
"JESSICA!!"
Kevin membuka pintu klinik dengan tidak sabaran. Dia menerobos masuk dan menghampiri Jessica yang sedang berbincang dengan Sunny. Tidak ada luka berarti selain luka di kening dan lututnya.
Luka di keningnya sudah di balut perban begitu juga dengan luka di lutut. Pergelangan kakinya sedikit terkilir.
"Sayang, apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa sampai terluka seperti ini?" Tanya Kevin dengan tatapan cemasnya.
"Hanya insiden kecil. Mungkin karena aku tidak hati-hati ketika hendak menyebrang." Tuturnya. Jessica meyakinkan pada Kevin jika dia baik-baik saja.
"Kita ke rumah sakit saja ya. Aku cemas jika cidera pada kakimu berakibat fatal."
Jessica menggeleng. "Tidak perlu membuang-buang uang hanya untuk cidera sekecil ini. Lagipula ini hanya terkilir biasa. Dua tiga hari juga pasti membaik."
"Kau yakin?" Jessica mengangguk.
Sunny hanya bisa gigit jari melihat kemesraan mereka berdua. Membuatnya jadi ingin memiliki pasangan juga. Tapi sepertinya Tuhan tidak memiliki rasa kasihan padanya, buktinya Tuhan masih belum memberinya jodoh sampai detik ini.
Tidak ingin menjadi obat nyamuk di ruangan itu. Sunny pun memutuskan untuk keluar. "OMO!!" gadis bertubuh mungil itu terlonjak kaget karena kemunculan Chan yang begitu tiba-tiba.
"Yakk!! Jelek, pendek, kenapa kau malah muncul tiba-tiba seperti jailangkung?! Apa kau tau karena ulahmu aku hampir saja kena serangan jantung!!" Teriak Chan marah.
Sunny mendecih dan menatap sebal pria jangkung itu. "Cih, jelas-jelas kau yang muncul tiba-tiba, malah melemparkan kesalahan padaku. Dasar tiang caplang jelek!!"
Dan perdebatan mereka berdua sampai ketelinga Jessica juga Kevin. Dan keduanya hanya bisa mendengus berat, sama-sama memahami sifat dan karakter mereka berdua masing-masing.
Mereka pun tidak merasa heran jika Chan dan Sunny bisa seperti kucing dan tikus ketika bertemu.
"Sudah jangan hiraukan mereka. Biarkan saja mereka bertengkar. Sebaiknya kita pulang sekarang, kau butuh istirahat, dan aku akan mengosongkan semua jadwalku hari ini."
Jessica menahan tangan Kevin ketika suami tampannya itu hendak mengangkat tubuhnya bridal style. "Tidak perlu, kau kembalilah ke kantor. Aku bisa pulang bersama Sunny. Dia bisa mengantarkan ku pulang."
Kevin menggeleng. "Bagiku, kondisimu jauh lebih penting dari apapun. Aku bisa menyerahkan semua pekerjaanku pada Chan dan Ericka. Dan aku tidak mau mendengar bantahan lagi!!"
Jessica mendesah berat. Berdebat dengan Kevin memang tidak ada gunanya. Mengingat bagaimana keras kepalanya suami tampannya itu. Dan tidak ada pilihan lain selain menurut dan mengalah.
__ADS_1
-
Loona memicingkan matanya melihat Jessica duduk di atas kursi roda dengan Kevin yang mendorongnya. Kening dan lututnya terlilit perban, sedangkan perban elastis pada pergelangan kakinya.
"Apa yang terjadi pada wanita itu?"
Loona mengangkat bahunya. "Entah, mungkin saja dia baru saja mendapatkan karma dari Tuhan."
"Kenapa hanya luka ringan? Kenapa tidak langsung mati saja?!"
Kevin menghentikan langkahnya begitu telinganya mendengar kalimat yang keluar dari bibir Dessy. Kedua matanya berkilat tajam, Kevin mendak berbalik dan memberi pelajaran pada wanita itu. Tapi segera di tahan oleh Jessica.
Jessica menggeleng. Dan meminta agar Kevin tidak menggubris ucapan mereka berdua. Karena berdebat dengan mereka hanya membuang waktu dan energi saja.
Mereka tiba di kamar. Kevin pun langsung mengangkat tubuh Jessica bridal style dan mendudukkan di atas tempat tidur dengan posisi bersandar pada sandaran tempat tidur.
