"DUDA HOT" (Gairah Cinta Pria Kesepian)

"DUDA HOT" (Gairah Cinta Pria Kesepian)
Bak Pinang Dibelah Dua


__ADS_3

Sretttt ... !!! ...


" YAKKKK .. !!! ..


Luna berteriak saat menyadari seseorang telah merampas tasnya dengan paksa dan membawanya lari.


Tanpa membuang banyak waktu, Luna pun segera mengejar orang itu. Ia tidak memikirkan apa pun, bahkan sahabatnya sendiri pun tidak Ia fikirkan, yang ada di kepalanya adalah cara mendapatkan tasnya kembali. Orang itu berlari ke arah taman.


"YAKK!! Luna William, tunggu akuuuu ...!!"


Luna seakan tuli dan menghiraukan teriakan Irene yang terus memanggilnya.


Irene menyambar tasnya dan bergegas mengejar Luna yang sudah semakin menjauh, namun Irene sedikit kesulitan karena sepatu berhak tinggi yang membalut kakinya. Dengan kesal Irene melepas sepatu itu dan lari tanpa alas apa pun.


"Luna, aku bilang tunggu aku!!" Teriak Irene untuk yang kedua kalinya.


Namun tetap di hiraukan oleh Luna. Gadis itu tidak menyerah dan terus mengejar Luna yang berlari semakin menjauh.


"Luna!! Kau tidak tuli dan bisa mendengar jelas teriakan ku, tapi kenapa kau tidak mau berhenti juga?" Teriaknya lagi.


Luna mendecih kesal. "Dasar berisik!! Cepat, kita bisa kehilangan jejak pejambret itu." Seru Luna menyahut.


Luna melirik sekilas ke arah pagar yang ada di samping jalan, Ia berfikir jika bisa melewati pagar itu. Pasti dia akan bisa mengejar penjambret tersebut karena pagar itu adalah satu-satunya jalan pintas.


Tanpa banyak berfikir, Luna pun segera mengambil ancang-ancang dan...


Bruggg ... !!! ...


Luna melompati pagar itu dan berhasil, kedua kakinya mendarat dengan mulus di atas rerumputan. Dan saat ini Luna berada di taman.


Untung saat itu suasana di sana cukup sepi hingga tidak ada seorang pun yang melihat aksi gila putri tunggal dalam keluarga William teraebut.


Gadis itu menarik sudut bibirnya, menciptakan smrik tipis terlukis di wajah cantiknya.


"Jangan panggil aku Luna William, jika aku tidak bisa mendapatkan tas itu kembali." Ujarnya pada diri sendiri.


"Kau sudah mendapatkan penjambret itu?" Tanya Irene dengah nafas terengah-engah.


Luna menoleh dan menatap Irene sekilas. Gadis itu menggeleng. "Belum, tapi sebentar lagi pasti dapat." Balasnya penuh percaya diri.


Luna menoleh ketika mendengar derap langkah kaki seseorang yang datang, dan mata hazelnya mendapati penjambret itu berhenti di tempat sepi yang sedikit gelap.

__ADS_1


Luna menyipitkan matanya, orang itu membuka tas miliknya dan mengeluarkan dompet berwarna biru tua dari dalam tas tersebut.


Dompet itu dia kembalikan ke dalam tas dan menciumnya, Ia menengok sekitar. Setelah di rasa aman, Ia berjalan biasa saja. Tas itu Ia masukkan ke dalam pakiannya agar tidak ada orang yang mencurigainya.


"Bajingan itu." Geram Luna dan segera menghampirinya.


"Luna, tungguuuu!!" Seru Irene untuk yang kesekian kalinya.


Teriakan Irene menyita perhatian orang itu, kedua matanya terbelalak ketika melihat Luna yang ternyata masih mengejarnya. Pria itu pun segera berlari.


"Yakkk!! Pejambret sialan jangan lari kau." Teriak Luna lantang.


Suaranya yang tinggi dan melengking menyita perhatian seorang pria muda dengan kemeja putih yang di padukan dengan vest hitam berkombinasi coklat sedang duduk di salah satu bangku taman.


Pria itu menoleh pada sumber suara, keadaan yang sangat gelap membuat orang itu tidak bisa melihat apa yang terjadi dengan jelas.


Hanya dua sosok gadis yang sedang kejar-kejaran yang Ia lihat sedangkan pejambret itu tidak karna warna pakaian yang melekat di tubuhnya senada dengan suasana malam itu, gelap.


