"DUDA HOT" (Gairah Cinta Pria Kesepian)

"DUDA HOT" (Gairah Cinta Pria Kesepian)
Karena Cinta Buta Dan Tuli


__ADS_3

"Uhhhhh,"


Jessica meremas sprei kasurnya, erat. Ketika merasakan Hujaman jun*or Kevin yang semakin dalam hingga menyentuh bibir rahimnya.


Des*han dan erangan berkali-kali lolos dari mulutnya, membuat Kevin semakin bergairah untuk meneguk kenikmatan yang hanya dia temukan ketika bersama Jessica.


Tubuh Jessica terhentak-hentak karena tusukan Kevin yang semakin dalam dan cepat.


Berkali-kali Jessica melenguhkan suaranya, menyebut nama Kevib dengan rasa nikmat tak tertahankan dari apa yang mereka lakukan. Kevin semakin mempercepat temponya dalam.menghujamkan juniornya ke dalam diri Jessica


Kevin bisa merasakan tubuh wanitanya yang berkedut sejak pertama kali ia mencumbunya. Kevin sangat menyukai d*sah kenikmatan yang lolos dari bibir Jessica ketika mereka melakukannya.


"Ahh.." lenguh Jessica kenikmatan saat cairan dalam tubuhnya telah keluar untuk yang kedua kalinya.


Tanpa basa-basi, Kevin langsung menurunkan kepalanya dan menyesap cairan yang baru saja keluar dari tubuh wanitanya akibat permainannya. Dan lagi-lagi Jessica menyerukan d*sahan nikmat sambil meremas rambut Kevin.


Kevin terus mend*sah keenakan ketika tubuhnya telah bersatu dengan Jessica sepenuhnya.


Dan Jessica bisa merasakan bagian ujung junior Kevin yang berdenyut-denyut, dan beberapa saat kemudian pria itu menumpahkan seluruh cairannya di dalam rahimnya. Sekali lagi Kevin mel*mat bibir Jessica sebelum ia bangkit dari posisinya.


"Tidurlah, ini sudah malam." Pinta Kevin lembut, dan kemudian melenggang menuju kamar mandi.


Jessica menarik selimut yang ada di bawah kakinya. Tanpa diperintah pun, ia pasti akan segera tidur. Jessica benar-benar lelah, apalagi pergulatannya dengan Kevin yang memakan begitu banyak tenaga.


-


"Elia...."


Elia menyantap tangan Karina ketika sang ibu hendak menyentuhnya. Pagi ini Karina mendapat kabar jika putri dan menantunya masuk rumah sakit setelah terlibat perkelahian sengit.


Karina pikir Elia hanya mengalami luka ringan saja, namun lukanya lebih parah dari yang dia pikirkan. Seluruh wajahnya di perban dan hanya menyisakan sebelah matanya, mulut dan lubang hidungnya.


Wajah Elia mengalami pembengkakan dan harus mendapatkan perawatan intensif. Sedangkan mata kanannya robek dan harus mendapatkan beberapa jahitan.


"Mau apa Ibu datang ke sini? Pasti Ibu senang kan melihatku seperti ini!!"


"Jaga bicaramu, Kak!! Ibu datang kemari karena mengkhawatirkan mu, dan kau malah berkata kasar padanya."


Jerremy tidak terima Elia membentak Ibu mereka, padahal maksud kedatangan Karina baik. Sebagai seorang Ibu, dia hanya ingin memastikan jika putrinya baik-baik saja.


Elia mendecih dan membuang muka ke arah lain, kedatangan mereka berdua hanya membuat moodnya semakin buruk saja. Dia yang kesal karena sejak semalam Aldo tidak menemaninya, dan sekarang ditambah lagi dengan kedatangan ibu dan adiknya.


"Dimana Aldo, El? Kenapa dia tidak ada di sini menemanimu? Lalu bagaimana keadaan Mirra, apa dia juga separah dirimu?"


"Untuk apa Ibu bertanya dan sok peduli padaku?! Sebaiknya kalian pergi saja dari sini. Aku benar-benar muak melihat kalian berdua. Terutama kau!!" Elia menunjuk ibunya.


