
"ELIA//MAMA!!"
Karina dan Laura memekik kencang karena kumunculan Elia yang begitu tiba-tiba. Elia masuk ke dalam kamar Karina melalui jendela kamarnya. Dia sengaja memanjat supaya kedatangannya tidak di ketahui oleh orang lain.
Buru-buru Elia membekap mulut Karina dan melotot padanya. Dia juga mengancam Laura hingga gadis kecil itu menjadi ketakutan.
"Aku akan bersembunyi di rumah ini untuk sementara waktu. Polisi memburuku karena aku menghabisi nyawa bajingan dan jal*ng itu."
"Jangan ada yang coba-coba membocorkan keberadaan pada polisi ataupun dua manusia menyebalkan itu. Atau kalian akan bernasib sama seperti Aldo dan jal*ngnya!!"
Karina memperhatikan penampilan Elia yang berbanding balik dengan dia yang dulu. Tidak ada pakaian dan perhiasan mewah. Semua serba sederhana, bahkan dia memangkas pendek rambutnya yang membuatnya terlihat seperti laki-laki.
"Mama, kenapa hari itu kau harus membunuh Papa?" tanya Laura dengan mata berkaca-kaca.
"Anak kecil, sebaiknya kau diam saja dan jangan banyak bertanya!! Kau tidak tau apa-apa. Untuk itu tidak perlu ikut campur urusan orang dewasa!!"
Laura langsung beringsut dan bersembunyi di belakang punggung neneknya. Dia sangat takut melihat sorot tajam mata ibunya. Dimatanya Elia begitu mengerikan dan dia sangat ketakutan.
"Elia, tidak bisakah kau bicara lebih lembut pada putrimu sendiri? Dia masih anak-anak, seharusnya kau tidak bicara begitu tajam padanya."
"Aarrkkhh!! Tau apa kau nenek tua!!" Elia menjambak rambut ibunya lalu membenturkan kepala Karina pada tembok hingga berdarah.
"NENEK!!" membuat Laura langsung berteriak dan menghampiri neneknya. "Mama, kenapa kau sangat jahat. Kenapa kau menyakiti nenek?!" Teriaknya marah.
PLAKK...
Elia menampar Laura dengan sangat keras, kepalanya mendongak ke atas karena tarikan pada rambutnya. "Sudah Mama bilang, sebaiknya anak kecil tidak usah ikut campur. Kenapa kau bandel sekali, kau minta di hukum ya?!"
"Aaahhh, Mama sakit!!"
Brakkk...
Perhatian ketiganya teralihkan oleh dobrakan pada pintu. Jerremy masuk bersama Paman Nam. Kedua mata mereka membelalak melihat apa yang Elia lakukan pada ibu dan pitrinya.
"Noona, apa yang kau lakukan?! Apa kau sudah tidak waras? Bagaimana kau menyakiti mereka?!" Bentak Jerremy penuh emosi.
__ADS_1
Elia menarik Laura dan menempatkan dia di jendela. "Jangan coba-coba mendekat atau aku akan melemparnya keluar!!" Ancamnya sambil sesekali mendorong tubuh Laura hingga mencondong keluar. Gadis kecil itu menangis ketakutan.
"ELIA, APA YANG SEBENARNYA KAU INGINKAN?!"
"Datang ke kantor polisi dan akui jika kaulah yang membunuh Aldo dan selingkuhannya. Katakan pada polisi jika kau tidak terima karena dia telah menghinati dan menyelingkuhi putrimu!!"
"Kau benar-benar sudah tidak waras!! Bagaimana bisa kau menjadikan ibumu sendiri sebagai tumbalmu?" Teriak Jerremy penuh emosi.
"Bukankah tugas seorang ibu melindungi putrinya? Dan sekarang saatnya kau mengorbankan dirimu sebagai seorang ibu."
Jerremy menggeleng. Memohon supaya Karina tidak menuruti permintaan gila Elia."Jangan banyak berpikir, kau hanya memiliki waktu satu menit saja. Jika aku menolak, maka kau akan melihat tubuh cucu kesayanganmu ini berakhir di bawah sana!!"
"Ibu aku mohon, kau jangan melakukan itu. Jangan ikuti perintahnya. Ibu tidak bersalah, Ibu aku mohon!"
Karina menutup matanya dan mendesah berat. Dia menatap Elia dengan serius. "Ibu akan menuruti kemauan mu, tapi lepaskan Laura. Dia hanya anak-anak yang tidak tau apa-apa."
Elia tersenyum penuh kemenangan. Dia menurunkan Laura lalu mendorongnya pada Karina. "Peringatan untuk kalian berdua. Jangan ada yang berani melaporkan hal ini pada adikku dan suaminya. Jika kalian tidak ingin berakhir mengenaskan di tanganku!!"
