
Kesedihan masih terlihat jelas dari sorot mata Laura. Gadis kecil itu masih belum bisa menerima kepergian sang ayah yang begitu tiba-tiba. Apalagi peristiwa mengerikan itu terjadi tepat di depan matanya.
Karina menghampiri cucunya itu kemudian berlutut di depannya. "Laura, Sayang, makan ya. Dari pagi Laura belum makan apapun." Bujuk Karina supaya cucunya itu mau maka.
Laura menggeleng. "Tidak, Nenek. Laura tidak lapar."
"Tidak lapar bagaimana? Bahkan cucu Nenek yang cantik ini belum makan apapun dari pagi. Dan Papa pasti akan sangat sedih jika melihat putri kesayangannya seperti ini."
Laura berhambur ke dalam pelukan neneknya dan terisak pelan. "Hiks, Nenek. Kenapa mama begitu jahat? Kenapa mama harus membunuh papa? Kenapa membuat Laura menjadi anak yatim?"
Karina menutup matanya. Dia bisa merasakan kesedihan dan kepedihan hati cucunya ini. Karina sungguh tidak menyangka jika Elia akan berbuat senekat itu dan membuat dirinya sendiri menjadi seorang kriminal.
Tidak ada yang tau di mana keberadaan wanita itu saat ini. Dia yang kini menjadi buronan polisi memutuskan untuk pergi dan bersembunyi.
Elia pergi ketempat dimana keberadaannya tidak akan diketahui oleh semua orang, terutama para polisi yang kini memburu dirinya.
"Mama akan mendapatkan imbalan dari apa yang dia lakukan pada papa. Dan Nenek pastikan mamamu akan mendapatkan hukuman seberat-beratnya."
Laura melonggarkan pelukannya. "Apa itu artinya Laura tidak bisa bertemu lagi dengan mama? Seperti Laura tidak bisa lagi bertemu dengan papa?"
Karina menggeleng. "Tentu saja Laura masih bisa bertemu dengan mama. Dan Laura harus sehat sebelum bertemu dengan mama, untuk itu sekarang Laura makan dulu ya?" Sekali lagi Karina membujuk cucunya.
Laura menatap neneknya dan kemudian mengangguk."Baiklah, Laura akan makan sekarang." Karina tersenyum lebar. Dia menuntun cucu semata wayangnya itu menuju meja makan.
-
Jessica baru saja menginjakkan kakinya di kantor milik suaminya. Derap langkah kakinya menggema di setiap koridor yang dilaluinya. Beberapa karyawan langsung berhenti dan membungkuk padanya.
Mendapatkan perlakuan semacam ini sungguh membuatnya tak nyaman. Dia merasa malu karena harus dihormati disana-sini hanya karena dirinya adalah istri dari seorang CEO muda yang sukses.
"Ericka, apa atasanmu ada di dalam?" Jessica menghentikan langkahnya di depan meja seorang wanita yang merupakan sekretaris dari suaminya.
Ericka mengangguk. "Ada, Nyonya langsung masuk saja. Beliau baru kembali dari meeting." Jelasnya.
"Terimakasih informasinya. Oya, ini makan siang untukmu. Oke, aku masuk dulu."
"Nyonya, kenapa kau selalu repot begini. Tapi terimakasih. Itung-itung gratis dan tidak perlu membuang-buang uang." Jessica terkekeh. Ia beranjak dari hadapan Ericka dan pergi begitu saja.
__ADS_1
Cklek..
Suara decitan pintu di buka dari luar mengalihkan perhatian Kevin yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Pria itu tersenyum menyambut kedatangan sang istri tercinta.
Kevin menutup dokumennya kemudian bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri Jessica. Sebelah tangannya menarik tubuh wanita itu dan kemudian mengecup singkat bibir ranumnya.
"Kenapa tidak bilang-bilang jika mau datang?"
"Jika aku memberitahumu, maka bukan kejutan namanya." Kevin terkekeh.
Dengan gemas di tariknya ujung hidung Jessica, dan sekali lagi ia mencium ganas bibir ranumnya. Namun ciuman itu hanya berlangsung beberapa detik saja.
"Bagaimana kalau kita makan siang sekarang? Aku sudah lapar." Rengek Jessica sambil mengusap perutnya. Kevin mengangguk menyetujui, karena bukan hanya Jessica yang lapar. Tapi dia juga.