"Aku sudah menghubungi dokter Lee, dia akan tiba sebentar lagi. Sebaiknya sekarang kau istirahat saja." Kevin mengecup kening Jessica yang terlilit perban dan pergi begitu saja.
.
.
.
PLAKK...
Tanpa mengatakan apapun, Kevin melayangkan tamparan keras pada wajah Dessy. Saking kerasnya tamparan itu hingga membuat sudut bibirnya robek dan berdarah.
"Kakak, apa yang kau lakukan? Kenapa kau harus menampar Bibi Dessy?" Bentak Loona dengan suara meninggi.
"Bagus aku hanya menamparnya. Jika aku sampai mendengar kalian bicara yang tidak baik tentang Jessica, maka kalian berdua akan menerima akibatnya!!" Kevin menunjuk kedua perempuan itu dan kemudian pergi dari hadapan mereka.
Dessy pun langsung menggeram dan berteriak marah. Dia menghancurkan dua guci besar yang ada di ruang tamu hingga guci itu hancur berkeping-keping.
Dessy tidak terima Kevin menamparnya. Apalagi hal itu dia lakukan hanya karena wanita seperti Jessica. Dessy adalah bibinya, dan Kevin lebih memilih wanita tidak jelas yang kemudian dia pungut sebagai istrinya daripada keluarganya sendiri.
__ADS_1
"Bibi, kendalikan emosimu. Kau tidak boleh emosi seperti ini. Sebaiknya kita ke kamar sekarang. Luka di sudut bibirmu harus di obati agar tidak infeksi."
"Loona, Bibi tidak bisa memaafkan wanita itu. Bibi akan membalasnya!! Bibi pasti akan membuat dia menyesal karena telah datang ke rumah ini. Dan tunggu saja, bagaimana nanti Bibi akan menyingkirkannya!!"
-
Hanya karena luka ke kepala dan pergelangan kakinya. Kini Jessica merasa seperti seorang pasien yang sedang sakit parah.
Bagaimana tidak, Kevin melarangnya untuk melakukan ini dan itu, tidak ada yang bisa Jessica lakukan selain duduk di atas tempat tidurnya, dan itu membuat Jessica merasa bosan.
Wanita itu segera menggulirkan pandangannya. Kevin datang sambil membawa nampan berisi makan malam untuknya. Jessica mendengus berat. Bahkan untuk makan pun harus di atas tempat tidur.
"Ayolah, Tuan Muda Nero. Kau tidak perlu berlebihan seperti ini!! Aku bukan seorang pasien berpenyakitan yang apa-apa harus di layani seperti ini."
"Jangan banyak protes, bagaimana pun juga sekarang kau adalah seorang pasien. Buka mulutmu dan aku akan menyuapi-mu."
"Bahkan untuk makan pun harus disuapi. Astaga, kenapa kau begitu berlebihan?!"
"Sudah jangan banyak protes lagi. Buka mulutmu sekarang dan cepat makan." Lagi-lagi Jessica mendengus. Wanita itu membuka mulutnya dan sesuap nasi masuk ke dalam mulutnya.
Kevin tersenyum lebar. Diusapnya kepala Jessica penuh sayang. "Anak pintar." Dan Jessica tidak bisa menahan rasa gelinya. Sudut bibirnya tertarik ke atas. Hatinya menghangat, dia bahagia memiliki suami seperti Kevin.
"Terimakasih, karena telah menyayangiku selama ini."
"Apa yang kau bicarakan? Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Aku adalah suamimu, dan sudah selayaknya aku membahagiakanmu." Jessica tersenyum. Wanita itu berhambur ke dalam pelukan Kevin.
Sungguh betapa Jessica sangat bahagia. Hidupnya menjadi begitu berbeda, semenjak Kevin hadir dan mewarnai hari-harinya. Kevin adalah sumber kebahagiaannya, dan mungkin semua tak akan sama. Bila orang itu bukanlah Kevin.
Kevin melonggarkan pelukannya. "Sekarang makan lagi, setelah ini minum obat kemudian istirahat."
Jessica terkekeh geli melihat ekspresi suaminya yang begitu menggemaskan dimatanya. Dengan mantap dia mengangguk.
"Baiklah, bapak dokter."
Kevin tersenyum. Mengangkat tangan kanannya, dan dengan gemas dia mengacak rambut Jessica. Lagi-lagi wanita itu tersenyum lebar. Begitu indah hidup yang dia jalani saat ini.
__ADS_1
-
Bersambung.