Karina menitihkan air matanya. Dia tidak tau apa kesalahannya sampai-sampai Elia dan Dion sangat membencinya. Padahal Karina tidak pernah pilih kasih dan selalu memperlakukan mereka secara sama. Tapi mereka malah bersikap kasar padanya.


"Bu, tidak ada gunanya kita ada di sini. Dan tidak ada gunanya juga kau mengkhawatirkan anak durhaka sepertinya. Masih banyak hal berguna yang bisa kita lakukan dari pada mengurus anak tak tau diri ini!!"

__ADS_1


"Bagus sekali, memang ini yang aku harapkan. PERGI KALIAN DARI SINI, PERGI!!!" Elia berteriak dan melemparkan apapun yang ada di dekatnya ke arah Jerremy dan ibu mereka.


Elia berteriak dan mengamuk di dalam ruangannya. Kemudian beberapa perawat datang dan memberinya obat penenang. Dan Karina hanya bisa menangis melihat keadaan putrinya.


Sebagai seorang ibu, Karina tidak bisa marah apalagi membenci putra-putrinya, meskipun mereka selalu berbuat kurang baik dan memperlakukannya dengan buruk. Seperti kata pepatah, jika kasih anak sepanjang galah, maka kasih ibu sepanjang jalan.


-


Jessica baru saja menginjakkan kakinya di rumah sakit jiwa tempat ibu mertuanya di rawat. Dan setiap kali datang ke sana, dia selalu teringat dengan saat pertama kali Kevin membawanya.


Wanita itu menutup matanya, dan sekelebat bayangan masa lalu melintas begitu saja di benaknya.


Flashback:


Gadis itu hanya bisa menatap bingung pada sosok pria yang kini telah resmi menjadi suaminya itu. Bagaimana tidak, pria itu membawanya ke sebuah rumah sakit jiwa tanpa tau apa tujuannya.


Pria itu tersenyum tipis, diusapnya helaian panjang Jessica yang terurai bebas. "Kenapa? Pasti kau bingung kenapa aku membawamu kemari. Ayo, aku akan mempertemukan dan mengenalkan mu pada seseorang."


"Siapa?"


"Kau akan mengetahuinya setelah kita tiba di dalam."


Jessica seperti terkena sengatan listrik bertegangan tinggi ketika Kevin meraih dan mengenggam jari-jari lentiknya. Keduanya berjalan beriringan meninggalkan parkiran dan masuk ke dalam rumah sakit tersebut.


"Aaahhh..."


Gadis itu terkejut dan terlonjak kaget karena ulah salah seorang pasien yang tiba-tiba saja menggenggam dan mencium tangannya. Orang itu juga memanggil Jessica dengan sebutan istriku.


Dan Kevin yang tidak suka miliknya di sentuh oleh orang lain, bahkan itu orang sakit mental, segera melepaskan Jessica darinya.


"Kau tidak apa-apa?" Jessica mengangguk.


Jessica menoleh dan menatap lengannya yang dirangkul oleh Kevin. Lalu pandangannya beralih pada sosok tampan disampingnya itu. Entah kenapa dia selalu merasakan getaran-getaran aneh ketik matanya bersirobok dengan Kevin.


"Kita sudah sampai."


Mereka menghentikan langkahnya tak jauh dari sosok wanita yang tengah duduk di bangku taman rumah sakit seorang diri. Wanita itu hanya diam sambil menatap lurus ke depan.


Jessica pun merasa bingung, lalu sekali lagi dia menatap Kevin. "Dia adalah ibuku, ibuku sakit jiwa semenjak kepergian ayahku. Hampir setiap hari dia membuat keributan dan membahayakan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Itulah kenapa aku membawanya kemari."


Kevin tidak ingin ada rahasia antara dirinya dan Jessica. Ia akan memberitahu Jessica segala hal tentang dirinya, Kevin tidak ingin membuat gadis yang dicintainya itu kecewa di kemudian hari.


Tunggu ... Cinta? Benarkah Kevin mencintai Jessica? Sementara mereka belum lama saling mengenal, dan apakah cinta bisa tumbuh dalam waktu sesingkat itu? Maka jawabannya adalah 'Iya'


Cinta bukanlah berapa lama kita mengenal orang itu. Tapi cinta adalah seberapa nyaman perasaan yang kita rasakan ketika bersamanya.