"Luna, aku bilang tunggu aku." Teriak Irene.


"Kau terlalu lelet, cepat sedikit, aku harus segera mendapatkan tasku kembali." Balas Luna menyahuti.


Orang itu menggeleng tipis melihat Luna dan Irene yang seperti anak kecil. " Dasar kekanakan." Gumamnya pelan. Sepertinya pria itu tidak sadar jika kedua gadis tersebut sedang mengejar seorang penjambret.


Sampai salah satu dari kedua gadis itu berada di tempat yang sedikit bercahaya hingga Kevin bisa melihat dengan jelas wajahnya. Kevin pun bangkit dari duduknya dan menatap gadis itu dengan rasa tidak percaya.


"Jessica?!" Gumanya pelan.


Waktu seakan terhenti detik itu juga bagi Kevin, pria itu menelan salivanya dengan sedikit susah payah.


Matanya sedikit memanas, dadanya bergejolak hebat. Berkali-kali Kevin mencoba memastikan apakah yang tengah dilihatnya itu adalah sebuah kenyataan atau bukan, atau ia hanya sedang bermimpi saja?


"Hei, Tuan yang berdiri di sana, tolong hentikan pria itu. Dia adalah pejambret." Teriak Luna.


Dan teriakan keras Luna segera menyadarkan Kevin dari lamunan panjangnya, dan Ia baru saja sadar jika ada orang lain dan orang itu seorang pria.


Pria itu berlari kearahnya, kevin memperhatikan sekeliling seperti mencari sesuatu. Dan tanpa sengaja dia melihat sebuah balok kayu tergeletak di tanah.


Kevin meninggalkan tempatnya berdiri untuk mengambil balok itu dan kemudian Ia lemparkan pada orang tersebut.


Bruggg .. !! ..

__ADS_1


Balok itu menghantam kepala orang itu dan membuatnya tumbang seketika. Kevin berjalan menghampiri pria itu dan mengambil tas milik Luna dari tangannya.


Luna dan Irene kini sudah berdiri di hadapannya. "Tuan, kau berhasil mendapatkan tasku kembali?"


Kevin lantas menoleh dan menatap Luna begitu dalam. Sungguh, wajah yang dia miliki begitu mirip dengan Jessica. Wajah mereka berdua bagaikan pinang di belah dua, tidak ada perbedaan sedikit pun selain warna rambut, mata, sifat dan penampilan mereka.


Jessica lebih tertutup yang selalu menggenakan dress di bawah lutut sedangkan Luna berada sedikit di atas lututnya.


Kevin masih terpaku menatap gadis itu, membuat Luna merasa tidak nyaman.


"Tuan, tolong tasku." Ucap Luna dan segera menyadarkan Kevin dari lamunan panjangnya.


"Lain kali hati-hati," Kevin menyerahkan tas itu pada Luna, gadis itu menarik sudut bibirnya dan membungkuk singkat.


"Terimakasih atas bantuannya, Tuan." Ucap Luna sedikit sopan.


"Luna William, bisakah kita pergi sekarang? Aku tidak ingin kena semprot ayahmu lagi jika kita pulang terlambat." Ujar Irene menengahi perbincangan Luna dan Kevin.


Gadis itu terkikik geli melihat ekspresi wajah Irene dan mengangguk. " Baiklah-baiklah." Balasnya.


Sekali lagi...


Untuk yang kedua kalinya Luna membungkuk pada Kevin dan berlalu begitu saja, meninggalkan pria itu yang masih terpaku menatap punggung Luna yang semakin menjauh.


"Ya Tuhan apakah ini mimpi? Dan apa artinya semua ini?" Lirih Kevin setengah bergumam.


Pria itu memejamkan matanya, kepalanya tiba-tiba berdenyut sakit memikirkan kemiripan yang di miliki oleh Jessica dan gadis bernama Luna itu yang bagaikan pinang di belah dua.


Drettt ...


Drettt ...


Ponsel dalam saku celananya bergetar menandakan ada 1 pesan masuk.


Kevin segera mengeluarkan ponsel itu dari saku celananya dan membuka pesan tersebut.


"Kakak Ipar, pulanglah sekarang juga, ada hal penting yang harus aku sampaikan padamu!!"


Kevin memasukan kembali ponsel itu ke dalam saku celananya dan melenggang meninggalkan taman.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2