
Hidup yang baru dimulainya kini adalah awal dari perubahan besar yang terjadi kepada dirinya. Yah, meskipun awalnya ia tak menyangkanya bahwa perubahan ini lebih rumit dibanding kehidupannya yang dulu. Ya, dulu, kehidupan yang sengaja ia tinggalkan.
Semburat kuning kemerahan terlihat di langit kota Seoul. Hari sudah pagi meskipun kabut tipis masih menyelimuti.
Udara terasa sangat sejuk mendekati dingin mengingat sekarang adalah minggu ke lima musim gugur, yang sebentar lagi menjadi musim dingin. Ini adalah waktu terbaik untuk menikmati pemandangan alam sebelum putihnya salju menutup objek-objek berharga.
Jessica menyibak tirai kamarnya dan membuka jendelanya lebar-lebar. Semilir angin pagi yang masih sejuk dan alami menyapa melalui sentuhannya. Rambut panjangnya yang terurai bebas berkibaran karena sentuhan angin nakal.
Wanita itu menutup matanya dan menghirup nafas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan. Sekelebat bayangan masa lalu kembali berputar dibenaknya. Wanita itu tersenyum hambar.
Masa lalu adalah masa paling sulit yang pernah ia alami dalam hidupnya. Masa di mena semua orang merendahkannya dan menganggapnya sampah hanya karena dirinya yang terlahir di tengah keluarga kurang mampu. Ibunya di hina dan berkali-kali tersakiti.
Tapi semua itu sudah berlalu. Kini tidak ada lagi yang berani menghina apalagi merendahkan keluarganya, lebih tepatnya setelah seorang pria kaya raya mempersuntingnya dan menjadikan dirinya sebagai Sugar Baby kesayangan.
Grepp...
Jessica tersentak saat merasakan sepasang tangan memeluknya dari belakang. Wanita itu menoleh dan tersenyum lebar melihat sosok tampan yang berdiri dibelakangnya.
"Kenapa kau tidak membangunkan ku?" Tanya orang itu yang pastinya adalah Kevin.
"Kau terlihat lelah, jadi aku tidak tega untuk membangunkan mu." Jawabnya.
Kevin mengangkat dagu Jessica kemudian mengecup singkat bibirnya. "Tidak terasa sudah setahun saja kita menikah. Dan aku sangat bahagia memiliki wanita tangguh sepertimu di sisiku."
Jessica merubah posisinya. Ia dan Kevin saling berhadapan. Wanita itu mengalungkan kedua tangannya pada leher Kevin. "Apalagi diriku, aku sangat bahagia karena memiliki suami sehebat dirimu."
"Bukankah kita saling menguntungkan?" Kevin menyeringai.
"Ya,"
"Segeralah bersiap. Kita bisa terlambat hadir di sana. Bukankah kau ingin memberikan pelajaran pada kakak-kakakmu yang tidak tau diri itu?"
Jessica terkejut. "Darimana kau tau jika aku ingin memberikan pelajaran pada mereka?" Jessica menatap Kevin penasaran.
Pria itu menarik gemas ujung hidung mancung istrinya. "Karena aku mengenalmu dengan baik, Nyonya." Jessica terkekeh. Wanita itu segera berhambur ke dalam pelukan suaminya.
Kevin membalas pelukan Jessica sambil sesekali mencium tengkuknya. "Kenapa kau semakin manja sama, hm?"
__ADS_1
"Kenapa? Apa kau tidak suka jika aku manja padamu?"
Kevin menggeleng. "Bukan begitu. Hanya terlalu aneh saja wanita sepertimu bisa semanja ini." Tuturnya.
Jessica mempoutkan bibirnya. Wanita itu memukul dada Kevin dengan keras, tapi sayangnya pukulan Jessica tak berarti apa-apa bagi Kevin.
"Segera bersiap. Aku keluar dulu." Jessica mengangguk.
Sudut bibir Jessica tertarik ke atas. Wanita itu tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, tidak pernah terpikirkan olehnya jika akhirnya dia akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik, Tuhan memang maha adil.
Pipi Jessica memerah ketika ingatan malam pertamanya bersama Kevin tiba-tiba melintas begitu saja dibenaknya. Membuat wajahnya semakin memerah dan memanas.
Flashback:
"Kevin, apa yang terjadi padamu?"
Jessica terkejut ketika mendapati pria yang sejak satu bulan lalu telah menyandang status sebagai suaminya itu terluka dan berdarah. Jessica menghampiri Kevin dan membantu suaminya itu untuk duduk.
Jessica pergi untuk mengambil kotak p3k. Dia harus membersihkan darah yang ada di wajah Kevin.
Gadis itu sungguh tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya ini. Dia tadi pergi dalam keadaan baik-baik saja, namun pulang dalam keadaan terluka.
"Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa sampai terluka seperti ini?" Jessica menatap Kevin cemas.
