
Sebuah mobil mewah berhenti di sebuah toko bunga dengan sebuah papan nama bertuliskan 'Vivian'S Florist'. Seorang wanita berparas ayu terlihat keluar dari kursi penumpang dan kemudian melenggang masuk ke dalam toko bunga tersebut.
"Adakah yang merindukanku?"
Suara bak lonceng mengalihkan perhatian tiga orang yang sedang berada di dalam ruangan yang penuh dengan bunga itu. Ketiganya lantas menoleh dan mata mereka membelalak melihat siapa yang datang.
"Sica...." Tubuh Jessica terhuyung kebelakang karena terjangan Sunny yang begitu tiba-tiba. Perempuan bertubuh mungil itu memeluk sahabatnya dengan sangat erat. "Aku merindukanmu."
"Aku juga Merindukanmu." Jessica membalas pelukan Sunny.
Dan dari Sunny, Jessica beralih memeluk pasangan tua yang tampak bahagia melihat kedatangannya. "Nenek, Kakek, aku juga merindukan kalian."
Keduanya memeluk Jessica bersamaan."Kami juga merindukanmu, Sayang." Jessica melepaskan pelukannya beberapa saat kemudian.
Dan di sini mereka sekarang. Mereka mengobrol di sebuah ruangan yang biasa mereka pakai untuk bersantai. Tidak datang hanya dengan tangan kosong, Jessica datang dengan membawa oleh-oleh pastinya.
"Mentang-mentang sudah memiliki suami yang kaya raya, seenaknya kau melupakan kami." Protes Sunny karena sejak menikah Jessica menjadi jarang datang ke toko lagi.
"Maaf, bukan begitu. Aku sangat sibuk dan tidak memiliki banyak waktu luang, aku harus mengikuti Kevin menghadiri berbagai acara dan masih banyak kegiatan lainnya." Jessica mendesah berat.
Sunny terkekeh. "Aku hanya bercanda, kenapa harus serius. Kami bisa memahaminya kok," ucap Sunny yang raut wajahnya seketika berubah ceria.
Jessica terkekeh. Dengan gemas dia menjitak kepala sahabatnya tersebut. "Sayang, ini untukmu."
Wanita itu memicingkan matanya. "Nenek, apa ini?"
"Gaji terakhirmu. Hari itu kami belum sempat memberikannya padamu, dan kami tetap menyimpannya sampai kau datang kembali ke mari."
Jessica mendorong amplop berisi uang tersebut."Nenek simpan saja dulu, berikan padaku di akhir bulan seperti biasanya. Karena mulai besok aku akan kembali bekerja di sini bersama kalian."
"Dan gaji bulananku aku ambil untuk modal membeli bunga lagi. Supaya toko ini bisa semakin maju dan berkembang."
"Sica, kau serius? Kau akan kembali bekerja?" Jessica mengangguk. Sunny yang kegirangan pun langsung memeluk Jessica. "Huaa~ akhirnya kau kembali lagi kemari. Aku sangat bahagia, Sica."
Jessica tersenyum. Dengan senang hati dia memeluk pelukan sahabatnya itu. Saat jauh dari mereka bertiga, kebersamaan seperti Inilah yang sangat dia rindukan.
Sebuah truk besar tiba-tiba berhenti di depan toko. Dua pria terlihat keluar dan berjalan kebagian belakang truk. Setelah pintu truk di buka. Puluhan jenis bunga terlihat memenuhi boks truk besar tersebut.
__ADS_1
"Nenek, Kakek, aku membeli bunga-bunga ini untuk kalian. Dan kios kosong di sebelah toko kita ini sudah aku beli atas nama kalian. Aku harap kalian mau menerimanya ya, jika kalian tidak mau menerimanya dengan cuma-cuma. Anggap saja aku sedang berinvestasi."
"Sica~"
"Ini adalah impian Vivian, dan aku hanya berusaha mewujudkan keinginannya. Nenek, Kakek jangan menolaknya ya."
Pasangan tua itu langsung memeluk Jessica. Mereka merasa terharu sekaligus bahagia. Dan apa yang Jessica lakukan kali ini tidak seberapa dibandingkan apa yang telah mereka berikan padanya.
Ponsel milik Jessica tiba-tiba berdering, dan nama Kevin tertera pada layar ponselnya yang menyala terang. Tak ingin membuat suaminya menunggu terlalu lama. Jessica menerima panggilan itu.
