
"Aaaahhhhh~"
Kevin langsung membawa Jessica ke dalam pelukannya. Wanita itu berteriak histeris melihat dua orang terkapar bersumpah darah dalam keadaan tel*njang bulat. Kevin membenamkan wajah Jessica pada dada bidangnya.
Bukan hanya Jessica yang terkejut. Tapi Kevin juga. Dia sungguh tak menduga jika apa yang terjadi ternyata lebih parah dari apa yang dia pikirkan.
Kemudian Kevin menuntun Jessica dan membawanya menjauh dari kamar itu. Dia meminta Jessica dan Laura untuk menunggu di ruang keluarga. Sedangkan Kevin kembali ke kamar itu.
"Mereka sudah tewas."
Kevin menghubungi polisi dan melaporkan apa yang terjadi. Ini adalah sebuah kasus kriminal, dan harus polisi langsung yang bertindak untuk menyelesaikannya.
"Kevin, bagaimana?" Kevin menggeleng seraya menggunakan sesuatu. Dan hal itu membuat kedua mata Jessica membelalak saking kagetnya.
"Sebaiknya kita pulang, masalah ini kita serahkan saja pada pihak yang berwajib. Dan bawa Laura pulang bersama kita."
"Paman, Bibi, kita mau kemana? Lalu bagaimana dengan Papa Laura?"
Jessica berlutut di depan gadis kecil itu seraya memegang bahunya. "Sayang, meskipun menyakitkan tapi Bibi harus mengatakan ini. Papa Laura sudah tidak ada, dia kehabisan darah dan meninggal dunia. Polisi akan segera tiba di sini, jadi kita pergi dulu ya."
Air mata gadis kecil itu pun pecah seketika. Ayahnya ternyata sudah meninggal. "Hiks, itu artinya Laura sudah tidak memiliki Papa lagi? Lalu Laura akan tinggal bersama siapa? Mama meninggalkan Laura, dan Papa meninggal dunia."
Kevin mendekati gadis kecil itu. "Kau masih memiliki nenek, Paman Jerremy, Bibi Sica dan Paman Kevin. Laura tidak sendirian, karena kami ada bersamamu."
Laura langsung berhambur ke dalam pelukan Kevin dan menangis sejadi-jadinya. Gadis kecil itu seketika merasakan dunianya runtuh. Hatinya hancur berkeping-keping.
Dia telah kehilangan ayahnya di saat Laura masih begitu membutuhkan kehadirannya, dan sang ibu tidak lagi mau peduli padanya.
Kevin mengangkat tubuh mungil gadis kecil itu kedalam gendongannya dan kemudian membawanya keluar meninggalkan rumah yang menjadi saksi bisu kematian Aldo dan selingkuhannya.
.
.
.
"Nenek....!!!"
__ADS_1
Tangis Laura kembali pecah ketika berada di pelukan Karina. Gadis kecil itu menangis sejadi-jadinya. Kevin dan Jessica sudah menceritakan dan menjelaskan apa yang terjadi pada ibu empat anak itu.
Rasanya Karina masih sulit untuk percaya jika putrinya sudah berbuat kriminal dengan membunuh suaminya sendiri. Dan parahnya lagi korban yang Elia habisi lebih dari satu orang.
"Sayang, jangan takut lagi ya. Nenek ada bersamamu. Ada Bibi Sica, ada Paman Kevin dan Paman Jeremy juga. Kau masih memiliki kami semua."
"Hiks, Nenek kenapa papa Laura meninggal. Kenapa mama harus memukulnya. Hiks, Laura sedih karena sudah tidak memiliki Papa lagi."
Karina memeluk cucunya itu semakin erat. Ia bisa merasakan kesedihan Laura. Dan Karina sungguh tidak habis pikir dengan Elia. Bagaimana bisa dia senekat itu.
"Kalian berdua sebaiknya istirahat saja. Menginap lah di sini, ini sudah malam. Laura biar Ibu yang menjaganya." Jessica mengangguk.
Kemudian ia dan Kevin melenggang pergi, meninggalkan Karina begitu saja. Jessica sangat lelah dan matanya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Begitu juga dengan Kevin, dan malam ini mereka ingin tidur lebih awal.
.
.
.
Setelah menanggalkan kemejanya, Kevin menghampiri Jessica kemudian berbaring disampingnya. Sepasang hazelnya tertuju pada tribal di lengan kanan suaminya. Tribal yang selalu berhasil mengalihkan perhatiannya.