Mencintai seseorang tak harus membutuhkan waktu panjang dan lama hanya untuk mengenal siapa dia. Dan jika ada pepatah yang mengatakan bahwa cinta itu buta dan tuli, maka jawabannya adalah iya.


Karena cinta tidak memiliki mata untuk melihat, ataupun telinga untuk mendengar, karena cinta yang tulus adalah cinta yang datang dari hati, bukan karena materi.

__ADS_1


"Boleh aku menemuinya?" Tanya Jessica dan menatap Kevin penuh harap. Pria itu mengangguk.


Setelah mendapatkan ijin dari Kevin. Kemudian Jessica menghampiri wanita itu kemudian berlutut di depannya. Gadis itu tersenyum lembut dan hangat. Diraihnya tangan wanita itu, lalu menggenggamnya.


"Halo, Bu. Aku Jessica, dan aku adalah menantumu. Senang bertemu dengan Ibu."


"Dimana suamiku? Aku ingin bertemu dengannya, dan katakan padanya jika aku masih menunggunya."


Jessica tersenyum dan mengangguk. "Akan aku sampaikan, sebaiknya sekarang Ibu masuk ya. Udara di sini sangat dingin, aku akan mengantarkan Ibu ke dalam." Jessica melepaskan syal yang melilit lehernya lalu memakaikan pada wanita itu.


"Apakah suamiku akan datang?"


Jessica mengangguk. "Ya, asalkan Ibu mau menurut dan ikut aku ke dalam. Pasti dia akan datang. Dan ayah bisa marah jika melihat Ibu terus diam di sini hanya untuk menunggunya."


Wanita itu mengangguk. "Baiklah, aku akan masuk bersamamu." Jessica tersenyum lebar. Sebuah senyuman tulus tanpa ada sebuah keterpaksaan.


Dan melihat interaksi antara Jessica dan Ibunya membuat Kevin bungkam 1000 bahasa. Pasalnya ini pertama kalinya wanita itu bisa bersikap tenang dan mau menurut pada orang lain.


Diam-diam Kevin menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis. Sepertinya menikahi Jessica memang pilihan yang tepat. Karena dia bisa membuat Ibunya menjadi tenang.


Flashback End:


Jessica melangkahkan kedua kalinya secara bersamaan memasuki rumah sakit jiwa tersebut. Dia tidak lagi merasa takut ataupun terkejut ketika tiba-tiba ada orang yang menggenggam tangannya.


Seorang perawat menyambut kedatangannya dan mengatakan jika Nyonya Nero sedang tidur setelah meminum obatnya.


Dan karena tidak bisa bertemu dengan Ibu mertuanya, Jessica hanya menitipkan apa yang dia bawa itu pada perawat yang selama ini merawat nyonya Nero. Sedangkan Jessica langsung melenggang pergi.


"Kita ke rumah ibuku."


"Baik, Nyonya."


-


"Ibu, ampun. Jangan memukul pantatku lagi. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Tapi bisakah kau berhenti? Jangan memukul pantatku lagi!!"


Kedatangan Jessica di rumah ibunya langsung di sambut dengan insiden menggelikan antara ibu dan anak itu. Karina sedang memukuli pantat Jerremy setelah memergoki putra bungsunya itu merokok.


"Huaaa... Noona, selamatkan aku dari Ibu. Ibu sedang mengamuk, huaa..."


Dan Jessica hanya bisa terkekeh geli melihat pemandangan semacam ini. Bukannya membatu sang adik, Jessica malah menyemangati sang ibu, dan hal itu membuat Jerremy kesal setengah mati.


"Noona, kenapa kenapa kau tidak membelaku? Huaa.... Kenapa kau sangat kejam!!"


"Ibu terus pukulagi, anak bandel seperti dia memang pantas di beri pelajaran. Ibu, aku ada di pihakmu!!"


"Yakkk!!! Kenapa kalian begitu jahat padaku?! Punya satu kakak dan satu Ibu, tapi ganasnya minta ampun!!"


Hahaha..."

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2