"Apa mereka sudah menerima bunga-bunganya?"
"Truk itu baru saja tiba. Setelah ini aku akan ke sana dan kita makan siang bersama."
"Baiklah, aku akan menunggumu. Aku mencintaimu,"
Jessica tersenyum. Dia tidak membalas ucapan Kevin. Dan panggilan itu di putus oleh Kevin. "Nenek, Kakek, aku harus pergi sekarang. Besok aku akan kembali untuk bekerja."
"Baiklah, Sayang. Hati-hati." Pasangan tua itu melambaikan tangannya pada Jessica, dan dalam hitungan detik mobil mewah itu meninggalkan 'Vivian'S Florist'
-
Kevin mematikan layar laptopnya kemudian bangkit dari duduknya. Sebuah ciuman langsung menyambut kedatangan wanita kesayangan si Tuan Muda.
"Aku senang kau jadi datang."
"Aku tidak mungkin mengingkarinya ketika aku sudah berjanji akan datang."
"Inilah salah satu hal yang aku sukai darimu." Kevin meraih tengkuk Jessica dan kembali mencium bibirnya.
Jessica mengangkat kedua tangannya dan mengalungkan pada leher Kevin. Ciuman mereka yang di mulai dengan kelembutan berlanjut menjadi ciuman panjang yang menuntut.
Seperti bunga matahari. Setiap kali Kevin menyapu lembut bibir Jessica, Ia selalu merasa lebih muda. Seperti mentari di pagi hari. Fresh, menyejukkan tapi juga sangat hangat.
Dan seperti matahari pagi menjelang siang. Waktu yang pas untuk keluar dan bermain. Itulah yang selalu Kevin rasakan saat bersama dengan Jessica. Dia selalu menemukan kebahagiaan yang tak pernah dia temukan dari orang lain.
Jessica adalah sebuah keajaiban, dan untuk itu dia tidak pernah ingin melepaskannya. Hanya ketika bersamanya, Kevin menjadi dirinya sendiri.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, selalu." Kalimat itu yang sering Jessica bisikkan di telinganya setiap saat mereka berciuman atau ketika melakukan hubungan suami-istri.
Kevin selalu menyukai ketika tangan panjang Jessica menyapu permukaan lengannya yang tak tertutup apapun. Ketika dia bertal*njang dada atau ketika memakai pakaian lengan terbuka.
Kevin sedikit mendongakkan kepala Jessica, mereka masih berciuman dengan jari-jari mereka yang saling bertautan. Ciuman mereka semakin dalam dan kian menuntut.
"Boss, a~"
Chan menggantung kalimatnya dan dia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam ruangan Kevin ketika dengan matanya ia melihat dua orang yang ada di dalam sana sedang berciuman mesra.
Chan langsung muntah darah melihat bagaimana panasnya ciuman mereka. Membuat diri Chan yang lain langsung berdiri tegap dan berkedut sakit di bawah sana.
Ia sungguh merutuki kebodohannya yang datang di waktu yang tidak tepat. Dan melihat mereka membuat Chan ingin segera melakukan pelepasan atau dia akan semakin tersiksa dengan kegilaan mereka.
Chan mengurungkan niatnya untuk masuk dan segera pergi ke toilet, atau dia akan tersiksa sepanjang waktu karena tidak melakukan pelepasan.
.
.
.
15 menit setelah ciuman mereka berakhir. Saat ini pasangan suami-istri itu tengah menyantap makan siangnya dengan tenang. Tak ada perbincangan, hanya terdengar dentingan sendok dan piring yang saling bersentuhan.
"Kenapa sudah?"
"Aku sudah kenyang."
"Tapi kau makan sedikit sekali, Sayang. Kau bisa sakit jika kurang makan."
"Tenanglah, Kevin. Aku tidak akan sakit hanya karena makan sedikit. Lagipula aku membeli burger saat datang kemari. Itukah kenapa aku merasa kenyang."
"Baiklah."
Kevin melanjutkan makan siangnya yang belum selesai. Sedangkan Jessica sibuk mengutak-atik ponselnya. Tampak sebuah seringai tercetak di bibir merah mudahnya ketika melihat berita hari ini.
"Bagus, inilah awal dari kehancuranmu, kakakku tercinta."
__ADS_1
-
Bersambung.