"Baiklah, ayo."
.
.
.
Mereka baru saja selesai menyantap makan siangnya, dan Kevin kembali bekerja. Merasa di perhatikan, Kevin mengangkat wajahnya dan menatap sang istri penasaran.
"Ada apa? Kenapa kau terus saja menatapku?"
Jessica bangkit dari duduknya dan kemudian menghampiri Kevin. Wanita itu duduk dipangkuan Kevin sambil mengalungkan sebelah tangannya pada leher suaminya.
"Aku menyukaimu saat kau sedang serius. Kau terlihat begitu tampan."
Kevin menarik dagu Jessica dan kemudian mengecup singkat bibir ranumnya."Benarkah?" Jessica mengangguk. Dan sekali lagi Kevin mencium bibir Jessica, namun ciuman kali ini lebih panjang dan lebih dalam.
"Astaga!!"
Chan buru-buru mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam ruangan Kevin, ketika ia melihat dua orang di dalam sana tengah berciuman panas. Berkali-kali Chan sampai menelan ludah, dan cairan merah tampak mengalir dari kedua hidungnya.
Rasanya Chan ingin sekali mengutuk mereka berdua karena sudah membuatnya berada di situasi yang sangat-sangat tidak menguntungkan. Pasalnya sudah beberapa hari ini Chan tidak pernah mendapatkan jatah dari kucing liarnya.
__ADS_1
"Chan, kenapa kau mimisan?!" kaget Ericka memekik. Dan suara pekikannya yang keras membuat dua orang di dalam sana mau tidak mau harus mengakhiri ciumannya.
"Astaga, kenapa darahnya bisa banyak begini?" Ujar Ericka lalu menyumpal hidung Chan dengan tisu.
Kedua mata Ericka membelalak saat tiba-tiba Chan menarik tengkuknya dan mencium bibirnya. Parahnya lagi ciuman itu di saksikan oleh semua orang yang ada di tempat itu, termasuk Kevin dan Jessica yang kini berdiri di depan pintu.
Chan terus mel*mat bibir Ericka dengan keras, memagut bibir atas dan bawahnya bergantian. Sekuat tenaga Ericka mencoba mendorong tubuh Chan dan memaksa melepaskan ciuman itu, namun ciuman itu terlalu dalam.
"Ekhemm..."
Deheman itu mengejutkan Chan. Pria itu membuka matanya. Dan situasi itu segera Ericka manfaatkan untuk melepaskan ciuman Chan. Ericka mendorong tubuh Chan hingga ciumannya terlepas.
Plakk...
Sebuah tamparan keras mendarat mulus pada pipi Chan, Ericka berteriak dan pergi begitu saja. Chan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mengangkat tangannya dan membentuk huruf 'V' Chan pergi begitu saja.
"Kekeke, mereka lucu." Kevin menoleh dan menatap wanita disampingnya itu. "Kau lihat wajah Eri yang memerah, dan Chan yang kelabakan karena kepergok berciuman olehmu. Jika bersatu, bukankah mereka bisa jadi pasangan yang sempurna?"
Kevin menyentil gemas kening Jessica. "Itu sih pemikiran mu." Kemudian Kevin beranjak dan kembali ke meja kerjanya. Dia harus menyelesaikan beberapa pekerjaannya yang terabaikan karena ulah Chan dan Ericka.
-
"Ibu, kami datang!!"
Jerremy segera keluar setelah mendengar suara kakaknya. Betapa Jerremy sangat merindukan Jessica karena hampir 10 hari mereka tidak bertemu.
Tubuh Jessica terhuyung kebelakang karena pelukan Jerremy. "Noona, aku merindukanmu." Ucapnya sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Jessica.
Wanita itu terkekeh. Jessica menjitak kepala Jerremy kemudian membalas pelukannya. Bukan hanya Jerremy, Jessica juga sangat merindukan adik nakalnya ini. "Di mana Ibu? Kenapa aku tidak melihatnya!"
"Ibu sedang keluar, dia mencoba menghibur Laura dengan membawanya ke taman bermain. Laura terus saja menangis karena belum bisa menerima kepergian papanya."
Jessica mendesah berat. Pasti hal itu sangat berat untuk Laura, apalagi di usianya dia masih membutuhkan kehangatan dan kehadiran seorang ayah. Karena Jessica juga pernah berada di posisi yang sama.
-
Bersambung.
__ADS_1