Tapi dugaan Elia salah. Karena secara diam-diam Paman Nam telah menghubungi Kevin. Dan mungkin saja saat ini dia sedang dalam perjalanan. Elia harus berakhir saat ini juga. Begitulah yang Paman Nam pikirkar kan.
"Aaahhh..."
Tubuh Elia jatuh lemas setelah salah satu kakinya di tembak oleh seseorang yang baru saja memasuki kamar. "Kevin Nero?!" Dan betapa terkejutnya Elia saat melihat kedatangan pria itu.
"Bawa ibu dan Laura keluar dari sini." Kevin melirik Jerremy dan Paman Nam. Keduanya mengangguk. Segera mereka membawa Laura dan Karina keluar dari kamar itu.
Di dalam ruangan itu hanya menyusahkan Kevin dan Elia. Ujung pistol Kevin menempel pada kening wanita itu. "Kau pikir kau bisa membunuhku? Jika kau membunuhku, itu sama saja kau membuat ibuku kehilangan putri sulungnya, dan Laura menjadi yatim piatu."
"Justru itu lebih baik. Karena ibu dan Laura tidak membutuhkan putri durhaka dan ibu tak berhati sepertimu!!"
"Jika membicarakan tentang hati. Memangnya siapa yang lebih tak berhati? Kau atau aku? Jika aku tidak berhati, lalu bagaimana denganmu? Apa kau luka ketika kau mencampakkanku dan meninggalkanku? APAKAH ITU BISA DI SEBUT BERHATI, KEVIN XIAO!!"
Elia tertawa hambar. Dan tawanya kini tergantikan oleh tangisan. "Dua kali aku menghancurkan hatiku. Pertama ketika kau mencampakkanku, dan kedua ketika aku tau kau menikahi adikku. Apa kau pikir semua itu adil untukku?!"
"Untuk apa membahas masa lalu?! Semua tinggal cerita dan tidak perlu di ungkit kembali. Dan asal kau tau saja, pernah mencintai wanita sepertimu adalah sebuah kesalahan terbesar dalam hidupku!!"
__ADS_1
"Kau!!"
"Kau sudah berakhir. Sudah saatnya kau mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu!!" Nathan mundur beberapa langkah ketika beberapa petugas kepolisian memasuki ruangan.
Kedua mata Elia membelalak. Wanita itu menggeleng. Dia meronta ketika hendak dibawa ke kantor polisi. "Lepaskan aku, aku tidak bersalah."
"Jika kalian ingin menghukum. Sebaiknya hukum dia, karena bajingan itu adalah seorang penjahat. Dia berkali-kali menghilangkan nyawa orang!!"
Seakan tuli. Polisi-polisi itu tidak ada mau mendengarkan ucapannya. Elia tetap digiring menuju kantor polisi.
Kevin menghampiri Karina dan Laura yang masih tampak syok dan ketakutan. "Sudah tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja. Biarkan mamamu mempertanggung jawabkan semua perbuatannya. Kau baik-baik bersama Nenek ya."
"Tuan, saya sudah memanggil dokter dan mungkin akan tiba sebentar lagi. Nyonya Karina perlu di periksa, saya takut benturan di kepalanya berakibat fatal."
Kevin mengangguk. "Sisanya aku serahkan padamu. Aku harus kembali ke kantor sekarang." Kevin menepuk bahu Paman Nam dan pergi begitu saja.
-
Jam dinding sudah menunjuk pukul 21.00 malam. Namun masih belum ada tanda-tanda jika Kevin akan segera pulang. Berkali-kali Jessica melihat keluar. Tapi dia juga tidak melihat adanya tanda-tanda kedatangan suaminya.
Baru saja Jessica hendak berbaring. Namun suara deru mobil yang memasuki halaman membuat dia mengurungkan niatnya untuk berbaring. Jessica berlari keluar dan ternyata memang Kevin yang pulang.
"Baguslah kau pulang dalam keadaan utuh dan baik-baik saja. Karena aku pikir hal buruk telah menimpamu."
Kevin mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Jessica. "Aku pulang terlambat karena ada meeting mendadak. Dan kenapa kau masih terjaga? Lalu siapa yang mengijinkan mu untuk banyak bergerak seperti ini?"
Jessica mendecih dan menatap sebal pada Kevin."Jangan mulai Kevin Nero, aku bukanlah seorang pasien sakit parah yang harus berada di atas tempat tidur selama 24 jam penuh!!"
Kevin terkekeh. Dia kembali membawa Jessica ke dalam pelukannya. Satu kecupan mendarat pada kening wanita itu yang masih terlilit perban.
"Aku mandi dulu. Setelah ini kita tidur. Aku lelah dan mengantuk." Jessica tersenyum dan kemudian mengangguk.
Kevin tidak menyinggung apapun tentang insiden yang terjadi di kediaman Ibunya. Kevin tidak ingin bila Jessica menjadi panik karenanya. Toh masalahnya sudah selesai dan Karina baik-baik saja.
-
__ADS_1
Bersambung.