"Mereka sangat indah." Jari-jari lentiknya kemudian menyibak naik tank top putih polos yang melekat pas di tubuh Kevin.
Jessica merubah posisinya, wanita itu naik ke atas tubuh Kevin, bibirnya mulai mengecup setiap inti kulit dadanya yang terhiasi tribal. Telinganya menangkap des*Han dan er*ngan yang keluar dari sela-sela bibirnya.
"Sica, apa kau ingin membunuhku?"
"Mereka sangat indah," wanita itu berbisik di depan bibirnya. Sebelum akhirnya mengecup singkat bibirnya.
Jessica kembali menelusuri semua pola dengan jemari lentiknya mulai dari atas hingga bawah. Perlahan ia mendekatkan wajahnya dan kembali mengecup salah satu pola yang terdapat di bagian atas dada kanannya.
Dan untuk yang kesekian kalinya Jessica kembali mendengar erangan frustasi yang lolos dari mulut manisnya. "Sica, hentikan, atau aku akan memakan mu sekarang juga!!"
Kevin kembali menggeram tertahan namun tubuhnya masih tetap diam. Seperti biasa, Jessica merasa senang melihat betapa berpengaruhnya dirinya terhadap Kevin.
Jessica menghentikan jelajahan jari dan bibirnya pada tribal di dadanya dan kembali ke menegakkan kepalanya, matanya menggelap ketika Jessica kembali menatapnya.
__ADS_1
"Mereka benar-benar indah." Jessica kembali berbisik di depan mulut Kevin, dan dapat ia rasakan nafasnya yang memburu menerpa wajah cantiknya.
Kevin melingkarkan kedua lengannya di pinggang ramping Jessica sehingga membuat tubuhnya yang hanya terbalut tank top putihnya menempel di tubuh kekar itu.
Dan kali ini giliran Kevin yang membawa bibirnya ke bibir Jessica yang tipis dan menggoda. Satu tangannya berpindah ke tengkuk wanita itu dan sedikit menekannya.
Kevin merubah posisi mereka dengan menempatkan Jessica di bawah Kungkungan tubuh kekarnya. Kedua tangannya mencengkram tangan Jessica di atas kepalanya.
"Uhhhhh..." Des*han keluar dari sela-sela bibirnya ketika Kevin menurunkan ciumannya menuju salah satu bukit kembarnya setelah meninggalkan cup*ng pada leher dan dadanya.
Kemudian Kevin menurunkan salah satu tangannya. Jari-jarinya bergelayar pada paha Jessica dengan gerakan sens*al. "Aahhh." Dan wanita itu memekik ketika dua jari Kevin masuk ke dalam Miss-nya yang telah basah dan lembab.
Kevin menyeringai. "Kau yang memulainya, Nyonya. Dan jangan harap aku akan melepaskan mu." Jessica kembali menutup matanya ketika sekali lagi Kevin mencium bibirnya dengan bringas.
Jessica memeluk kepala Kevin dan sedikit menekannya agar ciumannya semakin dalam. Jessica begitu menikmati apa yang telah dia mulai. Dan yang terjadi selanjutnya bukan hanya bibir saja. Namun juga tubuh mereka.
-
"Kakak!!"
Maya terkejut melihat kedatangan Elia yang dalam keadaan panik dan ketakutan. Pakaiannya penuh noda darah. Wanita itu menengok keluar dan segera menutup kembali pintu rumah adiknya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Sinis Mirra sambil menatap tajam Elia.
"Bersikaplah sopan sedikit pada kakak ipar mu. Sediakan pakaian untukku, aku mau mandi dulu."
Maya menatap sebal Elia yang berjalan menuju salah satu kamar tamu yang ada di lantai dua. Dengan malas Mirra pergi ke kamarnya untuk mengambilkan pakaian ganti Elia.
Dion menyernitkan dahinya melihat sang istri yang tampak kesal dan marah melihat wajah kesal istrinya. Dion menghampiri Mirra dan memastikannya.
"Ada apa?"
"Kakakmu datang, dia memerintahkan padaku supaya menyiapkan pakaian untuknya. Apa dia pikir aku ini adalah babunya, bagaimana bisa dia bersikap begitu kurang ajar padaku!!"
Dion mendesah berat. Bukan lagi rahasia jika Elia dan Mirra kini seperti musuh. Dan semua itu terjadi sejak pertengkaran mereka malam itu.
-
__ADS_1
Bersambung.