"Mobilku mengalami rem blong dan menabrak pohon di tepi jalan. Tidak perlu cemas, hanya luka kecil saja."
Jessica mendesah berat. "Sebaiknya kau istirahat saja. Kau terlihat lelah." Jessica hendak beranjak pergi, namun genggaman Kevin pada pergelangan tangannya menghentikan langkahnya.
Wajah Kevin tertunduk ke bawah. "Apa kau masih belum bisa mempercayaiku sepenuhnya, jika aku benar-benar serius dengan pernikahan ini?" Kemudian Kevin mengangkat wajahnya dan mengunci langsung manik hazel Jessica.
"Aku-"
"Aku mencintaimu, Nyonya Nero~" potong Kevin menyela ucapan Jessica.
Kevin menarik lengan Jessica hingga gadis itu jatuh di atas pangkuannya. Dua pasang mutiara berbeda warna milik mereka saling mengunci dan menatap dalam diam.
Sebelah tangan Kevin membelai lembut pipi Jessica, dan menyelipkan helaian panjangnya ke belakang telinga. Jantung Jessica berdegup kencang saat Kevin semakin mendekatkan wajahnya.
__ADS_1
Kedua mata Jessica tertutup perlahan saat merasakan sesuatu yang lembut dan basah menyapu permukaan bibirnya, di susul lum*tan dan hisapan pada bibir atas, bawahnya bergantian.
Sebelah tangan Kevin memeluk pinggang Jessica dan membunuh sepenuhnya jarak diantara mereka. Sedangkan tangan tangan satu lagi menekan tengkuk Jessica dan semakin memperdalam ciumannya.
Meskipun awalnya ragu. Jessica mulai membalas ciuman Kevin dengan mel*mat bibir bawahnya. Sadar Jessica membalas ciumannya, Kevin merubah posisi mereka dengan menempatkan Jessica di bawah tubuhnya.
Jari-jari mereka saling meremas, bibir mereka bergulat semakin panas. Ciuman yang awalnya lembut berubah menjadi ciuman panjang menuntut.
Kevin menarik diri sesaat untuk menatap Jessica, mata berlapis lensa abu-abunya memancarkan ga*rah seperti api yang berkobar di tengah kegelapan malam.
Dan api itu menyambar Jessica dengan cepat sehingga kupu-kupu dalam perutnya semakin lincah menari-nari, mengirimkan gelenyar panas keseluruh sel-sel dalam tubuhmya ketika sekali lagi Kevin menciumnya dengan lebih bergairah.
Dan saat Jessica menghisap lidah Kevin dalam mulutnya, tangannya meremas pinggulnya beriringan dengan lolosnya er*ngan liar dari dalam tenggorokannya.
Lidahnya mengecap isi mulut Jessica dan mengajak lidahnya menari, bukan tarian lemah lembut seperti dansa atau bahkan balet, melainkan seperti krump dance yang berirama cepat, agresif dan menuntut.
Sesaat kemudian Kevin melepas bibirnya untuk memandang Jessica. Menatapnya dalam dan penuh cinta, sebelum akhirnya mengembalikan lagi bibirnya ke bibir ranum Jessica untuk mengecupinya beberapa saat sebelum melepaskannya.
Kevin menyentuhkan keningnya ke kening Jessica tanpa melepaskan lengannya dari tubuhnya. Pria itu semakin mengeratkan pelukannya dan Jessica dapat merasakan hasrat Kevin yang menempel di perutnya.
Sensasi yang membuat perutnya mengencang dan organ int*mnya berkedut nyeri. Oh tuhan, seluruh tubuhku terasa terbakar oleh hasratnya.
Dewi batinnya di dalam sana tersenyum lebar menampilkan barisan gigi putihnya karena terlalu senang, Jessica melihat sorot matanya berkobar, menyala di bakar ga*rah.
Gadis itu mencoba bergerak menggesekan tubuhnya yang menempel di tubuh Kevin, dan Ia mengerang. Dengan lirih Kevin berbisik di telinga gadis itu. "Kau membuatku gila, Jess." Bisiknya. Ia mengecupi tepian wajah Jessica hingga mencapai cuping telinganya.
"Kevin, berhentilah menatapku seperti itu. Kau membuatku gugup."
"Aku menginginkanmu." Kevin berbisik dan menggoda Jessica melalui gigitan kecil yang Ia tinggalkan di telinganya.
Kevin tahu di sana adalah salah satu bagian sensitif istrinya, karena erangan yang berkali-kali lolos dari bibirnya.
Kevin terus-menerus memanjakan telinganya dan Jessica memiringkan kepalanya, menikmati sensasi menggelitik yang mengirimkan rasa nikmat ke seluruh bagian tubuhnya.
"Sica, katakan kau juga menginginkanku."
-
__ADS_1
Bersambung