejak lama Amalia mengincar Kevin, tapi sayangnya dia terlalu sulit untuk di dekati.


"Kau menakutinya, Key." Ucap Adrian setelah bergabung dengan Kevin, mereka sedang menikmati makan siangnya di salah satu restoran ternama di pusat kota.


Kevin memberikan tatapan tajam yang penuh intimidasi pada Adrian. Sontak pria itu mengangkat kedua tangannya. "Wow, apa maksud dari tatapanmu itu, Kevin Nero? Kau membuatku merinding."


"Berani sekali kau mengundang ****** seperti dia datang kemari, apa kau sudah bosan hidup?!" Geram Kevin dengan nada rendah, namun terdengar tajam dan berbahaya.


Adrian menyeruput sedikit kopinya, lalu menatap serius pria dihadapannya. "Oh, ayolah kawan. Aku hanya berusaha untuk menghiburmu. Dan beginilah balasanmu padaku? Kau keterlaluan, Kevin Nero!!"


Kevin berdecak sebal. Malas mendengar ocehan Adrian. Kevin mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Dari pada mendengar ocehan Adrian yang tidak ada habisnya, lebih baik melihat kendaraan yang berlalu lalang.


Gadis itu terus menolak semua barang yang diberikan oleh pemuda didepannya. Tapi si pemuda tetap tidak mau menyerah, bahkan ketika si gadis meninggalkannya.


Adrian yang merasa penasaran kemudian mengikuti arah pandang Kevin. Diam-diam dia mengurai senyum misterius. "Namanya, Mark. Saat ini hubungan mereka sedang berada di ujung tanduk. Bajingan kecil itu berkali-kali menghindari Luna."


Sontak saja Kevin menoleh dan menatap Adrian dengan alis terangkat. "Untuk apa kau susah-susah memberikan penjelasan padaku? Itu tidak ada hubungannya denganku." Ujarnya. Kemudian Kevin mengambil mantel hitamnya yang dia letakkan disandaran kursi dan pergi begitu saja.


Adrian yang panik karena semua yang mereka pesan belum di bayar segera berteriak. "Yakk!! Kevin Nero, kau mau kemana?"


"Pulang,"


"Lalu siapa yang akan membayar semua pesanan ini?" Serunya lagi.


Kevin menghentikan langkahnya lalu menoleh pada Adrian. "Tentu saja kau!! Aku tau kau tidak semiskin itu, Adrian Wu!" Kevin menyeringai, dia berbalik dan pergi begitu saja.


Adrian mendesah berat. Pria itu mengeluarkan dompetnya lalu mengeluarkan sejumlah uang dari dalam dompet hitam itu dan meletakkan di atas meja.

__ADS_1


Adrian menatap tidak rela sejumlah uangnya. Dia harus kehilangan banyak won hanya demi dua cangkir kopi dan beberapa jenis hidangan.


"Tau begini aku tadi tidak akan memesan makanan yang mahal-mahal. Dasar Kevin Nero menyebalkan. Huhuhu, uangku yang malang."


Bukan lagi rahasia jika Adrian adalah pria yang pelit dan perhitungan. Saat makan di luar bersama Kevin maupun Luna, dia sangat jarang mengeluarkan uang untuk membayar makanannya.


Dengan hati sedih, Adrian meninggalkan restoran mewah itu. Dia masih memiliki banyak urusan yang harus diselesaikan. Sedangkan Kevin, entah pergi kemana.


-


"Huft, akhirnya...!" Luna mengusap dadanya. Dia merasa lega karena bisa lepas dari pria menyebalkan seperti Mark.


Gadis itu berjalan menuju pohon besar yang berada di pinggir Sungai Han dan duduk dibawah pohon rindang tersebut.


"Dasar pria menyebalkan. Tukang selingkuh, memangnya dia pikir hatiku ini tempat parkir, yang bisa dia singgahi dan dia tinggalkan begitu saja!! Kenapa pria menyebalkan seperti dia tidak mati saja sih!!"


Luna terus saja berkomat-kamit tidak jelas. Dan tanpa sadar, suaranya yang cempreng itu sudah mengusik ketenangan seorang pria yang duduk di balik pohon tempatnya berada.


Namun pria itu tidak mau ambil pusing. Dia tetap menutup matanya sambil bersidekap dada. Menikmati semilir angin musim semi yang berhembus damai.


"Dasar Mark jelek, tukang selingkuh!! Kau benar-benar bodoh, Luna William, bagaimana bisa kau jatuh cinta pada manusia menyebalkan dan tidak tau malu seperti dia."


"Kau memang bodoh!!"


Luna tersentak mendengar suara pria yang masuk dan berkaur di dalam telinganya. Luna menoleh ke kanan dan ke kiri, namun dia tidak menemukan keberadaan siapapun di tempat itu. Luna mengangkat bahunya, mungkin saja hanya suara angin saja.


"Si bodoh itu, kali ini aku tidak akan memberikan kesempatan lagi. Dia harus merasakan akibatnya, salah sendiri membuat masalah!!"


"Kau terlalu berisik!! Tidak bisakah kau tenang sedikit dan membiarkanku menutup mata sebentar saja?!"


"OMO!!"


Luna terkejut dan mencoba mencari dari mana suara itu berasal. Dia celingukan ke sana kemari, namun tidak melihat siapapun di sana. Kemudian dia berdiri dan berjalan menuju balik pohon. Dan betapa terkejutnya Luna saat mengetahui siapa yang bersuara tadi.


"Tuan Nero?!"


"Kita bertemu lagi gadis bar-bar.."

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2